
"Assalamualaikum..bunaaaaaa. Kirei pulang". Teriak Kirei ketika kakinya menapaki lantai rumah.
"Wa'alaikumsalam. Ini anak gadis hobinya teriak-teriak mulu ih. Pamali Ki". Nasehat Ara yang membuat putrinya tersenyum sambil menyalami tangan sang ibu.
"Opa sama opa belum pulang? Kok lama sih..aku udah kangen sama opa sama oma tauuu". Gadis judes dan galak yang ada disekolah tiba-tiba lenyap, berganti dengan gadis manja yang terlihat begitu manis.
"Sayang.." Sebuah suara lembut membuat Kirei melongokkan kepalanya kebelakang sang ibu. Matanya berbinar dengan wajah berseri melihat wanita paru baya yang ia lihat.
"Mommy!!". Pekik Kirei kegirangan, dirinya berlari memeluk erat tubuh Raisya yang hanya merentangkan tangannya menyambut Kirei.
"Mommy disini?? Mana daddy?? Kirei kangen sama mommy.." Kirei sudah bergelayut manja dilengan Raisya. Sementara tas sekolahnya sudah ia hempaskan diatas sofa.
"Ganti baju dulu nak, bersihin juga badannya. Bau". Ara berpura-pura menutup hidungnya membuat Kirei mencebik.
"Iya..iya baginda ratu. Hamba akan membersihkan diri". Jawab Kirei membuat Ara mendelik kesal dengan godaan putrinya. Sementara Raisya hanya tersenyum, serasa melihat Ara berdebat dengan bapak.
Baru beberapa langkah menjauh dari Ara, ponsel dalam sakunya berdering. Nama Alma tertera dilayar ponselnya. Alisnya berkerut dalam, ada apa hingga teman baiknya itu menghubungi dirinya. Tidak biasanya Alma menghubunginya, padahal belum ada 2jam ia berpisah dengan gadis itu.
"Assalamualaikum, Al.." Belum sempat Kirei bertanya lebih lanjut, Alma sudah terisak diseberang telepon sana membuat Kirei panik.
"Al?? Lo gapapa? Ada apa?? Bilang ke gue.."
"Ibu..ibu gue Ki...tolong Ki". Kirei semakin bingung dengan maksud ucapan Alma.
"Oke..lo tenang dulu jangan bikin gue panik. Lo dimana? Gue kesana sekarang". Kirei berbalik badan, mengurungkan niatnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Kini fokusnya ada pada temannya.
"Aku..aku ada dirumah sakit xx Ki. Ibu masuk rumah sakit". Suara Alma semakin terdengar lirih.
"Gue kesana sekarang. Lo jangan kemana-mana. Assalamualaikum". Kirei memutus sambungan teleponnya dan segera menyambar kunci mobilnya yang tergeletak diatas meja.
"Ada apa Ki? Siapa yang telpon?". Tanya Ara dan Raisya yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya angkat bicara.
"Temen Kirei butuh bantuan bun, mom. Ki hadus segera kesana..ibunya dirawat dirumah sakit tempat papi kerja". Kirei menyambar tangan kedua wanita paru baya itu bergantian lalu berlari keluar meninggalkan kedua ibunya yang masih mematung ditempat.
Kirei memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, perasaan khawatir memenuhi pikirannya. Alma pernah bercerita bahwa ia hanya hidup dengan ibunya saja, karena ayahnya sudah meninggal. Dan kondisi ibunya semakin memburuk belakangan ini, membuat gadis ramah itu lebih sering murung.
30menit kemudian Kirei sampai dipelataran rumah sakit, matanya awas mencari lahan parkir yang kosong. Ot*knya masih berfungsi baik, tidak mungkin dirinya memarkirkan mobilnya sembarangan.
Selesai dengan urusan mobilnya, Kirei turun dan berlari menuju IGD rumah sakit. Tanpa sengaja dirinya menabrak tubuh seseorang karena dirinya yang terburu-buru hingga tidak fokus dengan jalan yang dilaluinya.
"Maaf..maaf saya nggak sengaja. Saya buru-buru. Sekali lagi maaf". Kirei membungkukkan tubuhnya beberapa kali setelah membantu orang yang ia tabrak berdiri. Tanpa menunggu respon dari orang yang ia tabrak, Kirei kembali berlari meninggalkan orang yang mematung melihat punggung Kirei yang semakin menjauh.
"Kirei?". Gumam orang itu masih menatap punggung Kirei yang perlahan semakin tidak terlihat.
"Siapa yang sakit? Kenapa dia buru-buru banget?". Tanya nya pada diri sendiri. Merasa penasaran, orang itu memutuskan mengikuti Kirei.
"Tenang Al..ibu akan baik-baik aja. Lo harus yakin. Kita doain yang terbaik buat ibu". Kirei terus mengelus punggung Alma yang semakin bergetar.
"Aku takut Ki..aku takut ibu kenapa-napa. Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi selain ibu". Tangis Alma semakin pecah dalam pelukan Kirei, keduanya masih memakai seragam sekolah membuat mereka terlihat sedikit mencolok.
"Hust..Lo nggak sendiri Al. Lo masih punya gue Al. Lo harus yakin kalo ibu bakal baik-baik aja". Ucap Kirei mendekap erat tubuh lemah teman baiknya.
__ADS_1
"Itu bukannya Alma ya. Siapa sebenernya yang sakit?". Gumam orang yang sejak tadi mengikuti Kirei. Hingga sebuah tepukan lembut dibahunya membuat ia berjingkat.
"Kamu kok malah disini sih Dan. Kita nunggu kamu dari tadi". Pria yang tak lain adalah Daniel tersenyum kaku menatap wajah kesal kakak perempuannya.
"Eh iya kak..Dan lupa. Ini obatnya..kakak pulang dulu sama nenek. Dan masih ada urusan dulu bentar". Daniel menyerahkan plastik berisikan obat milik sang nenek pada kakaknya.
"Ish..kamu tuh. Tau gitu kakak tinggalin dari tadi". Cebik sang kakak dan hanya dibalas cengiran oleh Daniel.
Tak lama setelahnya, seorang dokter yang menangani ibunda Alma keluar dengan wajah sendu penuh penyesalan. Kirei yang melihatnya hanya bisa berdoa semoga apa yang ia pikirkan tidak menjadi kenyataan.
"Bagaimana keadaan ibu saya dok? Apakah beliau sudah sadar?". Tanya Alma pelan.
Dokter menggeleng, menghela nafas panjang sebelum mengeluarkannya perlahan.
"Maafkan saya, tapi beliau sudah meninggal beberapa menit yang lalu. Kami sudah berusaha semampu kami, hanya saja penyakit paru-paru yang diderita beliau sudah terlalu parah. Kami turut berduka cita". Dokter menangkupkan kedua tangannya didepan dada.
Alma masih mematung, tatapannya kosong menatap pintu yang baru saja dokter lewati. Dunianya runtuh sudah, kini dirinya benar-benar sebatang kara. Ia menggeleng keras, dan setelahnya tubuhnya merosot kehilangan kesadaran membuat Kirei semakin panik.
"Al..Al...bangun Al. Ya Allah..ini gimana kok malah lo pingsan sih". Pekik Kirei panik, kenapa ditempatnya berdiri tiba-tiba sepi. Apakah dirinya harus berteriak?
"Kirei.." Sebuah suara membuatnya mendongak, menatap wajah yang tak asing baginya.
"Lo..siapa nama lo. Bantuin gue angkat Alma".
"Bahkan dia nggak inget nama gue. Bener-bener unik lo, Ki". Batin Daniel tersenyum.
"Jangan diem aja lo. Cepetan angkat temen gue!". Suara Kirei membawa Daniel tersadar dari lamunan sesaatnya. Ia berjongkok dan mengangkat tubuh Alma kedalam ruang IGD. Sementara Kirei sudah berteriak memanggil dokter yang berjaga disana.
Dengan keringat yang membasahi pelipisnya, Kirei mendudukkan dirinya disamping Alma. Menggenggam sebelah tangan gadis itu yang terasa dingin.
"Lo harus kuat Al..gue tau ini berat. Tapi lo harus kuat..lo masih punya gue". Ucap Kirei dengan mata mulai memanas, sakit membayangkan betapa hancurnya Alma kehilangan satu-satunya keluarga yang dimiliki.
"Ternyata lo emang bener-bener malaikat Ki". Batin Daniel semakin mengagumi sosok Kirei.
"Ki..." Suara lirih Alma membuat Kirei menegakkan badannya. Menatap mata sayu temannya yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Lo udah bangun?". Pertanyaan konyol itu terlontar begitu saja dari mulut Kirei.
"Apa yang lo rasain? Pusing? atau apa?". Pertanyaan beruntun ia berikan pada Alma yang menatap langit-langit kamar tempatnya berbaring. Cairan bening lolos begitu saja membasahi wajahnya.
"Lo..panggilin dokter kek apa perawat. Jangan diem aja". Kesal Kirei pada Daniel yang hanya berdiri mematung disebelahnya.
Daniel mengerjap bingung, sejak tadi fokusnya tidak beralih dari wajah cantik Kirei. Hingga ketika Kirei berbicara dirinya menjadi gelagapan.
"Oh..i..iya, gue panggilin dulu". Jawabnya tergagap kemudian keluar mencari dokter dan perawat yang berjaga.
"Al..." Panggil Kirei membuat Alma menoleh.
"Ibu Ki..ibu pergi ninggalin aku sendiri". Tangis Alma kembali pecah ketika mengingat nasibnya kini. Ditinggal oleh orang-orang terkasihnya.
"Hussstt..lo harus tenang ya. Lo nggak boleh gini, kalo lo gini itu cuma bakal nambah ngeberatin ibu. Gue tau ini berat Al, beraat banget". Kirei menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Tapi sekarang kita bisa apa selain ikhlas dan doain ibu..kita udah berusaha semampu kita sebagai manusia, segala sesuatunya kita cuma bisa bergantung sama Allah, Al".
"Lo nggak sendiri Al..lo punya gue. Ada gue buat lo..kapanpun lo butuh, gue akan selalu ada". Kirei memeluk erat tubuh lemah Alma. Dirinya tidak boleh ikut larut dalam kesedihan temannya itu, setidaknya kehadirannya bisa memberi sedikit kekuatan untuk Alma.
Sementara dibalik tirai tempat Alma terbaring, Daniel mematung mendengar semua ucapan yang begitu menenangkan yang keluar dari mulut Kirei. Dirinya benar-benar tidak menyangka bahwa gadis galak itu bisa berubah selembut itu pada orang yang dekat dengannya. Dirinya benar-benar ingin menjadi bagian dari gadis yang sejak awal bertemu sudah berhasil merebut hatinya itu.
****
Kirei memapah tubuh lemah Alma turun dari ambulan yang membawa jenazah ibunya. Kirei terus mengelus lengan temannya itu untuk memberi sedikit ketenangan.
Didepan rumah kecil milik yang Alma tempati bersama sang ibu sudah banyak orang yang berkumpul. Diantara kerumunan orang, Kirei bisa melihat keempat ibunya berdiri disana.
Kirei dan Alma masih sama-sama mengenakan seragam sekolahny, keduanya sudah terlihat begitu lusuh dengan pakaian yang sejak pagi mereka kenakan.
Ara menyambut Alma yang terlihat berantakan. Ibu muda itu membawa Alma kedalam pelukannya. Memberi kehangatan dan kekuatan untuk gadis yang bisa membuat putri galaknya mau berteman dengannya.
"Tenang lah nak..kasihan ibumu jika melihatmu seperti ini. Kamu masih memiliki kami". Ara mengelus punggung Alma, sementara gadis itu mengeratkan pelukannya dengan tangis yang semakin pecah.
Ara membawa Alma kedalam rumah, gadis itu harus membersihkan dirinya dan berganti pakaian, begitupun dengan Kirei. Saat Kirei hendak mengikuti Alma dan sang ibu, Kirei ingat bahwa sejak tadi ada pemuda yang membantunya mengurus segala sesuatunya dirumah sakit. Ia membalikkan badan dan mendapati pemuda itu berdiri tepat dibelakangnya.
Kirei berjingkat kaget melihat posisinya begitu dekat dengan Daniel. Ia mengelus dad*nya lantaran terkejut.
"Oh iya..makasih. Siapa namanya lo?". Tanya Kirei berusaha mengingat sosok lelaki yang berdiri didepannya. Pemuda itu hanya tersenyum tipis melihat Kirei yang berusaha keras mengingatnya
"Daniel. Nama gue Daniel, Ki". Ucapan Daniel membuat Kirei mendongak. Matanya kembali bertemu dengan mata berwarna hazel milik Daniel. Namun dengan segera, ia mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Oke..Daniel, thanks udah bantuin gue ngurus jenazah ibu tadi". Ucap Kirei tulus membuat kedua sudut bibir pemuda itu tertarik keatas. Gadis ini benar-benar beda, benar-benar cantik dan tulus.
"It's ok. Alma juga temen gue". Jawab Daniel sambil tersenyum lembut. Entah mengapa, jantung Kirei seperti bekerja lebih keras dari biasanya. Degupan jantungnya benar-benar tidak terkendali. Apakah terdengar oleh pemuda didepannya itu?
"Oke..gue harus kedalem dulu. Lo bisa pulang..sekali lagi makasih". Setelah mengucapkannya, Kirei berlalu meninggalkan Daniel yang semakin menarik sudut bibirnya.
Daniel masih diam didepan rumah itu, pemuda itu justru duduk disalah satu kursi yang tersedia disana. Tidak ada sedikitpun niatannya pergi dari sana.
Sementara didalam kamar, Alma masih menangis didalam pelukan Ara. Namun Alma sudah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
"Kamu dari mana saja hm??". Tanya Dira ketika melihat Kirei membuka pintu.
"Tau nih anak. Bukannya bebersih malah ngilang". Sahut Putri membuat Kirei mencebik, kedua ibunya itu memang sangat cerewet.
"Iyaa..iyaaaaa. Ini juga mau mandi baginda ratuuuu". Ledek Kirei membuat keduanya mendelik kesal.
"Sudahlah..kenapa kalian malah berdebat. Biarkan Kirei membersihkan tubuhnya dulu". Raisya menengahi perdebatan yang tak kunjung berakhir.
"Ambil ini dan segera bersihkan tubuhmu sayang". Lanjutkan memberikan tas berisi pakaian ganti milik Kirei.
Ara hanya melirik ketiga perempuan yang sibuk berdebat dengan putri ngeyelnya itu. Sementara dirinya sibuk menenangkan Alma yang tak kunjung reda tangisnya.
"Menangislah sepuasnya hari ini nak. Setelah ini berjanjilah pada ibumu bahwa kamu akan bahagia". Ara mengecup pucuk kepala Alma. Dapat Alma rasakan besar kasih sayang yang Ara berikan.
Alma hanya menganggukkan kepalanya dalam pelukan Ara, meratapi kisah hidupnya yang terasa begitu pilu.
__ADS_1