
Saat ini Kirei dan Daniel sedang duduk berdua ditepi danau buatan yang ada dipinggiran kota, kegiatan rutin keduanya setiap akhir pekan selama beberapa bulan ini. Keduanya sama-sama diam dengan pikiran masing-masing, hanya deguban jantung keduanya yang seirama. Sepasang muda mudi yang tengah jatuh cinta, meski keduanya belum menyatakan perasaan masing-masing..namun tatapan keduanya menyiratkan bahwa ada cinta yang begitu dalam dari sorot mata keduanya.
"Ki.." Suara Daniel membuat Kirei menoleh. Wajah Daniel tidak secerah biasanya, Kirei dapat melihat tatapan mata itu seolah menyimpan rahasia besar.
"Hmm.." Kirei hanya berdehem menanggapi panggilan Daniel, jantungnya memompa lebih cepat dari sebelumnya, takut dengan apa yang akan Daniel katakan. Firasatnya mengatakan itu bukan hal yang baik.
Daniel berdiri, mengulurkan tangannya pada Kirei yang mengangkat alisnya bingung. Namun tak urung tangannya menerima uluran tangan hangat milik Daniel.
Daniel menggenggam erat kedua tangan Kirei, matanya menatap fokus pada wajah cantik gadis yang terlihat salah tingkah karena ia terus memperhatikannya dengan intens.
"Liat gue Ki". Daniel menarik dagu Kirei, memaksa gadis itu untuk melihat kearahnya. Sebisa mungkin, gadis itu mencoba berekspresi seperti biasa, namun jantungnya tidak dapat diajak berkompromi sepertinya.
"Gue sayang sama lo Ki..gue..gue cinta sama lo". Ucapan Daniel berhasil membuat Kirei lupa bernapas untuk sesaat. Meski ia tahu bahwa Daniel juga memiliki rasa padanya, namun ungkapan Daniel benar-benar mengejutkannya.
Tubuh Kirei semakin menegang kala Daniel membawa tubuhnya kedalam pelukan hangatnya, membuat deguban jantungnya semakin tak terkendali saja.
"Tolong maafin semua kesalahan gue Ki". Ucap Daniel parau, dalam diamnya Kirei berpikir. Ada apa dengan lelaki ini, mengapa setelah menyatakan cintanya justru Daniel meminta maaf padanya.
"Dan.." Panggil Kirei berusaha melepaskan pelukan. Namun Daniel justru mempererat pelukannya.
"Biarin gini Ki, bentar aja..gue pengen peluk lo sepuasnya sekarang". Kirei dapat merasakan bahu lelaki yang memeluknya itu naik turun.
Daniel menangis? Tapi kenapa? Kini Kirei justru dibuat bingung oleh keadaan.
Dalam keadaan linglung, Kirei mengangkat tangannya membalas pelukan hangat lelaki tampan yang sudah mencuri hatinya.
Lama keduanya berpelukan, setelah Daniel merasa hatinya sedikit tenang, ia merenggangkan pelukannya. Menangkup wajah cantik Kirei dan berakhir mendaratkan ciuman lembut pada kening gadis itu.
Kirei memejamkan matanya, meresapi kehangatan yang menjalar dari keningnya hingga keseluruh tubuhnya.
"Makasih Ki..makasih lo udah hadir dalam hidup gue. Gue bahagia pernah kenal lo". Daniel mengelus lembut pipi mulus Kirei.
Kirei hanya bisa mengangguk, bahagia atas ungkapan cinta Daniel tapi juga dibuat bingung dengan sikap Daniel yang tiba-tiba aneh.
Keduanya menghabiskan sore itu dengan bersenda gurau seperti hari-hari yang mereka lalui selama ini.
****
Berulang kali Kirei melirik kursi disampingnya. Bel sekolah sudah berbunyi sejak setengah jam lalu. Namun hingga guru masuk kedalam kelas dan memulai pelajaran, Daniel belum juga menampakkan batang hidungnya.
Sudah tiga hari lelaki yang duduk disamping Kirei itu tidak datang kesekolah. Nomor ponselnya tidak dapat dihubungi meski Kirei berkali-kali mencobanya.
Perasaan khawatir memenuhi hati dan pikirannya, kemana perginya Daniel selama tiga hari ini. Lelaki itu benar-benar menghilang seperti ditelan bumi.
"Kemana lo Dan". Batin Kirei dengan mata yang terus melirik kursi sebelahnya. Perasaan rindu yang baru ia rasakan setelah hidup 18tahun didunia ini, kini seakan mencekik lehernya.
"Kirei!". Suara bentakan dari pak Joko membuatnya terkesiap. Saat ia menoleh, pak Joko tengah menatapnya tajam. Tatapan yang seolah mampu menembus jantungnya.
"I..iya pak". Jawab Kirei terbata.
"Kamu tidak mendengarkan saya? Saya sampai lelah memanggil namamu!". Terdengar helaan nafas panjang dari mulut lelaki tua itu.
"Keluar". Perintah pak Joko tegas. Tak ingin membuat gurunya semakin marah, Kirei memilih keluar dari kelas.
Ini adalah pengalaman pertamanya diusir dari dalam kelas oleh seorang guru hanya karena tidak fokus.
Berulang kali ia menarik nafas panjang dan mengembuskannya kasar lewat mulut. Pikirannya kacau, seandainya Daniel bisa dihubungi, mungkin ia tidak akan sekhawatir ini.
"Nggak..gue nggak bisa kaya gini. Gue harus kerumah Daniel nanti". Kirei memantapkan hatinya, meyakinkan dirinya untuk menyambangi rumah lelaki yang membuatnya kacau tiga hari ini.
#####
__ADS_1
Kirei sudah berdiri didepan gerbang rumah yang sudah beberapa kali ia datangi. Rumah keluarga Adhitama, keluarga Daniel. Satpam yang melihat Kirei segera berlari menghampiri gerbang. Lelaki paruh baya itu terlihat tersenyum ramah menyambut kedatangannya.
"Assalamualaikum, selamat sore mang Asep". Sapa Kirei dengan senyum mengembang.
"Wa'alaikumsalam, selamat sore neng Kirei. Aduh meuni lama nggak kesini. Kamana wae atuh?". Tanya satpam rumah itu menggunakan logat sundanya.
"Ada mang..cuma emang jarang kesini aja". Sahut Kirei berbasa basi.
"Ehmm..mang asep, Danielnya ada dirumah?". Tanya Kirei masih dengan senyum sempurna menghiasi bibirnya.
Melihat raut wajah mang Asep, Kirei mulai was-was. Apa ada sesuatu yang ia tidak ketahui tentang pria itu? Pikirannya mulai kacau, namun sebisa mungkin ia menggiring pikirannya untuk berpikir positif.
"Den Daniel?". Beo mang Asep semakin membuat Kirei gugup. Kirei mengangguk cepat, ingin secepatnya tau tentang lelaki yang sudah membuatnya tak tenang tiga hari ini.
"Den Daniel sudah pindah tiga hari lalu bersama keluarga nya neng". Ucap mang Asep pelan.
Deg..
Jantung Kirei seakan berhenti memompa darahnya, senyum yang sejak tadi mengembang perlahan memudar. Berganti dengan wajah bingung dan takut.
Daniel pindah dan tidak sedikitpun memberitahunya.
"Pi..pindah kemana mang?". Tanya Kirei dengan bibir gemetar.
"Mamang ku..kurang tau neng. Cuma bilang pindah keluar kota tempat calon istri den Daniel tinggal". Terlihat jelas wajah mang Asep ragu saat mengucapkannya.
"Ca..calon istri?". Gumam Kirei.
Apa-apaan ini. Apa yang terjadi sebenarnya, kepala Kirei terasa berdenyut memikirkan serangkaian kejadian yang ia alami.
"Ma..maaf neng. Memangnya aden nggak ngomong apa-apa sama neng?". Tanya mang Asep hati-hati.
Kirei menggeleng lemah, berusaha sekuat tenaga menghalau air mata yang sudah siap mengalir.
"Jadi ini alesan lo minta maaf ama gue Dan. Lo bilang sayang sama gue lo bilang cinta sama gue. Tapi apa ini Dan? Lo tega Dan..lo hancurin gue sehancur-hancurnya". Batin Kirei menangis.
"Neng..neng Kirei? Neng nggak apa-apa?". Suara mang Asep membuat Kirei tersadar, buru-buru ia menghapus air mata yang menggenang disudut matanya.
"Enggak kok mang. Yasudah, Kirei pamit dulu ya mang Asep". Kirei berusaha sekuat tenaga membuat suaranya terdengar biasa.
"Assalamualaikum mang ganteng". Goda Kirei dengan senyum yang terkesan dipaksakan.
"Wa'alaikumsalam neng". Mang Asep memandang punggung Kirei yang terlihat ringkih setelah mendengar kabar yang ia sampaikan.
Kirei menjatuhkan kepalanya telat diatas stir mobilnya. Air mata sudah tidak dapat lagi ia bendung, terlalu sakit rasanya mendengar kabar yang diberikan mang Asep.
Kirei menghabiskan waktu hampir 1jam didalam mobilnya untuk menangis, matanya sudah memerah dan bengkak. Lebih mirip mayat hidup. Jika saudara tak berakhlaknya melihat kondisinya saat ini, bisa ia pastikan kedua saudara lakna*nya itu akan terus mengejeknya.
Kirei menghapus kasar air mata yang tidak tahu sopan santun itu, air mata itu terus saja mengalir dikedua pipinya meski sudah Kirei hapus. Ini adalah cinta pertamanya, dan dirinya langsung dijatuhkan kedalam jurang setelah diterbangkan kelangit dengan pernyataan cinta Daniel.
"Brengs*k!! B***ngan lo Dan!!". Umpat Kirei sambi memukul stir mobilnya dengan keras.
Kirei bersumpah demi apapun, dirinya sangat membenci lelaki yang sudah memporakporandakan hatinya yang baru saja bersemi. Daniel menghancurkan segala kepercayaannya pada laki-laki.
Kirei memukul dadanya beberapa kali, berharap bisa mengurangi rasa sesak yang seolah terus menghimpit dadanya. Rongga parunya seakan kehabisan oksigen.
"Aaarrrghhhh!!!!". Kirei berteriak kencang dan kemudian menangis lagi. Dirinya benar-benar kacau dan hancur.
Puas meluapkan amarah dan kekecewaannya, Kirei mulai melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang cukup padat sore ini.
Kirei yang sedang tidak fokus tanpa sengaja menabrak mobil yang didepannya yang berhenti, Kirei melihat pemilik mobil turun dan melihat bumper belakangnya yang sepertinya penyok karena tertabrak olehnya.
__ADS_1
Gadis itu menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan kasar, merasa sangat s*al hari ini.
Kaca mobilnya diketuk oleh seorang pria pemilik mobil. Setelah menghela nafa panjang, Kirei membuka pintunya.
"Heh bocah..lo bisa nyupir apa kaga sih? Itu bumper gue penyok". Pria itu langsung nyerocos membuat Kirei yang memang sedang sedih bercampur kesal semakin kesal saja.
"Iya om..iyaaaa..maaf". Jawab Kirei mencoba bersabar. Sementara pria dihadapannya melotot tak percaya mendengar Kirei memanggilnya om, hey..dia tidak setua itu.
"Lo bilang apa? Om???". Tanya si pria tak percaya.
"Iya". Sahut Kirei cepat. Sungguh dirinya ingin cepat-cepat sampai rumah dan mengurung dirinya didalam kamarnya.
"Yaaaak..gue nggak setua itu. Kur*ng*jar lo jadi anak kecil". Sengit si pria semakin tak terima.
"Tuh kan..om bilang ak anak kecil, ya wajar ak panggil situ om. Udah deh, cuma mau minta ganti rugi kan?". Tanya Kirei tak ingin berlama-lama. Sebelum orang itu menjawab, Kirei membuka pintu mobil dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Siniin tangannya". Kirei menengadahkan tangannya pada pria muda dihadapannya.
"Buat apa?". Alis pria itu hampir menyatu.
"Lama ih..gue buru-buru om". Kirei menyambar tangan si pria, menaikkan lengan bajunya dan mengeluarkan pulpennya.
"Om bisa hubungin no ini, nama gue Kirei...nanti gue transfer. Sekarang gue buru-buru. Assalamualaikum..sekali lagi maaf om". Kirei meninggalkan pria yang masih mematung melihat lengannya yang penuh dengan coretan nomor telpon yang ditulis oleh Kirei dilengan pria itu.
"Kirei.." Gumam lelaki itu menarik sedikit ujung bibirnya. Ketika ia mendongak, mobil gadis yang menabraknya sudah melaju meninggalkannya.
"Apes banget sih hari ini". Gerutu Kirei sambil menambah kecepatan mobilnya. Ia ingin segera sampaui rumah dan menyegarkan dirinya yang sudah seperti mayat hidup.
****
"Sayang?". Panggil Ara lembut ketika melihat putrinya masuk kedalam rumah tanpa mengucapkan salam. Tidak biasanya Kirei seperti ini.
"Assalamualaikum buna..Kirei ke atas dulu ya bun..Kirei capek banget". Kirei meninggalkan Ara tanpa menoleh, ia yakin jika ibunya itu melihat tampilannya yang sekarang, akan ada kehebohan dalam rumah, dan Kirei tidak mau. Jalan satu-satunya hanya menghindari kedua orang tuanya saat ini.
"Kenapa anak itu?". Gumam Ara menaruh curiga pada sikap anaknya.
"Siapa bun?". Suara Alma mengejutkan Ara yang tengah fokus menatap punggung Kirei yang berlari menaiki satu persatu anak tangga.
"Sayang..apa di sekolah Kirei ada masalah? Kenapa sikapnya aneh sekali". Ara ingin memastikan kondisi putrinya.
"Kirei? Kirei sudah pulang bun?". Alma justru balik bertanya pada Ara.
"Ya..baru saja. Memang kemana anak itu pergi?? Tidak biasanya tidak bersamamu". Ara semakin penasaran saja.
Alma menghela nafas panjang sebelum bercerita pada Ara.
"Sudah tiga hari Daniel nggak ke sekolah bun, Kirei nggak fokus..tadi sempet dikeluarin dari kelas". Alma kembali menghela nafasnya sebelum melanjutkan ceritanya. Sementara Ara semakin serius mendengarkan cerita Alma.
"Tadi Kirei bilang sama aku buat pulang dulu, Kirei mau kerumah Daniel dulu katanya. Kirei kacau banget tiga hari ini bun". Alma mengakhiri ceritanya dengan hembusan nafas yang berat.
Sementara didalam kamar, Kirei sedang menyembunyikan wajahnya yang kembali basah oleh air mata dibantal. Kirei kembali menangis meski sudah mencoba tegar dan menerima bahwa lelaki yang menyatakan cinta padanya beberapa hari lalu itu hanya mempermainkan dirinya.
"B*go, b*go, b*go!!!". Kirei terus menyalahkan dirinya yang dengan b*dohnya ditipu oleh Daniel dengan ucapan cinta.
"Lo boong Dan..gue benci sama lo, gue benci". Lirih Kirei disela isakannya. Kirei tertidur masih dengan seragam dan sepatunya. Wajahnya sudah tidak bisa lagi dijabarkan seperti apa sekarang bentuknya.
__________
Hai readers, makasih buat dukungannya selama ini ya..semoga bisa menikmati karya otor yang masih amatir ini.
Kayanya Cinta Kirana bentar lagi bakal aku udahin aja..nanti aku bakal bikin cerita baru buat Kirei. Kalo dilanjut disini takut terlalu melenceng dari judul sama kelewat banyak chapternya.
__ADS_1
Mungkin beberapa chapter lagi terus di udahin aja cerita Cinta Kirana. Semoga karya baru nantinya juga disukai sama pembaca semua๐๐๐