
Saat mama Anika sampai dirumah sakit, dua perawat perempuan baru saja keluar dari kamar Ara.
"Apa putriku baik-baik saja? Bukankah dokter akan melakukan pemeriksaan 1jam lagi?" Tanya mama khawatir.
"Tidak nyonya, kondisi pasien baik-baik saja. Kami baru saja membantu nona Kinara membersihkan diri" Jawab perawat itu sopan.
"Oh, baiklah kalau begitu kalian bisa kembali ketempat kalian. Terima kasih atas bantuannya"
Kedua perawat itu menundukkan kepala sedikit kemudian berjalan meninggalkan mama Anika seorang diri.
Saat mama masuk, mama bisa melihat kecanggungan diantara Dev dan Ara. Ada apa ini? batin mama.
"Selamat pagi sayang. Kamu sudah lebih baik?" Tanya mama mendekati ranjang Ara.
"Saya sudah jauh lebih baik nyonya"
"Kenapa wajahmu merah sekali sayang? Apakah kamu demam?" Mama Anika menempelkan punggung tangannya ke dahi Ara.
"Kamu tidak demam, lalu kenapa wajahmu merah sekali sayang?" Tanya mama penasaran.
"Sa..saya benar-benar tidak apa-apa nyonya" Jawab Ara gugup.
"Dev??" Mama memandang putranya dengan tatapan curiga.
Dev menghela nafas panjang kemudian menceritakan kejadian sebelum sang mama datang.
Flashback on
"Kamu mau mandi? Biar aku bantu."
"Hah?!!"
"Yaaaak..jangan kurangaj*r ya bang. Ngapain lu mau bantuin gue mandi!!" Ucap Ara sedikit berteriak.
Dev bengong sesaat mencerna ucapan Ara, sesaat kemudian dirinya sadar dengan ucapannya yang sepertinya salah dimengerti oleh Ara.
"Bu..bukan itu maksudku Ra"
"Terus apa hah?!" Potong Ara cepat
Dev membuang nafas kasar
"Maksudku, aku akan membantumu untuk ke kamar mandi. Bukan membantumu mandi Ra" Jawab Dev sambil memalingkan wajahnya yang memerah.
Begitupun dengan Ara yang kini wajahnya sudah sangat merah. Dirinya benar-benar malu telah berpikiran yang tidak-tidak pada Dev.
"Gu..gue. Panggilin perawat aja" Ucap Ara cepat masih memalingkan wajahnya tak mau menatap Dev. Dirinya benar-benar malu sekarang.
Dev berjalan keluar dan memanggil dua orang perawat perempuan untuk membantu Ara membersihkan dirinya dan mengganti pakaian rumah sakitnya.
Ara membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan dibantu kedua perawat yang Dev panggil.
Flashback off
Mama Anika sudah tertawa sejak sebelum Dev menyelesaikan ceritanya. Semakin merah saja wajah Ara melihat mama yang kini tertawa terpingkal-pingkal hingga memegangi perutnya.
Dev mendengus melihat reaksi sang mama yang terlihat sangat menyebalkan itu.
"Udah ma!". Ketus Dev
"ya ampun sayang..kenapa kalian lucu sekali. hahahaha" mama masih terus tertawa
"Wajar saja Ara mengira kamu akan kurang*jar Dev. Kamu salah memilih kata-kata, kalau mama ada diposisi Ara, mama pasti berpikiran sama" Lanjut mama setelah bisa meredakan tawanya.
Dev semakin mendengus kesal mendengarkan ocehan mamanya.
Sejak tadi Ara masih diam dan menundukkan kepalanya. Malu rasanya untuk berhadapan dengan Dev. Padahal Dev hanya berniat menolongnya, namun pikirannya terlalu jauh.
bod*h..bod*h..bod*h
Ara terus mengumpati dirinya sendiri.
"Makanlah dulu Dev, mama sudah memasak untuk kalian. Mama yang akan menyuapi Ara".
Dev hanya mengangguk kemudian berjalan ke sofa yang semalam menjadi pengganti kasur empuknya. Dev mulai melahap makanannya, sepertinya Dev sangat lapar setelah kejadian lucu barusan.
"Makan ya sayang. Mama suapi, mama tahu kamu pasti tidak suka dengan makanan rumah sakit yang hambar itu" Ucap mama sambil menyodorkan sesendok nasi beserta lauk kemulut Ara.
"Ti..tidak perlu nyonya. Saya akan makan sendiri" Tolak Ara halus
"Tidak ada penolakan!" Ucap mama tegas.
__ADS_1
Akhirnya pagi itu, Ara makan disuapi oleh mama Anika. Ara menghabiskan makanan yang dibawakan oleh mama, rasanya sangat nikmat makan dengan disuapi oleh seorang ibu.
"Terima kasih nyonya"
"Bukan masalah sayang. Tapi maafkan mama tidak bisa menemani kalian terlalu lama. Mama ada urusan dengan butik"
"Mungkin bapakmu juga tidak bisa kesini 2 sampai 3hari ini. Dia sedang menemani papa keluar kota sayang. Kamu tidak apa?" Tanya mama Anika.
"Tidak apa-apa nyonya. Saya sudah lebih baik, mungkin besok sudah bisa pulang". Jawab Ara dengan senyum manis.
"Baiklah..mama tinggal dulu ya sayang. Jaga dirimu. Assalamualaikum"
'Waalaikumsalam.." Jawab Dev dan Ara bersamaan.
Hening....
"Maafin gue ya bang. Tadi gue udah salah paham ama elu" Ucap Ara sambil menundukkan kepalanya merasa tidak enak.
"Nggak papa Ra. Nggak usah kita bahas lagi" Jawab Dev
"Kamu istirahat lagi aja Ra"
"Aku ngerjain tugas dulu ya" Lanjut Dev yang dijawab anggukan kepala oleh Ara.
Ara kembali merebahkan tubuhnya diranjang. Baru 2hari disana dirinya sudah merasa sangat bosan dan ingin pulang.
ceklek
Pintu kamar terbuka, memperlihatkan wajah tampan dokter muda yang dulu pernah merawat Ara saat tertembak.
"Selamat pagi nona Kinara". Sapa dokter Yoga sopan.
"Selamat pagi juga dokter" Balas Ara ramah
Dev langsung bangkit dan mendekati ranjang Ara, kemudian ia berdiri disamping Ara. Berhadapan dengan dokter Yoga yang tersenyum saat melihat tingkah Dev.
"Oke, kita periksa dulu ya nona Ara"
Ara mengangguk sebagai jawaban. Dokter Yoga mulai memeriksa kondisi tubuh Ara, dimulai dari tekanan darah, denyut nadi dan memeriksa luka-luka yang ada ditubuh Ara terutama luka sabetan pisau yang kemarin sempat mendapat beberapa jahitan.
"Semuanya bagus ya..kondisi nona Ara sudah sangat bagus. Jahitannya juga bagus, hanya untuk luka memar sepertinya butuh waktu sedikit lama agar bisa hilang" Jelas dokter.
"Lalu kapan saya bisa pulang dokter?" Tanya Ara antusias
"hmm..kalau kondisinya bagus mungkin lusa sudah bisa pulang"
"Apakah tidak bisa besok saja dokter?" Tanya Ara lagi.
"Kita lihat kondisi nona besok. Kalau semua baik, saya akan mengijinkan nona Ara untuk pulang besok" Jawab dokter disertai senyum ramah.
"Tapi..anda harus istirahat dengan benar nona, makan dan minum yang teratur. Itu akan membantu anda untuk cepat pulih" Lanjut dokter
Ara mengangguk mantap.
"Baiklah..saya permisi dulu kalau begitu. Mari nona Ara, tuan Dev"
Setelah berpamitan dokter Yoga langsung keluar dari ruang rawat Ara.
"Kamu kenapa pengen cepet pulang Ra? Kamu belum pulih" Tanya Dev setelah dokter Yoga menghilang dibalik pintu.
"Bosen bang" Jawab Ara nyengir.
Dev hanya menggeleng melihat kelakuan Ara.
Sementara dikampus, kabar tentang penculikan Ara sudah tersebar. Bahkan siapa dalang dibalik penculikan Ara juga sudah tersebar luas.
Kedua sahabat Clara tidak menyangka bahwa gadis itu akan senekat dan seberani itu mencelakai orang lain.
Beberapa hari lalu, Clara memang meminta bantuan kedua sahabatnya untuk mencelakai Ara. Namun kedua temannya itu takut, karena Clara meminta mereka untuk menabrak Ara dengan menggunakan mobil.
Tentu saja Bella dan Sesil menolak, mereka memang suka menindas, namun mereka takut jika berhubungan dengan hal kriminal. Apalagi ini menyangkut nyawa seseorang.
Namun karena keduanya yang sudah terkenal karena sikap sok berkuasanya dan juga status keduanya yang adalah sahabat Clara,mereka menjadi gunjingan para mahasiswa.
"Lihat, temennya penculik"
"Jangan-jangan mereka juga sama kaya si Clara"
"Psikopat"
Masih banyak lagi sindiran para mahasiwa yang ditujukan untuk keduanya. Keduanya benar-benar merasa frustasi mendengar cacian dan makian dari banyak orang.
__ADS_1
***
"Keadaan si Ara gimana sekarang Dir?" Tanya Sam
Kini Sam dan Kevin beserta ketiga sahabat Ara sedang berada disebuah cafe yang tidak jauh dari kampus mereka.
"Kata mama sih udah lebih baik" Jawab Dira sambil menyeruput Jus apel yang sudah ia pesan.
"Gila ya tu si Clara. Segitunya terobsesi ama kakak lu, nyampe cewe yang deket ama kakak lu diculik terus disiksa, ck ck ck. Nggak nyangka gue tu lampir ngeri gitu" Jiwa rempong Sam langsung dalam mode on.
Kevin sudah memutar matanya malas mendengarkan ocehan sahabatnya.
"Emang tu cewe dari dulu gila. Nggak cuma suka ngebully, ternyata dia juga psikopat" Putri bergidik membayangkan dirinya ada diposisi Ara saat diculik.
"Sebenernya gimana sih hubungan Clara sama Ara?? Kenapa Clara benci banget sama Ara?"
Pertanyaan Salsa membuat semua orang mengalihkan pandangan padanya.
Dira dan Putri saling berpandangan kemudian mengangguk sebagai tanda bahwa ini saatnya sang sahabat baru tau segala cerita tentang mereka.
Dira dan Putri bergantian menceritakan tentang awal mula mereka mengenal Ara, bagaimana Ara melindungi mereka dan melawan Clara serta teman-temannya sampai Clara yang marah karena tahu Dev menyukai Ara.
Salsa menutup mulut dengan kedua tangannya karena terkejut mendengar semua cerita sahabat-sahabatnya itu.
"Apa Ara tahu kalo kak Dev menyukainya?" Tanya Salsa
"Kayanya sih kaga. Tu bocah kaga ada peka-pekanya segitu si Dev udah ngasih perhatian kaya ke pacar" Cerocos Sam.
Dira dan Putri mengangguk setuju.
"Emang nggak peka" Jawab keduanya kompak.
Semua menghela nafas panjang. Hanya Kevin yang terlihat tidak perduli dengan obrolan Sam dan yang lainnya. Dirinya lebih memilih menyibukkan diri dengan game yang ada diponselnya.
__________
Sesuai janji dokter Yoga kemarin. Karena Ara istirahat dengan benar serta makan dengan baik. Hari ini Ara diijinkan pulang oleh sang dokter.
"Tetap harus istirahat dirumah ya nona Ara, tidak boleh terlalu lelah. Makan dan istirahat yang teratur akan mempercepat penyembuhan anda" Jelas dokter
Ara mengangguk semangat dan berjanji akan makan dan beristirahat dengan benar.
"Terima kasih banyak dokter" Ara menyalami sang dokter diikuti Dev yang melakukan hal sama.
Kini Ara dan Dev sudah berada di perjalanan pulang. Dev sudah menghubungi sang ibu untuk tidak menyusul ke rumah sakit, Dev juga sudah mengabari adik dan sahabatnya untuk menunggu di rumah saja.
Dev melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Beberapa kali Ara melihat belakang melalui spion. Ara menghela nafas panjang.
"tu mobil sengaja ngikutin apa cuma kaga sengaja lewat bareng sih. Ya kali gue kudu bonyok lagi. Kalo gini terus bisa beneran mati muda gue" Batin Ara saat melihat ada sebuah mobil sedan yang mengikuti mobil Dev.
Dev juga memperhatikan spionnya, sudah sejak dirinya keluar dari rumah sakit mobil itu mengikutinya. Sebelumnya Dev mengira bahwa mobil yang dibelakangnya hanya memiliki tujuan yang searah. Namun sepertinya mobil itu memang mengikutinya.
"Berhenti bang" Ucap Ara
Dev menepikan mobilnya tepat disebuah warung makan dipinggir jalan.
"Kenapa Ra?"
"Laper gue bang. Kita makan dulu" Jawab Ara
Sebenarnya ini hanya cara Ara untuk melihat siapa orang yang mengikuti mereka.
Dev dan Ara turun dari mobil dan masuk kedalam warung makan itu. Keduanya makan dengan lahap karena memang pada kenyataannya mereka benar-benar lapar.
Ara terus memperhatikan mobil yang mengikutinya juga berhenti diseberang jalan dan terus memperhatikan mereka.
Saat sudah selesai, Dev membayar dan hendak keluar. Namun Ara menahan tangan Dev.
"Gue boleh bawa mobil lu kaga bang?" Tanya Ara ragu.
Dev menaikkan sebelah alisnya disertai senyum tipis.
"Boleh..tapi nggak sekarang ya. Kamu belum pulih" Ucap Dev sambil mengelus pucuk kepala Ara.
"Cuma 1x aja bang. Gue janji cuma 1x ini aja..pliiiss, ya ya ya" Terpaksa Ara mengeluarkan jurusnya memasang wajah semanis mungkin agar Dev luluh.
Dan usahanya berhasil, Dev menganggukkan kepalanya tanda menyetujui keinginan Ara.
Ara tersenyum lebar sambil melirik mobil sedan yang masih terparkir diseberang jalan sana dengan 4 orang pria yang terus mengawasi mereka berdua.
"Kita liat segimana kemampuan lu pada bawa tu mobil bagus" Batin Ara sambil tersenyum sinis melirik mobil sedan itu.
__ADS_1
"anggep aja test drive"