
Dev dan Ara beriringan menuruni tangga, ketampanan Dev dipadukan dengan kecantikan Ara membuat keduanya terlihat sangat serasi.
"Kita sambut raja dan ratu kita malam ini.." Terdengar suara riuh tepuk tangan tamu yang hadir.
"Calon mantu mama cantik banget kan pa". Kata mama.
"Calon mantu papa juga ma". Cebik papa membuat mama terkekeh.
Ara mengedarkan pandangannya pada semua orang yang hadir, tatapannya berhenti pada sosok pria yang sudah berumur, cinta pertamanya didunia ini, lelaki yang melakukan segala upaya untuk membahagiakannya. Mata Ara berkaca-kaca ketika tatapannya dan tatapan bapak bertemu. Begitupun bapak, matanya sudah berair melihat bagaimana cantiknya putrinya malam ini. Bapak menyeka air mata yang menetes tanpa permisi.
"Lihat putri kita bu, dia secantik dirimu. Apakah kamu juga melihatnya dari sana? Seandainya kamu masih ada disini, kamu akan menjadi yang paling bahagia Ranti". Batin bapak.
"Bapak.." Lirih Ara.
Dev dapat melihat mata Ara yang sudah berkaca-kaca. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada Ara, hingga membuat Ara menoleh.
Dev tersenyum hangat memberi kekuatan pada kekasih hatinya membuat Ara ikut menyunggingkan senyum manis.
Senyuman kedua anak manusia itu berbanding terbalik dengan air mata seorang gadis yang menatap tak percaya pada dua orang yang sedang menuruni anak tangga dengan saling bergandengan.
"Nggak..nggak mungkin". Lirih Raisya dengan air mata yang sudah meluncur deras dari kedua matanya, namun dengan cepat ia menghapusnya. Ia tak ingin kedua orang tuanya serta sang kakak melihat dirinya menangis.
Tak berbeda dari sang adik, Rayhan pun kini sedang merasa nyeri di dadanya. Terasa begitu sesak melihat Ara yang malam ini terlihat begitu cantik dan menawan, namun sayang semua kecantikan itu sudah menjadi milik pria lain. Jantungnya seperti diremat kuat melihat senyum yang Ara berikan untuk Dev.
"Bahkan aku belum menyatakan perasaanku Kinar, dan kamu sudah menjadi milik pria lain". Batin Rayhan dengan senyum miris.
"Masyaallah, cantik sekali Kinar ya yah". Kata bunda Sekar ibunda Raisya.
"Iya bun..benar-benar mirip seperti ibunya". Jawab ayah Arman.
Bunda mengangguk dengan mata berkaca-kaca mengingat almarhum sahabatnya yang tak lain adalah ibu Ara.
"Ranti..anakmu sudah tumbuh menjadi gadis cantik. Kamu pasti bahagia melihatnya dari atas sana". Lirih bunda Sekar.
Ayah yang mendengar ucapan sang istri memeluk pundak istrinya untuk memberi ketenangan.
"Ranti sudah bahagia disurga bun". Kata Ayah menenangkan.
Dev dan Ara sudah berdiri disebuah panggung kecil yang berada ditengah taman.
"Okeee..nggak usah nunggu lama-lama ya, kayanya calon manten lakinya udah nggak sabar ini pengen pasangin cincin buat calon bininya". Pembawa acara yang tak lain adalah Sam membuat suasana semakin riuh dengan cara pembawaan acaranya.
Tak ada bahasa formal seperti pesta pertunangan pada umumnya, hanya bahasa yang membuat suasana menjadi terasa sangat santai.
Mama Anika maju dengan membawa kotak berisi dua cincin yang sangat indah.
Dev menyematkan cincin indah pada jari manis Ara. Semua bertepuk tangan, kini giliran Ara yang akan memasangkan cincin dijari Dev. Namun sebelum Ara berhasil menyematkan cincin dijari manis Dev, suara Raisya menghentikan gerakan Ara.
"Berhenti!" Ucap Raisya membuat semua orang memandangnya bingung, begitupun dengan kedua orang tua dan kakaknya.
"Apa yang kamu lakukan Raisya?!" Tanya sang bunda.
"Jangan membuat ayah dan bunda malu nak". Desis sang ayah.
Tanpa mempedulikan ucapan kedua orang tuanya, Raisya bangkit dan berjalan menuju panggung tempat Dev dan Ara saat ini tengah berdiri.
Mama Anika memberi tatapan tajam pada gadis yang dulu pernah diperkenalkan Dev sebagai teman dekatnya.
__ADS_1
Sementara Dira, Sam dan Kevin yang mengetahui siapa Raisya hanya bisa menelan ludah dengan kasar melihat Raisya semakin mendekat kearah Dev dan Ara.
Dev mengepalkan tangan melihat gadis yang dulu menguasai hatinya justru kini menjadi gadis yang cukup Dev benci. Rasa kecewa dan marah semakin terlihat dimata Dev saat melihat Raisya menghentikan acara pertunangannya dengan Ara.
Ara hanya diam menunggu Raisya sampai dihadapannya dan Dev.
"Jangan lanjutkan acara ini Kinar!" Ucap Raisya tanpa keraguan sedikitpun. Sontak ucapan Raisya membuat mata semua orang melebar sempurna.
"Apa yang lo lakuin Raisya". desis Dev.
Hanya Ara yang memasang wajah datar tanpa rasa terkejut sedikitpun, jangan tanyakan bagaimana hati Ara saat ini. Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya melihat Raisya yang dengan terang-terangan ingin menggagalkan acara malam ini. Hatinya seperti diremat kuat, namun sebisa mungkin Ara memasang wajah tenang.
"Kenapa kak?? Kasih aku alesan kenapa aku harus berhenti disini?". Tanya Ara tenang.
Dev langsung menggenggam erat tangan Ara, membuat Ara menoleh, menatap Dev dengan senyum tipis tersungging dibibir kecilnya.
"Aku mencintai Dev, dari dulu hingga saat ini. Tidak sedikitpun aku melupakan Dev. Kami dulu adalah sepasang kekasih Kinar. Apa kamu tega memisahkan kami". Raisya benar-benar sudah seperti orang kehilangan akal saat melihat lekaki yang masih begitu ia cintai akan dimiliki gadis yang sudah seperti adik baginya.
"Raisya!!!". Bentak sang ayah, namun sama sekali tidak digubrisnya.
Ara menatap Dev meminta penjelasan atas apa yang diucapkan Raisya. Dev menggeleng kuat menyangkal semua yang Raisya ucapkan.
Ara kembali menatap gadis dihadapannya yang wajahnya kini sudah dipenuhi air mata. Hatinya terasa begitu sakit melihat perempuan yang seperti kakak baginya terlihat begitu rapuh karena lelaki yang sama-sama mereka cintai.
"Hentikan kekonyolan ini Raisya!" Teriak sang ayah.
"Raisya mencintai Dev ayah! Kinar sudah kita anggap seperti bagian dari keluarga kita. Bahkan ayah dan bunda begitu menyayanginya. Tidak bisakah dia mengalah demi aku yang katanya seperti kakak baginya?! Aku mencintai Dev ayah. Masih sangat mencintainya..tidak bisakah Kinar membiarkan aku bahagia bersama Dev?!" Ucap Raisya panjang lebar membuat sang ayah mengetatkan rahangnya dengan tangan mengepal kuat.
"Hentikan nak. Jangan seperti ini". Lirih sang bunda yang sudah terisak.
"Turun Raisya!! Jangan permalukan ayah dan bunda!!" Bentak sang kakak.
Raisya memejamkan matanya melihat sang ayah hendak melayangkan tangannya. Namun tangan sang ayah menggantung diudara begitu gadis yang ia sayangi berdiri tegak dihadapannya untuk menghalau tangannya sampai kepipi Raisya.
"Minggirlah nak. Ayah benar-benar sudah gagal mendidik kakakmu!" Ucap ayah Arman geram.
Ara menggelengkan kepalanya menjawab perintah sang ayah.
"Ayah tidak gagal..dan tidak pernah gagal. Kakak hanya memperjuangkan cintanya, kita tidak pernah tau kepada siapa cinta kita akan berlabuh ayah. Jangan pernah salahkan kakak". Ucap Ara disertai senyum hangat, kemudian ia berbalik menghadap Raisya yang semakin terisak melihat bagaimana Ara masih membela dirinya setelah apa yang ia ucapkan.
Ara menarik nafas panjang sebelum mengeluarkan suaranya.
"Kakak tahu pasti, aku begitu menyayangi kalian. Dan kakak tau pasti aku akan melakukan apapun untuk orang yang aku sayang meskipun harus bertukar dengan nyawaku sekalipun". Ara menghela nafasnya sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Eneng..." Lirih bapak.
"Jika kebahagiaan kakak ada bersama abang, maka aku akan melepaskannya untuk kakak. Itu sebagai tanda sayangku pada kakak. Kakak boleh memiliki abang". Lanjut Ara membuat mata semua orang melotot.
"Sesakit apapun akan aku lalui asal itu bisa membuat orang-orang yang aku sayangi bahagia kak".
"Apa yang kamu bicarakan Ra!". Suara Dev seperti tercekat.
Ara mengangkat tangannya meminta Dev tidak menyela ucapannya. Dev menggeleng tidak percaya dengan apa yang diucapkan Ara. Semudah itukah ia merelakan Dev untuk perempuan lain.
Mama Anika sudah berjalan mendekati Ara untuk meminta penjelasan tentang ucapan Ara. Namun langkahnya terhenti saat mendengar kelanjutan kalimat Ara.
Sementara Raisya tersenyum mendengar ucapan Ara, namun senyumannya perlahan memudar ketika mendengar yang diucapkan Ara selanjutnya.
__ADS_1
"Tapi..."
"sekarang abang juga orang yang Ara sayangi kak, Ara nggak bisa maksain abang buat ngikutin semua kemauan Ara. Meskipun Ara ingin merelakan abang untuk kakak, Ara nggak bisa maksa abang buat nerima perasaan kakak".
"Ara akan lepasin abang kalau memang abang mau kembali sama kakak. Ara akan pergi dari kehidupan kakak dan abang, dan nggak akan pernah balik lagi disekitar kalian. Itu janji Ara". Ucap Ara lantang.
Bunda sudah memeluk Rayhan untuk menyalurkan sakit didadanya melihat putri dari mendiang sahabatnya begitu tenang walaupun bunda yakin bahwa batin Ara tengah menangis.
"Sekarang, kakak bisa tanya sendiri ke abang, apakah abang mau kembali pada kakak atau tidak". Ara menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk Dev dan Raisya berbicara dan menentukan apa yang akan mereka pilih.
Sejujurnya jantung Ara saat ini sudah seperti berhenti berdetak, dia meremat ujung gaun yang ia kenakan untuk melampiaskan perasaannya saat ini. Kalau boleh Ara jujur, dirinya cukup takut jika Dev lebih memilih kembali pada Raisya. Ara belum siap merasakan sakitnya patah hati.
"D..Dev". Lirih Raisya
Namun yang ia dapatkan hanya tatapan tajam dari Dev. Lelaki yang begitu ia rindukan.
Dev menarik Ara agar berdiri disebelahnya. Ia menggenggam erat tangan Ara seolah ingin menunjukkan pada Raisya bahwa gadis yang akan ia pilih hanya Ara.
"Saya sudah mengatakannya berulang kali. Bahwa kebahagiaan saya hanya ada pada satu gadis. Dan gadis itu hanya KINARA!". Tegas Dev dengan penekanan saat menyebut nama Kinara. Tidak ada keramahan sama sekali dari nada bicara Dev,bahkan Dev menggunakan bahasa formal.
Semakin deras saja air mata Raisya mendengar apa yang diucapkan Dev. Tubuh Raisya sudah hampir merosot jika saja Ara tidak sigap menangkap tubuhnya.
"Kakak..." Lirih Ara.
Raisya memandang wajah cantik Ara kemudian tersenyum. Senyum tulus untuk adik tersayang meskipun bukan dari rahim yang sama.
Tangan Raisya terulur mengelus pipi Ara yang juga sudah basah dengan air mata. Dihapusnya air mata yang mengalir dikedua pipi Ara.
"Maafin kakak.." Suara Raisya hampir tidak terdengar.
Ara menggeleng kuat.
"Kakak nggak salah..nggak ada yang tahu siapa yang akan kita cintai. Ara yang minta maaf sama kakak. Kalau Ara tau kakak mencintai abang, Ara nggak akan pernah masuk kedalam keluarga ini". Suara Ara terdengar parau.
Raisya membawa Ara kedalam pelukannya. Memeluk Ara dengan erat menyalurkan rasa bersalahnya karena sempat berpikir untuk merebut kebahagiaan Ara.
Para wanita hanya bisa menangis melihat pemandangan yang begitu menentramkan. Tidak ada dendam dan sakit hati, yang ada hanya persaudaraan yang kuat antara Ara dan Raisya.
Mama Anika menyeka air mata yang jatuh, ia begitu merasa beruntung memiliki calon menantu yang mempunyai hati yang begitu bersih dan tulus.
Bahkan tidak sedikitpun terlihat amarah dan dendam diwajah cantik Ara atas apa yang baru saja dilakukan Raisya.
Ara membantu Raisya menegakkan badannya setelah melepaskan pelukannya.
"Kamu berhak bahagia dek. Kakak bahagia liat kamu bahagia. Kakak yakin Dev akan bahagia hidup bersama kamu". Kata Raisya tulus menggenggam kedua tangan Ara.
"Sekali lagi maafin kakak kamu yang memalukan ini". Ucap Raisya sambil menghapus air mata Ara.
Raisya mengambil sebelah tangan Ara, menyatukannya dengan tangan Dev.
"Aku titip adikku Dev. Jaga dia untuk kami..dia gadis istimewa untuk kami semua". Ucap Raisya tulus yang dijawab anggukan kepala oleh Dev.
"Kakak..." Lirih Ara saat melihat Raisya hendak menuruni tangga.
"Kakak baik-baik aja. Bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya dek" Kata Raisya dengan senyuman lebar diwajah sendunya.
Sebelum benar-benar menuruni panggung, Ara sempatkan menoleh pada Sam. Raisya tersenyum pada Sam dan dijawab anggukan kepala oleh Sam.
__ADS_1
Raisya bersyukur dirinya tidak melakukan hal bodoh lain untuk merusak pesta Ara.
"Bahagiamu adalah bahagiaku" Batin Raisya sambil berjalan menuruni panggung dengan hati yang jauh lebih tenang.