Cinta Kinara

Cinta Kinara
will you marry me


__ADS_3

Sesuai dengan perkiraan Ara. Hari tenangnya berada dikampus itu sudah berakhir saat dirinya bertemu kembali dengan musuh terbesarnya semasa SMP.


Seperti pagi ini, Ara baru saja turun dari mobil Dev saat sebuah suara menyebalkan menyapa indera pendengarannya.


"Wah..wah..wah. Udah ganti lagi aja gandengan lo ya gadis kampung. Hebat juga lo." Ucap Angel


"Dev!!!" Teriak Angel spontan ketika melihat pria yang turun dari mobil yang sama dengan Ara.


Dev menoleh untuk melihat siapa gadis yang pagi-pagi sudah menganggu Ara.


"Lo?" Ucap Dev menunjuk Angel dengan wajah terkejut.


"Ini beneran elo Dev?? Ya ampun, ngga nyangka gue kalo ketemu elo disini"


"Elo ama ini cewe kampungan?? Ngga salah lo?? Selera lo turun?" Ejek Angel


"Jaga mulut lo" Ucap Dev dingin.


"Bisa juga lo cewe kampung ngedeketin cowo-cowo ganteng tajir dikampus elite gini. Biar nggak usah mikirin bayar kuliah ya lo!" Cibir Angel.


Ara seolah menulikan pendengarannya.


"Gue duluan ya bang". Tanpa mempedulikan segala ucapan yang keluar dari mulut Angel, Ara berpamitan pada Dev.


Dev mengangguk disertai senyum manis untuk gadis pujaannya itu. Namun sebelum Ara berlalu dari tempat itu, Angel sudah mencekal tangan Ara dan hendak melayangkan tangannya ke wajah Ara.


Namun sebelum tangan Angel mendarat dipipi mulus Ara, tangan Dev sudah lebih dulu mencekal tangan Angel dengan kuat membuat Angel meringis kesakitan.


"Jangan pernah lo sentuh Ara. Ini peringatan pertama dan terakhir dari gue!!" Tegas Dev kemudian menghempaskan tangan Angel kasar dan menarik lembut tangan Ara menjauhi Angel yang terus mengumpat.


****


Kini Ara dan ketiga temannya sedang duduk dan menikmati makanan yang tadi sudah mereka pesan.


Saat sedang asyik menyantap makanannya, Digo datang dan tiba-tiba duduk disamping Ara, dan tanpa rasa bersalah langsung memakan bakso yang akan Ara masukkan kedalam mulutnya.


"Pesen sendiri napa sih lu. Ngaku anak sultan, makan bakso aja lu ngembat punya gue. Gue giling juga lu lama-lama..Dasar kadal!"


"Yaelah..baso doang Ra. Pelit amat si lu. Cuma satu Ra" Jawab Digo santai.


"Bodo amat dah" Ketus Ara.


"Pindah sono lu. Bikin gue kaga selera makan!" Lanjutnya


"Iya kaga selera makan, orang tinggal mangkuknya. Emang lu mau jadi kuda lumping makan mangkuk?" Ejek Digo.


Ara mencebik mendengar ejekan Digo.


Mata awas Ara menangkap gelagat mencurigakan sahabat barunya. Sejak kedatangan Digo, Salsa terlihat malu dan diam-diam mencuri pandang kearah Digo.


Salsa yang sejak tadi terus memperhatikan Digo terkejut saat Ara menepuk pahanya dibawah meja.


"Kalo demen deketin, jangan dipelototin doang" Bisik Ara menggoda Salsa.


Apa yang diucapkan Ara membuat wajah Salsa memerah karena malu.


Selama ini Ara bukan tidak tahu bahwa Digo memiliki perasaan lebih terhadapnya, Ara hanya tidak ingin memberi harapan lebih pada Digo. Apalagi Ara sama sekali tidak memiliki perasaan lebih terhadap Digo. Karena hatinya, sedikit demi sedikit telah dikuasai oleh seseorang yang tak lain adalah Dev.


"Pulang bareng gue lagi ya Ra" Tanya Digo antusias.


"Nggak bisa! Ara pulang sama gue!" Suara tegas seseorang membuat semua menoleh.


Disana ada Dev dan kedua sahabatnya yang sedang berjalan mendekat ke meja Ara dan yang lain.


"Ama gue lah. Ama lu mulu..bosen dia. Kasian tiap hari liat muka kulkas lu!" Digo tak mau kalah.


Kini kedua pria yang sama-sama memiliki ketampanan dan pesona yang mampu membuat kaum hawa menjerit histeris itu sedang beradu tatapan tajam. Tidak ada yang ingin mengalah diantara keduanya.


"Nggak usah macem-macem lo" Tegas Dev


"Gue mah semacem. Ara pulang ama gue. Ayo Ra!" Ucap Digo sambil menarik tangan Ara.


Dev tidak tinggal diam dan menarik sebelah tangan Ara yang masih bebas. Ara menghela nafas kasar. Lelah dengan kelakuan dua makhluk tampan yang selalu berdebat setiap kali bertemu.


Akhirnya kini Ara berdiri diantara dua lelaki tampan yang masih saling menatap tajam. Kedua tangannya pun sudah digenggam oleh kedua lelaki itu.


"Lepasin tangan Ara. Dia pulang bareng gue!" Tegas Dev

__ADS_1


"Enak di elu. Gue yang duluan dateng. Ara balik bareng gue!" Digo tak mau kalah.


Ara mencoba melepaskan tangannya dari kedua lelaki ini, namun cekalan keduanya benar-benar kuat. Cara terakhir yang Ara miliki hanya satu..


"Aaaww" Teriak Digo dan Dev bersamaan ketika kaki keduanya diinjak keras oleh Ara yang sudah kesal dengan kelakuan kedua lelaki tampan itu.


"Sakit Ra..ni kaki masih gue butuhin. Main lu injek aja" Rintih Digo sambil mengelus kakinya.


"Lu berdua kenapa sih kalo ketemu udah kaya anjing ama kucing. Akur bentar napa sih. Heran gue" Kesal Ara kemudian berjalan meninggalkan Dev dan Digo.


Dev berlari mengikuti Ara yang sudah berjalan menjauh, disusul Digo yang tidak ingin kalah dari Dev.


Keduanya saling senggol untuk lebih cepat sampai dan berjalan disamping Ara.


Sementara sahabat Ara dan Dev hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Digo dan Dev.


"Kita pulang. Gue anter lo pulang" Tiba-tiba tangan Dira ditarik oleh Kevin.


"ehh..tapi kak"


Tanpa mendengar Dira menyelesaikan kalimatnya, Kevin membawa Dira menjauh dari Sam dan juga Putri serta Salsa.


"Lah..pada bubar. Lu berdua kaga pulang juga?" Tanya Sam pada kedua gadis dihadapannya.


"Pulang lah kak. Ngapain disini juga" Jawab Putri yang diangguki oleh Salsa.


Ketiganya membubarkan diri, Salsa dan Putri akan pulang bersama. Sementara Sam, harus menerima kenyataan dirinya pulang sendiri.


****


"Gue bilang Ara pulang ama gue. Ngeyel banget lu jadi orang" Digo terus mengulangi kalimatnya.


"Nggak. Ara ama gue serumah..jadi dia pulang ama gue" Tegas Dev.


Ara bersandar pada mobil Dev dan terus mengamati perdebatan dua lelaki yang ada dihadapannya.


"Udah woiii ributnya. Panas ini..pada kaga mau pulang apa gimana sih??" Tanya Ara menghentikan perdebatan Dev dan Digo.


Dev yang melihat Ara bersandar dimobilnya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dirinya membuka mobil dan segera mendorong Ara masuk kedalam mobilnya, kemudian berlari mengitari mobil dan ikut masuk kedalamnya.


Ara hanya menggelengkan kepalanya, pusing rasanya melihat dua lelaki yang terkenal dan digilai banyak kaum hawa penghuni kampus melakukan hal-hal konyol seperti barusan.


"Lu ngapain si bang? Kaga cape apa ribut mulu ama Digo?" Tanya Ara


"Capek sih Ra. Tapi daripada kamu pulang ama dia. Aku nggak rela Ra" Jawab Dev.


Ara menghela nafas panjang mendengar jawaban Dev.


***


Ara mengernyitkan dahinya melihat Dev melajukan mobilnya berlawanan dengan arah rumahnya.


"Mau kemana bang?"


"Udah sore ini..kaga balik?" Tanya Ara


"Jalan-jalan bentar ya. Ada yang mau aku omongin" Jawab Dev tersenyum


Ara kembali diam dan hanya memperhatikan jalan yang mereka lewati.


Hampir 1jam lamanya mereka berkendara. Mata Ara berbinar melihat kemana Dev membawa dirinya.


Hamparan pasir putih menyapa indera penglihatannya, ternyata Dev membawa Ara kepantai.


"Kita turun?" Tanya Dev


Ara mengangguk antusias. Turun dari mobil, Ara segera melepas sepatu dan berlari menghampiri ombak yang tidak terlalu besar.


Dev hanya tersenyum memperhatikan setiap gerak-gerik Ara. Gemas dengan Ara yang terus berlari menghampiri dan kemudian menjauhi ombak yang akan mengenai dirinya, Dev ikut melepas sepatu yang ia kenakan dan berjalan mendekati Ara.


Dev mengangkat tubuh Ara mendekati ombak yang datang.


Ara memekik karena terkejut tubuhnya tiba-tiba melayang.


"Awas bang..ntar basah kita" Ucap Ara panik saat melihat ombak sudah dekat.


Dev tetap diam dengan memeluk tubuh Ara yang terus berontak mencoba melepaskan diri.

__ADS_1


byuuurrr


Celana keduanya basah hingga sebatas paha karena terkena ombak. Dev membawa Ara menepi dan menjauh dari ombak yang akan menghantam mereka.


Dev membalikkan tubuh Ara hingga kini keduanya saling berhadapan. Rambut panjang Ara yang tergerai berantakan karena tertiup angin. Dev merapikan selur rambut Ara dan menyisipkannya dibelakang telinga.


Jantung Ara sudah bermarathon sejak Dev memeluk dan mengangkatnya tadi. Kini jantungnya benar-benar seperti akan melompat keluar saat berhadapan langsung dengan Dev seperti ini.


Dev menggenggam kedua tangan Ara, masih dengan senyum yang merekah diwajah tampannya membuat Ara semakin gugup dengan segala perlakuan Dev terhadapnya.


"Aku sayang sama kamu Ra. Aku mau kamu jadi bagian dari hidup aku. Aku mau kamu nemenin aku dalam keadaan apapun".


Dev menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya


Ra, will you marry me??"


Dev mengungkapkan isi hatinya tanpa keraguan sedikitpun.


Ara mematung, jantungnya seperti berhenti berdetak mendengar apa yang Dev ucapkan.


Apakah ini mimpi??


Atau aku hanya berkhayal??


Kenapa terasa nyata sekali??


Dan masih banyak lagi pertanyaan dalam benak Ara mendengar ungkapan Dev yang terasa seperti mimpi baginya.


"Ra..Ra?? Are you okay??" Ara tersadar dari lamunannya ketika Dev memanggil namanya dan menggoyang bahunya pelan.


"Heh? Apa?? Kenapa bang?" Tanya Ara bingung.


Dirinya masih benar-benar terkejut mendengar apa yang Dev ucapkan. Bukan ungkapan cinta untuk menjadi seorang kekasih..tapi permintaan untuk menjadikannya seorang istri.


Ara masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Ra??? Kamu mau kan hidup bareng sama aku??" Pertanyaan Dev membuat Ara benar-benar sadar bahwa apa yang ia dengar bukanlah sebuah ilusi. Namun kenyataan.


"hahaha..bercanda lu kaga lucu bang" Ara memaksakan tawanya.


"Siapa yang bercanda Ra?? Apa hal seperti ini pantas aku jadikan lelucon? Aku serius, benar-benar serius. Aku nggak mau kamu dideketin laki-laki lain. Jadi ijinin aku buat milikin kamu sepenuhnya dengan ikatan suci pernikahan" Ucap Dev tegas.


"Hubungan yang halal dan diridhoi sama Allah Ra, hubungan yang menjauhkan kita dari maksiat dan zina" Imbuhnya.


Tubuh Ara membeku, jantungnya berdebar semakin tidak terkendali. Matanya sudah berkaca-kaca. Tidak pernah sedikitpun terbayang olehnya akan ada lelaki yang begitu berani menyatakan perasaan kepadanya seperti ini.


Memintanya untuk menjadi pendamping hidupnya dalam ikatan suci pernikahan.


"Mungkin ini terlalu cepat buat kamu Ra. Tapi aku bener-bener nggak bisa liat kamu dimilikin laki-laki lain"


"Apa kamu nggak punya sedikitpun rasa buat aku Ra??" Tanya Dev membuat Ara mengerjapkan mata beberapa kali untuk mengembalikan kesadarannya


"Bu..bukan gitu bang. Anu..tapi itu.."


"Apa Ra??" Tanya Dev tidak sabar.


"Gu..gue"


"Kamu belom siap ya??" Ucapan Dev tepat sasaran, meski Ara sudah memiliki perasaan pada Dev, namun untuk membina sebuah rumah tangga Ara belum siap.


Dirinya masih ingin mengejar cita-citanya untuk bisa membahagiakan bapak, juga ingin memantapkan hati tentang perasaannya pada Dev.


Ia tidak ingin mempermainkan hubungan pernikahan yang suci hanya untuk menuruti nafsu sesaat saja.


Bungkamnya Ara membuat Dev yakin bahwa gadis itu memang belum siap untuk langsung diajak menikah. Meski begitu, Dev tersenyum manis..kini dirinya yakin bahwa Ara juga memiliki perasaan lebih terhadapnya.


Dev memeluk tubuh ramping Ara, menyalurkan perasaan cintanya terhadap Ara.


"Nggak apa-apa Ra, mungkin memang terlalu cepat. Tapi ijinin aku buat selalu ngisi hati kamu. Jangan biarin laki-laki lain ada disana" Ucap Dev pelan disela pelukannya.


Entah sadar atau tidak, Ara mengangguk menyanggupi permintaan lelaki yang juga sudah mengisi hampir seluruh hatinya.


Sore itu dihabiskan Dev dan Ara dengan tawa bahagia dan bermain ombak hingga keduanya basah.


Meski belum ada status hubungan yang jelas antara keduanya, namun Dev lega karena sudah mengungkapkan isi hatinya.


"Terima kasih untuk kebahagiaan ini Ra"

__ADS_1


__ADS_2