
"Aaaaaakkkhhhh"
Teriakan Ara yang begitu keras membuat semua tamu undangan mengalihkan perhatian mereka pada Ara yang tengah berjongkok sambil menutup rapat telinganya.
Dev berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Ara yang juga sedang berjongkok.
"Ara..hey. Denger abang Ra". Dev mengguncangkan kedua bahu Ara untuk mengembalikan kesadaran Ara yang semakin histeris mendengar suara letusan kembang api yang semakin lama semakin terdengar keras.
Dev membantu Ara bangkit, namun Ara justru seperti orang yang kehilangan kontrol akan dirinya. Ia memandang lurus kedepan masih dengan air mata yang terus mengalir dan kadang membagi tatapannya pada semua orang yang tengah memperhatikannya dengan tatapan takut. Seolah semua orang yang ada disana adalah penjahat yang akan melukai dirinya.
"Ra..sadar lu woy!". Digo ikut berusaha membuat Ara kembali pada kesadarannya.
Dev membawa tubuh Ara kedalam pelukannya. Dipeluknya erat tubuh bergetar Ara untuk memberi ketenangan pada gadis itu namun sepertinya usaha yang Dev lakukan tidak berarti untuk trauma yang Ara alami.
Sementara dari kejauhan, Angel tersenyum puas bisa mempermalukan Ara diacaranya malam ini.
Raisya yang tadi sempat melihat pelayan membawa kembang api bergegas menarik Sam yang sejak tadi memang menemani dirinya.
"Kita mau kemana sih Sya. Buru-buru amat dah ah. Awas jatoh lu ntar Sya kalo jalannya cepet gini". Gerutu Sam saat Raisya terus menarik tangannya.
Perasaan Raisya semakin tidak karuan saat melihat kerumunan orang. Dengan cepat ia membelah kerumunan orang untuk melihat apa yang sedang terjadi disana.
Tubuhnya ikut membeku melihat pemandangan yang menyayat hatinya. Bagaimana tidak, saat ini ia melihat Ara yang terlihat begitu berantakan dan terus berteriak histeris sedang berada dalam pelukan Dev.
"Kinar.." Lirih Raisya dengan mata berkaca-kaca
"Lah..tuh bocah kenapa teriak-teriak gitu sih". Ucap Sam heran.
"Bantu aku Sam". Raisya kembali menarik tangan Sam membuat lelaki itu semakin bingung dengan yang Raisya lakukan.
"Kita kemana lagi sih ini ya Allah, kaga sabaran banget dah lu". Meski mulutnya menggerutu, namun tak urung kakinya terus mengikuti kemana Raisya membawanya.
"Kita harus hentikan pesta kembang api ini Sam. Atau Kinar nggak akan bisa nafas". Jelas Raisya membuat mata Sam melotot.
"Ka..kaga bisa napas gimana. Jangan bercanda lo Sya. Kaga lucu". Sam masih mencoba mencerna ucapan Raisya.
"Aku nggak bisa jelasin sekarang Samuel. Kinar lagi butuh bantuan kita, ayo cepet". Raisya semakin mempercepat langkah kakinya menuju segerombolan pelayan yang masih terus menyalakan kembang api yang masih menumpuk.
Setelah berada didekat seorang pelayan yang sudah siap menyalakan kembang api, Raisya dengan cepat mencegahnya.
"Tolong hentikan pak". Ucap Raisya memohon.
"Maaf nona..kami tidak bisa. Kami hanya menjalankan pekerjaan kami". Jawab sang pelayan.
"Adik..adik saya trauma pada letusan kembang api. Dia akan histeris dan kesulitan bernafas. Jika terlalu lama mendengar letusannya, dia akan semakin kesulitan bernafas dan bisa pingsan. Saya mohon tolong hentikan". Pinta Raisya
Para pelayan pria yang mendengarnya sangat terkejut, begitupun Sam. Ia belum pernah mendengar ada orang yang phobia pada kembang api. Aneh rasanya bagi Sam mendengar jika Ara, gadis yang terlihat begitu kuat justru punya phobia pada hal yang banyak disukai orang-orang.
"Ba..baik nona. Tapi kembang api yang sudah terlanjur menyala, kami tidak bisa menghentikannya nona. Kita hanya bisa menunggu sampai itu berhenti sendiri". Ucap pelayan itu penuh penyesalan.
"Apakah masih banyak yang sudah terlanjur menyala?". Tanya Raisya panik.
__ADS_1
Para pelayan mulai melihat berapa banyak yang sudah terlanjur menyala.
"Heh..lu lama banget dah ah ngitung gituan doang. Udah kaya ngitung pake rumus fisika aja lu pada. Buruan!! Itu anak orang kaga bisa napas lu mau tanggung jawab!" Sam yang ikut panik membentak para pelayan yang semakin ketakutan.
"Mung..mungkin baru akan berhenti 15menit lagi nona. Maafkan kami, kami tidak bisa membantu lebih". Ucapan pelayan itu membuat tubuh Raisya seketika lemas, dalam pikirannya hanya satu. Bagaimana kondisi Ara 15menit kedepan jika tidak bisa dibawa keluar oleh Dev.
Sedangkan Dev, saat ini ia menangkup kedua pipi Ara, mencoba mengarahkan pandangan Ara padanya. Namun Ara terus melihat sekeliling seolah tempat itu adalah tempat yang mengerikan untuknya saat ini.
"Lihat abang Ra. Kamu nggak sendiri sayang". Suara Dev sudah terdengar bergetar, hatinya seolah diremat kuat melihat kekasih hatinya terlihat begitu ketakutan.
Ia merasa tak berguna sebagai seorang lelaki, merasa tidak bisa melindungi gadis yang akan menjadi istri untuknya kelak.
Sementara Dira sudah menangis dipelukan Kevin yang masih bengong, terkejut karena Dira memeluk dirinya namun juga terkejut melihat Ara yang masih coba ditenangkan oleh Dev.
"Ara kenapa kak. Dia bakal baik-baik aja kan kak??". Tanya Dira yang masih bersembunyi didada bidang Kevin.
"Gue gatau Dir..tapi gue yakin Dev bakal bisa nenangin Ara. Lo harus kuat, Ara butuh kita sekarang". Kevin mencoba menenangkan Dira dan beberapa kali menepuk punggung Dira yang terlihat bergetar.
Angel semakin melebarkan senyumannya melihat Ara yang semakin histeris. Dengan begini, semua orang akan mengira Ara mempunyai kelainan karena berteriak tanpa adanya sebuah alasan.
"Akhirnya..setelah ini, lo bakal terlihat buruk Kinara. Lo salah karena pernah kenal sama gue. Salah lo yang selalu jadi pusat perhatian semua orang. Bahkan orang yang gue cintai.". Batin Angel tersenyum.
Dev sudah hampir kehilangan akal untuk menenangkan Ara, cara terakhir yang ada dalam pikirannya hanya mengalihkan fokus pikiran Ara dengan sesuatu yang lebih mengejutkan.
Setelah memantapkan dirinya, Dev memejamkan matanya sejenak kemudian menangkup kedua pipi Ara lagi, kemudian langsung menempelkan bibirnya pada bibir Ara yang tengah tertutup. Hanya sekedar menempel. Dev hanya ingin membuat Ara mengalihkan fokus pikirannya dari kembang api yang begitu ia takuti.
Dan sepertinya apa yang Dev lakukan berhasil, Ara seperti kembali pada kesadarannya. Matanya tiba-tiba melebar merasakan benda kenyal itu menempel tepat dibibirnya, ia seolah ditarik paksa untuk kembali pada kesadarannya. Bahkan bukan hanya Ara yang sepertinya terkejut, semua orang yang menyaksikannya benar-benar dibuat terkejut dengan apa yang Dev lakukan.
Para gadis yang menyaksikannya hanya bisa memekik tertahan dengan kedua telapak tangan menutup rapat mulutnya. Mereka benar-benar tidak menyangka dan tidak pernah membayangkan akan melihat hal langka seperti ini, yang bahkan untuk membayangkannya saja mereka tidak pernah.
Sementara Kevin dengan cepat menutup mata Dira yang masih berdiri disampingnya. Kevin pun cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Dev. Menurutnya, apa yang dilakukan Dev terbilang sangat berani.
"Kak gelap, jangan ditutup matanya". Keluh Dira
"Lo masih bocah. Nggak boleh liat yang begituan". Ketus Kevin membuat Dira mencebik.
Merasa apa yang ia lakukan berhasil membuat Ara berhenti berteriak histeris meski suara ledakan kembang api masih terdengar, perlahan Dev menjauhkan bibirnya dari bibir yang baru pertama kalinya ia kecup itu.
Setelahnya Dev mengelus pipi Ara
"Semua baik-baik aja sayang. Ada abang..kamu nggak sendiri. Oke".
"Kita semua disini buat kamu. Abang nggak akan ninggalin kamu. Ketakutan itu buat kita lawan, bukan buat kita hindari sayang". Ucap Dev lembut
"A..abang" Lirih Ara dengan suara bergetar.
Dev mengangguk meyakinkan kekasih hatinya bahwa semua akan baik-baik saja. Ia kembali membawa Ara kedalam pelukannya. Memeluk gadisnya begitu erat seolah takut kehilangan.
Angel mengepalkan tangannya kuat saat melihat Dev berhasil menenangkan Ara yang tadi sangat histeris.
Sedangkan Digo dan ketiga sahabat Ara hanya bisa membuka mulut mereka lebar melihat Dev yang baru saja mengecup bibir Ara.
__ADS_1
Saat ini mata Raisya tengah ditutup oleh Sam. Sam cukup paham dengan kondisi Raisya, ia takut gadis itu akan sakit hati melihat apa yang dilakukan oleh Dev.
Sam tidak tahu bahwa Raisya justru benar-benar merasa bersyukur karena Dev mampu menenangkan Ara walau dengan cara yang sedikit ekstrim.
"Aku gapapa Sam". Ucap Raisya sambil menyingkirkan tangan Sam yang masih menutupi matanya.
"Gue takut lu pingsan nanti liat begituan. Berat kalo kudu gendong Sya". Jawab Sam sekenanya. Ia masih terkejut melihat sahabatnya mencium Ara didepan umum.
Raisya terkekeh mendengar jawaban Sam.
"Aku udah bilang kan, aku udah ikhlasin Dev buat Kinar, Sam. Yang penting buat aku sekarang, Kinar udah tenang dan nggak histeris lagi". Ucap Raisya tersenyum tulus.
Dev melepaskan jas yang ia kenakan, kemudian memasangkannya pada tubuh Ara. Ara hanya diam menerima semua perlakuan Dev terhadapnya.
Tersungging senyum tipis, bahkan sangat tipis hingga orang tidak akan menyadari senyuman Ara. Ara tidak pernah menyangka akan menemukan sosok pelindung seperti Dev. Bahkan sepertinya, ketakutannya akan kembang api sedikit berkurang dengan apa yang Dev lakukan padanya tadi. Ia bersyukur mendapatkan Dev yang begitu baik dan menyayanginya tulus.
Dev mengangkat tubuh Ara, membawanya keluar dari pesta yang hampir membuat Ara berhenti bernafas. Diikuti oleh semua temannya dan juga Digo.
Ara mengalungkan tangannya pada leher Dev dan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang milik sang kekasih. Dada yang terasa begitu aman untuk tempatnya berlindung saat ini.
Mereka meninggalkan semua orang yang sedang berperang dengan pikirannya masing-masing. Tentang ada apa dengan Ara? dan ada hubungan apa Dev dan Ara? Semua orang benar-benar dibuat penasaran.
"Sial..sial..sial!!!" Angel terus mengumpat dalam hati. Karena rencananya mempermalukan Ara justru membuat Ara semakin beruntung dengan Dev yang selalu ada disampingnya. Belum lagi dengan teman-temannya dan juga Digo yang selalu membelanya.
Dev mendudukkan tubuh lemas Ara dikursi penumpang kemudian ia mengelus kepala Ara dengan penuh kasih sayang.
"Maafin abang Ra". Ucap Dev penuh sesal kemudian mengecup kening Ara.
Ara hanya mendengar samar apa yang Dev ucapkan, karena matanya sudah terasa berat untuk dibuka.
Setelah memasangkan seatbelt pada tubuh Ara yang sudah terlelap, Dev menutup pintu mobil dengan perlahan. Takut membangunkan Ara yang baru saja terbang ke alam mimpi.
"Ara gimana??" Tanya Digo khawatir.
"Dia tidur".
"Lu kudu jelasin semuanya ke kita". Pinta Digo didukung anggukan kepala dari semua temannya dan Ara.
Dev hanya mengangguk
"Kita pulang sekarang. Kita bahas dirumah". Ucap Dev yang dijawab anggukan kepala oleh yang lain.
Sepanjang perjalanan pulang, Dev terus merutuki kebodohannya yang tidak bisa menjaga gadisnya dengan baik. Sesekali ia melirik wajah tenang Ara yang sudah terlelap disampingnya.
Sampai dirumah kedua orang tuanya, Dev dan yang lain sudah disambut wajah khawatir para orang tua terutama bapak.
Saat diperjalanan tadi, Dev sudah menelpon mama dan menceritakan sedikit kejadian yang ada dipesta ulang tahun Angel.
Dev turun dan memutari mobilnya, membuka pintu penumpang dan kembali menggendong tubuh Ara yang sudah terlelap sejak tadi.
Bapak dapat melihat wajah pucat sang putri yang ada dalam gendongan Dev. Hatinya kembali berdenyut nyeri melihat anak gadisnya mengalami hal serupa lagi seperti bertahun-tahun lalu.
__ADS_1
"Eneng.."