
"Kamu bersihin badan kamu dulu ya. Nanti sarapannya biar dianter sama bi Inah". Jelas Dev yang melihat Ara masih diam ditempatnya.
"Ka..kaga usah bang. Ngapain sarapan dikamar. Kaya orang sakit aja".
"Cepet sana mandi neng. Keburu abis waktu subuhnya. Kamu juga bersihkan dirimu Dev, kita shalat berjamaah". Perintah bapak yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Dev.
Melihat Ara yang belum melakukan pergerakan, sang komandan kembali memberi perintah.
"Udah sana mandi. Bau badan kamu tuh". Ledek bapak berpura-pura menutup hidungnya.
Ara mendelik mendengar ledekan sang ayah. Enak saja dirinya dikatai bau.Namun tak urung kakinya melangkah menuju kamar mandi didalam kamar tamu tersebut.
Selesai membersihkan dirinya, Ara dan Dev mengikuti bapak untuk shalat berjamaah didalam kamar saja.
Selesai menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Bapak keluar lebih dulu dari dalam kamar, diikuti oleh Dev dan Ara.
Sebelum keluar, bapak berpesan pada Ara untuk menemuinya ditaman belakang untuk berlatih dan mengasah kemampuan bela dirinya.
"Setelah sarapan temui bapak ditaman belakang ya neng. Kamu kelamaan rebahan. Liat pipi kamu isinya daging semua". Ucap bapak menjembel sebelah pipi Ara, membuat Ara meringis karena sakit.
"Jangan jembel-jembel pipi Ara atuh bapak ih". Dengus Ara
"Olahraga makanya, nanti kalo gendut Dev nggak mau sama kamu". Goda bapak sambil berlalu dari hadapan sang anak singa yang sudah siap mengamuk.
"Jangan marah-marah. Nanti cepet keriput..nanti Dev dikira nikah sama nini-nini. Hahahaha". Setelahnya bapak benar-benar menghilang dibalik pintu kamar itu.
"Bapaaaaak!!" Teriak Ara kesal.
Sementara bapak tertawa puas mendengar anaknya yang berteriak karena kesal ia ledek.
"Kamu apakan lagi anakmu itu mat? Kau ini sudah tua tapi senang sekali menggoda Ara". Tanya Papa yang tidak sengaja berpapasan dengan bapak.
"Itu kesenangan tersendiri untuk saya tuan bisa menggodanya. Selagi belum menjadi hak paten dari putra anda". Jawab bapak sekenanya.
Papa Aryo yang mendengar jawaban bapak hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan bapak dan anak yang sama anehnya jika sudah bertemu itu.
Sementara didalam kamar, Ara tengah memandang dirinya dicermin kemudian berbalik pada Dev yang masih setia berdiri dibelakangnya dengan senyum manis diwajah tampannya.
"Emang iya gue gendut bang??". Tanya Ara dengan wajah polos yang membuat Dev gemas dan mengacak rambut Ara yang sudah diikat rapi.
"Paman hanya bercanda Ra. Kenapa kamu percaya sekali digoda oleh paman". Kekeh Dev
"Lagipula, abang tidak mencintaimu karena fisikmu. Abang cinta sama kamu karena hati kamu. Jadi, mau kamu segendut apapun..abang akan tetap mencintaimu".
"Gombal". Jawab Ara pelan. Namun tak urung apa yang dikatakan oleh Dev membuat kedua pipinya bersemu membuat Dev semakin gemas melihat wajah malu Ara.
"Kita keluar sekarang, abang nggak mau sampai khilaf terlalu lama berdua denganmu". Ucap Dev menarik tangan Ara keluar dari dalam kamar.
Sampai diruang makan, Ara melihat mama yang dibantu bi Inah tengah merapikan makanan diatas meja.
"Biar Ara aja yang bantu mama, bi". Ketiga wanita yang tengah sibuk menyajikan makanan itu menoleh dan tersenyum mendapati gadis yang semalam membuat semua orang panik sudah terlihat lebih segar pagi ini.
"Kamu sudah bangun sayang? Tidurmu nyenyak?" Tanya mama mendekati Ara.
Ara mengangguk dengan senyum manisnya. Ia lantas mengambil alih piring dari tangan bi Inah dan menatanya diatas meja. Namun alisnya mengernyit saat menghitung piring yang lebih banyak dari biasanya.
Setelahnya Ara mengisi semua gelas dengan air putih. Setelahnya Ara membantu bi Inah memindahkan beberapa piring makanan keatas meja makan.
"Apa akan ada tamu ma?" Tanya Ara sopan pada calon mertuanya.
Mama Anika tersenyum dan menggeleng, membuat sebelah alis Ara terangkat karena bingung melihat hidangan yang begitu banyak diatas meja.
"Ah..mama lupa belum membuat sup ayam kesukaan papa". Mama Anika menepuk keningnya.
"Biar Ara yang buat ma. Apakah boleh?" Tanya Ara ragu.
"Tentu saja boleh sayang".
__ADS_1
"Bibi bantu siapin sayurannya neng". Bi Inah bergegas memotong sayuran yang akan dijadikan sup oleh Ara.
Ara begitu lihai meracik bumbu untuk membuat sup. Memasukkan sayuran dan menambahkan bumbu-bumbu.
"Wangi banget neng masakan kamu". Ucap bi Inah.
Ara hanya tersenyum menanggapi ucapan bi Inah. Tidak butuh waktu lama, Ara sudah selesai dengan masakannya.
Ara memindahkannya pada sebuah mangkuk besar dan membawanya kemeja makan.
"Terima kasih sayang, pekerjaan mama dan bibi jadi cepat selesai karena kamu bantu". Ucap mama sambil tersenyum.
Ara hanya mengangguk dengan tersenyum.
"Selamat pagi epribadeeehh. Waaaah, bau apa ini wangi banget. Perut langsung demo minta diisi". Suara Sam yang hampir mirip dengan sebuah teriakan membuat Ara menoleh.
Ia melihat Sam dan Kevin menuruni tangga. Dibelakangnya ada ketiga sahabatnya yang sudah terlihat segar.
"Selamat pagi semuaaa. Waaaaah banyak banget makanannya ma. Mau ada syukuran?" Tanya Dira saat melihat meja makan yang sudah penuh dengan berbagai hidangan.
"Masak apa ma..wanginya sampai kedepan loh. Wah, ada sup ayam kesukaan papa nih". Papa terlihat antusias melihat sup ayam kesukaannya.
Semua orang mendudukkan dirinya dikursi. Dev menarik Ara agar duduk disebelahnya. Tadi Ara sempat pamit pada mama untuk makan dibelakang, namun mama tidak mengijinkan dan memintanya untuk makan bersama yang lain.
"Waaaah..ini supnya enak banget ma. Iya kan Dev? Seger lagi, ini mama yang masak?". Tanya papa saat menyuapkan sesendok sup kedalam mulutnya.
Mama menggeleng "Bukan, calon mantu mama yang masak". Sombong mama.
Dev berhenti menyuapkan sup kedalam mulutnya dan menoleh pada gadis yang tengah sibuk mengunyah disebelahnya tanpa peduli dengan tatapan tak percaya yang Dev layangkan.
"Kamu yang masak?". Tanya Dev, membuat Ara menoleh dan mengangguk.
"Beneran lu yang masak bocah? Widiiiih..paket kumplit dong si Dev dapetnya". Heboh Sam membuat semua orang tersenyum melihat kelakuannya.
"Aaaaa...calon kakak ipar aku paket kumplit banget siiiiii". Ucap Dira lebay membuat Ara melirik kesal pada calon adik iparnya itu.
Dev yang memperhatikan Ara hanya bisa tersenyum. Ia merasa beruntung menjadi lelaki yang diinginkan Ara untuk menjadi pendampingnya.
Selesai membantu bi Susi mencuci piring dan membereskan meja. Ara berjalan ketaman belakang dimana bapak dan Pram sudah menunggunya.
"Lah..Dev, itu bocah mau kemana?" Tanya Sam saat melihat Ara pergi ke taman belakang. Dev hanya mengangkat bahu. Kemudian ia berjalan menuju ruang keluarga yang ada didekat taman untuk melihat Ara yang akan berlatih dengan bapak.
Karena penasaran, Kevin dan Sam mengikuti Dev. Sementara sahabat Ara dan kedua orang tua Dev sudah duduk manis diruangan itu.
"Ampun deh si Rahmat..itu mantu mama mau diapain lagi sih". Mama mengomel saat melihat Ara sudah berdiri didepan bapak yang sedang melipat kedua lengannya didepan dada.
"Dari pada mama ngomel, mending kita tonton aja ma". Ajak papa antusias.
"nonton..nonton. Papa mah nggak ngerti ya, bonyok itu nanti mantu mama, ish..nyebelin banget sih papa". Sengit mama membuat papa terkekeh.
Sementara ditaman belakang, Ara sedang bernegosiasi dengan sang ayah dan Pram. Tentang keuntungan jika ia menang dalam pertarungan kali ini.
"Kalo Ara bisa bikin om Pram tumbang, berarti uang jajan Ara nambah ya". Tawar Ara pada sang ayah.
"Haish..kamu mah ya, mulai belom udah ngeluarin trik dagang". Cebik bapak
"Dih..ya nggak mau rugi dooong. Ara mah yakin kalo bapak nyuruh om Pram buat bikin muka Ara bonyok lagi kan. Bapak lagi meuni seneng ngeliat anak yang mukanya cantik jadi bonyok". Sembur Ara membuat Pram terkekeh melihat perdebatan antara bapak dan anak itu. Sudah cukup lama ia tidak menyaksikan perdebatan keduanya.
"Kamu kalo misal beneran ketemu penjahat yang asli gitu mau negosiasi dulu gitu? Kan enggak neng. Ya jadi kena pukul sekali dua kali mah ya wajar atuh neng". Jawab bapak tak mau kalah.
"Masalahnya ini nggak cuma sekali dua kali, tapi berkali-kali. Deal enggak nih, kalo deal kita mulai. Kalo enggak mah Ara mau tidur lagi aja". Tantang Ara.
"Maunya kamu itu mah tidur lagi. Pengen kamu badannya segede kebo hah?" Sembur bapak mulai kesal dengan anak gadisnya.
"Udah kang, turutin aja. Kaya enggak tau watak si eneng aja, kan sama kaya akang". Pram mencoba menengahi.
"Kamu mau ngasih saran apa ngeledek saya sebenarnya". Sengit bapak menatap kesal pada Pram yang sedang terkikik bersama Ara.
__ADS_1
"Udah-udah. Mulai latihannya sekarang..kalian berempat sini!" Tangan bapak melambai memanggil empat orang anak buahnya yang ia siapkan untuk membuat anaknya babak belur.
"Astagfirullah..ini mah enggak sesuai perjanjian atuh bapak. Kan lawannya om Pram..kok nambah kulkas 4 biji". Ara langsung melakukan protes saat bapak memanggil 4 orang bawahannya.
"Kenapa?? Takut kan kamu..udah lama nggak latihan takut kena encok kaya bapak?". Ledek bapak.
"Seenaknya aja kalo ngomong sama anak. Sok siniin mau berapa juga Ara jabanin lah". Ara langsung memasang kuda-kuda untuk memulai aksinya. Bapak tersenyum melihat Ara yang sudah bersiap.
"Harus kena ya..mau mukul, nonjok, nendang atau apapun boleh. Pake tenaga beneran..jangan nggak enak sama saya. Bebas mau bikin babak belur anak saya". Ucap bapak lantang membuat semua melongo mendengar ucapan bapak, termasuk Ara.
"Ya Allah..Ara beneran anak bapak bukan sih. Ada ya bapak kaya ini aki satu". Sinis Ara membuat bapak tersenyum lebar. Ara mencebik melihat senyum menyebalkan sang ayah.
"Lah..lah..lah, kaga salah tu bapaknya si Ara nyuruh mukulin anak gadisnya? Bonyok dong ntar tu bocah lawan 5 orang. Ini sih g*la". Sam terus mengoceh sambil matanya fokus pada Ara dan 5 pria dewasa dihadapannya.
"Rahmaaat". Mama menggeram mendengar perintah bapak pada semua bawahannya.
"Papa kok malah senyum-senyum sih. Itu mantu mama gimana??". Ucap mama panik.
"nggak akan kenapa-kenapa ma. Mama tenang aja". Jawab papa santai membuat mama semakin kesal.
"Oke..mulai". Teriak bapak dari pinggir taman.
"Hajar Ra, pukul..awas Ra".
"Belakang Ra".
"Awas Ra..aduh sakit deh pasti".
Ketiga sahabat Ara sudah heboh sendiri melihat Ara berlatih ilmu bela dirinya.
Sudah dua orang yang Ara robohkan. Masih ada 3 orang lagi. Ara melakukannya dengan serius, hingga kini ia hanya tinggal berhadapan dengan Pram. Sudut bibirnya sudah berdarah saat tadi salah satu anak buah bapak berhasil menghadiahi wajahnya dengan sebuah pukulan keras.
"Abis ini lawan bapak ya neng". Ucap bapak santai sambil menyesap kopi yang dibuatkan oleh bi Inah tadi. Mata Ara melotot tak percaya mendengar ucapan sang ayah.
"Gantung aja Ara sekalian pak..gantung aja dipohon toge". Ara bersungut sambil tangan kakinya terus meladeni serangan Pram.
"Kaga mati dong neng dipohon toge mah. Kalo mau itu neng dipohon mangganya nyonya..noh sebelah sono". Pram ikut menimpali percakapan bapak dan Ara.
"Ini orang pada kenapa sih ama Ara, meuni dzalim pisan". Kesal Ara sambil memasukkan tendangan dengan tenaga penuh ke perut Pram yang langsung membuat Pram terjungkal memegangi perutnya yang terkena tendangan anak singa.
"Buset lu neng..kira-kira nendangnya. Untung kaga ngeberudul ini usus om". Sungut Pram sambil berusaha bangkit.
"Susah kalo anak singa udah digodain ama bapak singa mah. Makin ganas". Ucap Pram sambil berjalan kesisi taman.
Sementara yang menonton sudah bersorak melihat kemenangan Ara. Yang paling heboh adalah Sam.
Bapak bangkit setelah menandaskan kopinya.
"Oke..sini hayu sama bapak sekarang". Ucap bapak dengan wajah tengilnya.
"Cape atuh bapak. Napas dulu pak..napas". Jawab Ara dengan nafas yang terdengar ngos-ngosan.
"Lah kamu dari tadi lupa napas? Hebat kamu neng, enggak napas tapi bisa tarung. Salut bapak ama kamu". Ledek bapak sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Kesal karena terus digoda dan diledek oleh bapak, Ara berjalan mendekati bapak kemudian menundukkan kepalanya sebentar dan langsung memasang kuda-kuda untuk menyerang bapak.
Bapak tersenyum puas bisa memancing anaknya untuk mengikuti kemauannya.
"Kalo kalah nggak boleh nangis ya neng". Goda bapak membuat Ara mendengus kesal.
"Awas encok bapak". Dengus Ara kemudian langsung maju meyerang bapak
**********
Kira-kira siapa ya yang menang. Bapak atau Ara??
Jangan lupa kasih like sama komennya ya reader..terus dukung karya aku.
__ADS_1
Makasih buat semua dukungannya😊🙏