Cinta Kinara

Cinta Kinara
Bukan up


__ADS_3

Haii readers..


Karya keduaku udah up nih, jangan lupa mampir ya😉


Cerita ini mengisahkan tentang Kirei, anak dari Ara dan Dev. Jadi nanti Ara sama Dev masih nongol bentar-bentar🤭


_____


Seorang dokter tengah duduk bersama beberapa perawat didalam ruang IGD. Mereka tengah berbincang sekedar mengisi waktu luangnya malam ini. Malam ini IGD terasa sedikit sepi, membuat suasana terasa sedikit mencekam.


"Dokter cantik jaga malam lagi ya?". Seorang perawat pria menghampiri gadis yang memakai jas dokter.


"Iya dong..kalo ngga jaga malam, terus ngapain saya disini?". Tanya balik si dokter sambil tersenyum.


"Pacarnya nggak marah dok? Malam minggu begini masih siap siaga aja di IGD". Goda perawat yang lain.


Belum sempat sang dokter itu menjawab, pintu ruang IGD terbuka, seorang dengan tubuh penuh darah didorong masuk kedalam ruang IGD oleh petugas ambulance.


"Korban laka..luka robek pada lengan dan pelipis. Tidak ada fraktur dan cedera


"Lakukan cek menyeluruh". Perintah dokter pada perawat yang senantiasa mendampinginya.


Dokter yang tak lain adalah Kirei mulai bekerja membersihkan darah pada luka korban kecelakaan yang berjenis kelam*n laki-laki itu.


Meskipun wajahnya tertutup oleh noda darah, Kirei dapat melihat bahwa lelaki itu sangat tampan. Rahang tegas, alis tebal dan kulitnya yang bersih membuat Kirei membayangkan seperti apa rupa lelaki itu jika tidak sedang terluka seperti saat ini. Ia segera menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran anehnya dan memfokuskan diri merawat luka pasiennya itu.


Kirei dengan terampil menjahit luka robek dilengan kanan dan pelipis pasien. Sudah 1tahun ini dirinya mengabdikan diri sebagai dokter dirumah sakit yang lumayan besar dikota tempatnya menimba ilmu.


"Pasien tidak membawa identitas dok.." Seorang perawat wanita menghampiri Kirei yang baru saja menyelesaikan tugasnya merawat luka korban.


Kirei menghela nafas panjang dan menatap pasiennya yang belum sadarkan diri.


"Lakukan seperti biasa sus". Kirei berjalan meninggalkan ranjang dimana pasiennya masih terbaring tak sadarkan diri.


***

__ADS_1


Pagi ini seperti biasa, sebelum Kirei mengakhiri shift jaga malamnya ia akan melakukan visite untuk melihat kondisi pasien-pasiennya yang sedang rawat inap.


"Pasien yang semalam kecelakaan sudah sadar? Apa sudah ada kabar tentang keluarganya?". Tanya Kirei pada suster yang mendampinginya.


"Sudah dok..sepertinya keluarga pasien juga sudah ada untuk mendampingi". Kirei mengangguk paham.


"Dokter tau nggak?". Bisik suster disebelah Kirei.


"Kamu kan belum ngomong apa-apa sama saya Mirna. Jadi mana bisa saya tahu". Kirei terkekeh geli mendengar pertanyaan konyol suster yang selalu setia menemani dirinya visite.


"Ish dokter mah..ini serius". Gadis yang berusia 1tahun lebih muda dari Kirei itu nampak begitu bersemangat membuat Kirei tersenyum. Entah apa yang dimakan oleh gadis itu, hingga sepertinya energi gadis itu tidak pernah habis. Padahal Kirei sudah merasa tubuhnya remuk dan ingin segera merebahkan tubuhnya diatas kasur empuknya.


"Iya..iya..ada gosip apa memangnya?". Tanya Kirei menanggapi ucapan Mirna.


"Korban laka yang semalam dokter tolong ituuu..." Mirna sengaja menggantung ucapannya, berharap Kirei akan penasaran. Namun Kirei bersikap biasa dan tidak merespon.


Setelah mendengus, Mirna kembali melanjutkan ucapannya


"Anak dari direktur rumah sakit dok. Waaah..nggak nyangka semalam saya bantuin dokter nolongin anak yang punya rumah sakit". Mirna sampai geleng-geleng kepala ketika mendengar berita dari teman sejawatnya pagi ini.


"Ihh..serius dok. Masa saya boong sama dokter sih". Cebik Mirna membuat Kirei mematung ditempatnya berdiri. Kini keduanya tengah berdiri didepan ruang VVIP dimana korban laka yang semalam ia tolong berada didalam.


Itu artinya dirinya harus bertemu dengan pewaris rumah sakit tempatnya bekerja, atau lebih parahnya malah bertemu dengan direktur yang sekaligus pemilik rumah sakit ini?


Kirei menghela nafas panjang, sejujurnya dirinya lebih senang berurusan dengan pasien biasa daripada harus mendapat pasien seperti sultan begini.


Kirei memutar knop pintu dan mendorongnya perlahan, takut mengganggu istirahat pasiennya dan juga yang menungguinya.


"Selamat pagi.." Sapa Kirei ramah. Matanya langsung bertemu dengan mata tajam yang semalam tertutup rapat. Kini Kirei dapat melihat betapa tampannya lelaki yang semalam ia tolong.


"Selamat pagi dokter..." Sahut perempuan paruh baya yang sepertinya ibu pasien, Kirei menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah pada si ibu.


"Bagaimana kondisinya pak Aksa?". Tanya Kirei pada pasien yang menatapnya dengan tatapan tajam.


"Lo..jadi lo dokter yang semalam nolongin gue?". Suara pasien Kirei ini tidak terdengar seperti orang yang baru saja mengalami kecelakaan, justru lebih terdengar seperti singa yang mengaum. Kirei mengernyitkan alisnya mendapat pertanyaan konyol seperti itu.

__ADS_1


"Tamaaa!". Peringat wanita yang menungguinya.


"Iya..saya yang semalam menolong anda. Ada yang salah pak Aksa?". Tanya Ara masih mencoba bersabar menghadapi pasien konyolnya ini.


"Kenapa lo nolongin gue hah?! Harusnya lo biarin gue mati aja". Bentak Aksa membuat Kirei sedikit terkejut. Namun dengan cepat ia memulihkan ekspresi wajahnya.


"TAMA!!!". Bentak seorang lelaki paruh baya yang baru saja keluar dari toilet didalam kamar tersebut yang Kirei ketahui sebagai direktur rumah sakit ini, tuan Akmal Mahendra.


"Itu sudah kewajiban saya pak Aksa. Sesuai sumpah yang saya ucapkan, saya akan menolong siapapun yang membutuhkan pertolongan saya". Jawab Kirei menahan amarahnya yang siap meledak.


"Tapi gue nggak butuh bantuan dari lo!!". Suara Aksa naik satu oktaf membuat Kirei benar-benar harus bersabar menghadapinya.


"Tama!!! Kamu seperti manusia tidak berpendidikan! Jaga sikap kamu!". Suara tuan Akmal tidak kalah keras dengan putranya.


Suster Mirna berkali-kali mengelus dadanya lantaran terkejut mendengar suara orang-orang meninggi.


"Bisa mati muda aku kalo gini". Batin Mirna menjerit.


"Maafkan putra saya dokter". Tepat seperti dugaan Kirei, wanita yang sejak tadi menunggui manusia menyebalkan itu adalah ibunya.


"Tidak masalah bu..mungkin pak Aksa sedang lelah dan kurang istirahat saja". Jawab Kirei mengelus lengan si ibu yang belum ia ketahui namanya.


"Saya akan memeriksa kondisi bapak terlebih dahulu". Kirei mengesampingkan emosinya, dan memilih mempercepat tugasnya memeriksa kondisi pasiennya.


Tiba-tiba tangan Aksa sudah mencengkeram pergelangan tangan Kirei yang memegang stetoskop yang akan ia gunakan untuk memeriksa kondisi pasiennya itu.


"Mau nyari gara-gara lo ama gue". Batin Kirei menyeringai.


Yang penasaran sama kisah Kirei dan mas Tama bisa nengok IMPERFECT PARTNER ya..ceritanya sedikit beda dari kisah Ara dan Dev.




Semoga suka ya sama karya keduaku ini. Jangan lupa tinggalkan jejak😉🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2