Cinta Kinara

Cinta Kinara
Positif


__ADS_3

Ara POV


Sudah satu minggu aku merasa tubuhku mudah lelah, sering mengantuk bahkan saat sedang mengikuti perkuliahan aku sempat tertidur di kelas.


Bahkan pagi ini aku bangun paling akhir, biasanya aku akan bangun lebih awal membantu mama dan bi Inah di dapur. Tapi hari ini aku hanya ingin diam saja didalam kamar.


"Abang udah mau pergi?" Tanyaku pada Dev ketika melihatnya sudah rapi dengan pakaian formalnya, sangat tampan.


"Hm..kamu sudah bangun? Apakah masih terasa pusing?" Tanya nya sambil menempelkan punggung tangannya didahiku.


Aku menggeleng sambil tersenyum, memang semalam aku mengeluh pusing padanya, mungkin ia masih khawatir dengan kondisiku.


"Aku mau mandi.." Ucapku manja, entahlah..aku hanya ingin dimanjakan oleh suamiku. Aku merentangkan kedua tanganku, memintanya untuk menggendongku ke kamar mandi. Dapat kulihat alisnya bertaut dalam, mungkin dirinya heran dengan keinginan anehku ini.


Jangankan dirimu bang, aku pun heran dengan apa yang aku lakukan. Tapi aku ingin digendong ke kamar mandi, jadi yasudahlah aku lakukan apa yang aku inginkan saja. Meski terlihat heran, Dev tetap menuruti keinginanku yang menurutku juga aneh.


"Baiklah tuan putri". Dev menggendong tubuhku setelah meletakkan jas dan tas kerjanya diatas sofa didalam kamar kami.


"Abang kebawah dulu aja..nanti aku nyusul". Aku memang sudah mengubah panggilan lu gue menjadi aku kamu, kurasa itu lebih pantas. Aku ingat saat pertama kali aku memanggil suamiku dengan kamu, dirinya cukup terkejut namun aku yakin dia senang.


"Jangan terlalu lama mandinya, oke? Kamu bisa masuk angin". Inilah yang membuatku semakin mencintainya, sikapnya yang lembut dan perhatiannya yang tak pernah berkurang meski kami sudah menikah hampir 1tahun. Aku hanya mengangguk, setelahnya abang keluar dan menutup pintu kamar mandi dan akupun memulai ritual mandiku.


***


Dev POV


Satu minggu ini aku merasa sikap istriku sangat berbeda, dia menjadi lebih manja. Bukan tidak senang, justru aku sangat menikmati sikap manja nya itu. Hanya saja aku merasa aneh. Dulu, jangankan mau digendong atau dimanjakan, dia akan selalu menolak dan mengatakan bahwa ia masih bisa sendiri meskipun dalam kondisi sakit.


Tapi pagi ini, tiba-tiba dirinya ingin digendong hanya untuk memasuki kamar mandi. Alisku bertaut, aneh rasanya melihat tingkahnya. Juga melihat makanan yang masuk kedalam tubuhnya, dia kini lebih banyak makan. Tapi aku sangat senang melihatnya lebih berisi, tidak terlalu kurus seperti dulu.


Aku menuruni anak tangga setelah tadi Ara memintaku untuk lebih dulu keruang makan, disana sudah ada papa dan mama, juga Dira. Biasanya anak itu selalu datang terakhir setiap paginya. Tapi sepertinya pagi ini istriku yang keluar paling akhir.


"Sayang, dimana Ara??" Sudah aku duga, ibuku ini akan langsung menanyakan mantu kesayangannya jika sebentar saja tidak melihatnya. Serasa aku yang jadi anak mantu.


"Masih dikamar ma, tadi malam dia merasa pusing. Jadi tadi bangun lebih siang". Aku menjelaskan perlahan, jangan sampai ibu negara membuat geger seisi rumah karena mendengar mantu tersayangnya sakit.


"Lalu kenapa kamu tinggal. Ish..kamu itu gimana sih. Harusnya kamu tungguin dong,jangan malah ditinggal". Benar bukan, aku langsung disemprot hanya karena meninggalkan istriku yang sedang mandi.


"Ara sedang mandi ma, tadi dia meminta Dev untuk meninggalkannya. Sebentar lagi pasti akan turun". Aku menjelaskan sambil menyendok nasi goreng kedalam piringku. Butuh energi untuk menghadapi ibu negara yang satu ini.


"Ya tetap saja.."


"Selamat pagi semua". Suara Ara menghentikan mama yang sudah bersiap memarahi diriku lagi. Untung saja dia segera turun, kalau tidak..habislah aku diomeli oleh mama.

__ADS_1


"Selamat pagi sayang..kamu sakit sayang??" Ahh benar-benar seperti pada putrinya sendiri, tapi aku bahagia. Bahkan sangat bahagia melihat mama begitu menyayangi Ara.


"Ara sudah lebih baik ma, mungkin hanya kurang makan. hihihi". Kurang makan katanya? Bahkan aku ingat semalam dia keluar dari kamar pada saat tengah malam, aku kira dia mau kemana..setelah aku ikuti, dia pergi kedapur hanya sekedar ingin makan. Aneh sekali pikirku semalam.


Aku dapat melihat wajah-wajah aneh dari penghuni meja makan saat mereka melihat Ara yang makan jauh lebih banyak dari porsi biasanya. Bahkan biasanya istriku ini hanya akan makan roti, atau mungkin hanya beberapa sendok nasi. Tapi apa ini, pagi ini dia seperti tidak makan beberapa hari.


"Pelan-pelan sayang. Masih banyak". Aku mengelus punggungnya, melihatnya makan banyak adalah kebahagiaan tersendiri untukku. Hanya saja masih sedikit aneh saja.


"Kamu mau kemana sayang?" Mama bertanya saat melihat Ara bangkit dari duduknya setelah menandaskan nasi goreng serta ayam yang ada diatas piringnya.


"Mau bikin susu ma.." Aku yakin tidak salah dengar, sejak kapan istriku meminum susu??? Bukankah dia paling membenci bau susu? Lalu sejak kapan dia doyan minum susu?


"Susu??" Tanya papa heran. Ya..semua anggota keluarga ini tahu kebiasaan Ara, apa yang disukai dan dibencinya semua tahu. Wajar saja jika mereka begitu kaget.


"Biar bibi saja sayang. Kamu duduklah lagi". Mama mencegah Ara untuk membuat susu sendiri. Dan seperti biasa, istriku yang cantik ini akan selalu menuruti semua permintaan mertuanya.


Tidak butuh waktu lama, susu yang diinginkan Ara sudah diantar oleh bi Inah, diletakkan didepan Ara dan langsung diteguk habis olehnya. Ini benar-benar suatu yang baru, aku yang kurang perhatian padanya atau memang ada yang berbeda darinya.


Setelah menyelesaikan sarapan kami, aku dan papa pamit lebih dulu untuk ke kantor, pagi ini ada rapat penting dengan para direksi.


______


"Kita pergi dulu ya ma". Ara mencium punggung tangan mama diikuti Dira. Pagi ini mereka akan pergi ke kampus seperti biasa.


"Ntar kerumah Putri yuk, kangen gue ama Arka". Dira membuka obrolan ketika mobil sudah mulai berjalan.


"Hmm..hayu. Ajak Salsa biar rame, ntar kita nonton drakor kalo pangeran ganteng udah tidur". Sahut Ara bersemangat.


Dira langsung menoleh pada kakak iparnya itu, sejak kapan Ara menyukai drama? Dulu saat dirinya dan Putri menonton drama, Ara akan mengomeli mereka karena melakukan hal yang katanya tidak berguna. Lalu sekarang apa?? Ara mengajaknya menonton drama???


Dira hanya mengangguk dan kemudian fokus melihat pemandangan diluar. Sementara Ara kembali fokus pada jalanan yang ia lalui.


"Gue ke kantin dulu ya". Ara berpamitan pada Dira ketika mereka baru saja keluar dari mobil.


"Mau ngapain???" Tanya Dira heran.


"Mau beli susu, sama roti buat". Ara hanya memberi cengiran pada Dira yang melotot tak percaya. Masihkah Ara lapar setelah sarapan yang begitu banyak dan juga minum susu.


Baru beberapa langkah, tubuh Ara terlihat goyah. Sekuat tenaga Dira menahan tubuh Ara agar tidak ambruk, beberapa kali Dira memanggil Ara, namun sepertinya Ara sudah kehilangan kesadarannya.


Beberapa mahasiswa yang melihat Dira kesusahan menahan tubuh Ara akhirnya mendekat dan membantu Dira membawa Ara kembali kedalam mobilnya. Dira segera menghubungi Bian, mengatakan jika dirinya akan membawa Ara kerumah sakit tempatnya bekerja. Setelah mengucapkan terimakasih pada orang yang membantunya, Dira segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


"Lo kenapa sih Ra?? Tadi kan lo baik-baik aja. Malah makan lo banyak, kenapa bisa semaput gini sih". Dira beberapa kali melirik Ara yang dibaringkan dibangku belakang.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama untuk sampai dirumah sakit, karena memang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus mereka. Dari jarak yang sudah dekat, Dira dapat melihat Bian yang sudah berdiri didepan ruang IGD bersama beberapa perawat.


"Kenapa bisa pingsan Dir??" Tanya Bian sambil mengangkat dan memindahkan tubuh Ara ke atas brangkar.


"Lo makan apaan sih dek, berat banget". Walaupun cemas, Bian tetap sempat menggerutu ketika mengangkat tubuh adiknya.


"Gimana kaga berat, banyak makan sekarang dia". Dira ikut menimpali.


Bian segera mendorong brangkar Ara, membawanya masuk kedalam ruang IGD. Dira hanya mengikutinya, bahkan ia lupa untuk memberi kabar pada orang tua dan kakaknya.


Cukup lama Ara diperiksa, Bian juga mengambil sampel darah sang adik. Takut jika sang adik menderita penyakit mematikan. Sementara Dira sibuk mondar mandir sendirian didepan ruang tempat Ara diperiksa.


"Lo udah ngasih tau om sama tante? Apa Dev??" Tanya Bian membuat Dira menepuk keningnya.


"Gue lupa kak. Pantes aja dari tadi gue bingung mau ngapain". Dira segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi orang tua dan kakaknya. Bian hanya menggeleng melihat sahabat dari adiknya tak berbeda jauh dari kelakuan absurd sang adik.


Dira menjauhkan ponselnya ketika mendengar teriakan dari sang mama. Setelah mematikan sambungan telepon, Dira menghela nafas panjang. Dirinya sudah memprediksi bahwa nanti akan mendapat ceramah panjang saat ibunya sampai.


###


"Bagaimana kondisinya?? Bian?? Ara baik-baik saja???" Mama langsung memberondong Bian dengan pertanyaan ketika sampai diruang IGD, bahkan nafasnya masih terengah-engah. sepertinya wanita itu berlari saat memasuki ruangan itu.


"Gimana kondisi Ara kak?? Kenapa dia bisa pingsan dek??" Tiba-tiba Dev sudah berdiri dibelakang mama bersama dengan papa yang juga terlihat tersengal nafasnya.


Bian menyodorkan lembaran hasil tes darah milik adiknya kepada Dev, tangan Dev bergetar menerima lembaran itu. Pikirannya sudah berkecamuk tak karuan, takut jika istrinya memiliki penyakit yang berbahaya.


Perlahan Dev membuka selembar kertas yang baru saja diberikan oleh Bian, matanya tiba-tiba terasa panas membaca huruf demi huruf dalam kertas tersebut, matanya sudah berembun, pandangannya kabur karena linangan air mata dipelupuk matanya. Dev menatap Bian, membuat kakak iparnya itu mengangguk dengan senyuman.


"I..ini beneran kak?" Tanya Dev masih belum percaya.


"Ada apa?? Kenapa?? Mantu mama kenapa?? Dev?? Bian???" Mama menjadi panik sendiri ketika Dev dan Bian tidak segera memberitahu mereka akan kondisi Ara.


"Dev..jangan bikin papa senam jantung. Kenapa Ara?" Tanya papa ngegas karena Dev justru menangis sesenggukan sambil memeluk kertas yang diberikan oleh Bian.


"Iih..kakak!! Kakak pengen dikutuk sama mama nggak jawab ditanyain ama orang tua". Sahut Dira tak mau kalah.


"Ara...Ara ma". Ucap Dev menggantung membuat mama kesal dan ingin menggantung anak sulungnya itu.


"Ara hamil ma.." Air mata Dev akhirnya tumpah setelah mengatakan hal itu, sementara orang tua dan adiknya mematung mendengar tiga kata yang meluncur bebas dari mulut Dev.


"Hamil??" Gumam ketiganya. Namun sedetik kemudian mama memekik seraya memeluk anak sulungnya. Berita ini benar-benar berita besar. Anak mantu kesayangannya hamil. Mama benar-benar bahagia.


Akhirnya penantian mereka berbuah manis, Ara akhirnya positif hamil setelah kehilangan beberapa bulan lalu.

__ADS_1


Mereka tidak sabar memberitahu Ara tentang kehamilan ini, karena sampai sekarang, Ara masih belum membuka matanya.


__ADS_2