
Kirei mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan pandangannya. Ia berusaha menggerakkan tangannya, namun tidak bisa. Tangannya terikat oleh tali yang begitu kuat membelit tangannya. Dan ketika ia ingin berteriak, mulutnya pun ternyata ditutup dengan sebuah lakban yang membuatnya tak bisa melakukan apapun.
"S*al!! Dimana ini, kepala gue..kepala gue pusing banget". Batin Kirei sambil memejamkan matanya merasakan pusing yang menderanya.
Kirei berusaha mengingat kembali apa yang terjadi dan mengapa dirinya bisa sampai ditempat seperti ini. Dan..tempat apa ini? Cahaya temaram membuat Kirei tidak bisa melihat jelas keadaan sekelilingnya.
Suara derap langkah membuat Kirei berpura-pura memejamkan matanya kembali. Dirinya ingin tahu siapa dalang dibalik ini semua.
"Gadis ini belum juga bangun?".
"Suara ini? Gue pernah denger..tapi dimana?". Kirei mencoba mengingat suara perempuan yang sepertinya pernah ia dengar sebelumnya.
"Dasar b*d*h!!! Kalian tidak berguna! Cepat buat gadis ini bangun!!". Suara wanita itu terdengar menggelegar.
Perlahan, Kirei membuka matanya. Sedikit mel*nguh untuk membuat wanita itu sadar bahwa dirinya telah terbangun.
"Wah..wah..wah, kau benar-benar peka gadis manis. Rupanya kau sudah terbangun sebelum aku membangunkanmu. Anak pintar". Wanita itu menepuk pipi Kirei beberapa kali.
Mata Kirei melotot sempurna melihat siapa wanita yang berdiri didepannya kini.
"Dia..dia..bukankah dia yang tadi gue tabrak? Siapa dia?". Kirei menyipitkan matanya untuk memastikan bahwa orang yang sedang tertawa mengerikan didepannya ini adalah orang yang sama yang ia tabrak tadi saat hendak ke toilet.
"Kenapa anak manis? Kamu mengenali wajahku?". Tanya si wanita menyunggingkan senyum smirknya.
Dengan kasar wanita itu menarik lakban yang menutupi mulut Kirei hingga membuatnya meringis menahan sakit disekitar bibirnya.
"Oopss..maafkan tante anak cantik. Pasti sakit ya?". Tanya nya meledek.
"Siapa anda? Dan apa maksud anda menculik saya?". Tanya Kirei dengan ekspresi dinginnya.
"Tenanglah gadis manis". Wanita itu kembali mengelus pipi Kirei, dan berakhir dengan sebuah tamparan keras darinya untuk Kirei.
"Siapa nama ibumu di ponselmu ini gadis manis?". Wanita yang Kirei belum tahu namanya itu memainkan ponselnya yang entah sejak kapan berada ditangan wanita yang seumuran dengan ibunya itu.
"Nyalakan lampunya! Sepertinya aku sudah tahu, diberi nama apa perempuan s*alan itu!". Salah seorang anak buahnya menyalakan lampu, dan nampaklah wajah wanita itu, kini Kirei yakin wanita yang ada didepannya sama dengan wanita yang tidak sengaja bertabrakan dengannya tadi.
"Buna..sepertinya nomor ini yang paling sering menghubungimu dan kamu hubungi". Senyum smirk kembali tersungging dibibir berwarna merah darah itu.
"Kita liat apa yang akan dilakukan oleh ibumu tercinta itu jika tahu anaknya sedang dalam bahaya". Wanita itu terus saja mengoceh, sementara Kirei hanya diam melihat apa yang dilakukan oleh orang yang sama sekali tidak ia kenali.
"Siapa sebenernya ini orang?". Kirei terus berperang dengan pikirannya sendiri sambil mata tajamnya sibuk mengawasi situasi. Menghitung jumlah orang untuk menentukan langkahnya.
Jangan lupakan darah siapa yang mengalir dalam tubuh gadis cantik itu. Kakeknya adalah ahli dalam hal mengalahkan musuh, begitupun ibunya. Jadi wajar saja jika Kirei terlihat tenang dalam situasi yang membahayakan nyawanya sekalipun.
*****
"Kita harus gimana yah?". Ara yang mendapat foto Kirei yang sedang terikat dikursi dengan pipi memerah bekas tamparan.
"Kamu tenang dong bun..pasti ada petunjuk. Foto itu dikirim dari ponsel Kirei bun, itu artinya kita bisa melacak lokasinya dari ponsel Kirei". Jelas Dev menenangkan istrinya.
Karena terlalu panik, Ara menjadi tidak fokus dan bingung harus berbuat apa lagi.
"Tenang Ra..Kirei anak cerdas. Aku yakin kita akan menemukannya". Putri mencoba menenangkan Ara.
__ADS_1
"Ya..aku harus tenang. Aku pasti bisa menemukan Kirei". Ara meyakinkan dirinya.
Ara menghela nafasnya dan membuangnya perlahan, ia melakukan itu berulang kali untuk membuat pikirannya tenang. Ia harus memikirkan cara menyelamatkan putrinya dari orang yang ia tidak ketahui siapa.
"Tapi siapa? Dan kenapa harus Kirei?". Suara Kevin membuat semua mengalihkan perhatiannya pada lelaki berumur yang masih terlihat tampan.
"Aku tidak pernah memiliki musuh. Apalagi setelah Kirei lahir". Dev tampak berpikir keras untuk mengingat apakah dirinya memiliki musuh yang mungkin akan mengancam keselamatan keluarganya.
Suara dering ponsel Ara membuat semua orang beralih menatap benda pipih itu. Ada rasa was-was kala melihat nama Kirei terpampang nyata dilayar ponsel itu, dan itu adalah panggilan video.
Dengan sedikit gemetar, Ara menggeser simbol telpon berwarna hijau, dan apa yang mereka lihat benar-benar membuat semua mata membelakak tak percaya.
"CLARA!!" Pekik semua orang serentak, sementara Dirga dan Arka hanya bisa saling pandang karena merasa tidak mengenal nama Clara.
"Halloooo Kinara. Lama nggak ketemu". Senyuman devil tersungging dibibir Clara.
Clara mencengkeram dagu Kirei dengan kuat hingga Kirei terlihat sedikit meringis.
"Lepaskan anak saya!". Desis Ara berusaha menahan amarahnya yang hampir meluap.
"huuuuu..aku takut dengan suaramu Kinara". Kekeh Clara terdengar mengerikan.
Sementara Ara mengulur waktu berbicara dengan Clara, Dev dan Kevin sibuk melacak lokasi dimana Kirei dan Clara saat ini berada.
"Ketemu!". Dev memberi kode pada sang istri jika dirinya dan Kevin sudah mengetahui posisi pasti putri mereka.
"Datanglah Kinara..jangan coba-coba menghubungi polisi. Atau..anak kamu yang cantik ini akan aku hancurkan wajahnya". Ancam Clara diakhiri dengan tawa iblisnya.
"Kita liat aja nanti". Clara mematikan sambungan teleponnya sebelum Ara menjawab.
"Kita kesana sekarang". Dev bangkit bersama Kevin.
"Aku akan ikut". Ara tidak akan bisa diam tanpa melakukan apapun yang menyangkut putrinya.
"Aku akan bawa Kirei pulang bun. Kamu dirumah saja..oke?". Bujuk Dev
"Aku nggak bisa yah. Kamu tahu siapa yang diincar oleh Clara". Sahut Ara tak mau kalah
"Tapi akan berbahaya sayang". Ucap Dev frustasi.
Dirga dan Arka hanya diam mendengarkan perdebatan ayah dan bunda nya. Keduanya menatap layar laptop untuk melihat lokasi Kirei. Setelah mengetahuinya, kedua pemuda itu bergegas meninggalkan para orang tua yang masih berdebat.
***
"Hari ini, aku akan membunuh wanita s*alan itu!". Ucap Clara penuh percaya diri. Sayangnya, Clara masih sama bodohnya seperti belasan tahun lalu. Dia lupa dengan siapa dirinya berhadapan.
"Jangan kebanyakan ketawa tante. Keselek ntar". Celetuk Kirei membuat tawa Clara terhenti. Wanita itu memandang Kirei penuh kebencian.
"Kamu! Kenapa kamu benar-benar mirip dengan wanita s*alan itu!!!". Bentak Clara kesal.
"Ya gue anaknya. Kalo gue mirip tante kan jadi tanda tanya". Jawab Kirei enteng membuat amarah Clara semakin meledak.
"Cih..bahkan sikapmu sama sombong nya seperti ibumu itu!". Sinis Clara mencoba mengintimidasi Kirei, namun hasilnya nihil. Gadis itu bahkan tidak menampakkan wajah takut sedikitpun.
__ADS_1
___###___
"Dia memintaku datang sendiri sayang..jadi aku akan masuk lebih dulu. Tunggu aba aba dariku baru kalian masuk". Ara dan Dev serta Kevin sedang berada didalam mobil yang berada didepan rumah lama Clara.
Tanpa mereka tahu, Arka dan Dirga sudah lebih dulu sampai dan masuk kedalam rumah besar itu. Entah memang Clara b*d*h atau ceroboh, hingga kedua remaja yang beranjak dewasa itu bisa dengan mudah menerobos masuk kedalam rumah itu.
"Ini yang nyulik Kirei orang b*go kali ya Ga. Kita aja bisa gampang lolos gini. Lah kalo iketan si Kirei lepas apa kaga mati semua tu orang yang nyulik". Arka sampai menggelengkan kepalanya menyadari orang yang menculik Kirei adalah penculik yang sama sekali tidak professional.
"Kita cari kamar tempat Kirei disekap dulu bang. Udah itu biar Kirei sendiri yang ngelarin". Walaupun merasa ini begitu mudah, namun kedua pemuda itu masih tetap waspada memperhatikan sekelilingnya.
Keduanya berjalan mengendap-endap, meneliti semua kamar yang ada didalam rumah itu. Langkah keduanya terhenti kala mendengar suara tawa perempuan.
"Itu yang ketawa orang ama s*tan ya Ga?". Tanya Arka menatap adik sepupunya.
"Ya kali yang nyulik si Kirei s*tan bang". Keduanya terdiam cukup lama, namun suara tawa itu semakin terdengar mengerikan.
"Wah..kayanya emang makhluk halus yang nyulik si Kirei bang". Celetuk Dirga dijawab anggukan kepala oleh Arka.
****
"Besok lagi, tante kalo mau nyulik yang bener ya nyuruh orangnya. Yang pengalaman gitu".
"Kalian!! Awas kalian!! saya akan bikin kalian menderita!!". Teriak Clara histeris.
"Mau bikin kita menderitanya gimana coba? Orang tante aja gabisa kemana-mana kaya gini". Ucap Kirei santai.
"Kok abang ama Dirga tahu kalo aku disini?". Tanya Kirei pada kedua sepupunya.
"Tahu lah..bau-bau lo kecium nyampe rumah". Sahut Arka ngawur membuat dirinya mendapat hadiah tempelengan dari Kirei.
"Kita liat pas tadi ayah sama buna ngelacak lokasi lo. Daripada nunggu ayah ama buna debat, siapa yang mau kesini. Yaudah kita aja yang berangkat dulu". Jelas Dirga membuat Kirei mengangguk paham.
"Kaliaaaaann!!! AAARRRGHHH!!!". Clara benar-benar dibuat mati kutu oleh bocah-bocah yang ia kira lemah.
"Kirei!!!". Pintu terbuka, menampakkan wajah panik Ara dan Dev. Namun itu hanya bertahan sesaat, karena detik setelahnya justru wajah bingung yang jelas nampak pada wajah kedua orang tua itu.
Bagaimana tidak bingung, saat ini Clara sedang duduk dikursi tempat Kirei diikat tadi. Dan kondisinya sama seperti Kirei tadi, diikat tangan dan kakinya. Sementara Kirei sedang berdiri didepan Clara bersama Arka dan Dirga.
"Kalian??". Alis Ara hampir menyatu melihat ketiga anaknya berada diruang yang sama.
"Buna udah nggak gesit. Keduluan abang sama Dirga. Padahal Ki pengen liat buna sama ayah duel ama penjahat". Kirei mencium pipi kedua orang tuanya dan melewatinya begitu saja.
"Oh iya..urus itu tante Clara. Jangan masukin penjara. Kayanya dia gila, bukan jahat. Hhihihi". Kirei terkikik geli melihat wajah Clara memerah menahan amarah.
Tidak lama Kevin masuk bersama beberapa anggota polisi yang sengaja ia hubungi sejak tau bahwa Kirei diculik.
"Kalian benar-benar s*alan!!!!". Teriak Clara tak terima kekalahan yang ia terima lagi.
Ara masih bingung dengan keadaan yang terjadi. Apa sebenarnya yang baru saja terjadi. Hingga sebuah pelukan hangat dibahu membuatnya mendongak.
"Kita akan tanyakan dirumah sayang. Putri kita sudah baik-baik saja". Dev mengecup pelipis istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Ayah sama buna mau nginep disini?? Nggak akan pulang?". Tanya Arka setengah meledek. Anak itu memang sedikit berbeda dari dua sepupunya, sedikit aneh dan blak-blakan saat bicara.
__ADS_1