Cinta Kinara

Cinta Kinara
sepupu som_vlak


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu, bayi mungil yang dulu Ara lahirkan telah tumbuh menjadi sosok gadis yang kecantikannya begitu menurun dari ibundanya, segala yang ada dalam diri Kirei begitu mirip dengan Ara, hanya mata dan hidungnya saja yang menurun dari sang ayah. Bukan hanya kecantikannya saja, namun sikap tomboy Ara ternyata mengalir deras dalam diri Kirei. Gadis berusia 17tahun itu menjadi pribadi seperti sang ayah, dingin dan pendiam, ia tidak akan segan-segan menghajar orang yang mengganggu dirinya. Dia hanya akan berbicara jika ada yang bertanya terlebih dahulu. Namun jangan salah, itu semua hanya berlaku untuk orang asing. Jika dirumah, ia akan menjadi gadis kecil yang begitu manja. Terutama kepada sang ayah dan kakek neneknya.


Memiliki dua orang sepupu laki-laki semakin menambah sikap tomboy yang memang sudah ia miliki sejak kecil. Arka yang merupakan anak dari Putri dan Bian, serta Dirga yang merupakan anak Dira dan Kevin. Umur ketiganya yang tidak terpaut jauh membuat mereka begitu dekat. Bahkan ketiganya bersekolah ditempat orang tua mereka dulu menuntut ilmu. Tidak jarang Ara sampai dibuat pusing dengan kelakuan tomboy anak semata wayangnya itu. Kini ia mengerti, mengapa dulu bapak dan ibunya sering mengomel ketika melihat kelakuannya.


Namun begitu, Ara dan Dev selalu mendukung apapun yang anaknya ingin lakukan selagi itu masih dalam hal positif.


"Ayolah yah..pliiiis. Ya..ya..ya". Kirei terus membuntuti Dev yang berjalan menuju ruang kerjanya. Mereka masih tinggal dengan mama Anika dan papa Aryo, karena kedua orang tua itu tidak ingin jauh dari cucu pertamanya itu.


"Ayah sih bolehin aja. Tapi kamu harus ijin sama buna kamu dulu". Dev menoel hidung mancung anaknya yang langsung memasang wajah cemberut ketika sang ayah memberinya syarat agar meminta ijin dari ibunya.


Ya..Kirei memang memanggil Ara dengan sebutan buna. Itu terjadi karena Arka yang sejak kecil tidak bisa memanggil Ara dengan benar, hingga akhirnya kedua anak itu memanggilnya buna. Begitupun dengan anak Dira dan Kevin.


"Kalo sama buna pasti ujungnya nggak boleh yah. Sama ayah aja ya..." Rayu sang anak. Namun Dev dengan tegas menggeleng, bisa tidak dapat jatah tiap malam jika ia berani mengambil keputusan tentang anaknya tanpa membicarakannya dulu dengan Ara.


"Kamu kasih alasan yang masuk akal dong. Pasti buna ngertiin kok". Jelas Dev lembut sambil mengusap pucuk kepala putrinya.


Kirei menghembuskan nafas dengan kasar, ia harus menyusun rencana agar ibunda ratu mengijinkan dirinya untuk mengikuti jelajah alam yang diadakan pihak sekolah. Sudah pasti kedua sepupu somplaknya itu akan mengikuti acara itu. Bisa habis diledek oleh dua cecunguk itu jika dirinya gagal ikut.


Kirei keluar dari ruang kerja sang ayah dengan wajah masam, Ara yang melihat hanya tersenyum miring melihat kegalauan putri kecilnya itu. Dirinya sudah mengetahui apa yang diinginkan anaknya itu, bahkan sebelum Dev tahu. Karena Putri dan Dira sudah memberitahunya terlebih dulu.


"Kenapa muka kamu ditekuk gitu hm??" Tanya Ara pura-pura tidak tahu.


"Buna gausah pura-pura gatau. Ki yakin buna udah tau dari mami sama mamah kan?". Mata Kirei memicing, mencoba mengintimidasi sang ibu. Namun jelas saja semua itu tidak berpengaruh pada ibunda ratunya itu. Wanita itu masih sama, tegas dan kuat dengan pendiriannya.


"Boleh ya buna..pliiiis". Kirei menangkupkan kedua tangannya didepan dahinya seolah sedang menyembah sang ibu. Apapun akan ia lakukan asal kanjeng ratu memberinya ijin mengikuti acara sekolah itu.


"Kamu cuma nggak mau diledekin sama Arka sama Dirga kan? Nanti biar buna yang bilang sama mereka kalo kamu nggak bisa ikut". Goda Ara kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur. Sementara gadis cantik berambut hitam kecoklatan iru terus mengikuti langkah kaki sang ibu. Diam-diam Ara tersenyum geli melihat tingkah laku Kirei.


"Ayolah buna..Ki janji bisa jaga diri". Bujuk Kirei menggoyangkan lengan sang ibu. Jelas saja Kirei bisa menjaga dirinya, sudah pasti sejak kecil dirinya dididik oleh Ara dalam hal ilmu bela diri. Bahkan Ara sering melatih kemampuan anaknya bertarung langsung dengan dirinya.


"Kalo kamu bisa kalahin buna di latihan sore ini, kamu buna kasih ijin". Jawab Ara enteng membuat Kirei melotot tak percaya. Bagaimana bisa ia mengalahkan ibunya yang sudah jauh lebih hebat dari dirinya.

__ADS_1


"Big no!" Balas Kirei tegas.


Ara mengangkat bahunya acuh "Bisa menang dan pergi, atau enggak sama sekali". Ara kemudian memilih melanjutkan kegiatannya memotong sayuran yang akan ia masak untuk makan siang. Hari ini hari minggu, pasti sebentar lagi akan banyak tamu tak diundang yang datang. Ara menyiapkan banyak makanan untuk berjaga jika para tamu itu datang.


Ara sengaja mengajukan syarat itu pada buah hatinya, karena selama bertarung dengan dirinya, Kirei selalu menahan dirinya untuk tidak melukai Ara. Itu yang membuat Ara ingin menguji sejauh apa sebenarnya perkembangan sang anak.


"Ayolah bunaaa...yang lain aja deh ya. Masak mungkin, atau basket? Atau apa? Tapi pliiis..yang lain ya". Rengek Kirei seperti anak TK yang meminta dibelikan mainan.


"Kamu udah bisa semua itu, Ki. Cuma satu yang belum kamu buktiin ke buna, dan kamu tahu pasti apa itu".


"Punya emak ngeyel banget sih ah..Ki nggak mau ngelukain buna". Jiwa koplak Ki mulai keluar jika berdebat dengan ibunya.


"Heh..kamu yakin bisa ngelukain emakmu ini?". Tantang Ara sombong membuat anaknya memutar bola matanya, malas rasanya berdebat dengan ibunya yang selalu benar.


"Buna dengerin Ki ya. Nanti kalo buna ngotot lawan Ki, terus encok, apa enggak kesleo terus jalannya kaya nini-nini gimana??". Kirei masih terus mencoba membujuk ibunya, meski ia tahu bahwa itu semua pasti akan sia-sia. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengubah pikiran ibunya itu, selain mengikuti kemauannya.


"Bilang aja kamu takut kalah". Ledek Ara sambil tangannya terus sibuk dengan kegiatan memasaknya.


"Wa'alaikumsalam.." Jawab Ara dan Kirei bersamaan. Tidak lama setelahnya muncul pemuda tampan berkulit putih dengan hidung mancung dan rahang yang tegas. Jangan lupakan sorot mata tajam yang ia miliki.


"Waaaah..wangi banget. Buna bikin sup ayam ya. Pasti tau kalo Arka mau kesini". Pria yang tak lain adalah Arka segera mendekat dan mencium pipi tantenya yang sudah ia anggap sebagai ibunya. Pemuda yang memasuki usia 18tahun sejak 2bulan lalu itu memang sangat dekat dengan Ara dan Dev. Bahkan tak jarang dirinya menginap dirumah milik keluarga Natakusuma.


"Sejak kapan emang lo absen dateng kesini kalo hari minggu? Bilang aja mau minta makan. Bikin gue sepet liat muka lo". Sengit Ara mengibarkan bendera perang pada sepupu tengilnya.


"Dih..lo yang sewot. Buna aja nggak keberatan. Gitu jomblo mah, suka sensi kalo ada cowok ganteng.. wleek". Arka menjulurkan lidahnya meledek Kirei. Setelahnya, sesuai perkiraan Ara. Kedua anak itu akan terlibat kejar-kejaran seperti anak kecil yang berebut mainan. Ini sudah menjadi rutinitas setiap minggunya, mendengar dan melihat perdebatan mereka. Sebentar lagi akan bertambah satu biang kerok yang membuat keadaan rusuh.


"Lari kemana lo heh..gue kejar lo mau nyampe lobang semut juga". Ancam Ara sambil terus berlari mengejar sepupunya yang semakin senang meledeknya.


"Mada ada lobang semut buat ngumpet. Dasar jomblo". Arka terus meledek Kirei hingga membuat gadis itu semakin kesal.


Saat keduanya sedang saling mengejar, tiba-tiba tangan Arka dicekal oleh seseorang. Membuatnya tak bisa berlari dan menghindari Kirei yang semakin mendekat.

__ADS_1


"Heh kunyuk..lepas kaga. Gue tendang nyampe venus lu kalo kaga lepas". Sedangkan orang yang diancam hanya mengangkat bahunya acuh dan semakin mencengkeram kuat tangan Arka.


"Dirga nya Kirei emang paling the best". Ara memberi senyum terbaiknya untuk adik sepupunya itu. Memang dibanding dengan Arka, Dirga lebih sering membantu dan membela dirinya jika sedang berdebat dengan Arka seperti ini. Namun jangan salah, pria tampan itu juga sering mengganggu kakak sepupunya yang cantik itu.


"Kita apain nih kutu kupret satu?" Tanya Dirga pada Kirei. Seringai licik muncul diwajah cantik Kirei. Arka sudah was-was jika melihat senyum mengerikan itu diwajah Kirei. Terakhir dirinya menggoda Kirei, dirinya berakhir dengan tubuh basah kuyup karena ditenggelamkan kedalam kolam renang dirumah itu. Kali ini dirinya akan diapakan lagi oleh gadis ini.


"Arka kan suka kurang senyum, gimana kalo hari ini kita bikin dia murah senyum, malah ketawa ketawa?!".


Tak menunggu lama, Dirga dan Ara sudah menggelitiki perut Arka. Sementara Arka sudah tertawa terbahak-bahak karena merasakan geli disekujur tubuhnya.


"Ampun..am..ampun Ki. Udah". Hanya kata itu yang terlontar dari mulut Arka, dirinya tidak mampu mengeluarkan kata lebih dari itu karena perutnya terasa kaku menahan geli.


"Arka ganteng kan kalo ketawa gini?" Tanya Ara meledek yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Dirga.


"Lo..lo berdua..haha. Gue pites ntar lo ya. Hahaha. Lepas woooyyy, gu..gue paling tua kalo..kalo lo berdua lupa, hahaha". Arka masih terus tertawa karena Kirei dan Dirga tidak berhenti menggelitikinya.


Puas membuat Arka tertawa hingga matanya berair, Dirga dan Kirei ambruk disebelah tubuh Arka. Ketiganya berbaring diatas rumput yang ada ditaman belakang rumah itu. Memandang langit yang tertutupi awan hitam. Rumah itu tak berubah sejak pertama Ara datang kesana, hanya bertambah beberapa tanaman saja yang membuat taman luas itu semakin terlihat nyaman.


"Lo berdua tunggu pembalasan gue. Gue uleg ntar lo berdua". Ancam Arka yang hanya disambut gelak tawa oleh dua orang berbeda jenis itu.


"Udah dapet ijin dari buna, Ki??" Tanya Dirga memecah keheningan.


"Susah syaratnya. Pusing pala gue, emak gue mah ekstrem". Jelas Kirei membuat Arka dan Dirga langsung membalik badannya dan tengkurap memandang wajah cantik Kirei yang masih memperhatikan kumpulan awan hitam diatas sana.


"Emang apaan syaratnya?" Tanya keduanya bersamaan.


"Eciee..kompak amat lo bedua. Udah kaya kembar siam aja lo". Ledek Kirei membuat keduanya mendengus kesal dan akhirnya menggeplak kepala sepupu mereka itu.


"Kalo bukan sepupu gue mah udah gue lempar ke Antartika sana lo". Kesal Dirga membuat Ara tergelak.


"Buna minta gue buat kalahin dia di latihan sore ini. Kalo gue bisa, ya gue pergi. Kalo enggak ya..diem aja gue dirumah". Suara Kirei melemah diakhir kalimatnya.

__ADS_1


Arka dan Dirga tahu betul bagaimana inginnya Kirei mengikuti acara ini, namun keduanya juga yakin tidak akan bisa mengubah keputusan buna mereka yang terkenal tegas itu.


__ADS_2