Cinta Kinara

Cinta Kinara
bertemu musuh


__ADS_3

Part ini panjang banget ya readers, lebih dari 2000 kata. Happy reading readers😁😁 jangan lupa like sama komennya🙏


...******...


"sial..bener-bener si*lan itu cewe kere!!". Masih dengan kemarahan yang membumbung tinggi, Clara menggebrak meja yang ada didepannya. Sontak saja apa yang Clara lakukan membuat seisi kelas memperhatikannya.


"Gue musti bikin perhitungan ama j*l*ng si*lan itu". Clara terus mengumpat saat mengingat bagaimana tenangnya Ara menghadapi dirinya. Justru kini dirinya yang dibuat emosi oleh sikap tenang Ara.


"Yaa..Lo bener Cla. Itu cewe miskin kudu kita kasih pelajaran!". Bella yang memang racun terus menambah kebencian Clara pada Ara.


"Iya kalian bener..tapi itu bocah juga ga salah. Kita juga harus mikirin kalo bentar lagi ujian. Kita kasih dia pelajaran pas kita udah kelar ujian". Sesil kini mencoba menenangkan kedua temannya yang sama-sama terlihat emosi.


Kedua temannya memandang Sesil sesaat, lalu kemudian keduanya mengangguk.


******


Hari ini adalah hari pertama ujian untuk kelas XII. Pagi ini Dev sudah rapi dengan seragam lengkapnya, sedangkan sang adik yang memang libur masih terlihat memakai piyama tidurnya.


"Sarapan yang banyak sayang, biar nanti kamu bisa konsentrasi ujiannya". Ucap mama Anika sambil mengisi piring Dev dengan nasi goreng dan lauk pauknya.


"Kalo kebanyakan yang ada kakak jadi ngantuk ma". Dira menimpali ucapan mamanya.


Sedang papa Aryo hanya menjadi pendengar setia.


"Elo tuh mentang-mentang libur, jam segini belom mandi. Jorok!". Dev mencibir penampilan Dira.


"Dihh..sirik aja lo ama gue. Gue itu lagi memuliakan diri gue..lagi membahagiakan diri soalnya kaga bakal ketemu ama mak lampir plus gerandong-gerandongnya dia". Dira berkata dengan ceria karena sebentar lagi dirinya dan kedua temannya akan terbebas dari Clara dan teman-temannya.


"suka-suka elo aja deh". Dev memilih membiarkan adiknya melakukan apa yang diinginkan oleh gadis itu.


____


"Dev berangkat dulu ya ma..pa". Dev berpamitan pada kedua orang tuanya kemudian menyalami keduanya.


"Doain Dev mudah-mudahan ujiannya lancar terus dapet nilai yang bagus". Lanjut Dev.


"Pasti sayang, mama sama papa pasti doain yang terbaik buat kamu". Ucap mama sambil mengelus kepala putranya.


"Kerjakan soalnya dengan tenang, pastikan fokus kamu hanya untuk ujian ini Dev". Papa berkata tegas sambil menepuk bahu Dev pelan.


"pasti pa". Jawab Dev


"Dev pergi dulu, Assalamualaikum". Setelah mengucap salam, Dev berjalan keluar rumah.


"wa'alaikumsalam". Mama dan papa menjawab bersamaan.


Saat sedang diteras, Dev melihat Ara yang sepertinya baru pulang jogging.


"abis olahraga Ra??". Dev menyapa Ara yang sepertinya tidak sadar dengan kehadiran Dev tadi.


"eehh..oh iya bang abis jogging. Udh mau berangkat bang??". Ara bertanya sambil menyeka keringatnya dengan punggung tangan.


"hmmm..doain lancar ya Ra". Ucap Dev sambil tersenyum.


"pasti bang, elu mah kan pinter bang. Pasti bisa lah ngerjain semua soal-soalnya. Semangat bang!". Ara berkata dengan semangat dibarengi dengan mengangkat kepalan tangannya memberi semangat pada Dev.


"makasih banyak Ra". Jawab Dev sambil mengacak pelan rambut Ara.


"Pergi dulu ya Ra, assalamualaikum Ra". Dev berlalu dari hadapan Ara yang masih sedikit bengong karena perlakuan Dev yang semakin hari semakin manis.


Saat Dev meninggalkan rumah dengan mobilnya, barulah Ara sadar dari rasa terkejutnya tadi.


...********...


Waktu berjalan cepat, hari ini adalah hari terakhir ujian untuk kelas XII.


Setelah selesai mengerjakan ujiannya, Dev dan kedua temannya memutuskan nongkrong sebentar dicafe langganan mereka.


"aaaaahhh..akhirnya kelar juga ini ujian". Sam menarik nafas lega mengingat mereka baru saja menyelesaikan ujian terakhir mereka.


"Lo pada mau masuk kampus mana??". Sam kembali mengeluarkan suaranya.


Sedangkan kedua temannya hanya mengendikkan bahu acuh saat Sam menanyakan hal yang sudah pernah mereka bahas.


"berasa temenan ama tembok gue. Ngomong apa juga kaga ada yang jawab!". Sam yang kesal langsung menyeruput habis jus jeruk yang tadi ia pesan.


Dev dan Kevin hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan teman mereka sejak kecil itu.


Siang itu dihabiskan dengan bersantai di cafe dengan obrolan yang didominasi oleh Sam.


"Cabut kaga lu berdua?? Capek gue dari tadi udah kayak radio rusak ngoceh mulu kaga lo tanggepin". Karena sudah lelah mengoceh, Sam mengajak kedua temannya pulang.


Pertanyaan Sam hanya dijawab anggukan, kemudian keduanya bangun dan meninggalkan Sam setelah memberi uang untuk membayar makanan dan minuman mereka.


"emang dasar kulkas lo berdua. Kenapa juga gue punya temen modelan elo berdua". Meskipun terus mengomel, Sam tetap mengambil uang dari kedua temannya dan berdiri dari tempat duduknya menuju kasir.


______


"Assalamualaikum.." Dev mengucap salam saat memasuki rumah.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam..kamu sudah pulang nak??". Mama Anika menyambut kepulangan anaknya.


"Iya ma, maaf Dev pulang terlambat..tadi Dev nongkrong dulu sama Sam sama Kevin". Dev menjelaskan alasan kepulangannya yang terlambat setelah mencium punggung tangan sang mama.


"udah pulang lo kak??". Tiba-tiba Dira sudah ada dibelakang sang mama.


"ya kalo belom pulang mana bisa gue disini. Dasar aneh". Ucap Dev acuh.


"Dasar kakak kulkas, pantesan jomblo terus. Kaku kaya kulkas sih". Ejek Dira.


"Banyak yang suka, tapi gue yang gak suka". Dev yang tak terima menjawab dengan ketus ledekan sang adik.


"Dasar kepedean!". Balas Dira, kemudian berlalu dari ruang tamu menuju ruang makan.


"Kalian ini ribut terus kalo ketemu, nanti giliran enggak ketemu bingung sendiri saling nyari". Sang mama sudah geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua anaknya.


Saat ini Dira sedang asyik memakan kue di meja makan.


"Kue apaan tuh?? Kayanya enak". Dev mendudukkan dirinya disalah satu kursi makan. Setelah duduk Dev langsung mengambil kue coklat yang terlihat menggoda itu.


"ehmm..enak banget ma. Mama beli dimana??". Dev bertanya pada sang mama yang ikut mendudukkan diri disebelah putranya.


"ini tuh kue buatan Ara sayang..tadi pagi mama bilang bosen, terus Ara ngajak bikin kue ini. Mama jadi dikasih resep kue yang biasa dia bikin". Ucap sang mama bangga.


Dev yang hendak menelan kue yang sudah berhasil ia kunyah tiba-tiba tersedak.


"Pelan-pelan aja napa sih kak. Gue juga kaga bakal minta kue elo. Ini masih banyak". Sang adik kembali menggoda Dev.


"pelan-pelan nak, ini minum dulu". Mama menyodorkan segelas air putih yang langsung ditenggak habis oleh Dev.


"Ini beneran bikin?? bukan beli??". Dev masih belum percaya dengan ucapan sang mama.


"elo keselek tuh takut kuenya gue minta ama denger kalo Ara yang bikin ini kue sih??". Bukan mama yang menjawab namun Dira yang sepertinya tidak bosan menggoda sang kakak.


"diem kenapa sih lo. Gue nanya mama ini". Dev melirik kesal sang adik. Yang dilirik hanya cuek-cuek saja dan melanjutkan makan kue.


Dev beralih menatap sang mama.


"Beneran Dev..ini tadi Ara yang bikin. Mama sih cuma bantu liatin aja, apalagi adik kamu..cuma ngerecokin kerjaan Ara". Sang mama mengingat bagaimana hebohnya Dira melihat Ara membuat kue.


Tiba-tiba Dev tersenyum sambil memandang kue coklat buatan Ara.


"kaga usah mesam mesem gitu. Geli gue liatnya". Setelah mengatakannya, Dira langsung melarikan diri ke kamarnya sebelum mendapat amukan dari sang kakak.


Mama hanya bisa menggelengkan kepalanya. Pusing melihat anaknya berdebat setiap hari.


****


"Berapa hari pak??"


"mungkin dua atau tiga hari neng". Jawab bapak sambil menggigit kue.


"Bapak udah kaya orang penting banget ya, dikit-dikit luar kota". Ucap Ara sambil tertawa.


Banyak hal yang dibicarakan Ara dan bapak malam itu. Sampai tidak terasa waktu sudah sangat larut.


"Bapak istirahat deh, besok kan harus pergi. Takut encoknya kumat kalo kurang tidur". Anak yang perhatian tapi juga menyebalkan diwaktu yang bersamaan.


"Dasar kamu ini. Kamu juga istirahat sana, jangan keseringan begadang neng. Enggak baik". Bapak kemudian bangkit dan berjalan meninggalkan Ara yang masih duduk sambil menyeruput teh hangatnya.


Setelah merasa puas dan juga mengantuk, Ara berjalan menuju kamarnya untuk istirahat.


_____


Bapak sudah pergi dengan tuan Aryo dan Josh pagi-pagi sekali setelah sarapan. Sementara Pram mendapat tugas menjaga sang nyonya dan anak-anaknya bersama dengan Ara.


Saat sedang bermain catur dengan Pram, tiba-tiba Dira menghampiri Ara.


"Ada yang bisa kami bantu nona muda??". Pram langsung berdiri dan membungkuk sedikit.


"Tidak om, aku mencari Ara. Ayo ikut denganku". Ucap Dira sambil menarik tangan Ara.


"Ntar kita lanjutin lagi om". Ara berjalan sambil sedikit berteriak, dan dijawab acungan jempol oleh Pram.


"elu ama abang elu hobi banget ya narik-narik gue kaya kebo mau dibawa kesawah buat ngebajak". Ara sewot karena tiba-tiba ditarik oleh Dira menuju kamarnya.


"Ganti baju sana, elo diminta nemenin mama jalan-jalan hari ini. Tenang aja ama gue juga kok". Dira menjelaskan tujuannya menemui Ara.


"ohh..oke bentar". Ara langsung masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian. Jika sudah menyangkut sang nyonya dan tuan, Ara tidak akan banyak bertanya.


"Giliran mama yang minta aja elo mah cepet". Dira menggerutu didepan pintu kamar Ara.


"Mama papa elu tuh prioritas gaes". Teriak Ara dari dalam kamar.


Dira mendengus kesal.


...*****...


Kini Ara, Dira dan mama Anika sudah berada disebuah mall besar dipusat kota.

__ADS_1


Saat ini Ara dengan setia mengikuti setiap langkah kaki sang majikan.


"Ara..bagus yang mana menurutmu??". Mama Anika bertanya tentang gaun yang sedang dipegangnya.


"Saya tidak paham dengan pakaian seperti itu nyonya. Tapi menurut saya yang simple itu terlihat lebih elegan, tidak terlalu berlebihan". Ara mencoba memberi saran.


"Pilihanmu bagus Ara". Mama Anika memuji pilihan Ara.


Dira asyik sendiri memilih gaun yang disukainya.


Ketiganya kini berpindah kesebuah toko tas.


"Pilih yang kamu sukai sayang. Kamu juga harus membeli sesuatu". Mama Anika membujuk Ara yang sedari tadi terus menolak jika akan dibelikan.


"Untuk saat ini saya tidak butuh tas-tas seperti ini nyonya". Ara menolak halus tawaran mama Anika.


"baiklah kalau kamu tidak mau". Akhirnya mama Anika mengalah dan membiarkan Ara mengikutinya saja.


Mereka kemudian berpindah toko lagi ke sebuah toko sepatu.


Dira mengambil beberapa sepatu sport untuk pria.


"Bagus yang mana menurut kamu Ra??". Dira bertanya pada Ara.


"Bagus semua". Jawab Ara asal-asalan.


Dira mendelik mendengar jawaban sahabatnya itu.


"yang paling bagus Ra..yang paling BAAAAGUUUSSS.." Dira kembali bertanya.


"yang ini". Ara menunjuk sepatu berwarna putih yang menurutnya paling bagus dan paling menarik.


"Yang ini?? Okee.." Ucap Dira semangat.


"Mbak..mau yang ini size 42 sama size 39 ya. Model sama warnanya disamain ya". Dira meminta pada pegawai toko tersebut.


Ara yang tak mau ambil pusing hanya diam tanpa bertanya apapun.


Setelah lelah berkeliling mall, Mama Anika mengajak Dira dan Ara untuk makan terlebih dahulu.


Namun sebelum ke restoran yang diinginkan, Dira dan mama ingin ke toilet dulu untuk merapikan penampilan mereka.


Ara menunggu tidak terlalu jauh dari toilet karena tidak ingin terjadi sesuatu pada kedua majikannya.


Saat sedang menunggu mama Anika dan Dira, terdengar suara yang sangat Ara kenal. Suara orang yang sebisa mungkin Ara hindari.


"heh anak k*c*ng, ngapain lo disini!! Jual diri lo?!!". Bukan sebuah salam apalagi sapaan ramah yang terdengar, namun sebuah kalimat yang membuat siapapun yang mendengarnya menjadi marah.


Sebisa mungkin Ara menahan amarahnya karena tidak ingin membuat keributan ditempat umum dan mempermalukan sang nyonya.


"Lo budek anak b*bu?!!!". Kembali Clara bersuara.


Ara membalikkan tubuhnya, dihadapannya kini sudah berdiri dua wanita beda usia. Clara berdiri dengan seorang wanita paruh baya yang penampilannya sedikit menor menurut Ara.


Perkiraan Ara, wanita paruh baya ini adalah ibunya Clara.


"Siapa dia sayang?? Kamu mengenalnya??". Wanita paruh baya itu memperhatikan penampilan Ara dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menghina.


"Dia gadis j*l*ng yang aku ceritakan ma, dia yang menggoda Devku hingga Dev berpaling dariku". Sepertinya dulu Clara ingin menjadi penulis namun tidak terwujud, hingga sekarang dirinya mengarang bebas cerita tentang dirinya dengan Dev dan Ara.


Ara mengernyit heran mendengar ucapan Clara.


"Jadi gadis j*l*ng ini yang merebut Dev dari sisimu??". Suara mama Clara terdengar mengintimidasi. Namun Ara tidak terpengaruh sama sekali.


"ya..dia gadis yang aku ceritakan itu ma". Clara memasang wajah sedih dihadapan ibunya.


"Ternyata gak cuma gila ini lampir, tapi juga drama queen banget". Batin Ara sambil tersenyum miring.


Mama Clara maju kehadapan Ara kemudian tanpa basa-basi melayangkan tamparan kewajah putih milik Ara.


Saking kerasnya tamparan, wajah Ara sampai berpaling. Namun bukan Ara namanya kalau hanya tamparan seperti itu membuatnya menangis.


Saat menghadap kearah Clara dan mamanya, tiba-tiba Clara hendak menyiram Ara dengan minuman yang ia bawa.


Ara memejamkan matanya saat tau dirinya akan disiram. Namun beberapa saat kemudian, Ara merasakan tubuhnya dipeluk erat oleh seseorang.


Ara membuka matanya kemudian mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang berani memeluknya ditempat umum seperti ini.


Mata Ara membulat sempurna melihat orang yang memeluknya adalah Dev.


Clara memekik melihat siapa yang terkena siraman minuman miliknya.


"D..Dev?? Kamu disini Dev?? Kenapa kamu melindungi j*l*ng ini Dev??" Clara berkata sedikit gugup karena justru Dev yang terkena siramannya.


"Kenapa kamu melindunginya nak Dev, kenapa harus j*l*ng kecil ini?? kenapa bukan putriku saja??". Mama Clara berkata seolah Dev adalah milik anaknya.


Belum sempat Dev menjawab..sebuah suara yang terdengar dingin masuk ke indera pendengaran mereka.


"Siapa yang anda sebut jal*ng nyonya SAN-JA-YA???".

__ADS_1


__ADS_2