Cinta Kinara

Cinta Kinara
Terjadi lagi


__ADS_3

Pernikahan Bian dan Putri terlaksana dengan lancar tanpa hambatan apapun hingga acara resepsi selesai.


Kini hanya tinggal keluarga inti dan orang-orang terdekatnya saja yang masih duduk mengelilingi sebuah meja yang berbentuk memanjang sambil menunggu sepasang pengantin baru yang sedang membersihkan diri dalam kamar mereka.


"Sepertinya aku dulu yang akan mempunyai cucu Ar". Ucap papa Bram pada sahabatnya.


"Yaa..sepertinya begitu. Mau bagaimana lagi..calon menantuku adik yang berbakti. Jadi dia membiarkan kakaknya menikah terlebih dahulu". Jawab papa Aryo santai.


"Hahaha..kau benar. Calon menantumu memang gadis yang baik. Seandainya aku juga memiliki anak lelaki, sudah pasti aku akan menikahkannya dengan Ara". Kelakar papa Bram diikuti suara tawa semua orang.


"Dan aku tidak akan membiarkannya terjadi om". Sambar Dev disambut gelak tawa semua orang.


Sementara Ara hanya tersenyum menanggapi ucapan para orang tua dan sang kekasih.


"Lalu kapan kalian akan menikah?" Mama Dini mengajukan pertanyaan pada Dev.


"Tidak akan lama lagi tante". Jawab Dev asal, namun berhasil membuat mata Ara membola.


"Yang penting kita jawab sayang..biar nggak jadi bulan-bulanan pertanyaan mama sama tante Dini". Bisik Dev pada Ara yang duduk disampingnya.


Ara menggelengkan kepala dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.


"Memang hal baik harus disegerakan. Bukan begitu Anika?". Mama Dini kembali berucap.


"Ya..tentu saja. Semoga mereka cepat menikah dan segera memberikan aku cucu. Aku sudah tidak sabar menjadi seorang neda". Mama Anika menatap putra nya dan tersenyum menggoda.


"Apa itu neda? Terdengar asing ditelingaku". Tanya papa Bram dengan alis berkerut.


"Tentu saja nenek muda". Jawab mama Anika dan mama Dini kompak. Kemudian keduanya tertawa mendengar kekompakan mereka.


Sang suami serta anak-anaknya hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sudah biasa terjadi kehebohan jika mama Anika dan mama Dini bersama seperti sekarang.


"Maaf..membuat semua menunggu lama". Suara Bian mengalihkan perhatian semua orang.


"Tidak apa Bian. Kami mnegerti kalau pengantin baru pengennya selalu berduaan". Goda mama Anika membuat wajah Putri memerah.


"Emang beda ya kalo pengantin baru mah. Mukanya tuh cerah-cerah gimanaaa gitu". Dira mulai menggoda Putri.


"Beda doooong..anget-anget gimana gitu kan yak". Sam ikut menimpali membuat pasangan pengantin baru itu menjadi salah tingkah.


"Diih..Putri yang digodain kok kakak yang mukanya merah sih". Ledek Ara. Semua memperhatikan wajah Bian juga Putri yang terlihat memerah.


Bian melotot mendengar ucapan sang adik yang terdengar menyebalkan menurutnya.


"Bener-bener lo mah ya neng. Punya adek sebiji doang kaga ada akhlaknya". Ketus Bian kemudian menarik kursi untuk sang istri.


Ara hanya mengendikkan bahunya sambil melirik sang kakak yang terlihat kesal.


"Berasa dirumah sendiri ya kalian mah. Nggak dimana-dimana ribut mulu. Pusing bapak liatnya". Kesal bapak


"Berarti jangan diliatin pak. Hehehe". Jawab Ara nyengir


Semua tertawa mendengar jawaban Ara.


"Sabar..sabar mat. Punya anak kaya begitu kudu sabar". Bapak bermonolog dengan dirinya sendiri sambil mengusap dadanya beberapa kali.


"Maafkan anak-anak saya tuan nyonya, mereka memang tidak bisa melihat situasi. Setiap berdekatan selalu berdebat". Ucap bapak tak enak hati pada semua orang.


"Kaya bapak enggak aja". Ucap Bian dan Ara bersamaan membuat tawa semua orang semakin pecah.


Malam itu suasana begitu terasa hangat, penuh dengan canda dan tawa. Wajah semua orang dihiasi senyum kebahagiaan.


Melihat wajah lelah pengantin baru, bapak berinisiatif untuk mengajak semua orang membubarkan diri.


Semua orang kembali kekamar mereka untuk istirahat. Ara tidur dikamar yang sama dengan Dira dan Salsa.

__ADS_1


Hari yang melelahkan untuk semua orang, namun juga membahagiakan.


####


Sudah 1bulan sejak pernikahan Bian dan Putri. Bian pun sudah memboyong Putri untuk tinggal dirumah yang sudah ia siapkan untuk keluarga kecilnya.


Bian sudah kembali bekerja, Putri pun juga sudah kembali mengikuti materi perkuliahan setelah cuti untuk pernikahannya.


Sudah sejak 2hari lalu, Ara merasa bahwa ada yang selalu mengawasi dan mengikutinya. Bahkan ia beberapa kali melihat sebuah mobil yang mengikutinya dan Dev jika pulang bersama.


Hari ini Dev tidak ada mata kuliah dan sedang berada diperusahaan sang ayah untuk membantu pekerjaan papa Aryo, oleh karenanya Ara pergi dengan sepeda motor kesayangannya.


Mama Anika sudah menawarkan Ara untuk diantar dan dijemput sopir jika Dev tidak ke kampus. Namun Ara selalu menolaknya dengan alasan lebih praktis menggunakan motor.


Ketiga sahabatnya sudah lebih dulu pergi. Hari ini mereka berencana akan berkumpul dirumah Putri karena sudah lama mereka tidak berkumpul.


Ara berjalan sendiri menuju tempatnya memarkirkan motornya. Namun beberapa kali ia menghentikan langkahnya ketika ia merasa ada langkah kaki lain yang mengikutinya.


Berulang kali ia menoleh kebelakang. Namun nihil, tidak ada siapapun yang mengikutinya.


"Perasaan gue aja kali ya". Ara bermonolog pada dirinya sendiri dan memilih melanjutkan langkahnya yang sudah dekat dengan parkiran.


"KINAR AWASS!!!!" Teriakan dari seseorang membuat Ara terkesiap dan segera membalikkan tubuhnya. Namun terlambat, seseorang sudah menempelkan sebuah kain dihidungnya yang membuat kesadarannya semakin hilang.


Pandangannya semakin mengabur dan semakin lama menjadi hitam diikuti tubuhnya yang limbung. Tubuh Ara yang sudah kehilangan kesadaran diangkat seperti membawa sebuah karung oleh orang yang membiusnya.


Orang yang tak lain adalah Raisya berlari mengejar. Namun tubuh Ara sudah dibawa oleh sebuah mobil tanpa plat nomor, Raisya hanya sempat mengambil gambar mobil yang membawa Ara.


Raisya bergegas menelpon Dev. Beberapa kali ia coba namun tidak ada jawaban dari seberang sana.


"Angkat Dev cepet..ya Allah dek, kakak harus apa". Lirih Raisya sambil terus mencoba menghubungi Dev.


"Halo..Assalamualaikum". Suara dari seberang sana membuat Raisya sedikit lega


"Wa'alaikumsalam. Kamu kemana aja sih Dev aku telpon dari tadi nggak diangkat". Ucap Raisya panik


"Kinar..Kinar Dev. Kinar diculik..cepet cari Dev. Aku kirim foto mobilnya". Jawab Raisya cepat kemudian memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu respon Dev.


Sementara Dev, ia berdiri mematung mendengar kabar yang baru ia dengar. Jantungnya seolah berhenti berdetak mendengar kabar sang kekasih kembali diculik.


Dev membuka pesan yang dikirim Raisya..hanya sebuah foto mobil sedan hitam tanpa plat nomor. Kenapa harus terjadi lagi..batin Dev.


"Bapak.." Gumam Dev, kemudian segera berlari menuju ruangan papa Aryo.


Dev mendorong pintu ruangan papa Aryo dengan kasar membuat papa dan bapak yang berada dalam ruangan itu mengernyit heran melihat wajah Dev yang pucat.


"Kamu ken.." Belum sempat papa Aryo selesai bertanya, Dev sudah memotongnya


"Ara..Ara diculik pa, pak!" Ucap Dev dengan nafas tersengal.


Tubuh bapak membeku seketika mendengar ucapan Dev. Apakah ini arti dari rasa tak tenang dalam hatinya sejak pagi tadi.


"Kita pergi sekarang". Ucap bapak berjalan cepat keluar dari ruangan papa, diikuti Dev dan papa Aryo.


Sambil terus berjalan dengan langkah lebar, bapak mulai menghubungi bawahannya. Terutama Pram dan Josh.


Ia terus melihat gps yang terpasang dalam ponsel sang anak dan juga dalam kalung yang kini selalu dipakai Ara.


"Mau kalian bawa kemana anakku!". Umpat bapak sambil terus berjalan.


Banyak karyawan memandang aneh pada Dev dan juga bapak serta papa Aryo yang terlihat terburu-buru.


Sampai dilobby perusahaan, mobil Dev sudah terparkir rapi didepan lobby.


Dev dan bapak bergegas masuk kedalam mobil, sebelum itu Dev berpesan pada sang ayah untuk tetap tinggal. Dev dan bapak yang akan pergi mencari Ara.

__ADS_1


Papa hanya mengangguk pasrah, ia akan berkoordinasi dengan kepolisian terkait kasus penculikan ini.


Dev melajukan kuda besinya dengan kecepatan tinggi, ia tidak ingin tertinggal terlalu jauh dengan para b*d*bah yang sudah berani menculik calon istrinya itu.


"Kamu masih dirumah sakit Bi?" Tanya bapak pada putra sulungnya.


"Iya pak. Ada apa pak?" Tanya Bian curiga. Tidak biasanya sang ayah menelponnya seperti sekarang.


"Adikmu diculik. Bapak sedang berusaha mengejar penculiknya. Saat ini bapak ada dijalan menuju daerah Z". Jelas bapak berusaha tenang.


"Bian susul sekarang!".


Bapak memutuskan sambungan teleponnya, kemudian kembali fokus dengan pergerakan yang ia lihat dari gps pada kalung sang anak.


"Kita tertinggal cukup jauh Dev". Terdengar bapak menghela nafas kasar.


"Dev tidak akan biarkan siapapun menyakitinya pak". Tangan Dev mencengkeram stir dengan erat.


"Kita akan menemukannya Dev. Pasti". Ucap bapak mencoba menenangkan Dev dengan menepuk bahunya pelan.


Saat ini yang mereka butuhkan adalah ketenangan agar bisa dengan cepat menyusul dan menemukan Ara.


_____


Byurrr


Ara terkesiap dan membuka matanya setelah tubuhnya disiram air oleh seseorang.


Matanya menyipit menyesuaikan cahaya temaram yang ada dalam ruangan tersebut.


"Wah..wah..wah. Tidur lo nyenyak banget ya tuan putri?". Suara itu terdengar menggema dalam ruangan.


Tunggu dulu..suara itu? Kesadaran Ara langsung pulih mendengar suara seorang wanita yang sudah lama tidak ia dengar.


Ara mendongakkan kepalanya untuk melihat apakah benar yang ada dalam pikirannya. Sesaat kemudian matanya membola melihat gadis yang sudah lama tak ia lihat ada dihadapannya sedang menyeringai iblis.


"Clara.!" Desis Ara setelah mengembalikan wajah datarnya dihadapan lampir sinting yang sudah menculiknya untuk kedua kalinya.


"Hay cewe kere! Kita ketemu lagi. Hahahaha". Tiba-tiba Clara tertawa. Tawa yang terdengar mengerikan.


"Gila" Ucap Ara dan berhasil membuat tawa Clara terhenti seketika.


"Gila?? Hahahahaha...ya!! Gue gila karena nggak bisa milikin Dev. Dan itu..gara-gara cewe kampungan kaya lo!!" Teriak Clara sudah seperti orang gila.


Ara tersenyum sinis melihat Clara yang seperti orang kehilangan akal sehatnya. Ia benar-benar tak habis pikir dengan cara berpikir Clara.


"Gimana?? Lo suka jadi nona muda keluarga Natakusuma?! Dasar j*lang!!!!" Teriak Clara dengan tangan yang sudah mendarat dipipi mulus Ara.


Clara terus memukul dan menampar wajah Ara, hingga akhirnya Clara mengeluarkan sebuah pisau. Membelai wajah Ara dengan sebuah pisau yang terlihat berkilau. Clara menekan pipi Ara dengan pisau hingga berdarah.


"Gue rasa..Dev nggak akan sudi nikah sama lo kalo gue bikin muka lo cacat. Hahaha". Clara terus tertawa sambil menyiksa Ara.


"Gimana kalo wajah mulus lo ini gue bikin cacat???". Clara kembali membelai wajah Ara dengan pisau.


"Gue nggak akan lepasin lu kali ini nona muda Sanjaya!". Desis Ara dengan seringai kecil dibibir mungilnya yang sudah berdarah.


"Siapa yang bakal nemuin lo disini. Hp lo udah gue buang ke hutan..semuanya udah gue singkirin. Nggak ada yang bisa nemuin lo..hahahaha"


Tawa Clara terhenti saat mendengar ucapan Ara yang membuat darahnya kembali mendidih.


"Nggak akan lama lagi. Lu bakal kelar kali ini". Sinis Ara dengan senyuman meremehkan.


"J*lang s*a*an!!!" Teriak Clara sambil memukul kepala Ara dengan sebuah balok membuat kepalanya terasa pening.


Ara menggelengkan kepalanya untuk membuatnya terus tersadar.

__ADS_1


"Bapak..sakit pak. Cepet temuin Ara..Ara takut nggak kuat". Batin Ara menangis meskipun wajahnya hanya menampakkan tatapan tajam pada lawan didepannya.


"Abang..." Lirih Ara


__ADS_2