Cinta Kinara

Cinta Kinara
Siapa...


__ADS_3

"Tu anak kemana sih. Biasanya dia nyampe duluan kalo pake motor. Ini lagi ditelponin dari tadi nggak diangkat!" Dira terus mengomel sambil mondar-mandir diruang tamu rumah Putri.


"Kamu duduk dulu dong Dira. Aku pusing liatnya". Ucap Salsa sambil menarik Dira untuk duduk dikursi.


"Ya ini bocah kemana sih. Nggak tau apa kalo gue khawatir". Tangan Dira terus mencoba menghubungi dan mengirim pesan pada sahabatnya.


"Lagi dijalan kali tu anak". Putri keluar dari dapur dengan membawa jus jeruk dan beberapa cemilan.


Salsa mengangguk membenarkan ucapan Putri. Setelahnya Putri mendudukkan dirinya disebelah Dira.


"Lo nggak usah panik gitu sih Dir. Gue ikutan panik ini jadinya". Putri mencoba menenangkan sahabatnya. Sejujurnya ia juga tengah khawatir dengan kondisi sahabat yang sekaligus adalah adik iparnya itu.


Ponsel Putri berdering membuatnya bangkit dan mengambil ponsel yang ada dimeja. Tertera nama sang suami dalam layar ponselnya. Alis Putri bertaut sambil memperhatikan jam dinding yang ada didinding ruang tamu. Tak biasanya sang suami menghubunginya pada jam praktek seperti ini.


Putri menggeser ikon telpon berwarna hijau di layar ponselnya kemudian menempelkannya ditelinga.


"Assalamu'alaikum Aa.."


"Wa'alaikumsalam sayang. Kamu dimana sekarang?" Tanya Bian dari seberang sana dengan nada panik.


"Aku dirumah a..Aa tumben telpon aku di jam praktek gini? Ada apa a?" Tanya Putri penasaran.


"Kamu jangan kemana-mana ya. Kalo ada Dira sama Salsa..kalian semua diem dirumah. Jangan keluar sebelum aa pulang". Perintah Bian tegas.


"Iya tapi kenapa a?? Aku lagi nunggu Ara..dari tadi aku tungguin tapi enggak nyampe-nyampe. Aku khawatir a". Putri menceritakan kegundahan hatinya menanti kabar adik iparnya.


Terdengar Bian menghembuskan nafas panjang mendengar ucapan sang istri. Putri merasa ada yang ditutupi oleh suaminya hingga kembali mengajukan pertanyaan.


"Aa kenapa? Ada apa sebenernya a??". Tanya Putri mendesak.


Bian mendesah, mungkin ada baiknya ia memberitahu apa yang terjadi pada Ara kepada sang istri.


"Ara diculik sayang.." Suara Bian terdengar begitu lirih.


"Apa?!! Diculik? Lagi??". Teriak Putri sambil menutup mulutnya dengan tangannya


"Terus Ara gimana a?? Udah ditemuin??" Putri memberondong suaminya dengan banyak pertanyaan.


"Siapa?? Siapa yang diculik Put?!" Terdengar suara Dira yang panik berjalan mendekati Putri diikuti Salsa.


"Kamu tenang ya..Aa sedang menyusul Dev dan bapak. Bapak sudah tahu titik dimana Ara sekarang berada. Kamu bantu berdoa ya, semoga kita bisa bawa pulang Ara secepatnya. Dan ingat..jangan pergi dari rumah". Bian kembali memperingatkan sang istri.


"Bawa Ara pulang a..aku khawatir sama dia". Ucap Putri disertai isakan kecil.


"Pasti..aa tutup dulu teleponnya. Jaga diri kalian dirumah. Assalamualaikum". Bian memutuskan sambungan teleponnya dan mempercepat laju mobilnya setelah mendapat lokasi dimana sang adik berada dari bapak.


"Kenapa?? Siapa yang diculik Put?" Dira langsung memberondong pertanyaan pada Putri yang sudah menangis.


"Ara..dia diculik lagi Dir, Sa.." Lirih Putri membuat kedua sahabatnya membeku.


"Aa..Aa sama bapak dan kak Dev sedang menuju tempat dimana Ara sekarang". Putri menjelaskan dengan terbata.


Ketiganya saling berpelukan..dalam hati mereka tengah mendoakan sang sahabat yang tak mereka ketahui keberadaannya.


Sementara ditempat Ara disekap, Clara masih terus menyiksa Ara. Seolah tidak merasa puas dengan melihat wajah Ara yang sudah dipenuhi darah dan luka.


"Kali ini lo bakal mati ditangan gue Kinara! Hahahaha". Angel berteriak kemudian tertawa hingga membuat beberapa pria yang didalam ruangan itu bergidik mendengar tawa Angel.


Ara tersenyum miring menyaksikan Clara yang seperti orang gila. Gadis itu benar-benar akan kehilangan kewarasannya hanya karena terjebak cinta tak berbalasnya.


Pintu ruangan terbuka dan menampilkan dua sosok paruh baya yang tidak asing bagi Ara. Ara tersenyum sinis melihat kedua orang tua Clara yang ternyata membantu anaknya melakukan kejahatan lagi.


"Kamu sedang apa sayang??" Tanya sang mama lembut disertai elusan pada rambut Clara.

__ADS_1


"Kamu tidak melihat..tentu anak kita sedang bermain-main dengan gadis j*lang ini!" Ucap tuan Sanjaya melirik sinis pada Ara yang tengah tersenyum.


"Bolehkah Clara membunuhnya pa?" Tanya Clara pada sang ayah.


"Tentu..dia mainanmu sayang. Papa membawakannya sebagai hadiah spesial untukmu". Dasar orang tua g*la. Bagaimana mungkin memberikan nyawa anak orang untuk kebahagiaan anaknya.


"Lo bakal berakhir. Nggak akan ada yang tau lo ada disini. Dan nggak akan ada yang ngira kalo gue yang nyulik elo. Karena mereka pikir gue ada diluar negeri. Hahaha". Clara terus mengoceh dan tertawa.


"Gue bakal kirim hadiah buat Dev..hadiah spesial. Mayat lo!!" Sinis Clara.


"Lu terlalu yakin bisa bunuh gue". Ucap Ara disertai senyum aneh.


"Dan apa lu yakin kalo abang nggak akan bisa nemuin gue??" Tanya Ara dengan sebelah alis terangkat.


"Berhenti memanggil Dev ku dengan sebutan menjijikkan itu j*lang s*a*an!!!" Teriak Clara sambil melayangkan pukulan ke wajah Ara yang sudah terlihat babak belur.


Sementara diluar rumah besar keluarga Sanjaya. Bapak dan Dev tengah berada didalam mobil sambil menunggu Pram dan Josh juga Bian sampai kesana.


"Kita masuk sekarang pak". Dev hendak membuka pintu mobil namun tangannya ditahan oleh bapak. Dev menoleh dengan alis berkerut.


"Kita nggak bisa gegabah Dev..taruhannya nyawa Ara. Kita nggak tahu didalam ada berapa orang. Kita hanya berdua..kita tunggu Bian dan Pram juga Josh. Setidaknya kita ada bantuan nanti". Jelas bapak membuat Dev mendesah pasrah.


Hatinya sudah tak menentu memikirkan nasib calon istrinya. Dan tunggu dulu..kenapa ia baru sadar bangunan yang ada dihadapannya ini adalah rumah keluarga Sanjaya.


"Kenapa Dev?" Tanya bapak ketika melihat wajah terkejut Dev.


"Ru..rumah ini. Rumah ini adalah rumah keluarga Sanjaya pak. Rumah orang tua Clara. Apa mungkin..." Dev tidak meneruskan kalimatnya. Kini hatinya semakin was-was mengetahui kekasih hatinya berada dirumah gadis yang menggilainya. Gadis yang akan melakukan apapun untuk memilikinya.


Bapak memijit pelipisnya. Kepalanya terasa semakin berdenyut ketika mengetahui siapa yang menjadi dalang penculikan putrinya.


"Kenapa kalian lama sekali!! Cepatlah! Nyawa Ara dalam bahaya!" Bapak mematikan sambungan teleponnya dengan kesal setelah menelpon Pram dan Josh.


Beberapa saat kemudian, bapak melihat mobil putra sulungnya mendekat. Dibelakangnya terlihat mobil Pram dan Josh.


"Kenapa kalian lama sekali? Bisa-bisa Ara mati disiksa didalam!" Maki bapak pada ketiga orang yang baru saja datang.


Ketiganya hanya menunduk, pasrah dengan makian bapak. Mereka tahu bagaimana khawatirnya bapak pada Ara. Karena mereka pun sama khawatirnya pada gadis tomboy itu.


"Hah..sudahlah. Sekarang dengarkan aku baik-baik". Bapak kemudian menjelaskan rencananya untuk masuk kedalam rumah itu.


"Siapkan senjata kalian. Jangan sampai ada yang terluka!" Peringat bapak sebelum memasuki pekarangan rumah Clara.


Josh dan Pram berhasil membekuk dua orang yang berjaga didepan pintu rumah mewah itu. Mereka bisa masuk tanpa menimbulkan keributan.


Namun saat sampai didalam rumah, mereka sudah dihadapkan dengan beberapa orang bersenjata. Rupanya kali ini tuan Sanjaya tidak hanya menyewa preman amatiran. Ia benar-benar menggunakan orang-orang professional.


Baku tembak tak dapat dihindari. Untung saja bapak sudah melatih Dev dan para bawahannya hingga mahir menggunakan senjatanya.


"Suara apa itu pa?" Tanya Clara yang mendengar suara gaduh dari bawah.


"Kalian, keluar dan periksa!" Perintah tuan Sanjaya pada orang-orang yang ada dalam kamar penyekapan Ara.


"Berhati-hatilah tuan Sanjaya. Mungkin saja yang datang itu adalah malaikat maut untuk kalian". Kekeh Ara dan berhasil menyulut amarah tuan Sanjaya. Ia maju kehadapan Ara dan langsung melayangkan tamparan keras ke wajah Ara.


Setelah tamparan keras itu, pintu ruangan terbuka. Seorang anak buah tuan Sanjaya masuk terburu-buru dengan wajah memucat dan segera menutup pintu dan menguncinya.


"Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?" Tanya tuan Sanjaya. Belum sempat anak buahnya menjawab, terdengar sebuah teriakan menggaungkan nama tuan Sanjaya.


"TUAN MALIK SANJAYA!!!" Suara teriakan bapak terdengar begitu mengerikan bagi tuan Sanjaya dan anak istrinya. Berbeda dengan Ara yang justru tersenyum mendengar suara menggelegar sang ayah.


Wajah tuan Sanjaya mendadak pucat ketika mendengar langkah kaki yang semakin mendekat.


"Bagaimana ini pa". Tanya nyonya Hesti dengan wajah memucat.

__ADS_1


"Clara nggak mau masuk penjara lagi pa". Rengek Clara membuat tuan Malik semakin gusar.


"Kalian bisa diam tidak. Kepala papa pusing mendengar suara kalian!". Bentak tuan Malik sambil memijit pelipisnya.


"Kau! lepaskan ikatan gadis itu!" Perintah tuan Malik pada salah satu anak buahnya. Didalam ruangan itu hanya tersisa 3 orang bawahan tuan Sanjaya.


Dengan tangan gemetar, salah seorang suruhan tuan Malik membuka ikatan tangan Ara. Tuan Malik mengambil pistol dan menggenggamnya, bersiap menghadapi situasi terburuk.


Tiba-tiba pintu ruangan dibuka paksa dari luar. Senyum Ara semakin jelas terlihat membuat Clara kesal dan akhirnya menjambak rambut panjang Ara.


"Jangan pernah senyum didepan gue!" Bentak Clara namun justru membuat Ara terkekeh.


"Lepaskan tangan kotor anda dari rambut anak saya nona muda Sanjaya!". Suara berat bapak terdengar penuh penekanan.


"Wanita iblis!" Desis Dev dengan tatapan setajam elang.


"Jangan mendekat! Atau kepala anakmu akan aku hancurkan!!". Ancam tuan Malik menempelkan ujung pistolnya dipelipis Ara.


"Anak buahmu sudah tidak berdaya semua tuan Malik. Jangan sulitkan dirimu dan kembalikan anakku. Atau aku tidak akan segan-segan membuatmu tak akan mampu berdiri lagi!". Bapak berusaha mengontrol amarahnya melihat kondisi anak bungsunya yang sudah penuh dengan luka.


"Berhenti Dev!! Jangan coba-coba maju selangkahpun! Atau aku akan benar-benar melenyapkan gadis s*alanmu ini!" Teriak Clara ketika melihat Dev melangkah maju.


"Lo bener-bener wanita iblis Clara. Gue nggak akan lepasin lo!". Desis Dev frustasi.


"Menyingkirlah dari jalanku jika kau ingin putri s*alanmu ini selamat!". Ancam tuan Malik. Sedang 3 anak buahnya terus menodongkan senjatanya pada bapak dan Dev. Sementara Bian dan 2 bawahan bapak bersiap siaga didepan pintu untuk membekuk keluarga tak bermoral itu.


Bapak menyingkir dari jalan tuan Malik. Hatinya terasa begitu sakit melihat kondisi Ara yang terlihat lemah. Bahkan ini belum 1hari Ara diculik. Penyiksaan apa yang sudah dialami oleh putrinya itu hingga terlihat mengenaskan seperti ini.


Kepalan tangan Dev semakin kuat melihat kondisi Ara. Wajah yang penuh luka dan darah, hatinya terasa diremat kuat melihat darah menetes dari pelipis dan sudut bibir Ara, serta luka dipipi Ara.


"Anda terlalu meremehkan musuh anda tuan Sanjaya". Desis Ara, kemudian tanpa aba-aba ia memukul lengan pria yang memegangnya hingga pistol yang dipegangnya terlempar.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya, Ara menendang perut tuan Malik hingga terpental kebelakang, menyebabkan pistolnya terlepas dari tangannya.


Perkelahian tak bisa dielakkan..bukan perkara sulit untuk bapak dan Dev membekuk 3 orang bawahan tuan Malik.


Josh dan Pram kemudian mengikat tuan Malik beserta 3 anak buahnya. Sementara Clara dan sang mama berdiri gemetar melihat tuan Malik sudah tak mampu melawan.


Bapak membawa Ara kedalam pelukannya. Mendekap sang putri dengan erat, serta meminta maaf karena ia begitu lama menemukan buah hati tercintanya itu.


"Maafkan bapak neng. Harusnya bapak lebih cepat menemukanmu. Kamu tidak akan terluka seperti ini". Kata bapak penuh penyesalan.


"Ara nggak papa..bapak nggak perlu khawatirin Ara". Ucapnya menenangkan sang ayah.


Bapak melonggarkan pelukannya, memberi ruang pada Dev yang tak kalah khawatir dengan kondisi Ara.


Dev mendekap tubuh Ara, menyalurkan segala rasa yang ada dalam dadanya. Rasa khawatir sekaligus rasa syukur yang hadir bersamaan. Ia lega karena berhasil menemukan Ara, namun juga merasa gagal karena gadis itu terluka.


"Maafin abang Ra..abang nggak berguna. Kamu harus terluka lagi". Lirih Dev disela pelukannya. Matanya berembun siap menumpahkan segala penyesalannya.


Dev memeluk erat tubuh Ara seolah tidak ingin lagi melepasnya. Ia benar-benar merasa gagal melindungi kekasih hatinya.


Ara menggeleng didalam pelukan Dev, membalas pelukan lelaki yang ia cintai tak kalah eratnya.


"Kalo gue nggak bisa milikin Dev, berarti p*lac*r kaya elo juga nggak akan bisa!!". Desis Clara mengambil pistol yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Lo harus mati KINARA!!!" Teriak Clara, dan akhirnya...


DOR!!!


DOR!!!


DOR!!!

__ADS_1


__ADS_2