Cinta Kinara

Cinta Kinara
menyesali


__ADS_3

"Kak.."


Dev mengalihkan pandangan ke pintu kamarnya saat mendengar suara sang adik memanggilnya.


Dira berjalan masuk kedalam kamar dengan lesu. Ternyata dirinya pun tadi juga melihat Ara pergi dengan Digo yang selama ini tidak pernah akur dengan Ara.


"Kenapa Ara pergi ama Digo kak??" Tanya Dira sedih.


"Itu hak Ara". Jawab Dev pendek, kemudian kembali memejamkan matanya merasakan sesak didalam dadanya.


"Kakak harus minta maaf sama Ara. Dia pasti sakit hati ama kata-kata kakak waktu itu". Ucap Dira melangkah keluar dari kamar sang kakak.


Bukan hanya Dev yang merasa tersiksa dengan perubahan sikap Ara, namun juga Dira dan Putri yang sama tersiksanya seperti dirinya.


Dev menghembuskan nafas kasar sambil mengacak rambutnya frustasi.


*****


"Sarapan dulu ya Ra, laper gue. Takut kaga kuat lari ntar gue". Celoteh Digo sambil menepikan motornya didepan gerobak penjual bubur.


Ara mencebik mendengar ucapan Digo yang dilebih-lebihkan. Namun tak urung dirinya ikut turun dari motor yang Digo kendarai.


"Mang Ujang..bubur spesialnya dua ya". Teriak Digo pada sang penjual bubur.


"Siiap mas Digo". Jawab sang penjual mengacungkan jempolnya.


Tak butuh waktu lama, dua mangkuk bubur sudah berada didepan Ara dan Digo dengan dua gelas teh manis hangat sebagai pelengkapnya.


"Pacarnya ya mas Digo?? Pinter banget dah nyari pacar" Ucap penjual bubur yang bernama mang Ujang.


"Iya lah mang..cakep kan yak?? Siapa dulu dong calon imamnya..Digo". Jawab Digo sombong


"Mantap lah mas..silahkan mbak, dinikmati buburnya. Semoga berkenan dengan rasanya" Ucap mang Ujang sopan.


Ara hanya mengangguk sebagai jawaban, walaupun kini wajahnya sedikit memerah karena malu mendengar ucapan Digo dan sang penjual bubur.


Ara mulai memakan buburnya tanpa memperdulikan Digo yang tersenyum memandangi dirinya.


"Cantik banget sih calon makmum gue". Ucap Digo yang membuat Ara tersedak. Antara ingin menelan buburnya dan ingin memaki Digo yang terus menggombali dirinya.


Digo segera menyodorkan teh manis hangat pada Ara yang masih terbatuk-batuk.


"Pelan-pelan calon makmum, calon imammu ini nggak bakalan minta. Udah punya sendiri" Ucap Digo sambil menepuk halus punggung Ara beberapa kali.


Setelah mampu meredakan batuknya, Ara langsung melirik Digo tajam.


"Tuh mulut ya kalo ngomong kaga pake filter!! Ntar dikira orang-orang elu beneran calon laki gue. Amit-amit dah gue". Ucap Ara sambil mengetukkan kepalan tangannya dikepala dan meja secara bergantian.


"Kaga boleh gitu kalo ama calon imam tuh neng, nggak berkah nanti". Digo justru semakin menggoda Ara.


Ara langsung mengambil bubur sesendok penuh dan langsung memasukkannya kedalam mulut Digo saat lelaki itu sudah membuka mulutnya untuk menggodanya kembali.


Digo meniup bubur yang ada dalam mulutnya. Wajahnya memerah karena bubur yang Ara masukkan dalam mulutnya masih panas.


Ara tertawa kecil kemudian melanjutkan makannya. Digo melotot kesal pada gadis yang sedang terkikik sambil terus melanjutkan makannya.


"Durhaka lo ama gue Ra. Calon imam segini ganteng lo bikin lidahnya melepuh" Keluh Digo.


Beberapa orang yang juga sedang menikmati bubur di warung mang Ujang terlihat tertawa melihat Ara dan Digo yang mereka anggap pasangan ajaib itu.

__ADS_1


Selesai dengan sarapannya. Kini keduanya sudah berada disebuah taman kota. Ara mulai melakukan pemanasan untuk melenturkan otot-ototnya sebelum berlari mengelilingi taman.


"Abis makan loh Ra. Lari-lari ntar malah sakit perutnya. Abis makan tuh baeknya duduk". Ucapan Digo langsung mendapat tatapan tajam dari Ara.


"Serah elu deh ah. Gue mau olahraga, elu mau ngapain terserah. Pusing gue lama-lama deket elu!" Ucap Ara meninggalkan Digo yang langsung ikut berlari mengejar Ara.


"Lu lari kaya gitu ntar ngejungkir kaga bakal gue tolongin asli!" Ucap Ara memperingatkan Digo yang berlari sambil memandang wajah Ara.


"Ngejungkir ngebalik nganan ngiri juga gue jabanin dah asal dapet elo Ra". Jawab Digo tengil.


Belum sempat Ara membalas ucapan Digo, tubuh Digo terjatuh karena bertabrakan dengan seseorang.


"Mata lo b*ta hah!!" Bentak seorang pria yang bertabrakan dengan Digo.


Digo bangun kemudian membalik badannya untuk melihat orang yang bertabrakan dengannya.


Kedua pria yang tadi bertabrakan itu kini saling beradu pandang dengan tatapan setajam pisau. Ara dibuat bingung dengan situasi saat ini.


Senyum sinis tersungging pada bibir pria yang menabarak badan Digo.


"Kita ketemu lagi b*jingan. Ooh..ternyata ini cewe emang pacar elo. Boleh lah kita cicip". Ucap pria itu tanpa tahu malu hendak memegang wajah Ara.


Sebelum Ara bertindak,Digo sudah lebih dulu menghempas kasar tangan pria yang ternyata adalah musuh yang pernah berkelahi dengannya itu.


"Kita pergi Ra". Ucap Digo menggandeng tangan Ara.


Namun belum sempat keduanya pergi. Jalannya kembali dihadang oleh pria itu yang kini sudah bersama dengan empat orang temannya.


"Minggir lo semua!" Bentak Digo


"Kita cuma mau kenalan lebih dalem ama pacar lo. Nggak apa-apa lah, bagi dikit ama kita".


"Br*ngs*k lo!! Serang!!" Teriak pria itu.


Akhirnya perkelahian tak dapat dihindari lagi. Pagi yang seharusnya Ara gunakan untuk berolahraga, akhirnya jadi berantakan.


Beberapa kali Ara melihat wajah tampan Digo terkena pukulan. Namun sama sekali tidak membuat Ara ingin membantu pria tampan itu.


Dirinya justru menikmati perannya sebagai penonton yang sangat baik.


Beberapa waktu berlalu, akhirnya Digo mampu mengalahkan semua musuhnya walaupun harus merelakan wajah tampannya terkena hantaman kepalan tangan.


"Balik aja ah. Udah males gue lari..Lu kelamaan sih ngalahin mereka". Ucap Ara dengan enteng sambil berjalan meninggalkan Digo yang hanya melongo mendengar perkataan gadis manis itu.


Digo melajukan motornya menuju kediaman keluarga Natakusuma.


"Masuk dulu sini lu. Udah muka jelek, tambah jelek bonyok gitu" Cibir Ara.


Keduanya saat ini sedang duduk digazebo taman belakang milik keluarga papa Aryo.


Ara meninggalkan Digo sendiri di taman dan masuk ke dalam kamarnya. Beberapa saat kemudian Ara kembali dengan membawa kotak P3K. Ara mengeluarkan kassa dan alkohol serta obat merah untuk mengobati luka diwajah tampan Digo.


"Lawan orang segitu aja muka lu bonyok gini. Payah". Mulut menyebalkan Ara kembali mengeluarkan kata-kata pedas untuk Digo.


Sementara tangannya dengan terampil membersihkan luka dibeberapa bagian wajah Digo kemudian memberi obat merah dan terakhir memasang plester untuk luka-luka itu.


"Apa yang terjadi dengan wajahmu Digo?" Tiba-tiba terdengar suara bapak dari belakang tubuh Ara.


Ara membalikkan badannya untuk melihat sang pemilik suara. Namun dirinya tiba-tiba mematung melihat siapa yang berdiri disamping bapak saat ini.

__ADS_1


"Ooh..ini tadi ada yang gangguin Ara om. Makanya ya..ribut-ribut dikit lah om, biasa anak muda". Ara langsung melotot mendengar jawaban Digo yang jelas tidak benar.


Bapak menatap putrinya yang terlihat tengah memelototi Digo yang hanya nyengir tanpa merasa berdosa.


Sementara Dev yang berdiri disamping bapak benar-benar merasa panas didalam hatinya saat matanya melihat langsung Ara mengobati luka-luka diwajah Digo.


Ara berpura-pura tidak melihat Dev. Pdahal saat ini jantungnya kembali berdegup dengan kencang saat melihat dari dekat wajah tampan milik Dev yang sudah beberapa hari ini sengaja Ara hindari.


Melihat wajah bapak yang terlihat serius, Ara paham bahwa sang ayah ingin membicarakan sesuatu yang serius padanya.


"Lu balik dulu sono. Istirahat jangan gangguin gue mulu. Kalo ada orang yang dibilang ganggu gue tuh orangnya ya elu!" Ucap Ara mengusir Digo.


Digo hanya tersenyum manis kemudian mengacak rambut Ara yang masih terikat rapi.


Sebelum Ara membalas perbuatannya, Digo menyambar tangan bapak kemudian menciumnya dan langsung berlari menjauh sambil berteriak


"Pulang dulu ya calon makmum, calon bapak Dugo pulang dulu yak". Teriak Digo percaya diri.


Makin terasa terbakar saja seluruh tubuh Dev mendengar ucapan Digo yang sangat berani.


Sedangkan bapak hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Digo yang sepertinya sudah Ara anggap sebagai teman.


Ara mengacungkan kepalan tangannya pada pria yang kini sedang tertawa melihat dirinya kesal.


Ara masih terus melihat kearah Digo yang kini sudah tak terlihat.


Tanpa Ara sadari, bapak sudah meninggalkan dirinya hanya berdua dengan Dev.


"Mau sampai kapan kamu liatin Ra? Dia udah pergi". Ucap Dev dingin.


"Ehh.."


"Dimana bapak?" Tanya Ara bingung


"Paman sudah pergi sejak kamu sibuk memperhatikan cowo tengil itu". Sinis Dev


Ara mengangkat sebelah alisnya bingung, kemudian mengendikkan bahunya acuh.


"Kalau begitu, saya permisi dulu tuan muda". Tiba-tiba Ara sudah berkata dengan bahasa formal pada Dev.


Ara membalikkan badannya hendak meninggalkan Dev. Namun dengan cepat pria itu mencekal tangan Ara dengan lembut.


"Tidak bisakah kamu bersikap seperti dulu kepadaku Ra?? Aku sangat tersiksa jika kamu seperti ini". Ucap Dev lembut


Ara melepas cekalan tangan Dev dengan pelan kemudian berbalik memandang wajah tampan itu.


"Maaf tuan muda..saya hanya menempatkan diri sesuai dengan posisi dan kedudukan saya. Saya permisi" Ucap Ara sopan sambil menundukkan kepalanya sedikit.


"Aku minta maaf Ra..aku tau aku salah. Dan apa yang aku lakukan itu benar-benar sudah sangat keterlaluan. Semua kalimat yang keluar dari mulutku benar-benar menyakitkan untukmu. Padahal aku tau seberapa besar usahamu untuk melindungi keluarga ini terutama Dira". Ucap Dev pelan


Ara menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Dev. Hatinya kembali berdenyut sakit saat kilasan kejadian beberapa hari lalu terus terngiang dikepalanya. Semua kalimat yang Dev ucapkan masih membekas dalam ingatannya.


"Anda tidak perlu meminta maaf tuan muda. Semua itu kesalahan saya yang terlalu bodoh membiarkan nona muda pergi ke kamar mandi sendiri". Jawab Ara dingin.


"Kamu bisa memukulku Ra, menampar atau apapun yang kamu inginkan. Tapi berhentilah mendiamkanku seperti ini Ra. Aku tidak bisa". Pinta Dev


"Tidak bisakah kita berbicara dulu Ra?" Lanjut Dev memelas.


"Aku benar-benar menyesali perkataan yang keluar dari mulutku ini. Apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau memaafkanku?? Aku rindu kamu memanggilku "abang" Ra." Ucap Dev lirih namun masih terdengar ditelinga Ara.

__ADS_1


"Rindu...." bathin Ara.


__ADS_2