
Mata Bian berkaca-kaca menyaksikan adik semata wayangnya tengah tersenyum bahagia diatas pelaminan bersama lelaki yang mencintai dan juga dicintainya. Sebuah tepukan lembut dibahunya membuat ia menoleh, senyum kembali tersungging dibibir tipisnya. Sang istri tengah berdiri disampingnya, menggenggam erat tangan sang suami.
"Aa nggak mau kasih selamat ke Ara sama kak Dev?" Tanya Putri. Bian tersenyum kemudian mengangguk. Keduanya berjalan menaiki pelaminan. Sampai didepan kedua pengantin, Bian memeluk sang adik erat, begitupun Ara.
"Kakak..." Lirih Ara disela pelukannya.
"Jadi istri yang baik ya, jangan ngeyel-ngeyel lagi". Bian memberi petuah pada sang adik. Ara hanya mengangguk.
"Kakak bahagia liat kamu nikah dek, kakak yakin bapak sama ibu pasti bahagia di surga liat kamu udah nemuin kebahagiaan". Suara Bian terdengar bergetar menahan tangis bahagianya.
Ara semakin mempererat pelukannya pada sang kakak. Bian melepaskan pelukannya pada sang adik, kemudian beralih pada Dev yang kini sudah resmi menyandang status sebagai adik iparnya.
Bian memeluk Dev "Gue titip Ara, jagain dia Dev. Sayangi ama cintai dia kaya gue sama bapak sayangin Ara. Kalo suatu saat lo udah nggak bisa hidup sama dia. Pulangin dia ke gue..jangan bikin dia nangis". Bian menepuk punggung Dev.
"Pasti kak. Dev janji akan jagain Ara.." Sahut Dev mantap.
"Gue seneng lo nikah Ra..bahagia terus ya adik ipar gue yang paling cantik". Ucap Putri tulus. Ara tersenyum manis pada kakak iparnya. Kemudian Putri beralih pada Dev, mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Dev.
"Titip Ara ya kak..jangan pernah sakitin Ara. Walaupun kakak itu kakaknya sahabat aku, kalo kakak bikin Ara nangis aku nggak akan segan-segan ambil Ara dari kakak". Putri berkata dengan raut wajah serius. Dev tersenyum tipis kemudian menganggukkan kepalanya.
Selesai memberi selamat pada kedua pengantin, Bian dan Putri turun dari pelaminan dan bergabung dengan keluarga yang lain. Kini giliran sahabat Ara dan Dev yang naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat. Dira naik bersama Salsa dan diikuti Digo juga Kevin serta Sam.
Ketiga gadis itu berpelukan erat, saling menyalurkan perasaan bahagia yang ada dalam hati masing-masing.
"Berhubung udah nikah ama si kakak, gue kudu panggil lo kak Ara apa gimana?" Goda Dira membuat Ara mencebik.
"Geli gue denger lu panggil kakak" Ara bergidik membuat Dira dan Salsa tertawa.
"Semoga selalu bahagia ya Ra.." Ucap Salsa tulus membuat senyum Ara semakin lebar. Kemudian Salsa dan Dira bergeser pada Dev, Dira memeluk sang kakak.
"Jagain sahabat gue ya. Lo nyakitin sahabat gue sekali aja, gue pecat jadi kakak". Ancam Dira membuat Dev gemas dan mencubit hidung mancung Dira dan membuatnya mendelik.
"Selamat ya Ra..gue kirain bakal kawin ama gue lo. Ternyata malah ama si semprul". Digo menyalami tangan Ara membuat Dev melirik tajam pada tangan keduanya. Ara memukul lengan Digo keras membuatnya mengaduh.
"Kawin aja isi otak lu!! Nikah dulu baru kawin!" Semprot Ara membuat Digo menggaruk tengkuknya. "Lo kudu bahagia terus ya, kalo ni semprul bikin lo nangis, akang Digo siap menerimamu". Ada nada keseriusan dari ucapan Digo membuat Dev melepas paksa tangan Digo yang masih menyalami Ara.
"Kaga usah lama-lama pegang tangan bini gue". Ketus Dev membuat sudut bibir Digo terangkat. Ia bergeser ke hadapan Dev, memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Gue lepasin Ara buat lo, tapi kalo sekali aja lo bikin Ara sedih apalagi nangis..gue bersumpah bakal rebut dia dari lo". Ucap Digo serius membuat Ara memandang keduanya kemudian memejamkan matanya sesaat. Selalu seperti ini jika bertemu, pikir Ara.
__ADS_1
"Bahkan dalam mimpi lo sekalipun gue nggak akan biarin Ara direbut siapapun, termasuk lo". Sinis Dev.
"Udah bang..masa disini juga mau ribut sih". Lerai Ara ketika melihat tatapan kedua lelaki itu semakin menajam. Dev menoleh dan menyunggingkan senyum manisnya pada sang istri.
"Baek-baek lo ye anak macan". Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Digo turun dari pelaminan dengan hati yang sedikit terasa perih, namun ia juga lega karena Ara menikah dengan Dev. Ia yakin Dev akan menjaga dan mencintai Ara.
"Weeee...brother. Akhirnya kawin juga lu ye. Kaga nyangka gue kalo lu duluan yang kawin". Suara keras Sam membuat beberapa tamu menoleh dan tersenyum geli mendengar ucapan Sam.
"Napa sih orang dari tadi kawin mulu diomongin. Nikah woy nikah!!". Kesal Ara dijawab tawa kecil Sam.
"Abis nikah mah kawin Ra..aelah, udah gede lu bocah. Ati-ati ntar dikamar dimakan ama si Dev". Mulut Sam yang tak berfilter terus mengoceh membuat wajah Ara semakin memerah.
"Jangan kasar-kasar ntar bro, kasian anak orang". Kekeh Sam sambil menepuk pundak sahabatnya. Dev dan Kevin hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya yang tak pernah berubah sejak dulu.
Wajah Ara sudah semakin merah mendengar mulut menyebalkan Sam, ingin rasanya ia melepas sepatu yang sedang ia pakai untuk menyumpal mulut menyebalkan itu.
Kevin memberi selamat pada Ara dan Dev, setelahnya ia segera turun menarik tangan Sam yang sejak tadi mulutnya tak berhenti menggoda Ara dan Dev tentang malam pertamanya.
Wajah Ara terlihat gelisah, Dev mengerti bahwa istrinya sudah lelah berdiri, apalagi ia tahu betul bahwa Ara tidak terbiasa memakai highheels terlalu lama.
"Duduk dulu aja Ra..tamunya juga udah ngurangin". Dev memegang pundak Ara dan mendudukkannya dikursi pelaminan. Ia lantas beranjak mengambil air putih yang disediakan didekatnya. Memberikannya pada sang istri yang wajahnya sudah terlihat kelelahan.
"Minum dulu sayang". Tangan Dev mengulurkan segelas air putih pada istrinya yang langsung diambil dan diteguk habis oleh Ara.
"Sabar ya..ini udah jam 9, harusnya sebentar lagi sudah selesai". Dev mengelus pundak sang istri untuk menenangkan. Ara menghembuskan nafas pelan, rasanya tubuhnya sudah sangat lengket. Ia ingin segera membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Dan benar saja, satu persatu tamu mulai meninggalkan hotel tempat Dev dan Ara melangsungkan resepsi. Kini aula itu terlihat mulai sepi, hanya ada keluarga dan kerabat dekat saja yang tertinggal. Ara menghempaskan tubuhnya keatas kursi, meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku karena seharian ini terlalu banyak berdiri.
Mama Anika naik keatas pelaminan, memegang pundak sang menantu membuat Ara mendongak dan tersenyum melihat mama Anika berdiri didepannya.
"Kamu pasti sangat lelah ya sayang". Ucap mama khawatir. Ara menggeleng "Enggak ma, sekali seumur hidup". Jawab Ara menenangkan sang mertua.
"Dev, ajak istrimu beristirahat. Tamu yang tersisa biar mama sama papa aja yang nemuin". Mama beralih menatap putra sulungnya. Dev mengangguk dan mengulurkan tangannya yang disambut dengan senang hati oleh Ara.
"Dev istirahat dulu ya ma". Mama Anika mengangguk kemudian mendekati Dev dan berjinjit disamping Dev "Buatkan mama cucu secepatnya ya". Bisik mama membuat wajah Dev tiba-tiba terasa panas. Ara mengerutkan keningnya melihat wajah sang suami memerah.
Tak ingin mendengar ucapan sang ibu yang semakin ngawur, Dev menuntun Ara meninggalkan sang mama yang tengah tertawa puas melihat wajah malu Dev.
"Abang sakit??" Ara menempelkan punggung tangannya dikening Dev ketika keduanya sudah ada didalam lift. Tubuh Dev menegang mendapati wajah istrinya tepat berada didepan wajahnya.
__ADS_1
"En..enggak sayang. Abang..abang cuma kepanasan aja". Jawab Dev gelagapan. Ara mengangguk kemudian kembali berdiri disamping Dev yang tengah mengontrol dirinya.
"Sabar Dev..sabar". Bathin Dev sesekali melirik sang istri yang tampak biasa-biasa saja.
Sampai didalam kamar, Ara segera berlalu kedalam kamar mandi. Dirinya sudah tak kuat dengan rasa panas dan lengket diseluruh tubuhnya. Namun baru saja masuk, kepala Ara kembali menyembul keluar. Dengan wajah sedikit memerah, Ara memanggil sang suami yang tengah melepas jas yang ia pakai.
"Abaaang.." Panggil Ara pelan membuat Dev menoleh dan menaikkan sebelah alisnya.
"Ara boleh minta tolong?" Tanya Ara ragu.
"Ya boleh lah..kamu kenapa ragu gitu. Mau minta tolong apa sayang?" Dev balik bertanya.
"Ehmm..itu..anu. Ara mau minta tolong bukain resleting gaun Ara. Tangan Ara nggak nyampe". Suara Ara terdengar pelan dengan wajah yang sudah semerah tomat. Dev tersenyum dan mendekati sang istri.
"Sini abang bantu.." Dev membuka pintu kamar mandi,setelahnya ia membalik tubuh Ara untuk membantu istrinya membuka resleting gaun.
Ara menahan nafas ketika kulitnya bersentuhan dengan tangan sang suami. Sementara Dev susah payah menelan salivanya ketika matanya melihat kulit mulus sang istri didepan matanya. Ini adalah kali pertama bagi keduanya berada dalam satu ruang sempit hanya berdua dengan status sebagai suami istri. Dev menggelengkan kepalanya untuk menghalau pikiran yang mulai sulit ia kontrol. Tangan Ara menahan bagian depan gaun agar tidak melorot saat resleting gaunnya sudah berhasil dibuka.
"Ud..udah Ra. Abang keluar dulu". Dev segera keluar dari dalam kamar mandi, sementara Ara segera menutup dan mengunci pintu. Ia menyandarkan punggunnya dipintu kamar mandi sambil meremas d*danya. Jantungnya seperti sedang bermarathon hanya karena bersentuhan dengan Dev. Ia segera melepas gaunnya dan masuk kedalam bathup yang sudah diisi dengan air hangat. Ia memejamkan matanya untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Sementara didalam kamar, Dev sedang membuka beberapa kancing kemejanya, menggulung lengan kemeja dan mengibaskan tangannya didepan wajahnya yang terasa sangat panas setelah tangannya menyentuh kulit mulus Ara. Ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang hotel, memejamkan matanya untuk mengembalikan kewarasannya.
Setelah beberapa saat, pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Ara yang sudah terlihat segar dengan rambut yang ditutup dengan handuk. Dev bangkit dan berlalu masuk kedalam kamar mandi tanpa melihat sang istri. Ia tak ingin kehilangan kontrol melihat penampilan istrinya yang hanya menggunakan jubah mandi. Ia harus membersihkan diri sebelum berdekatan dengan sang istri.
Ara membuka koper yang sudah disiapkan oleh ibu mertuanya, matanya melotot melihat pakaian yang ada didalam koper. Ara mengambil dengan jarinya kemudian memiringkan kepalanya memperhatikan bentuk gaun yang seperti kelambu itu.
"Fungsi ini baju apaan?? Kalo gue pake ini sama aja kaga pake baju". Gumam Ara. Ia kembali membongkar isi koper, namun dari 3 pakaian yang ada dalam koper itu, hanya ada dua lingerie dan satu gaun, mungkin itu yang akan ia pakai besok saat keluar dari hotel. Setelah berpikir lama, akhirnya Ara memakai lingerie berwarna merah menyala yang menurutnya lebih manusiawi untuk dipakai daripada yang berwarna hitam. Ia membalut lingerienya dengan jubah mandi. Terlalu malu jika bertemu Dev hanya menggunakan sebuah lingerie.
Dev keluar dari kamar mandi, Ara memalingkan wajah melihat pahatan sempurna yang ada didepan matanya, dengan susah ia menelan salivanya. Bagaimana tidak, saat ini Dev hanya menggunakan handuk yang dililitkan untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Sementara badannya dibiarkan tanpa tertutup apapun.
"Tolong cariin baju abang ya sayang". Suara Dev menyadarkan Ara dari lamunan. Dengan segera ia bangkit dan mencari baju tidur yang akan Dev gunakan. Setelah menemukannya, Ara segera memberikannya pada Dev. Entah masih malu atau apa, Dev berganti pakaian didalam kamar mandi. Setelahnya ia keluar dan melihat Ara yang masih duduk disisi ranjang menggunakan jubah mandinya.
"Kenapa kamu pake jubah mandi sayang. Itu sedikit basah, kamu bisa masuk angin. Ganti bajumu". Ucap Dev sambil mendudukkan diri disamping sang istri.
"Itu..Ara udah ganti baju. Tapi.." Ara ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Tapi...." Beo Dev penasaran dengan kelanjutan kalimat sang istri.
"Bajunya kaya kurang bahan bang. Mama salah masukin baju kali ya bang". Lirih Ara membuat alis Dev bertaut.
__ADS_1
"Kurang bahan??" Beo Dev lagi dijawab anggukan kepala Ara. Ara berdiri dengan kepala menunduk, meskipun ragu perlahan ia menarik tali jubah mandinya. Menampakkan lingerie merah seksi yang menempel ketat ditubuh indahnya, membuat Dev seperti tidak bisa menelan ludahnya sendiri.
"I Love you mama". Batin Dev tersenyum bahagia