
"Kenapa hmm?? Haus ya? Sebentar ya..bunda nya lagi dikamar mandi dulu". Dev mencoba menenangkan putri kecilnya yang tengah menangis.
"Sayaaang...dede nangis ini". Teriak Dev didepan pintu kamar mandi.
"Sebentar bang.." Balas Ara berteriak.
Tidak lama pintu kamar mandi terbuka, Ara tersenyum melihat suaminya kepayahan menenangkan tangis putrinya.
"Sini sama bunda.." Ara langsung mengambil alih tubuh gempal bayi yang sudah berusia hampir 2bulan itu dari tangan Dev. Kemudian ia segera menyusui putrinya itu. Tidak butuh waktu lama, bayi cantik itu sudah terlelap dalam dekapan Ara.
"Abang nggak bantuin dibawah?" Tanya Ara heran melihat suaminya justru menghempaskan tubuhnya diatas ranjang.
"Enggak..abang cape". Jawab Dev dengan mata terpejam.
"Kasian papa sama mama dong". Ucap Ara pelan, takut membangunkan Kirei yang baru saja ia letakkan dalam box bayi samping ranjangnya.
"Biarin sayang, kerjaannya udah kelar". Dev menarik tubuh Ara hingga jatuh diatas tubuhnya.
"Abang nggak usah aneh-aneh ya. Ki baru aja tidur, nanti dia bangun". Peringat Ara ketika ia merasakan sesuatu yang keras dibagian bawah tubuhnya.
"Abang kangen Ra, udah dua bulan kamu nggak perhatiin abang". Keluh Dev semakin mempererat pelukannya pada tubuh Ara, menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri yang sudah menjadi candu baginya.
Dev membalik posisi dan menindih tubuh Ara, kemudian mulai mencium dengan lembut bibir istri cantiknya, semakin lama ciuman Dev semakin dalam dan menuntut, hingga akhirnya Ara hanya pasrah dan mengikuti permainan suaminya itu.
"Dev..buka pintunya". Suara mama seolah tidak terdengar oleh Dev, ia terus menyerang istrinya.
tok
tok
tok
"DEVANO!! Buka pintunya!!" Teriak mama sambil terus menggedor pintu kamar Ara.
"Emmhh..abang, itu mama. Nanti Ki bangun". Ara mendorong tubuh Dev agar sedikit menjauh. Ia takut teriakan ibu mertuanya akan mengganggu tidur putri kecilnya.
Esok adalah hari pernikahan Dira dan Kevin, jelas saja kedua mertua Ara tengah sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk acara besok. Dan Dev sebagai kakaknya justru berpindah ke kamar dan mengganggu istrinya.
Dev mengacak rambutnya, ia bangkit. Kemudian matanya menatap juniornya yang sudah siap siaga untuk bertempur. Ara mengikuti arah pandangan Dev, kemudian ia hanya bia tersenyum kecut penuh penyesalan. Bukan keinginannya untuk menolak keinginan sang suami, salahkan saja mama yang datang tidak tepat waktu.
"Bentar ma". Jawab Dev lemas, kemudian ia berlalu ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya yang sudah sampai diubun-ubun.
Ara merapikan penampilannya, menyisir kembali rambutnya sebelum membukakan pintu untuk mama Anika.
__ADS_1
"Masuk ma, abangnya lagi di kamar mandi". Ara mempersilahkan mama untuk masuk sambil menunggu Dev menyelesaikan urusannya didalam kamar mandi.
"Ngapain dia?" Tanya mama curiga sambil melirik pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
"Kayanya mandi ma, tadi bilangnya gerah. Ada apa mama cari abang??" Tanya Ara mencoba mengalihkan perhatian mama Anika.
"Nggak ada apa-apa sayang, cuma mau nanya aja. Semua persiapan yang jadi tanggung jawab dia udah selesai apa belum". Jawab mama enteng.
"Mama gedor-gedor pintu kamar Dev cuma buat nanyain itu aja??". Mama mengalihkan pandangannya kearah suara. Dev berdiri didepan pintu kamar mandi dengan mata melotot membuat mama mengernyit heran.
"Iya, emang kenapa?" Tanya mama heran.
"Emang bener ini emak satu, kaga seneng banget liat anak happy". Gumam Dev
"Hah?? Apaan? Kamu ngomong apa sih?" Mama hanya mendengar Dev menggumam, namun tidak mendengar apa yang anaknya gumamkan.
"Nggak ada. Udah ah sana mama keluar. Dev mau istirahat". Ketus Dev membuat mata mama memicing curiga.
"Heh..kamu ngusir mama?!" Tanya mama tak santai.
"Bukan ngusir, tapi mama dateng di waktu yang nggak tepat sama sekali". Ketus Dev sambil mendorong pelan punggung wanita yang telah melahirkannya itu.
"Kamu belum jawab pertanyaan mama Dev. Semua tugas yang mama kasih buat kamu gimana???" Mama menahan pintu yang hendak ditutup oleh Dev.
"Udah ma..udaaaaah. Sekarang mama balik ya, Dev mau istirahat". Dev menyingkirkan tangan mama yang masih menahan pintu.
"Heleeeh, bilang aja kamu banting anak mantu mama diatas kasur. Pake segala bilang mau istirahat". Cibir mama membuat Dev mendelik kesal. Jika sudah tahu, kenapa diganggu. Batin Dev kesal.
"Iya, mau nambahin cucu buat mama. Biar banyak cucunya". Jawab Dev ngawur dan langsung menutup pintu dan menguncinya.
"Eh dasar bocah semprul, emaknya masih disini main dikunci kunci aja ini pintu. Sembrono banget". Omel mama dari balik pintu, namun Dev sudah tidak mendengarnya lagi.
Dev kembali memagut bibir mungil istrinya, kali ini ia tidak akan membiarkan siapapun mengganggu waktunya dengan sang istri.
Baru saja Dev membuka bajunya, suara tangis Kirei membuat Ara segera melompat dari ranjang dan menenangkan putri kecilnya itu. Dev mendengus kesal kemudian mengacak rambutnya.
"Ayolah Ki..ayah juga butuh bunda". Rengek Dev membuat Ara terkekeh geli.
"Sabar ya ayah..nanti kalo aku udah gede". Ara menirukan suara anak kecil membuat Dev semakin frustasi. Akhirnya papa muda itu mengalah dan memilih mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
"Abang keluar dulu ya". Pamit Dev pada Ara yang masih menidurkan Kirei.
"Abang mau kemana?? Katanya udah selesai semua persiapannya?" Tanya Ara penasaran.
__ADS_1
"Lama-lama deket kamu abang bisa oleng Ra, cuma pengen doang nggak bisa megang. Kalah mulu ama anaknya". Gerutu Dev membuat mata Ara membola.
"Ama anak sendiri kok itungan sih". Kekeh Ara membuat Dev mendengus, kemudian hilang ditelan pintu.
"Ayah kamu itu kaya gitu". Gumam Ara sambil mengelus pipi Kirei yang semakin terlihat berisi.
#####
Pernikahan megah itu berlangsung meriah. Diatas pelaminan terlihat wajah bahagia sepasang pengantin yang pagi tadi sudah melaksanakan akad nikahnya dikediaman Natakusuma.
Sementara resepsi yang sedang berlangsung itu dilaksanakan disebuah hotel mewah milik kenalan papa Aryo.
Terlihat jelas pancaran kebahagiaan dari wajah Dira dan Kevin. Tamu yang datang pun tidak sedikit, mulai dari teman Dira dan Kevin serta kolega bisnis kedua orang tua pengantin.
"Selamat ya adik ipar..semoga cepet ngasih tambahan keponakan". Wajah Dira langsung merona mendengar ucapan Ara yang frontal. Sementara Dev dan Kevin hanya menggeleng melihat kelakuan dua wanita seumuran yang sedang berpelukan itu.
"Ki dimana Ra?" Tanya Dira, sudah sejak pagi dirinya tidak melihat keponakan cantiknya itu.
"Ada sama si mbak.." Jawab Ara, ia kemudian menggeser tubuhnya. Memberi ruang pada Dev untuk mengucapkan selamat pada adiknya itu. Sementara Ara menjabat tangan Kevin.
"Jadi istri yang baik ya. Jangan kekanakan lagi, kamu udah tua". Dev menekankan kalimat sindiran diakhir ucapannya, membuat Dira kesal dan mencubit gemas perut rata kakaknya.
"Terus kalo gue tua, kakak apaan?!". Kesal Dira membuat Dev gemas dan hendak mengacak rambut Dira, namun sesegera mungkin Dira menepis tangan sang kakak yang sudah hampir menyentuh rambutnya.
"Jangan coba-coba ngacak rambut gue lo. Yang ada gue kaga kaya princess lagi pas nikahan,ntar dikira gue mantan yang gagal move on ditinggal nikah ama pengantin laki". Sungut Dira membuat Dev tergelak.
"Selamat Kev, jagain Dira. Jangan sekali-kali nyoba buat bikin dia nangis apalagi nyakitin hati ama fisiknya. Kalo lu berani-berani gue jamin lu kaga punya masa depan". Peringat Ara membuat Kevin susah menelan salivanya. Lelaki itu tau persis, apa yang diucapkan Ara bukan hanya sekedar ancaman. Namun pasti akan terjadi jika ia benar-benar berbuat salah pada istri yang baru pagi tadi ia nikahi.
"Jangan sadis gitu sayang, bisa-bisa Kevin nggak berani buka kado ntar malem. Kamu nggak inget pas pertama kamu juga nyampe nangis sampe nyakar abang. Lah ntar kalo Dira nang..." Belum sempat Dev menyelesaikan ucapannya, Ara sudah mencubit keras perut suaminya, membuat Dev meringis kesakitan.
"Mulut abang sekarang nggak ada filternya". Sengit Ara membuat Dev nyengir tanpa dosa.
"Kaga usah dengerin istri gue Vin, bisa-bisa lo puasa kalo dengerin ancaman istri gue". Dev menepuk pundak Kevin sebelum lengannya diseret oleh Ara meninggalkan dua orang yang hanya bengong melihat Dev dan Ara.
"Emang buka kado apa yang bikin nangis kak?". Tanya Dira polos membuat Kevin gelagapan sendiri. Jika ia memberitahu apa yang dimaksud Dev, bisa-bisa dirinya gigit jari malam nanti.
"Nggak ada sayang..biasa kakak kamu kan nggak jelas orangnya". Dira percaya dan mengangguk saja. Tidak tahu saja dirinya apa yang akan ia alami malam nanti.
Tak berapa lama, pembawa acara memanggil keluarga dan teman Dira serta Kevin untuk mengabadikan moment bahagia ini. Ara bersama Dev yang tengah menggendong tubuh mungil putrinya maju dan naik ke pelaminan, disusul Bian dan Putri yang juga membawa Arka yang semakin terlihat menggemaskan.
Sementara, Sam berjalan menggandeng tangan Raisya, mengajaknya untuk ikut bergabung bersama pengantin baru itu.
"Nggak berasa ya, kita bertiga udah sold out aja". Kekeh Putri membuat teman-temannya tertawa.
__ADS_1