Cinta Kinara

Cinta Kinara
biang kerok


__ADS_3

Sore itu Kirei menghabiskan waktu menguras tenaganya meladeni para preman yang mengganggu ketenangannya.


"Lo semua tu belom tua-tua amat. Cari kerjaan yang halal, jangan kaya gini". Ucap Kirei yang berjongkok didepan orang-orang yang tengah bersimpuh memohon ampunan padanya.


"Ampun nona..kami tidak akan melakukan hal ini lagi..kami berjanji". Ketua dari orang-orang itu menangkupkan kedua tangannya, berharap Kirei akan melepaskan mereka. Kondisi orang-orang itu sudah terlihat mengenaskan dengan wajah babak belur dan baju yang sudah compang-camping.


"Boong lo pada pasti. Dilepasin sekarang, nanti bikin ulah lagi". Mulut kompor Arka ikut memanaskan suasana.


"Kita laporin polisi aja, Ki". Imbuh Dirga dan langsung disetujui oleh Alma.


"Ampuuun..jangan tuan, nona. Kami punya anak dan istri yang menunggu kami dirumah". Mohon salah satunya, sementara yang lain hanya mengangguk membenarkan.


"Udah tau punya anak bini. Kerjaannya gangguin orang, ngasih makan uang kaga bener!" Ketus Arka


"Pergi sono! Sekali lagi gue dapet kabar kalo lo pada bikin ulah lagi, gue jamin tangan kaki lo pada kaga bisa digunain lagi!". Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Kirei memutuskan melepaskan para preman abal-abal itu. Kirei bangkit dan berbalik badan, meninggalkan ketujuh pria yang terus mengucapkan terimakasih padanya.


"Kok dilepas sih Ki". Protes Arka yang langsung mendapat pelototan tajam dari Kirei.


"Kok gue dipelototin sih. Kan gue nanya..kenapa dilepas?". Arka mengulang pertanyaannya membuat Kirei mendengus kesal.


"Kalo bener tu orang-orang punya anak ama bini yang harus dikasih makan gimana?! Lo kaga kasian..kaga mikir kesono emang?". Jelas Kirei.


"Alaah..palingan juga itu boongan doang. Biar dilepasin ama kita". Ucap Arka tak mau kalah.


"Lama-lama elo yang gue tukerin deh bang! Berisik banget!". Sengit Kirei membuat Arka mendelik. Salah apa dirinya hingga adik cantiknya itu ingin menukarkan dirinya.


"Kaga usah protes!! Tadi aja ngehajar mereka, elo kaga bantuin! Malah teriak-teriak kaga jelas! Dasar sableng!". Sungut Kirei ketika melihat Arka membuka mulutnya hendak menjawab. Kirei mempercepat langkahnya meninggalkan dua sepupu dan teman satu kamarnya.


"Itu sodara elo kenapa sih Ga? Lagi pms kali yak? Galaknya kaga ketulungan. Ampun deh gue ounya adek modelan begitu". Tanya Arka pada Dirga, namun lelaki itu hanya mengangkat kedua bahunya kemudian sedikit berlari mengejar kakak sepupunya.


Hari sudah gelap, mereka meninggalkan villa sudah terlalu lama. Akan menjadi masalah jika ada yang mengetahui mereka pergi tanpa izin dari guru pembimbing.


Benar saja, ketika hampir sampai di villa, Kirei melihat keramaian disana. Perasaannya mulai tidak enak. Karena samar ia mendengar namanya dan kedua sepupunya disebut, pun dengan Alma.


"Kalo nyampe dapet masalah, lo berdua gue botakin!". Ancam Kirei membuat kedua lelaki itu bergidik. Sementara Alma sejak tadi hanya menjadi pendengar tanpa berani berkata apapun.


"Itu mereka!!". Teriak salah seorang murid yang melihat Kirei berjalan diikuti tiga orang yang sejak tadi dicari.


Langkah Kirei terhenti, membuat Dirga dan Arka menabrak tubuh langsing Kirei.


"Ngapain lo berhenti maemunah!". Sengit Arka, namun Kirei tidak menjawab dan hanya fokus pada satu titik. Arka dan Dirga mengikuti arah pandangan Kirei.


Ketiga orang itu menyipitkan matanya, memastikan bahwa penglihatan mereka tidak salah ketika melihat seorang wanita tua yang membelakangi mereka. Ketiganya saling menatap seolah bertanya. Dan ketika wanita tua itu berbalik, mata ketiga remaja itu membelalak tak percaya.


"Oma?!!" Teriak ketiganya bersamaan membuat wanita tua itu tersenyum senang melihat ketiganya kembali dengan kondisi baik-baik saja. Namun beberapa detik kemudian, wajah wanita tua yang masih terlihat awet muda itu mendadak menyeramkan.


Sementara semua orang yang sejak tadi menunggu mereka hanya bisa membuka mulut lebar-lebar ketika mendengar ketiganya memanggil wanita tua itu dengan sebutan oma.


"O..oma kok ada disini?". Arka membuka suara setelah bisa menguasai rasa terkejutnya.

__ADS_1


"Oma ngapain disini?". Kini Dirga yang menimpali pertanyaan Arka dengan pertanyaan baru.


"Dasar bege lo berdua..kaga liat muka oma udah stel galak gitu. Masih pada ditanya! Bege nya kenapa lo borong semua sih bambaaank". Batin Ara berteriak.


Dan benar saja, oma berjalan mendekat, dan sebelum kedua pria tampan itu mencium punggung tangan sang nenek..wanita tua itu sudah lebih dulu menarik telinga mereka kuat-kuat. Membuat Arka dan Dirga meringis dan berteriak kesakitan.


"Aduh..duh..sakit oma".


"Aw..aw..lepas oma. Copot kuping Dirga nanti".


"Dasar anak nakal!! Oma sudah bilang sama kalian kan. Jaga Kirei!! Ini malah diajak keluyuran nggak jelas. Dasar anak-anak nakal". Geram oma semakin keras menarik telinga kedua pemuda itu.


"Ki..kita jagain Ki, oma. Nggak kita tinggal-tinggalin kok. Nih buktinya kita ajak jalan-jalan". Ucap Arka membela diri sambil meringis menahan sakit ditelinganya.


"Dasar sableng! Gue disuruh gelud ama preman dibilang jalan-jalan. Bener-bener sepupu sengklek!". Ingin rasanya Kirei memaki kakak sepupunya itu. Namun dirinya takut jika oma nya semakin murka.


"Iya diajak kemana-kemana, bener enggak ditinggal. Tapi jangan dibawa kehutan juga junaedi!!" Kesal oma yang tak habis pikir dengan kelakuan dua cucunya itu. Walaupun tidak memiliki ikatan darah dengan Arka, namun kasih sayang oma terbagi rata untuk ketiga remaja itu.


"Kamu nggak papa sayang? Kamu baik-baik aja kan? Nggak ada yang terluka kan??". Oma Anika segera meneliti kondisi tubuh Kirei. Sementara gadis itu mengangguk menjawab pertanyaan sang nenek.


"Terluka apanya, orang abis bikin tujuh orang babak belur". Gumam Arka yang langsung mendapat lirikan tajam dari oma Anika.


"Ki baik-baik aja oma cantik. Kenapa oma bisa nyampe sini? Oma sama siapa? Opa tau kalo oma kesini??". Kirei segera memberondong banyak pertanyaan pada sang nenek yang masih sibuk mengamati tubuh dan wajahnya.


"Astaga Kirei!! Muka kamu kenapa bonyok gini sayang?". Pekik oma membuat Arka dan Dirga menelan salivanya dengan susah payah.


"Mati gue!!" Batin keduanya menangis. Setelah ini, bisa dipastikan keduanya mendapat hukuman dari sang nenek karena membuat cucu tersayangnya bonyok.


"Buna". Gumam ketiganya dengan tangan berkeringat dingin. Matilah mereka jika sang bunda sudah turun tangan.


###


"Maafkan atas ulah putra putri kami pak. Dan mohon maaf sebelumnya, kami akan membawa mereka pulang bersama kami. Maaf karena tidak bisa mengikuti acara hingga selesai, sekali lagi maaf untuk keributan yang disebabkan oleh mereka". Ucap Ara panjang lebar didepan seorang guru yang bertugas sebagai pendamping diacara ini sambil menundukkan kepalanya sedikit.


Ketiga remaja itu hanya bisa menunduk, menanti hukuman apa yang akan mereka terima atas perbuatan ceroboh mereka.


"Tidak masalah nyonya Ara. Kami juga meminta maaf karena kurang dalam mengawasi putra putri anda. Maafkan keteledoran kami". Sang guru ikut membungkuk sedikit sebagai tanda hormatnya pada menantu pemilik sekolah tempatnya mengajar.


"Sama sekali tidak pak. Ini murni kesalahan anak-anak nakal ini. Biarkan mereka menjadi urusan kami". Sahut mama Anika sambil melirik ketiga bocah yang sejak tadi hanya menunduk.


"Terimakasih nyonya besar. Kalau begitu saya permisi dulu. Saya harus memimpin acara malam ini". Sang guru akhirnya undur diri, meninggalkan dua orang ibu dan tiga anak nakal yang membuat keduanya hampir gila.


Sepeninggalan sang guru, Ara menatap ketiga anak muda yang masih menunduk sejak tadi.


"Nggak ada yang mau jelasin sesuatu ke buna??". Tanya Ara memecah keheningan.


"Yaaa..jelasin ke oma. Kenapa muka Kirei bonyok begitu?". Imbuh oma Anika membuat ketiganya susah payah menelan salivanya.


"I..itu buna, oma..tadi kita cuma jalan-jalan aja. Nggak tau kalau kita perginya udah lama". Ucap Arka mencoba menjelaskan.

__ADS_1


"Iya buna..oma. Terus soal muka Ki..." Dirga menceritakan semua yang terjadi tadi tanpa ada yang dikurangi sedikitpun. Tapi tentu saja ia tidak menceritakan bahwa dirinya dan Arka hanya menonton tanpa membantu.


"Dasar bocah kampret. Kaga diceritain kalo mereka cuma nontonin gue berantem". Batin Kirei menjerit.


"Kenapa cuma Kirei yang bonyok hah?". Tanya oma tak percaya. Karena yang ia tahu, dari ketiga cucunya itu, Kirei yang paling menguasai ilmu bela diri.


"Eh..anu..itu oma. Tadi yang lawan Kirei pada jago". Elak Dirga gugup.


Ara hanya tersenyum sambil menggeleng, ia sudah bisa menebak jika kedua keponakannya itu hanya menjadi penonton ketika putrinya bertarung, sudah pasti watak Bian sang kakak yang tak lain adalah ayah dari Arka menurun pada remaja itu. Jahil dan menyebalkan..namun begitu Ara sangat menyayangi mereka.


"Kalian pikir oma percaya..besok lagi tidak akan ada yang oma ijinkan mengikuti acara-acara semacam ini".Tegas oma


"Omaaaaa.." Rengek ketiganya bersamaan.


"Kalian tidurlah. Besok pagi kita akan pulang". Ucap Ara kemudian bangkit dan meninggalkan tiga anak muda yang terlihat keberatan dengan keputusan ibu mertuanya itu. Mama Anika ikut menyusul menantunya ke kamar mereka.


*pletak


pletak*


"Aaaww!!". Dirga dan Arka segera menatap pelaku yang menjitak kepala mereka.


"Gara-gara lo berdua sih. Gue bilang juga kaga usah pergi-pergi. Pake segala acara jalan-jalan sih. Jadi aja kita kaga bisa kemana-mana lagi. Dasar lo berdua sableng". Semprot Kirei


"Ya kita mana tau kalo ternyata buna sama oma masih punya mata-mata disekolah". Bela Dirga tak mau disalahkan.


"Tau lo..kan yang kena sembur kita berdua. Lo mah enak kaga disembur ama oma". Keluh Arka dengan wajah memelas.


"Ya karna itu makanya gue omelin lo berdua sekarang..biar besok lagi kaga usah aneh-aneh. Gue kasian ama lo berdua diomelin mulu sama oma!". Sengit Kirei, namun justru membuat Dirga dan Arka tersenyum. Selama ini apapun yang akan mereka lakukan selalu dipikirkan matang-matang oleh Kirei. Alasannya, karena gadis itu tidak ingin dua sepupu tersayangnya itu selalu kena omel oma tercinta mereka.


"So sweet banget sih sepupu gue yang paling cantik ini". Dirga dan Arka memeluk tubuh Kirei yang berada ditengah mereka.


"Lepasin!! Geli sableng!!" Pekik Kirei namun tak dihiraukan oleh dua lelaki itu.


Merasa belum mengantuk, ketiganya memutuskan untuk menonton film horor bersama, hingga akhirnya ketiganya tertidur disofa dengan posisi saling bersandar.


Ara masuk untuk mengecek tiga bocah yang membuat dirinya panik setengah mati tadi, dan senyum kebahagiaan terukir jelas diwajah cantik wanita itu ketika melihat anak-anak yang ia sayangi dan ia lindungi saling mengasihi dan saling melindungi.


Para biang kerok pembuat masalah yang sudah tertidur lelap itu tidak tahu jika sekarang sedang terjadi kehebohan diantara para siswa ketika mengetahui ketiga orang itu bersaudara. Dan lebih mengejutkan lagi adalah status mereka yang ada cucu pemilik sekolah tempat mereka belajar saat ini.


Banyak gadis yang semakin tergila-gila dengan Arka dan Dirga. Bagaimana bisa mereka bertiga seperti orang yang tidak mengenal selama ini? Padahal ketiganya bersaudara.


"Gila sih..ini gila. Gimana mungkin kita nggak tahu kalo mereka sodaraan?". Heboh siswi A.


"Dan lebih gila lagi..mereka cucu pemilik sekolah dong". Timpal siswi B tak kalah heboh.


"Pantes aja itu dua cowo ganteng peduli banget sama Kirei. Ternyata sepupunya". Sahut yang lain membuat suasana semakin riuh.


"Beruntung banget ya si Kirei. Punya sepupu dua gantengnya nggak ketulungan, orang tuanya pemilik sekolah. Muka dia cantik kaga ada kurang-kurangnya..tubuhnya?? Beuuuh..istimewa banget. Haaaah..andai gue jadi Kirei". Siswi A menerawang jauh dan langsung mendapat toyoran dari teman-temannya.

__ADS_1


"Huuuu..ngimpi lo ketinggian!". Sembur teman-temannya.


"Beruntung apanya, orang kalo ketemu ribut sama berantem mulu". Gumam Alma yang tak sengaja mendengar kehebohan yang diciptakan para penggila Arka dan Dirga.


__ADS_2