Cinta Kinara

Cinta Kinara
Sama sakitnya


__ADS_3

Waktu berjalan tanpa terasa, minggu ini sudah memasuki waktu yang diperkirakan dokter untuk kelahiran anak Ara dan Dev. Hari ini semua orang sedang berkumpul di kediaman Natakusuma, karena mereka sedang merencanakan pesta pernikahan Dira dan Kevin yang rencananya akan mereka adakan beberapa bulan lagi. Dua bulan lalu, Dira dan Kevin sudah bertunangan.


Saat ini semua orang tengah duduk diruang keluarga rumah besar itu, bahkan disana ada Raisya..mantan kekasih Dev yang juga seperti kakak bagi Ara.


"Kamu baik-baik aja Ra?". Tanya Dev saat melihat wajah istrinya sedikit pucat. Ara hanya mengangguk, kemudian berpamitan untuk pergi ke kamar sebentar. Dev segera mengikuti sang istri, takut terjadi sesuatu pada istrinya itu.


"Sayang??? Kamu gapapa?? Kenapa lama banget? Jangan bikin khawatir dong". Dev mengetuk pintu kamar mandi, karena sudah hampir 10menit sang istri berdiam diri di kamar mandi.


"Masih belom keluar tu bocah?". Suara Bian membuat Dev menoleh. Ia kemudian menggeleng lemah dan kembali mengetuk pintu.


"Buka dek. Lo beneran gapapa?". Bian ikut bertanya kondisi sang adik, pasalnya ia juga khawatir dengan kondisi adiknya itu. Apalagi mengingat bahwa perkiraan lahir keponakan pertamanya ada di minggu ini.


"Sayang buka dong. Jangan bikin abang khawatir". Tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi membuat kedua lelaki itu semakin cemas.


"Ara..buka dek. Kan kaga lucu lo lahiran di wc. Sementara dirumah sakit aja lo udah dipesenin kamar yang lebih mewah dari hotel bintang 5". Dasar mulut laknat Bian memang tak mempunyai filter, disaat tegang seperti ini pun ia masih bisa berpikir aneh.


Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan wajah pucat Ara. Dev dan Bian semakin panik melihat wajah Ara semakin pucat.


"Kita kerumah sakit ya". Ajak Dev, namun Ara menggeleng.


"Aku cuma mau pup aja bang..kenapa pada heboh sih. Gangguin aku tau". Ketus Ara kemudian berjalan melewati dua lelaki yang hanya bisa bengong menatap punggung perempuan berperut buncit itu.


"Ya mana kita tahu. Gue kan takut ponakan pertama gue lahir di wc". Ucapan Bian langsung mendapat pelototan tajam dari sang adik.


"Enaknya aja bilang aku bakal lahiran di wc orang cuma mules". Ara berjalan keluar kamar, hendak kembali ke ruang keluarga. Dimana semua orang sedang membicarakan rencana pernikahan Dira.


"Kamu gapapa nak??" Tanya mama Anika ketika melihat Ara berjalan mendekat. Ara mengangguk dengan senyum.


Beberapa kali Ara meringis sambil memegang perut buncitnya, semua itu tidak lepas dari pengamatan mama Anika dan mama Dini yang sejak tadi terus memperhatikan Ara.


"Kamu nggak kerumah sakit Ra? Perut kamu udah keliatan turun banget". Ucap mama Dini sambil memperhatikan perut Ara yang semakin terlihat turun.


"Eh..iya loh bocah. Takut gue, ntar perut lu jatoh apa kaga tu". Melihat perut Ara membuat Sam panik sendiri.


"Mana ada perut jatoh". Ketus Ara sambil melirik Sam.


"Mau kemana Ra?". Tanya Dev ketika melihat istrinya berdiri.


"Aku mau pipis bang". Jawab Ara sambil mengelus perutnya. "Awas ih..ngalangin jalan tauk". Sam yang berada didepan Ara langsung menggeser tubuhnya, memberi jalan pada ibu hamil yang semakin galak setelah hamil.


"Iya noh..jalan segitu gede. Masih dibilang ngalangin ya Allah". Keluh Sam, namun tak urung ia menyingkir.


Belum sempat Ara melewati tubuh Sam, perutnya merasakan sakit yang teramat sakit.


"ASTAGFIRULLAH". Bukan Ara yang berteriak, namun Sam yang menjadi tumpuan Ara.

__ADS_1


"ALLAHUAKBAR". Teriak Sam lagi saat kuku Ara semakin dalam menancap pada pundaknya yang berbalut kaos.


Dev langsung mendekati sang istri, mengelus perut istrinya "Sakit sayang.." Tanya Dev sambil terus mengelus perut buncit Ara. Sementara yang ditanya hanya mengangguk.


"Sakit nak?". Tanya mama Anika khawatir.


"Iya..sakit tante. Sakit banget". Jawab Sam meringis menahan sakit.


"Udah". Ucap Ara melepaskan cengkeramannya dari bahu Sam yang langsung beringsut minggir sambil mengelus pundak yang baru saja tertancap kuku Ara.


"Udah apanya?". Tanya Dev masih memegang lengan sang istri.


"Udah sakitnya. Awas ah, Ara mau ke kamar mandi. Pengen pipis". Jawab Ara enteng membuat semua orang melongo.


"Sebaiknya kamu bawa Ara ke rumah sakit Dev. Ara udah kontraksi, takutnya nanti malah bahaya kalo dilama-lamain". Ucap mama setelah mantu cantiknya menghilang dibalik pintu kamar mandi dekat dapur.


"Dia belum mau ma, katanya belum ada keluar darah kaya kata dokter. Berapa kali dia bilang gugup, mungkin itu sebabnya dia belum mau kerumah sakit". Jelas Dev panjang lebar.


Tak berselang lama, Ara kembali. Perutnya semakin terlihat merosot, membuat para ibu semakin khawatir.


"Kerumah sakit gih sono. Perut lo udah makin turun Ra". Kini sang kakak ipar yang memberi nasehat.


"Orang belom ada tanda tanda kaya yang dokter bilang". Ara tetap ngotot membuat mama Anika menghela nafas panjang. Sepertinya menantu cantiknya itu benar-benar gugup menghadapi persalinannya.


"Dulu mama juga kaya kamu sayang. Nggak kerasa apa-apa. Tapi sama neneknya Dev, mama dipaksa kerumah sakit. Dan ternyata benar, nyampe rumah sakit udah pembukaan 3. Bahkan saat itu mama masih belum ngerasain apa apa". Mama mulai bercerita membuat Ara antusias mendengarkannya.


"ya mama nurut sama nenek, mama kerumah sakit. Kamu masih mending sayang, banyak yang nemenin kamu. Mama dulu cuma sama ibu mertua mama aja". mama melirik papa di akhir ceritanya.


"Papa kemana?". Tanya Dev penasaran.


"Papa kamu mah boro boro nemenin mama, dia mah sibuk nangis diluar". Cibir mama melirik suaminya yang terlihat salah tingkah.


"Bukan nangis ma, itu.."


"Iya, mata papa kelilipan kan?". Mama semakin meledek sang suami.


Ara yang mendengar cerita ibu mertuanya menjadi lebih rileks, terlihat jelas dari wajahnya yang sudah tidak setegang tadi.


"Kita kerumah sakit yuk bang, aku nggak mau adek kenapa napa". Ara bangkit dan berjalan mendahului Dev. Sementara yang lain hanya bengong mendengar Ara dengan sukarela pergi kerumah sakit. Segala bujuk rayu yang sejak tadi Dev lakukan kalah hanya dengan cerita dari ibunya.


"Abang ambil perlengkapan baby nya dulu ya sayang". Dev berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka.


"ALLAHUAKBAR!! ASTAGFIRULLAH!!RAAAAA...." Teriakan Sam membuat semua orang berlari ke teras. Dapat mereka lihat, dua orang itu sama-sama sedang meringis kesakitan.


"Dev cepetan. Istri kamu udah mau lahiran". Teriak papa membuat Dev yang berada dikamar semakin panik karena belum menemukan tas yang ia cari. Padahal jauh-jauh hari, Ara sudah memberitahu dimana ia menyimpan tas itu. Namun karena panik membuat Dev melupakan segalanya.

__ADS_1


"Udah buruan sono. Ntar biar gue ama Dira yang nyari". Suara Kevin membuat Dev langsung berlari keluar, dimana Ara sedang menunggunya.


"Sabar ya sayang". Dev mengelus punggung istrinya yang terlihat meringis menahan sakit.


"Tu tangan lu bisa pindah kaga sih bocah. Itu tangan laki lu nganggur". Sam masih meringis menahan perih saat kuku kuku cantik Ara menancap dilengan kekarnya. Sementara lengan Dev terlihat bebas, entah mengapa kuku cantik Ara seolah menancap permanen dilengan kekarnya. Sam terpaksa ikut didalam mobil yang sama dengan ibu hamil yang seperti memiliki dendam pribadi padanya itu karena sejak tadi Ara seperti enggan melepas cengkeraman dari lengan kekar Sam.


"Aaahhh..Sakit". Rintih Ara semakin kuat mencengkeram lengan Sam.


"Ya Allah..sakit. Astagfirullah..ALLAHUAKBAR!!" Teriak Sam yang sudah frustasi karena Ara tidak mau melepaskan cengkeramannya.


Mata Dev menyipit melihat Sam yang sejak tadi ikut berteriak dan meringis. Apakah mungkin kontraksi bisa menular? Pikir Dev bingung.


"Buruan napa sih nyupirnya om. Bisa ngelupas semua ini kulit gue!" Pinta Sam pada Pram yang sedang mengemudi. Pram semakin menambah laju kendaraannya.


"Lu bacain do'a kek, biar bini lu kaga gini". Sengit Sam, membuat dahi Dev berkerut.


"Do'a apaan??"


"Apaan aja kek. Yasin kek atau apa biar mulesnya berkurang". Pekik Sam saat kuku Ara terasa semakin menancap dikulitnya.


"Ya Allah gustii..nyebut Ra..nyebut". Perintah Sam yang wajahnya sudah semerah tomat.


"Nyebut apaan??" Tanya Dev semakin bingung mendengar ucapan Sam.


"Nyebutin nama-nama hewan, ntar kalo bener gue kasih hadiah!!" Bentak Sam geram.


\=\=\=\=\=\=


Ara dibawa kedalam ruang bersalin yang sengaja Dev siapkan bersebelahan dengan kamar rawatnya nanti saat sudah melahirkan. Disana sudah ada dokter dan bidan serta beberapa perawat yang akan membantu persalinannya.


"Kita lihat dulu ya, sudah sampai pembukaan berapa" Seorang dokter mencoba membujuk Ara yang sedari tadi enggan membuka kakinya.


"Udah nggak sakit dok. Kenapa harus diliat sih..nggak bisa liat lewat usg aja gitu?". Rengek Ara yang membuat dokter tersenyum.


"Kita harus lihat, sudah pembukaan berapa..." Belum selesai dokter memberi penjelasan, kontraksi kembali datang, dan lebih terasa sakit dibanding sebelumnya. Dev merelakan lengannya untuk menjadi tumpuan sang istri yang terlihat begitu kesakitan. Bahkan Ara sudah tidak peduli pada dokter yang membuka kakinya lebar dan menggunting ****** ********.


"Sakiit.." Lirih Ara dengan keringat yang sudah membasahi seluruh wajahnya.


"Tahan ya sayang..kamu kuat. Kamu hebat". Dev terus mengelus perut Ara dan memberikan kecupan kecupan diwajah istrinya. Beberapa saat kemudian Ara sudah kembali tenang.


"Abang sakit". Rintih Ara kembali meremas kuat lengan suaminya. Sementara Dev meringis menahan perih ketika kuku kuku milik sang istri menembus kulit lengannya.


"Pantes aja si Sam tadi teriak-teriak sendiri. Orang sakit gini.." Batin Dev yang kini mukanya semakin memerah menahan perih di lengannya.


"Aaaa..abang sakiiit. Sakit banget"

__ADS_1


"Mamaa...sakit ma". Rintih Ara membuat mama Anika kembali mengelus perut menantunya.


"Tahan ya sayang..mama tahu kamu kuat. Dede nya pasti bangga punya bunda hebat kaya kamu". Mama terus memberi semangat pada Ara yang wajahnya sudah basah karena keringat bercampur air mata.


__ADS_2