
Waktu berjalan tanpa terasa, hari berganti minggu, dan minggupun berganti dengan bulan. Hari-hari yang Ara lewati begitu membahagiakan, hanya terkadang Angel masih terus berusaha membuat masalah dengannya.
Namun kini semua tak semudah dulu, Dev dan sahabat Ara selalu ada untuk melindungi gadis itu dari gangguan Angel.
Beberapa kali usaha Angel gagal karena kedatangan Dev. Seperti beberapa waktu lalu, Angel sempat mengunci Ara didalam toilet dan hendak memasukkan beberapa petasan kedalam bilik toilet. Namun Dev datang tepat waktu dan menggagalkan semua rencana Angel.
Sejak kejadian terakhir dalam pesta ulang tahun Angel, Dev selalu mendukung Ara, sedikit demi sedikit..perlahan namun pasti, ketakutan gadis itu akan kembang api berangsur menghilang.
Walaupun terkadang ia masih terkejut saat mendengar letusan kembang api. Namun hanya sekedar terkejut, tidak sampai histeris dan kesulitan bernafas seperti dulu.
****
Siang ini Ara dan Dev sedang berada dibandara untuk menjemput seseorang yang begitu Ara rindukan.
Seseorang yang juga menjadi bagian penting dalam hidupnya. Seseorang yang juga selalu menjadi sumber kebahagiaan untuknya.
Ia menunggu dengan hati bahagia. Senyum tak pernah luntur dari wajah cantiknya. Membuat Dev yang berdiri disebelahnya ikut bahagia melihat wajah bahagia kekasih hatinya.
Melihat orang yang ia tunggu, ia langsung melambaikan tangannya pada orang itu. Orang yang tak lain adalah sang kakak, Fabian.
Bian merentangkan kedua tangannya saat melihat Ara berlari menghampirinya. Ia memeluk erat tubuh sang adik. Rasa rindu yang ia pendam selama 2tahun kini terbayar sudah dengan melihat keadaan adiknya yang baik-baik saja.
"Adeknya kakak makin cantik aja sih". Bian mengurai pelukannya dengan sang adik. Ia menangkup kedua pipi sang adik ketika menyadari adiknya tengah menangis sesenggukan
"Laah..bocah. Ketemu kakaknya malah nangis. Nggak seneng?". Goda Bian.
Ara mendengus kesal mendengar godaan sang kakak tanpa berniat menjawabnya.
"Banyak makan ya lo, gendut gini". Goda Bian.
"Enaknya aja bilang gendut. Badan aku tuh ideal!! Nggak gendut nggak cungkring!" Ketus Ara.
"Ya kalo liat badan sendiri mah serasa langsing..padahal mah kan engga. Ya kan Dev?". Ditanya demikian oleh Bian membuat Dev dengan cepat menggelengkan kepalanya, apalagi melihat Ara sudah melotot dengan wajah yang ditekuk.
"Dasar ngeselin!" Ara memandang kesal pada sang kakak yang justru tertawa senang melihat kekesalan sang adik.
Bian kembali membawa sang adik kedalam pelukannya. Puas melepas rindu dengan sang adik, ia beralih pada Dev yang masih setia berdiri dibelakang Ara.
Mereka berpelukan sebentar lalu melepaskannya.
"Masih betah aja lo Dev ama si eneng". Bian kembali melancarkan aksinya membuat sang adik melotot tajam.
"Tuh..baru denger gue ngomong kaya gitu aja matanya udah mau loncat kan".
"Galak dia mah. Yakin lo??". Bisik Bian pada Dev, namun Ara masih bisa mendengarnya.
Dev hanya tersenyum sambil menggeleng melihat perdebatan dua orang yang sudah lama tidak bertemu, namun saat pertama bertemu yang mereka lakukan adalah berdebat.
"Kakak ya, lama nggak pulang..sekalinya pulang langsung ngomporin abang!" Cebik Ara
"Udah sono balik lagi aja. Kaga usah pulang". Ketus Ara kemudian berjalan meninggalkan dua orang pria yang hanya tersenyum melihat kelakuan Ara. Keduanya berjalan cepat mengikuti langkah kaki gadis cantik yang sedang merajuk.
"Aduuuh..pundungan pisan sih adek kakak". Ucap Bian sambil merangkul pundak sang adik.
Ara hanya mendengus tanpa berniat menjawab ucapan kakaknya. Dev hanya bisa menggelengkan kepalanya, gemas dengan tunangannya jika sedang merajuk. Selama bertunangan dengannya, Ara belum pernah marah ataupun merajuk seperti sekarang ini. Terlihat menggemaskan dimata Dev.
Ketiganya masuk kedalam mobil, Dev duduk dibelakang kemudi dengan Bian disebelahnya. Sedangkan Ara, ia duduk dibangku belakang dengan wajah yang ditekuk dan bibir mengerucut.
"Udah atuh neng, masa digodain gitu aja ngamuk sih". Bujuk Bian agar sang adik tidak merajuk.
Ara hanya melengos dan melihat pemandangan diluar kaca mobil tanpa memperdulikan bujukan sang kakak.
"Ehmm..beliin es krim kesukaan kamu mau??". Bian kembali membujuk Ara.
"Sama burger!". Ketus Ara namun berhasil membuat senyum diwajah Dev dan Bian tidak dapat disembunyikan.
"Lagi ngambek juga nggak mau rugi adek gue mah. Lo kudu sabar". Bisik Bian pada sang supir yang tak lain adalah Dev.
__ADS_1
"Ara masih denger kak!" Geram Ara, membuat Bian menelan salivanya dengan susah.
Demi mendapatkan maaf dari sang adik, akhirnya Bian yang sebenarnya sudah sangat lelah dan ingin segera merebahkan tubuhnya harus rela menundanya.
Mereka berhenti disebuah cafe yang menjadi tempat langganan Ara membeli es krim.
"Es krim coklatnya satu, ehmm..es krim vanilla satu sama beef burgernya satu ya mbak". Ara memesan tanpa meminta izin pada sang kakak yang hanya bengong mendengar pesanan sang adik.
"Ada yang lain kak?" Tanya pelayan ramah.
"Ehmm..sama spaghetti deh mbak". Jawab Ara santai.
"Lo laper apa kesurupan anak singa?" Tanya Bian kaget.
Ara hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Sementara pelayan yang masih berdiri didekat Ara hanya tersenyum geli mendengar ucapan Bian.
"Ama jus jeruknya satu deh mbak". Bian ikut memesan
"Lo apaan Dev?" Tanya Bian pada Dev
"Jus jeruk aja kak". Jawab Dev pendek
"Kaga makan lo Dev?" Tanya Bian lagi.
Dev menggeleng sebagai jawaban.
"Makan yang banyak lo biar kuat". Kata Bian melirik pada adiknya yang masih nampak acuh dan sibuk bermain ponsel.
"Kuat ngadepin kenyataan kalo calon bini lo kaya singa kelaperan". Lanjut Bian diiringi suara tawanya.
Ara yang sudah kesal dengan godaan dan ledekan dari sang kakak akhirnya melemparkan buku menu yang masih ada diatas meja.
Namun Bian dengan sigap menangkapnya, membuat Ara mencebik melihat sang kakak sedang menjulurkan lidah untuk meledeknya.
Tak berselang lama, pesanan Ara sudah disajikan diatas meja. Ara segera menikmati makanan serta es krim kesukaannya.
"Ya Allah..sabar-sabarin aja punya adek model beginian". Ucap Bian sambil mengelus dadanya.
****
"Gimana kabar kamu nak?" Tanya bapak pada putra sulungnya yang baru saja sampai dirumah.
"Alhamdulillah Bian sehat. Bapak gimana?" Bian balik bertanya.
"Hm, alhamdulillah bapak sehat..adek kamu jemput dari 3jam lalu. Terus kenapa baru nyampe rumah?". Tanya bapak heran.
"Tanya aja itu sama anak bapak yang paling cantik itu". Sindir Bian sambil melirik sang adik yang kini masih asyik dengan minuman hasil malaknya pada sang kakak.
Bapak menatap Ara, menunggu jawaban dari putri semata wayangnya. Namun Ara hanya mengendikkan bahu tidak ingin menjawab keingintahuan bapak.
"Bian mau istirahat dulu ya pak. Biar nanti malem nggak kecapekan". Pamit Bian dijawab anggukan kepala oleh bapak.
"Emang ntar malem mau kemana kak?". Tanya Ara penasaran.
"Anak kecil nggak usah tau!". Jawab Bian ketus, kemudian berjalan menuju kamarnya sambil menjulurkan lidahnya mengejek sang adik.
"Ish..anak bapak diluar negeri makan apa sih. Pulang-pulang nyebelin pisan. Karungin juga nih ama Ara". Sungut Ara.
Bapak tertawa mendengar Ara yang terus mengomel.
"Kakakmu mau melamar Putri nanti malam". Jelas bapak membuat Ara tersedak minuman yang baru saja ia tenggak.
"Bapak bercanda kali ini ya? Kakak nggak ngomong apa-apa sama Ara". Ucap Ara sambil menggeleng tak percaya.
"Kamu ajakin ribut mulu sih. Punya anak dua aja bapak tuh berasa punya anak sebelas tau. Ribuuuut..mulu". Ucap Bapak
"Beneran pak? Emang Putrinya mau gitu jadi pamajikan anak bapak yang super nyebelin itu?". Tanya Ara menyelidik.
__ADS_1
"Dev yang anteng, yang kalem, sopan kaya begitu aja mau sama kamu yang pecicilannya naudzubillah neng. Terus kenapa non Putri nggak mau sama kakak kamu". Jawab bapak setengah meledek.
Ara melotot mendengar jawaban bapaknya.
"Pantes anaknya ngeselin. Orang bapaknya juaranya bikin orang kesel sama sebel!".
"Laaah..kamu juga anak bapak neng. Berarti kamu juga nggak kalah ngeselinnya kan ya?. Hahaha". Bapak tertawa puas melihat wajah anak gadisnya sudah ditekuk mendengar ucapannya.
Ara melengos kemudian pergi kekamarnya. Diatas kasurnya sudah ada sebuah kebaya cantik. Bibirnya menyunggingkan senyuman manis melihatnya.
"Kak Bian emang paling the best". Gumam Ara
_____
Sementara itu di kediaman kedua orang tua Putri. Bram dan Dini sang istri sedang sibuk menata ruangan. Karena malam ini akan ada tamu penting dan juga acara yang tak kalah penting.
Sejak sore, Putri sudah diminta sang mama untuk berdandan dan memakai gaun yang begitu cantik.
"Sebenarnya mau ada acara apa ma? Kenapa aku harus berdandan seperti ini?" Tanya Putri penasaran.
Saat ini Putri sudah cantik dengan balutan gaun berwarna merah, sangat kontras dengan kulitnya yang putih.
"Akan ada acara penting sayang". Jawab mama Dini.
"Iya..tapi acara apa ma??" Putri sudah kesal karena sejak sore ia sudah menanyakan namun hanya dijawab acara penting oleh sang mama.
"Ayo kita turun nak..keluarga calon suamimu pasti sudah datang". Ucap mama membuat mata Putri melotot.
"Ca..calon suami?" Tanya Putri terbata.
"hm..malam ini akan ada yang melamar kamu sayang. Papa dan mama sudah menerimanya. Malam ini hanya acara tukar cincin saja". Jawab mama dengan wajah berbinar.
Berbanding terbalik dengan wajah Putri yang sudah pucat pasi. Tubuhnya membeku seketika mendengar sang mama berbicara tentang lamaran.
"Tap..tapi ma. Aku kan sudah.." Belum sempat Putri melanjutkan ucapannya, ia sudah digandeng sang mama untuk keluar dari kamar.
"Mama dan papa tidak akan menjerumuskan kamu sayang. Jodoh yang mama pilihkan adalah yang terbaik untukmu". Ucap mama sambil mengelus lengan sang anak.
"Tapi mama tahu kalau aku sudah mencintai orang lain". Lirih Putri
Mama tersenyum "Cinta akan datang seiring berjalannya waktu nak, semua hanya perlu pembiasaan saja". Bujuk mama.
Dengan berat hati Putri mengikuti sang mama,menuruni tangga dengan langkah berat dan kepala yang terus menunduk untuk menyembunyikan raut kesedihan diwajah cantiknya.
Mama mendudukkan Putri disebelah calon suaminya, lelaki yang sudah melamarnya tanpa ia ketahui kapan dan dimana. Dan mengapa kedua orang tuanya bisa seenaknya saja menerima lamaran itu tanpa bertanya apakah ia bersedia menerimanya atau tidak.
"Sebelumnya terima kasih tuan Bram sudah bersedia menerima lamaran dari putra saya. Namun alangkah lebih baiknya jika saya mendengar sendiri kesediaan dari Putri untuk menerima putra saya ini sebagai calon suaminya". Ucap orang tua sang lelaki.
Putri mengerutkan dahinya, suara itu seperti sudah sangat akrab ditelinganya. Namun ia masih tetap dalam posisinya, tertunduk dan tidak mau mengangkat wajahnya untuk sekedar melihat seperti apa rupa dari calon suami yang sudah dipilihkan oleh kedua orang tuanya.
Papa Bram mengangguk menyetujui apa yang diucapkan oleh calon besannya.
"Bagaimana nak? Apakah kamu bersedia nak?". Tanya papa lembut.
Sesaat setelah papa Bram bertanya, terdengar isakan kecil dari bibir Putri. Semua terkejut termasuk calon suami Putri.
"Ma..maafkan Putri pa. Putri tidak bisa. Putri sudah mempunyai seseorang yang sangat aku cintai". Jawab Putri sambil terisak.
Jawaban Putri membuat semua orang melongo. Tak percaya dengan jawaban yang keluar dari mulut Putri.
Namun suara tawa tertahan dari seseorang membuat ia mendongakkan kepalanya. Betapa terkejutnya ia mendapati sang sahabat tengah terkikik dengan bapak yang sedang memelototinya.
"Hihihi..yaaaaah ditolak beneran kan". Ara terkikik membuat bapak semakin melotot.
Putri segera menoleh kesamping dimana calon suami pilihan dari kedua orang tuanya tengah duduk dan memandanginya dengan tatapan kecewa.
"Aa..!!!"
__ADS_1