Cinta Kinara

Cinta Kinara
acara lelang


__ADS_3

Setelah semua selesai, semua bersiap menuju hotel yang akan dijadikan tempat acara pelelangan itu.


Saat Ara hendak memasuki mobil yang sama dengan bapak, Dira mencekal tangan Ara kemudian menggiring Ara untuk masuk kedalam mobil yang sama dengan Dev.


"kamu dimobil yang ini saja Ara, mobil paman Rahmat sudah penuh dengan aku dan papa serta mama". Dira beralasan sambil mendorong tubuh Ara untuk memasuki mobil kakaknya.


"Kenapa harus aku?? Kenapa tidak kamu saja??? Aku akan berada dimobil yang sama dengan bapak saja". Ara mengeraskan badannya sehingga sulit didorong oleh Dira.


"Kamu kan ditugaskan untuk menjaga aku dan kak Dev, dimobil yang aku tumpangi sudah ada paman Rahmat. Tugasmu juga menjaga kak Dev". Dira masih terus berusaha mendorong tubuh Ara agar memasuki mobil kakaknya.


"Kenapa hanya aku?? Kenapa kamu tidak ikut saja dimobil ini?? Aku tidak nyaman hanya berdua dengan tuan Dev". Ara berusaha menolak perintah anak majikan bapaknya.


"Masuklah nak, waktu kita tidak banyak. Tidak masalah ada dimobil manapun". Suara bapak membuat tubuh Ara lemas seketika.


Dira tidak menyianyiakan kesempatan, dengan gerakan cepat dia mendorong tubuh Ara masuk kedalam mobil kakaknya.


Sementara didalam mobil, Dev sudah duduk dengan tenang dibalik kursi kemudi.


"Biar saya yang membawa mobilnya tuan muda". Tiba-tiba Ara bersuara. Dia mengubah panggilannya kepada Dev setelah tahu posisinya saat ini.


Dev langsung menoleh kearah Ara. Sementara Ara semakin dibuat tidak nyaman karena Dev hanya diam sambil memperhatikan dirinya saja.


"Ma..maaf tuan muda kalau saya lancang". Ara kembali berkata setelah Dev hanya diam tak menanggapi ucapannya tadi.


"Bicaralah seperti biasanya. Tidak perlu formal seperti itu". Dev berkata tegas sambil menjalankan mobilnya mengikuti mobil kedua orang tuanya dan orang tua Putri.


"Itu terlalu lancang tuan muda". Ara tetap kekeh dengan pendiriannya.


Dev mendengus kesal, ternyata gadis ini memang sangat keras kepala.


__________


45menit berlalu dalam keheningan didalam mobil Dev. Tak berselang lama, ketiga mobil itu sampai dihotel tempat diadakannya acara lelang.


Setelah semua penumpang mobil turun, bapak segera memanggil Ara beserta Josh dan Pram. Bapak akan mengatur tugas masing-masing dari mereka.


Setelah disepakati, Ara akan masuk kedalam ruang tempat pelelangan bersama dengan bapak untuk menjaga para majikannya. Sementara Josh dan Pram akan memantau dari posisi yang aman agar tidak terlalu mencolok.


Bapak dan Ara berjalan mendekat kearah keluarga tuan Aryo dan Tuan Bram.


"Bersikaplah seperti anggota keluarga kami Ara, mungkin disini ada musuh saya yang sedang mengincar keluarga saya. Kamu harus bersikap biasa agar mereka tidak curiga". Tuan Aryo berkata sambil menepuk pelan pundak gadis cantik itu.


"Baik tuan, saya akan melakukan sesuai perintah anda". Ara menjawab sambil menundukkan kepalanya.


Tuan Aryo tersenyum tipis kemudian kembali berkata


"kamu masuklah bersama Dev, aku akan masuk dengan Dira dan mamanya".


Ara membelalakkan matanya mendengar ucapan majikannya itu


"ke..kenapa harus bersama tuan Dev tuan?? Kenapa saya tidak masuk bersama nyonya dan nona muda saja??". Ara mengajukan keberatan yang hanya dibalas senyuman oleh tuan Aryo.


"terlalu mencolok kalau kamu masuk bersama mereka". Ucap tuan Aryo santai kemudian berjalan masuk meninggalkan Ara yang masih mematung mendengar perintahnya.

__ADS_1


"Sampai kapan kamu akan berdiri disitu??". Suara berat itu menyadarkan Ara dari lamunannya.


Dengan cepat Ara berjalan mendekat kearah Dev, setelah mensejajarkan langkah kakinya, Ara dan Dev masuk kedalam ruang pelelangan.


Sambutan hangat diterima keduanya. Ara merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian saat masuk kedalam ruangan itu.


Tanpa sengaja mata Ara bersirobok dengan mata tajam yang sedang memperhatikannya sejak tadi ia masuk keruangan itu. Ara sedikit terkejut, namun sesaat kemudian Ara kembali memasang wajah datarnya.


Mata tajam itu terus memperhatikan setiap gerak gerik Ara. Bibirnya membentuk sebuah lengkungan sempurna melihat gadis yang pernah mengalahkannya dalam pertandingan basket itu turut hadir dalam acara yang membosankan menurutnya.


________


Beberapa saat kemudian acara lelang dimulai. Tuan Aryo sebagai penyumbang terbesar acara itu diminta memberi sambutan.


"Semoga acara ini lancar sampai akhir, dan semoga acara ini bisa bermanfaat bagi orang-orang yang memang membutuhkannya". Tuan Aryo menutup sambutannya diiringi tepuk tangan meriah dari para hadirin. Hasil dari acara ini akan digunakan untuk membantu panti sosial dan panti asuhan dikota itu.


Selama acara pelelangan semua berjalan lancar tanpa ada hal yang mencurigakan. Ara melihat keadaan sekitarnya untuk memastikan majikannya aman dan terhindar dari bahaya.


Dev yang sudah gemas melihat kelakuan Ara yang sejak tadi seperti tidak tenang dalam duduknya segera memegang kepalanya dengan lembut.


"kamu akan menjadi pusat perhatian semua orang jika terus celingak-celinguk seperti sekarang". Dev berkata sambil memutar kepala Ara agar menghadap kearahnya.


Ara mengerjapkan mata beberapa kali karena terkejut dengan perlakuan Dev.


"ah..iya tuan muda, maaf". Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Ara, wajahnya sudah memerah karena merasa malu sendiri.


Sementar Dev hanya tersenyum melihat wajah Ara yang sedikit merona, rona yang menambah kecantikan Ara.


Acara lelang ini berlangsung aman sampai selesai, hanya tinggal acara ramah tamah dan hiburan untuk para tamu kehormatan.


Tuan Aryo dan tuan Bram yang adalah pengusaha yang ternama dikota ini cukup menyedot perhatian banyak pengusaha lain untuk hanya sekedar mengobrol.


Sementara disisi lain, saat ini Ara dan Dev serta kedua sahabatnya sedang menikmati hidangan yang disajikan di acara tersebut.


Sampai sebuah suara membuat Ara dan yang lain mengalihkan perhatiannya.


"Kamu juga ada disini Dev?? Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini Dev". Tiba-tiba Clara datang dan sedikit mendorong tubuh Ara agar menjauh dari Dev. Dengan tidak tahu malunya, Clara langsung bergelayut manja dilengan kokoh Dev.


Dev yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran Clara mencoba melepaskan tangan Clara dari lengannya.


Clara memberengut kesal saat Dev melepaskan tangannya dari lengan kokohnya itu. Kemudian matanya menatap sinis pada 3 gadis yang sekarang ada didepannya.


"ciihh..gadis miskin kaya elo ngapain ada disini?? Mau minta sumbangan ya??". Clara berkata dengan nada yang sangat menghina kepada Ara.


Sedangkan yang dihina dan direndahkan sengaja menulikan pendengarannya dari suara manusia jelmaan lampir yang memang selalu mengganggu dan memancing emosinya itu.


Kesal karena Ara tidak menanggapi ucapannya, Clara mendekati Ara dan menarik kasar lengan Ara sampai menoleh ke arahnya.


Ara menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum miring melihat muka Clara sudah memerah menahan emosi.


"disini gaada dayang-dayang elu yang bisa ngelindungin elu dari gue. Jadiiiiii....". Ara sengaja menggantung ucapannya ingin melihat reaksi gadis yang selalu membuat masalah dengannya itu.


"kalo elo pengen keluar dari acara ini masih keliatan kaya orang waras, jauh-jauh deh lu dari gue. Capek gue ngeladenin lampir kaya elu". Setelah mengatakannya, Ara menghempas kasar tangan Clara yang sejak tadi mencengkeram lengan putihnya hingga memerah.

__ADS_1


Clara mundur beberapa langkah kemudian berkata


"Awas ya lo, gue bakal bales elo". Clara segera menjauh karena sesungguhnya dia cukup takut dengan Ara jika tidak ada Bella dan Sesil.


"Dasar mak lampir sinting, heran gue tu emaknya dulu ngidam apaan nyampe keluar anak modelan begitu". Ara menggerutu sambil mengusap lengannya yang sedikit memerah.


Dira dan Putri hanya terkikik geli mendengar gerutuan Ara tentang Clara.


Saat sedang mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, Ara melihat sesuatu yang mencurigakan.


Ia menajamkan pandangannya dan sesaat kemudian matanya membulat sempurna melihat lampu gantung ditengah ruangan yang tepat berada diatas tuan Aryo hampir jatuh menimpanya.


"TUAAAAAANN, AWAAAASSS!!". Ara berteriak sambil berusaha lari sekuat tenaga untuk melindungi tuannya.


Tepat sebelum lampu itu menimpa tuan Aryo, Ara berhasil mendorong tubuh tuan Aryo hingga bisa terhindar dari bahaya. Lengan dan wajah putih Ara berdarah setelah tergores pecahan lampu.


Tuan Aryo bangkit kemudian membantu Ara untuk berdiri.


"kamu terluka nak, kita pulang..kita obati lukamu ini". Tuan Aryo meringis melihat beberapa luka dilengan dan diwajah Ara.


"saya tidak apa-apa tuan, anda tidak perlu mengkhawatirkan saya. Segera cari tempat yang aman tuan. Paman Josh akan membimbing anda ketempat yang lebih aman". Ara berkata saat penglihatannya melihat beberapa pria mulai mendekat kearahnya dan tuan Bram.


Suasana yang tadi sangat ribut, kini mendadak menjadi tegang saat ada beberapa pria berbadan kekar merangsek maju hendak menyerang tuan Aryo dan tuan Bram.


Ara segera melancarkan serangan saat salah satu pria itu hendak menyeran tuan Bram. Dan pertempuran pun tidak dapat dihindari lagi.


Josh bertugas membawa para nyonya dan nona muda ketempat yang aman. Sementara tuan Aryo dan tuan Bram serta Dev membantu Ara serta bapak dan Pram melawan para begundal-begundal tak diundang itu.


Saat ini Ara sedang berhadapan dengan pria yang sudah 2 kali melukai dirinya, bahkan yang kedua dirinya harus sampai pingsan dan dibawa kerumah sakit.


"kita ketemu lagi om". Ara berkata tenang saat sudah saling berhadapan dengan pria seram berbadan besar.


Ara sedikit menyimpan dendam karena sudah 2 kali dibuat babak belur oleh orang ini.


Ara maju menyerang, memasukkan tendangan dan pukulan mautnya kepada pria yang belum siap menerima serangannya itu.


Semua tamu menyingkir mencari tempat yang aman untuk berlindung. Acara yang harusnya khidmat dirusak oleh orang-orang yang tak diketahui dari mana datangnya.


Tak ingin kalah dari Ara, pria itu juga berusaha menyerang Ara dengan tendangan dan pukulannya. Namun Ara bisa menghindar dan memberi pukulan balasan.


Pertarungan sengit antara Ara dan pria itu menjadi tontonan seru untuk seorang pria tampan dengan tatapan setajam pisau. Dirinya benar-benar tidak menyangka gadis yang mampu membuatnya terus memikirkannya setelah kekalahannya dalam pertandingan basket dulu itu benar-benar gadis yang menarik. Kedua ujung bibirnya tertarik sempurna menambah kadar ketampanannya, Digo tersenyum puas melihat kelihaian Ara melawan pria tak dikenal itu.


Sebuah tendangan dari belakang tubuhnya membuat Ara terhuyung hampur jatuh jika Digo tidak dengan sigap menangkap tubuh Ara.


Ara mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang menolongnya. Senyum manis Digo persembahkan untuk Ara, membuat Ara memutar matanya malas.


Dengan cepat Ara menegakkan tubuhnya kemudian melepas heelsnya kemudian melemparnya asal, sudah dari tadi Ara ingin melepas heels yang membuatnya sulit bergerak.


Digo terkekeh pelan melihat kelakuan Ara yang menurutnya sangat imut.


Mata semua orang membulat sempurna saat melihat lawan Ara mengeluarkan pisau. Ara tersenyum devil, senyum yang belum pernah dilihat oleh teman-teman dan orang lain. Bagi Ara, ini adalah sebuah tantangan yang menyenangkan.


"Araaa, awaaaasss!!!".

__ADS_1


__ADS_2