Cinta Kinara

Cinta Kinara
misterius


__ADS_3

tok..tok..tok


"Sayang..kamu tidur?". Ara memanggil sambil terus mengetuk pintu kamar Kirei. Namun sejak tadi tidak ada respon apapun dari anaknya itu.


"Belum keluar juga bun?". Suara Dev membuat Ara menoleh dan menggeleng lemah. Sudah hampir 3jam lamanya Kirei mengurung diri didalam kamarnya setelah pulang dari sekolahnya tadi, atau lebih tepatnya setelah menyambangi rumah Daniel. Bahkan sampai Dev pulang Kirei masih belum juga keluar.


Semua orang sudah menunggu untuk makan malam bersama. Entah kebetulan atau memang sudah direncanakan, Dira dan Putri serta anak dan suaminya pun sudah menunggu diruang makan, kecuali Bian yang memang belum kembali.


"Sayang..Kirei? Buka pintunya nak". Dev mengetuk pintu sedikit keras.


"Cari kunci cadangannya bun". Perintah Dev membuat Ara dengan cepat mencari kunci cadangan yang biasanya ia simpan dilaci meja dekat kamar Kirei.


"Nggak ada yah.." Ara semakin panik. Mungkinkah Kirei yang mengambilnya.


"Masih belom keluar juga bun?". Kali ini Arka dan Dirga ikut naik untuk melihat sepupunya. Ia sudah mendengar cerita dari Alma. Arka sangat marah pada Daniel, meski belum tahu apa penyebab pemuda itu tidak bersekolah, namun setidaknya lelaki itu bisa mengabari Kirei lewat pesan atau mungkin menelponnya.


Kedua orang tua itu hanya menggeleng lemah menjawab pertanyaan Arka.


"Biar Arka yang bangunin. Ayah sama buna tunggu dimeja makan aja". Dev dan Ara memutuskan meninggalkan kamar putrinya, dan menyerahkan tugas membujuk Kirei pada dua pemuda itu.


"Ki..buka! Gue tau lo kaga tidur. Kalo lo kaga mau buka, gue dobrak ni pintu ama Dirga". Ancam Arka menggedor pintu kamar Kirei.


"Gue itung nyampe tiga kalo kaga lo buka juga, beneran gue ancurin pintu kamar lo!". Teriak Arka lagi.


"Gue pengen sendiri dulu bang. Gue kaga laper. Gue cuma pengen tidur". Terdengar jawaban dari dalam. Meskipun pelan namun Arka dan Dirga masih bisa mendengarnya.


"Lo kaga kasian ama Ayah ama buna? Ayo keluar cepet!". Kali ini Dirga yang sudah tidak sabar melihat sepupunya seperti tidak memiliki tujuan hidup.


"Gue nggak mau Ga". Sahut Kirei membuat keduanya menghembuskan nafas kasar.


"Buka atau kita dobrak!". Ucap Arka tegas.


Didalam kamar, Kirei menghela nafasnya panjang. Kedua sepupunya itu adalah orang nekat jika menyangkut dirinya. Mereka pasti akan benar-benar menghancurkan pintu kamarnya jika tidak ia buka.


Dengan gontai Kirei berjalan menuju pintu, memutar kunci dan membukanya perlahan.


"Astagfirullah". Pekik Dirga dan Arka bersamaan ketika melihat wajah Kirei yang pucat dengan mata bengkak dan memerah. Kirei sudah mandi dan mengganti bajunya, namun karena terlalu lama menangis dan belum makan sejak pagi, tampilannya menjadi begitu mengenaskan.


"Lo Kirei? Bukan mayat idup kan?". Celetuk Arka yang langsung mendapat pukulan dikepalanya.


"Bukan waktunya becanda bang!". Ketus Dirga.


"Ayo turun! Semua udah nunggu!". Dirga hendak menarik tangan Kirei, namun segera dilepaskan oleh gadis itu.


"Gue kaga laper Ga". Jawab Kirei berbalik hendak masuk kedalam kamarnya lagi.


"Jangan kaya gini deh Ki. Nggak lo banget". Cibir Arka membuat Kirei menoleh tajam lalu melanjutkan langkahnya.


"Jangan nyampe gue gendong turun deh lo". Dirga seperti habis kesabaran menghadapi gadis patah hati didepannya.


"Gue lagi kaga pengen ribut ama lo berdua. Syuh..syuh, pada pergi sono". Suara Kirei semakin terdengar lemah saja. Wajar saja, seharian ini dirinya belum memakan apapun.


"Kaga usah nyiksa diri. Yang lo pikirin belom tentu inget lo". Arka hendak membopong tubuh Kirei, namun belum sempat ia sampai ditempat Kirei berdiri, gadis itu sudah limbung dan hampir ambruk ke tanah jika saja Arka tidak cepat menangkapnya.


"Ah elah..elo sih gue kasih gue ndablek, ngeyel mulu". Gerutu Arka sambil mengangkat tubuh Kirei.


"Siapin mobil Ga. Kita bawa kerumah sakit". Perintah Arka panik.


Dirga segera berlari menuruni tangga tanpa berkata apapun, membuat para orang tua yang melihatnya berdiri dengan tatapan heran. Tidak lama, Arka juga turun. Namun yang membuat semua mata melotot adalah Kirei yang berada digendongan Arka dalam keadaan pingsan.

__ADS_1


"Kirei!!". Pekik semua orang bersamaan.


"Jelasinnya nanti aja, kita bawa Kirei kerumah sakit dulu". Arka mendahului semua orang yang sudah siap melontarkan pertanyaan padanya.


_______


"Bagaimana keadaan putri saya dok?". Tanya Dev dan Ara bersamaan.


Dokter tersenyum ramah menanggapi pasangan suami istri yang terlihat begitu khawatir itu.


"Nona Kirei baik-baik saja. Tubuhnya hanya kelelahan serta lemah karena belum ada asupan makanan yang masuk kedalam tubuhnya dan sepertinya sedang banyak hal yang dipikirkan sehingga menyebabkan stres". Jelas dokter membuat Ara dan Dev menghela nafas lega.


"Gimana kondisinya? Kenapa bisa kaya gini Ra? Kaga dikasih makan itu anak nyampe bisa pingsan?". Bian yang baru datang segera menyerbu adiknya dengan berbagai pertanyaan.


"Cuma kecapean kak". Jawab Ara.


"Kami akan melihat kondisi pasien, jika sudah stabil, nona Kirei bisa dibawa pulang". Lanjut dokter kemudian pamit undur diri meninggalkan keluarga Kirei.


"Ada apa sebenarnya sama anak itu? Nggak biasanya tu anak kaya gini Ra". Tanya Putri curiga.


"Lagi patah hati doi mi". Arka menjawab dengan santai, membuat semua orang tua yang disana langsung menatapnya penuh curiga.


"Patah hati?". Beo semua orang membuat Arka langsung tersadar dari ucapannya yang kelewat santai.


"Jelasin sama ayah". Perintah Dev tegas.


Arka menceritakan apa yang ia ketahui dari Alma, namun belum ada yang tahu apa yang membuat Kirei sampai seperti ini. Sejak pulang dari rumah Daniel, Kirei belum berbicara pada siapapun.


Sementara yang lain sedang menunggui Kirei diluar, Alma dengan setia mendampingi Kirei didalam ruang IGD.


"Ki..." Alma tersenyum lega melihat Kirei membuka matanya.


"Dirumah sakit. Minum dulu ya". Alma membantu Kirei bangun dan membantunya minum air hangat yang disediakan.


"Udah lebih enak?". Tanya Alma lembut yang dijawab anggukan kepala oleh Kirei.


Alma menggenggam tangan teman baiknya itu, membuat Kirei balik menatap Alma dan kemudian tersenyum tipis. Kirei sadar kebodohannya kali ini sudah membuat semua orang khawatir padanya.


"Gue baik-baik aja Al". Kirei tersenyum untuk menenangkan Alma.


"Kamu punya semua orang yang sayang sama kamu Ki..jangan ragu buat berbagi sama aku ya". Alma tersenyum pada Kirei, berharap gadis itu mau membagi hal menyakitkan padanya agar lebih lega. Kirei tersenyum tipis, namun cairan bening yang sejak tadi berusaha ia tahan akhirnya lolos juga membasahi kedua pipinya.


"Sakit Al..sakit banget disini". Kirei menunjuk d***nya dengan telunjuknya, menekankan jarinya disana.


"Kenapa dia musti dateng kalo cuma buat nyakitin gue Al. Kenapa dia bilang cinta kalo ternyata pergi". Kirei menangis dipelukan Alma yang hanya bisa mengelus punggung bergetar Kirei.


"Daniel Al..Daniel". Kirei seolah sulit hanya untuk mengingat apa yang ia dengar dari satpam dirumah Daniel tadi.


"Sstt..gausah dilanjutin kalo terlalu berat Ki". Alma mengeratkan pelukannya, berharap bisa menjadi sandaran Kirei saat rapuh seperti ini.


"Daniel..Daniel udah punya calon istri Al". Ucapan Kirei sukses membuat Alma menghentikan gerakannya mengelus punggung Kirei. Namun Alma lebih memilih diam dan tidak bertanya maksud ucapan Kirei. Gadis itu kembali mengelus punggung Kirei dan berkali-kali mengucapkan kata tenang.


####


"Istirahat ya..buna tinggal dulu". Ara mengelus kepala putri semata wayangnya yang baru kali ini ia lihat begitu rapuh.


"Makasih bun..maafin Kirei bikin buna sama ayah khawatir". Kirei benar-benar merasa bersalah membuat semua keluarganya panik.


"Nggak masalah sayang. Yang penting sekarang kamu baik-baik aja..sebentar ya". Ara meninggalkan Kirei sendirian. Kondisinya sudah jauh lebih baik setelah berbagi cerita dengan Alma.

__ADS_1


Tadinya Dev dan Ara meminta Kirei untuk rawat inap, namun Kirei bersikeras untuk pulang. Akhirnya, meskipun terpaksa kedua orang tuanya mengabulkan keinginannya.


"Dia tidur?". Tanya Dev ketika melihat istrinya berjalan menuruni tangga.


"Belum..tapi mungkin sekarang sudah tidur". Ara menghela nafasnya panjang, bersiap mendengar apa yang akan Alma ceritakan. Bukan karena Alma tidak bisa menjaga rahasia, namun kedua orang tua Kirei harus tau apa penyebab anaknya seperti ini. Lagipula Kirei tidak meminta Alma untuk merahasiakannya dari siapapun.


"Sebenarnya ada masalah apa dia dengan Daniel, Al? Kenapa sampai seperti ini?". Tanya Ara memecah keheningan.


Alma menghela nafas panjang kemudian menceritakan apa yang Kirei ceritakan padanya tadi dirumah sakit.


"Daniel sudah punya calon istri?". Tanya Ara tak percaya dengan pendengarannya.


"Alma juga belum tau pasti bun, tapi Kirei bilang Daniel udah punya calon istri. Itu yang bikin Kirei syok bun, karena sebelumnya Daniel baru aja bilang cinta sama Kirei". Suara Alma melemah diakhir kalimatnya.


"Pantas saja dia sampai seperti ini". Gumam Ara yang tahu bagaimana bahagianya Kirei dekat dengan Daniel.


"Wajar dia kecewa, dia baru kali ini dekat dengan seorang pria. Ibaratnya lagi sayang-sayangnya terus dilemparin ke dasar jurang. Untung itu laki udah pindah, kalo kaga udah tak uleg itu bocah!". Ucap Dira yang langsung disetujui oleh orang-orang sekelilingnya kecuali Ara dan Dev yang justru melamun memikirkan putri semata wayangnya itu.


"Biarkan saja dulu dia..jangan kita tanyakan apapun. Dia harus fokus pada ujiannya juga..sebentar lagi ujian". Kini Dev ikut angkat bicara setelah sejak tadi hanya menjadi pendengar saja.


"Buna..boleh Alma temenin Kirei dikamarnya??". Tanya Alma hati-hati.


Ara dan Dev tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Tentu boleh sayang..Kirei pasti sekarang sedang membutuhkan kamu". Senyum Alma mengembang sempurna. Ia beranjak meninggalkan ruang keluarga dan menaiki tangga menuju kamar Kirei.


"Abang juga temenin Kirei ya bun?". Ucap Arka semangat. Baru saja ia hendak bangkit, kerah bajunya sudah lebih dulu ditarik oleh Dirga.


"Kaga usah cari kesempatan lo bang. Yang ada Kirei makin snewen kalo ada lo deket dia". Sinis Dirga yang langsung membuat Arka melotot.


"Seenaknya aja tu mulut ngomong". Sungut Arka.


"Ngga usah ganggu adek kamu deh bang. Mami sentil lama-lama ginjal kamu". Ucapan Putri membuat semua orang tergelak, kecuali Arka yang memasang wajah masam.


"Mau pedekate juga liat-liat sikon lah bang, kaga asal main trabas aja lo". Ejek Dirga disertai senyum yang menyebalkan dimata Arka.


*****


Sudah seminggu sejak kejadian Kirei pingsan, gadis itu sudah kembali ceria seperti biasa didepan orang tuanya, namun seringkali Ara melihatnya melamun. Dan yang pasti sikapnya kini semakin dingin kepada orang luar, Kirei benar-benar tidak mengijinkan orang asing masuk kedalam kehidupannya.


"Makan yuk Ki..laper". Alma menepuk perutnya didepan Kirei.


"Duluan deh. Gue mau ke toilet dulu aja". Alma mengangguk dan hendak meninggalkan Kirei, namun kemudian berbalik lagi.


"Mau dipesenin sekalian nggak??". Tanya Alma


"Soto sama es jeruk ya". Jawab Kirei antusias. Alma memberikan jempol untuk Kirei sebagai jawaban. Lantas meninggalkan Kirei seorang diri didalam kelas.


Saat Kirei berjalan menuju toilet, tanpa sengaja ia menabrak seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu lantai. Sepertinya petugas kebersihan sekolah.


"Maaf bu..saya nggak sengaja. Ibu nggak apa-apa?". Kirei memindai perempuan itu dari ujung kepala hingga kaki untuk memastikan bahwa orang yang ia tabrak baik-baik saja.


"Ah..iya non. Saya baik-baik saja". Jawabnya ramah.


"Kalau begitu, saya permisi dulu non". Si ibu langsung pergi tanpa menunggu Kirei menjawab. Kirei mengendikkan bahunya kemudian meneruskan perjalannya menuju toilet.


"Kalian sudah terlalu bahagia. Bagaimana kalau kebahagiaan kalian aku renggut". Wanita yang baru saja Kirei tabrak berbalik dan menatap penuh kebencian pada punggung Kirei.


Entah apa yang membuatnya begitu membenci Kirei, dan siapakah wanita itu?

__ADS_1


"Tunggulah kehancuranmu, Kinara". Wanita itu tersenyum licik kemudian melanjutkan pekerjaannya menyapu lantai.


__ADS_2