Cinta Kinara

Cinta Kinara
cinta atau obsesi?


__ADS_3

Ara menghempaskan tubuhnya keatas ranjang empuk dikamarnya. Memijit pelipisnya yang terasa berdenyut setelah pertemuannya dengan Nicolas sore tadi.


"Benar-benar manusia gila". Gumam Ara sambil memejamkan matanya, berharap mengurangi pusing yang ia rasakan. Setelah merasa lebih baik, Ara bangkit dan berjalan memasuki kamar mandi. Ia butuh mendinginkan kepalanya dibawah guyuran air dingin.


"Nara..Nara.. Siapa yang pernah panggil gue pake tu nama sih. Kaya kaga asing, tapi siapa?". Ara terus berusaha mengingat siapa orang yang pernah memanggilnya dengan nama Nara. Namun sialnya, ia tidak mengingatnya sedikitpun.


Ara segera menyudahi acara mandinya setelah beberapa waktu diam dibawah guyuran air dingin. Ia meraih handuk dan melilitkannya ditubuh rampingnya yang kini tampak lebih padat, berjalan keluar dari kamar mandi dengan santai hingga sebuah suara membuatnya terlonjak kaget.


"Kamu mau godain abang, hmm??" Ara terkesiap ketika merasakan pelukan hangat ditubuhnya.


"A..abang. Kok udah pulang?" Tanya Ara mencoba melepaskan tangan Dev yang melingkar diperutnya. Ini bukan yang pertama, namun setiap hal yang dilakukan Dev mampu membuat jantungnya bekerja lebih cepat seperti sedang berolahraga.


"Kamu nggak suka abang pulang cepet?" Dev meletakkan dagunya dibahu Ara yang terekspos, mengendus wangi tubuh Ara yang bercampur sabun dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Bukan engga seneng sayang..cuma nggak biasanya abang pulang cepet". Ara membiarkan Dev memeluknya dan mengelus wajah tampan suaminya yang masih bertengger dibahunya.


"Abang abis batre..butuh di charge". Ucap Dev ambigu, kini tangannya sudah mer*m*a d*d* istrinya yang semakin terlihat berisi dari saat pertama ia menyentuhnya.


"Ara pake baju dulu, nanti Ara cariin chargernya". Ucap Ara berusaha menyingkirkan tangan suaminya yang semakin bergerak nakal.


"Abang nggak jadi nge charge dong kalo kamu pake baju". Bisik Dev, lalu tanpa babibu ia langsung mengangkat tubuh langsing istrinya dan merebahkannya diatas ranjang.


"Abang mau isi batre dulu sekarang". Dev mulai melepas kemeja yang ia pakai, menampakkan pemandangan indah yang sering Ara lihat, namun hingga kini masih membuatnya kesulitan menelan ludahnya.


"yaaaaaa...Ara abis mandi abaaaaang". Pekik Ara, ketika Dev sudah mengungkungnya dibawah tubuh kekarnya.


"Nanti kita bisa mandi bareng sayang". Setelahnya Dev langsung membungkam mulut Ara dengan ci*man yang lembut, namun semakin lama ciuman itu semakin menuntut. Dan akhirnya, terjadilah sesuatu yang memang harusnya terjadi. Bahkan Ara mampu melupakan persoalan pelik tentang apa maksud Nicolas memberinya hadiah. Untuk saat ini ia hanya ingin menikmati surga dunianya bersama sang suami, ia akan membahas tentang Nicolas nanti.


Dev menjatuhkan tubuhnya disebelah tubuh istrinya setelah mencapai puncak nirwana, menatap sang istri yang juga terlihat terengah-engah setelah pertempuran keduanya.


"Makasih sayang". Dev memeluk Ara dari samping dan menghujani wajah Ara dengan ciuman bertubi-tubi membuat Ara merasa geli. Dev melirik jam yang berasa diatas nakas samping kasurnya, kemudian ia bangkit dan langsung menggendong tubuh Ara yang langsung memekik ketika merasakan tubuhnya melayang.


"Abaaaaang..!" Pekik Ara membuat Dev terkekeh.


"Kamu mau abang nge charge lagi?" Tanya Dev menggoda membuat Ara mendelik kesal.


"Ya kalo nggak mau sekarang kita mandi, kalo kamu nggak pake baju gini, bisa-bisa abang on lagi". Kekeh Dev membuat Ara memukul pelan dada sang suami.


"dasar mesum". Gumam Ara membuat Dev tergelak. Keduanya membersihkan diri bersama, setelahnya keduanya menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim.


"Berasa pengantin baru terus ya". Goda Dira ketika melihat Ara dan Dev berjalan beriringan menuruni satu persatu anak tangga.


"Sirik aja lo". Dengus Dev membuat Dira mencebik. Mama dan papa hanya menggeleng melihat perdebatan kedua anaknya.

__ADS_1


****


Pagi ini, Ara kembali mendapatkan hadiah sebucket bunga mawar. Ara menggenggam erat bunga yang ada ditangannya. Merasa sangat muak dengan ulah Nicolas yang tidak tahu malu. Ara menatap tajam pria muda yang berdiri didepannya.


"Katakan pada tuanmu, berhenti menganggu hidupku yang sudah bahagia ini. Dan..bawa kembali bunga ini! Aku bukan suzanna yang akan memakan bunga mawar merah dari tuan gilamu itu!!" Hardik Ara sambil melempar bucket bunga kepada Raffi yang masih berdiri mematung.


"Tapi nona, tuan berpesan agar saya memberikannya langsung pada anda". Ucap Raffi tak mau kalah. Keributan antara Ara dan Raffi menjadi tontonan beberapa mahasiswa yang ada mata kuliah pagi.


"Kenapa tuanmu mengangguku. Bahkan saya sama sekali tidak mengenalnya!" Geram Ara. Dari dalam mobilnya, Nic tengah tersenyum menatap wanita yang tengah beradu argumen dengan asistennya itu. Ia lantas membuka pintu dan berjalan penuh wibawa mendekati Ara yang belum menyadari keberadaannya.


"Tu..tuan". Raffi membungkukkan badannya sedikit ketika melihat Nic berjalan kearahnya, ah tidak..lebih tepatnya berjalan mendekati wanita pujaannya.


Ara membalikkan badannya, menatap nyalang lelaki yang menguji kesabarannya. Namun Nic hanya menampakkan senyuman yang membuat beberapa gadis yang melihatnya memekik tertahan melihat wajah rupawan Nic.


"Kenapa kamu tidak menerima pemberianku? Itu bukti cintaku untukmu, Nara". Ucap Nic tenang.


Ara menggeram, tangannya terkepal kuat dan rahangnya mengeras mendengar semua kata yang meluncur mulus dari mulut Nic.


"Apa anda benar-benar sudah kehilangan akal tuan Abraham?! Atau mungkin anda memang tidak waras?!". Ucap Ara tajam, namun Nic justru terkekeh membuat amarah Ara semakin memuncak.


"Aku hanya ingin memberikan hadiah kecil untukmu".


Ara mendecih, melirik sinis Nic yang berdiri tenang dihadapannya


"ya, aku memang hilang akal karena terlalu mencintaimu Nara". Nic masih terus berkata tanpa beban, bahkan terlihat sangat tenang.


Ara menyunggingkan senyum sinis menatap jengah pada lelaki yang sejak pertama bertemu sudah membuatnya tak nyaman. Ara tak menyangka jika ia akan berurusan dengan manusia setengah kopling seperti Nic yang membuatnya hilang kesabaran.


"Peringatkan tuanmu yang sudah tidak waras ini tuan Raffi. Sebelum saya yang membunuhnya dengan tangan saya sendiri!". Terlalu muak berbicara dengan Nic, akhirnya Ara memperingatkannya lewat sang asisten.


plakkk


Ara melayangkan tamparannya ketika tangan Nic dengan sengaja mencekal tangan Ara. Ara menatap Nic tajam, sambil mengacungkan telunjuknya didepan wajah Nic.


"Jaga tingkah laku anda sebelum saya benar-benar mematahkan tangan dan kaki anda!!" Ara berlalu meninggalkan Nic yang meraba pipinya dengan senyum bahagia. Sang asisten benar-benar dibuat heran dengan tingkah tuannya. Selama ini, jangankan ada yang berani untuk menampar Nic, orang yang berani menatap matanya saja akan dihancurkan oleh Nic. Lalu apa yang baru saja ia lihat. Dunia benar-benar gila, batin Raffi.


"Tu..tuan. Anda baik-baik saja?" Tanya Raffi ragu. Nic hanya menggumam dan mengisyaratkan pada asistennya untuk meninggalkan kampus tempat Ara belajar.


"Benar-benar gemblung. Sinting tu orang, udah kaga waras, sableng. Kenapa orang gila kaya gitu bisa bebas berkeliaran". Ara terus menggerutu sepanjang ia berjalan, hingga tak sadar jika sang suami sudah berjalan disampingnya dengan alis berkerut dalam.


"Sayang.." Panggil Dev lembut membuat Ara berjingkat karena kaget, Ara lantas mengelus dadanya karena terlalu terkejut dengan keberadaan sang suami.


"Astagfirullah..salam bang. Salam kalo ketemu istri tu". Omel Ara masih mengelus dadanya.

__ADS_1


"Abang sejak kapan disini?" Tanya Ara dengan sebelah alis terangkat.


"Sejak kamu mulai mengomel". Dev menoel hidung mancung Ara sambil terkekeh pelan.


"Siapa yang gemblung? yang tidak waras dan gila Ra? lalu apa lagi tadi sableng? Siapa orangnya?" Tanya Dev memancing, tadi ia sempat diberitahu oleh temannya bahwa sang istri terlibat perdebatan dengan seorang pria. Dev hanya ingin tahu, apakah istrinya akan jujur atau menutupi kejadian beberapa saat lalu.


Ara menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya kasar, sudah waktunya sang suami tahu siapa kolega bisnis ayahnya. Ara tidak ingin terjadi kesalahpahaman dengan sang suami hanya karena makhluk gila semacam Nicolas.


"Tuan Abraham". Hanya itu yang keluar dari mulut Ara, membuat Dev semakin penasaran. Dev membawa Ara ke parkiran, ia lebih memilih membawa istrinya kedalam mobil agar lebih leluasa bercerita.


"Ceritain semua ke abang". Setelah sampai didalam mobil, Dev langsung menodong Ara meminta penjelasan.


"Hemh..yang selama ini ngirim hadiah buat Ara itu dia bang". Ara berhenti sejenak untuk menghela nafas sebelum melanjutkan ceritanya, sementara sang suami, wajahnya sudah terlihat memerah menahan amarahnya.


"Ara nggak tahu apa motif dia ngasih semua hadiah itu. Tapi kemaren dia ngintilin Ara pas pulang dari rumah kak Bian. Terus..terus dia bilang kalo dia cinta sama Ara". Ara memelankan suaranya diakhir cerita, takut jika Dev marah padanya.


Ara melirik kesamping untuk melihat reaksi suaminya, dan benar saja. Wajah putih Dev tampak merah, matanya menyorot penuh amarah, sementara tangannya mencengkeram kuat stir mobilnya.


"b*engs*kk!!!" Dev memukul keras stir mobilnya guna meluapkan kemarahan yang memenuhi rongga dadanya. Ara memejamkan matanya sesaat, selama hampir 6bulan menikahinya, Dev tidak pernah terlihat semarah ini.


"Abang harus kasih pelajaran buat manusia b*engs*k itu". Tangannya kembali mencengkeram erat stir mobil yang tak berdosa itu.


Ara menghembuskan nafas kasar melihat reaksi suaminya, ia tidak bisa menyalahkan sikap Dev. Karena sejujurnya dirinya pun merasakan kemarahan yang sama dengan sang suami. Ingin rasanya Ara menghantam wajah pria tak tahu malu itu dengan kepalan tangannya. Namun ia masih mengingat bahwa pria itu adalah rekan bisnis ayah mertuanya.


Ara memiringkan tubuhnya, mengelus lengan kekar suaminya yang masih memasang tampang garang.


"Ara cuma kasian sama papa bang, kalo ditanya sih Ara juga pengen bikin tu orang sinting semaput". Ucap Ara menggebu mengepalkan tangannya membuat Dev tersenyum tipis, melupakan sejenak kemarahannya pada rekanan bisnis sang ayah.


"Abang nggak bisa diem aja Ra. Dia terlalu lancang" Geram Dev membuat Ara mengangguk.


"Ara tahu, tapi kita juga harus pikirin papa. Seenggaknya kita harus bicara dulu sama papa bang. Ara nggak mau ngecewain papa". Jelas Ara membuat Dev menghembuskan nafasnya kasar kemudian mengangguk pelan.


"Kita pulang aja ya, abang udah males mau kuliah juga". Ucap Dev menbuat Ara melotot, bagaimana bisa suaminya itu kini malas kuliah.


"Yaaa..nggak boleh gitu dong. Masa Ara harus bolos kuliah lagi. Abang sih enak tinggal nunggu sidang". Gerutu Ara dengan bibir mengerucut.


"Sekali-kali gapapa sayang" Seloroh Dev, kemudian menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya membelah jalanan yang terlihat lengang, karena saat ini jam masih menunjukkan pukul 10 pagi.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi Nicolas terus memperhatikan interaksi keduanya sejak sebelum memasuki mobil. Tangannya terkepal melihat Ara berada dekat dengan suaminya.


"Aku akan merebutnya. Dengan cara apapun, dia hanya akan menjadi milikku tuan muda Natakusuma". Gumam Nic dengan mata menajam.


Setelahnya ia meminta sang asisten melajukan mobilnya, ia harus pergi ke kantor untuk meeting dengan para dewan direksi. Terlalu sibuk mengejar Ara, hingga terkadang ia melupakan kewajibannya sebagai seorang pemimpin perusahaan yang menaungi ratusan jiwa yang menggantungkan hidup mereka dengan bekerja dikantor Nic. Untunglah Nic memiliki asisten seperti Raffi yang selalu mengingatkannya tentang tanggung jawabnya.

__ADS_1


Beberapa kali Raffi mencoba mengingatkan sang tuan tentang status Ara, namun justru berakhir dengan dirinya mendapat cacian dari tuan mudanya itu. Entah harus disebut apa rasa yang dimiliki Nic untuk Ara, cinta atau justru hanya sebuah obsesi semata?


__ADS_2