
"Kumpulkan kedepan!". Suara pak Joko membuat beberapa murid yang belum selesai mengerjakan ujian jadi kelabakan.
"Letakkan pulpen kalian sekarang juga! Atau saya tidak akan memberikan nilai pada kalian yang masih terus menulis!". Tegas pak Joko dengan raut wajah serius. Perlahan semua siswa meletakkan alat tulisnya, menatap kertas yang belum semua terisi jawaban. Sudah dipastikan mereka akan kembali mengulang ujian kali ini.
"Daniel, Kirei. Kumpulkan semua lembar jawaban teman kalian". Perintah pak Joko membuat Kirei dengan malas bangkit dari tempatnya duduk.
"Gue mulu yang disuruh. Padahal kan mereka bisa ngumpulin sendiri kedepan". Hati Kirei menggerutu.
"Terimakasih. Kalian bisa keluar sekarang". Ucap pak Joko sebelum meninggalkan kelas.
Terdengar jelas helaan nafas panjang dari seluruh isi kelas. Guru yang satu itu memang terlalu sadis, bahkan sepertinya mereka lupa bernapas jika berada dalam satu ruangan yang sama dengannya.
"Makan yuk". Kirei menoleh kebelakang untuk melihat Alma. Sementara Daniel masih berada disamping Kirei. Alma tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
"Awas dong. Gue mau lewat".
Daniel yang merebahkan kepalanya diatas meja menengadahkan wajahnya untuk melihat Kirei.
"Sorry.." Ucapnya pelan kemudian berdiri dan menggeser tubuhnya.
Namun belum sempat Kirei melewati Daniel, tubuh pemuda itu ambruk mengenai tubuh rampingnya. Sekuat tenaga Kirei menjaga tubuhnya dan Daniel agar tetap berdiri dan tidak ambruk kelantai.
"Yaaaak!! Bangun woy..berat". Pekik Kirei membuat beberapa teman menoleh. Jika dilihat dari jauh, keduanya seperti sedang berpelukan layaknya sepasang kekasih.
"Waaaah..buna kudu liat nih bang". Suara tengil Dirga membuat Kirei menoleh ke pintu. Kedua sepupu laknatnya itu sedang merekam dan mengambil gambarnya bersama Daniel.
"Sontoloyo lo berdua ya!! Bantuin gue jangan liat doang kam_vret!!" Teriak Kirei kesal yang hampir tak mampu menahan tubuh Daniel.
Arka dan Dirga tergelak, kemudian mereka menyimpan ponsel mereka ke saku sebelum berjalan pelan menuju tempat Kirei berdiri.
"Sumpah..Gue kutuk lo berdua jadi buluk baru tau rasa lo!!". Sungut Kirei ketika melihat kedua pemuda itu memperlambat jalannya.
"Cepetan tolongin kak. Kasian Kirei..pasti berat". Suara Alma terdengar panik.
"Kaga apa..dia mah samson versi cewenya Al. Samson juga lewat lah. Iya kaga Ga?". Sahut Arka santai dan semakin membuat Kirei melotot kesal.
"Dasar sepupu kaga punya akhlak emang lo berdua. Gue aduin mami baru tau rasa lo". Kirei semakin kesal kala melihat dua sepupunya belum juga beranjak dari tempatnya berdiri.
"Yaaa..lo siap-siap aja buna liat anak gadis kesayangannya pelukan ama cowo". Ancam Arka menunjukkan foto Kirei yang sedang menahan tubuh Daniel. Dan benar saja, mereka seperti sedang berpelukan jika dilihat dari sudut Arka mengambil foto.
"Bener-bener kaga ada akhlaknya lo bang. Buruan bantuin!! Berat ini gue nahannya!". Suara Kirei meninggi dengan tubuh semakin miring karena menahan tubuh Daniel yang kekar.
Dirga segera mengambil alih tubuh Daniel yang ditahan oleh Kirei, kemudian dibantu Arka..tubuh tak sadarkan diri Daniel dibawa keruang UKS.
Kirei yang hendak meninggalkan ruang UKS karena Daniel sudah ditangani oleh dokter jaga disana ditahan oleh dokter. Alasannya karena Kirei adalah teman sekelas Daniel.
"Kondisinya cukup mengkhawatirkan , kita harus merujuknya kerumah sakit untuk mendapat perawatan lebih lanjut". Penjelasan dokter diruang UKS membuat Kirei bingung.
"Kamu harus mendampinginya. Dia temanmu kan? Nanti kami akan menghubungi orang tuanya untuk menyusul kerumah sakit". Lanjut dokter membuat Kirei mematung.
Bagaimana ini..Kirei bahkan tidak dekat dengan Daniel. Namanya saja Kirei sering lupa.
"Bisakah yang lain yang menemaninya dok?". Tanya Kirei ragu.
"Kita harus pergi sekarang. Kondisinya semakin menurun". Penjelasan dokter membuat Kirei bungkam. Mau tidak mau, suka tidak suka, Kirei harus ikut mendampingi Daniel.
Selama perjalanan menuju rumah sakit Kirei hanya bungkam. Melihat wajah pucat Daniel yang sialnya masih terlihat tampan. Kirei segera menggeleng, mengenyahkan pikirannya ketika melihat wajah Daniel.
Sampai dirumah sakit, tubuh Daniel segera dipindahkan kedalam ruang pemeriksaan. Setelah menyelesaikan administrasi, Kirei masih setia menunggu didepan ruang IGD.
Tak berselang lama, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusianya yang sudah tak lagi muda terlihat berlari kearah Kirei duduk. Dibelakangnya, seorang lelaki yang Kirei prediksi seusia sang ayah atau mungkin lebih tua mengikutinya dengan langkah lebar. Wajah keduanya terlihat begitu khawatir.
Kirei bangkit ketika pasangan paruh baya itu mendekat padanya. Ia menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormatnya pada orang yang lebih tua.
"Kamu temannya Daniel nak? Bagaimana kondisinya?". Pertanyaan beruntun Kirei dapatkan dari perempuan yang ternyata ibu Daniel.
"Maaf tante, dokter belum selesai memeriksa kondisi Daniel. Saya belum tahu kondisinya sekarang". Jawab Kirei sopan.
Tak lama pintu terbuka, menampakkan wajah yang tak asing bagi Kirei. Keduanya nampak terkejut melihat satu sama lain.
__ADS_1
"Papi?!".
"Kirei?".
Kirei dan Bian sama-sama memekik pelan melihat satu sama lain.
"Kenapa kamu disini hm?? Kamu sakit? Dimana ayah dan buna mu? Kenapa kamu sendiri? Apa yang sakit?". Tanya Bian beruntun.
Kirei mengibaskan tangannya sambil menggeleng. Dasar, tidak maminya tidak papinya..jika sudah bertanya suka kebablasan. Lupa rem.
"Bukan..bukan aku yang sakit pi. Aku hanya menemani teman sekelasku yang ada didalam". Jawab Kirei cepat sebelum papi tersayangnya semakin lupa caranya mengerem pertanyaannya.
"Syukurlah kalau bukan kamu yang sakit". Bian menghela nafas lega mendengar jawaban gadis cantik itu.
"Papi yang periksa temen aku? Gimana kondisinya?". Tanya Kirei balik.
"Apa pasien bernama Daniel itu temanmu?". Pertanyaan Bian dijawab anggukan kepala oleh Kirei.
"Papi tidak menanganinya, tapi mungkin sebentar lagi dokternya akan keluar yang menanganinya". Jelas Bian membuat Kirei mengangguk.
Sementara kedua orang tua Daniel hanya menyimak pembicaraan kedua orang itu. Sejak tadi ayah Daniel terus memperhatikan wajah Bian yang tidak terlalu terlihat.
Namun saat keduanya saling menatap, keduanya sama-sama terkejut.
"Bian?!".
"Andre?!"
Pekik keduanya membuat Kirei menatap keduanya bergantian dengan alis berkerut dalam.
"Kau bekerja disini?". Kedua pria itu tampak saling berpelukan. Seolah keduanya sudah lama tidak bertemu.
"Apakah dia putrimu?". Tanya mama Daniel.
Bian melepas pelukannya pada pria bernama Andre yang ternyata ayah dari teman sekelasnya.
"Dia?". Bian melirik Kirei sebentar kemudian tersenyum.
"Cantik sekali.." Puji ibu Daniel tulus.
"Sangat..sangat sangat cantik. Tapi juga sangat nakal". Bian mencubit hidung mancung Kirei yang langsung melotot kesal.
"Bagaimana kabarmu Risa?". Tanya Bian pada perempuan yang berstatus ibunya Daniel.
"Aku baik-baik saja. Hanya putraku yang sepertinya tidak baik-baik saja". Suara ibunda Daniel melemah.
"Dia akan baik-baik saja. Percayalah". Bian mencoba menenangkan pasangan suami istri yang terlihat sangat khawatir pada keadaan putranya.
Tak berselang lama, seorang dokter yang masih terlihat muda keluar dari pintu yang sama dengan Bian.
"Keluarga pasien Daniel?". Tanya dokter yang baru saja keluar.
"Saya mamanya. Bagaimana keadaan putra saya dok?". Tanya ibu Daniel khawatir.
"Pasien dehidrasi nyonya, sepertinya dia juga sedikit stress. Untuk beberapa hari kedepan, pasien akan dirawat disini sampai kondisinya pulih". Jelas dokter membuat ibu dari Daniel terisak.
"Lakukan yang terbaik untuk putra kami". Pinta Andre memohon.
"Sudah tugas kami tuan. Kami permisi, kami akan memindahkan pasien ke kamar rawat". Jelas dokter.
"Dimana ruang administrasinya dok? Saya akan menyelesaikan urusan administrasi dulu". Suara papa Andre membuat dokter kembali berbalik.
"Sudah diurus semua tuan. Pasien hanya tinggal dipindahkan saja". Jelas dokter membuat orang tua Daniel bingung.
"Maaf om, tante kalau saya lancang. Tadi saya yang mengurusnya, karena Daniel tidak bisa ditangani jika belum menyelesaikan administrasinya, sebenarnya saya bersama dokter dari sekolah. Tapi karena tadi dokter dari sekolah ikut masuk, jadi saya yang mengurusnya dulu. Maaf kalau lancang". Kirei menundukkan kepalanya meminta maaf.
"Ah..terimakasih nak. Maaf merepotkanmu. Siapa namamu gadis manis?". Mama Risa memeluk Kirei kemudian bertanya.
"Kirei..nama saya Kirei tante". Jawab Kirei sopan.
__ADS_1
"Apakah dia pacarmu?". Goda Bian membuat Kirei mencubit perut papinya.
"Papi gausah ngadi-ngadi kalo ngomong". Kesal Kirei membuat Bian tergelak.
****
"Kalau begitu Kirei pamit dulu tante". Setelah ikut mengantarkan Daniel kekamar rawatnya Kirei berniat pulang. Karena jam sudah menunjukkan pukul 2 siang.
"Kamu tidak akan menunggu Dan bangun dulu Ki?". Tanya Risa, mama Daniel.
"Tidak tante. Mungkin besok saya akan menjenguk Daniel bersama teman-teman yang lain". Tolak Kirei halus.
Baru saja Kirei akan bangkit, suara lemah dari atas ranjang membuatnya mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Kamu sudah bangun Dan?? Syukurlah..kamu membuat mama dan papa khawatir". Mama Risa memeluk tubuh Daniel.
"Papa baru saja pergi, dia tidak bisa menungguimu sampai sadar". Mama Risa menjelaskan sebelum Daniel bertanya apapun.
"Bukankah itu sudah biasa. Mama juga akan segera menyusulnya bukan? Pergilah, Dan tidak apa-apa sendiri". Kirei dapat melihat tatapan kecewa dari sorot mata berwarna hazel milik Daniel.
"Bukan begitu sayang..mama dan papa sibuk juga untukmu dan kakakmu". Mam Risa menggenggam tangan putranya.
"Ya aku paham. Pergilah ma. Aku baik-baik saja". Daniel tidak menyadari bahwa diruangan itu masih ada Kirei yang kini merasa tidak enak mendengar perdebatan kecil antara ibu dan anak itu.
"Sial banget gue hari ini". Batin Kirei menjerit.
Lama keduanya terdiam, hingga Kirei memberanikan diri bersuara.
"Ehm..maaf tante. Kirei pamit dulu ya.." Pamit Kirei sepelan mungkin. Takut menyinggung pasangan ibu dan anak itu.
Daniel segera menoleh mendengar suara yang cukup familiar untuknya.
"Kirei". Gumam Daniel tak percaya bahwa gadis itu ada disana.
"Ah..maaf sayang. Tante sampai melupakanmu". Ucap mama Risa merasa tak enak.
"Apakah tante boleh minta tolong nak?". Tanya Risa dengan wajah memohon.
"Selama Kirei bisa, silahkan tante".
"Bisakah tante titi Daniel sebentar? Kakaknya akan kesini, tapi mungkin malam baru sampai. Bisakah.."
"Mam..!". Daniel segera memotong ucapan ibunya, selalu seperti ini. Bahkan saat dirinya sakitpun, kedua orang tuanya lebih memilih pekerjaannya.
"Dan bisa sendiri. Kalau mama mau pergi, pergilah". Ketus Daniel membuang pandangannya setelah beberapa saat bertemu dengan mata Kirei.
Mama Risa kembali menatap Kirei dengan penuh harap. Kirei menghela nafas panjang sebelum mengambil keputusannya.
"Kirei akan temani Daniel disini. Tante bisa pergi..Kirei akan jaga Daniel sampai anak tante sampai disini".
"Ah..terimakasih sayang. Maaf tante merepotkanmu". Mama Risa memeluk Kirei sebentar sebelum menghampiri Daniel yang masih memunggunginya.
"Mama pergi dulu sayang. Mama janji tidak akan lama". Mama Risa mengecup kening putranya kemudian segera berlari keluar.
"Emang kerjaannya penting banget ya. Ampe anak lagi sakit juga ditinggal". Batin Kirei merasa prihatin dengan nasib Daniel.
"Lo bisa pulang. Gausah pikirin gue..gue udah biasa". Suara Daniel membawa Kirei tersadar. Namun ada yang berbeda, suara yang biasanya ramah itu terdengar dingin dan membekukan.
"Hm..setelah kakak lo dateng". Jawab Kirei tenang kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Gue nggak butuh dikasihanin". Suara Daniel semakin terdengar dingin ditelinga Kirei.
"Gue juga nggak ngerasa kasian ama lo". Sahut Kirei tak kalah dingin. Kirei lebih memilih memainkan game diponselnya daripada melihat Daniel yang sedang menatapnya.
"Terus kenapa lo masih disini. Pulang sana!". Sengit Daniel membuat Kirei mengangkat kepalanya. Kenapa sebenarnya dengan lelaki ini. Salah apa Kirei sampai harus mendapat perlakuan tidak mengenakkan ini.
"Gue bakal pulang kalo kakak lo udah ada disini. Lo suka atau engga, gue nggak peduli. Anggep gue nggak ada! Ngerti?!". Kirei menatap langsung mata Daniel yang langsung mengerjap beberapa kali melihat Kirei menatapnya tajam.
Daniel menghela nafas dan mengeluarkannya beberapa kali untuk meredam amarahnya yang terbakar akibat kekecewaannya pada kedua orang tuanya yang selalu mementingkan pekerjaan dibandingkan dirinya dan sang kakak.
__ADS_1
"Sorry". Lirih Daniel, namun Kirei memilih mengabaikannya dan tetap fokus pada ponselnya.