Cinta Kinara

Cinta Kinara
Nicolas Abraham


__ADS_3

Sejak makan malam beberapa bulan lalu itu, Ara semakin sering menerima hadiah-hadiah yang membuatnya benar-benar muak. Bahkan dikampus pun tetap saja ada yang mengiriminya hadiah, entah itu makanan atau barang-barang yang lain yang hanya akan berakhir ditangan teman-teman kampusnya.


"Beneran ini Ra, lo kasihin tas sebagus ini buat gue? Nggak salah ini?". Tanya Rani, teman Ara yang hari ini beruntung mendapatkan hadiah yang seharusnya untuk Ara.


"Ambil aja, besok lagi kalo ada yang nitip-nitip gitu, apapun barangnya buat lu aja. Atau kalo lu nya kaga mau kasih ke orang aja". Jelas Ara membuat senyum diwajah Rani tersungging sempurna.


"Thanks ya Ra". Rani berlalu dari hadapan Ara yang tengah menghela nafas kasar. Sudah cukup, dirinya harus mencari tahu siapa pengirim barang berinisial N.A yang terus mengirim hadiah untuknya.


Hari ini, Ara dan kedua sahabatnya sepakat akan mengunjungi Putri. Kehamilan kakak iparnya itu sudah memasuki trimester ketiga, mungkin hanya tinggal menunggu beberapa minggu keponakannya akan lahir.


"Assalamualaikum.." Ara mengucap salam sambil mengetuk pintu rumah kakaknya.


"Wa'alaikumsalam". Putri membukakan pintu dengan senyum merekah.


"Akhirnya kalian dateng juga, bosen banget gue dirumah cuma sama si mbak". Keluh Putri sambil berjalan masuk diikuti ketiga sahabatnya.


"Hai calon ponakan aunty, lagi apa kamu didalem". Ucap Ara sambil mengelus perut buncit Putri, Ara merasakan gerakan dalam perut kakak iparnya membuat ia semakin antusias mengelus perut buncit Putri.


"Tau kayanya dia, kalo aunty nya yang paling cerewet lagi jengukin". Kekeh Putri membuat yang lain tertawa.


"Udah usia berapa bulan Put?" Tanya Salsa antusias.


"8bulan, jalan 9". Cengir Putri ikut mengelus perut buncitnya.


"Waaah..tinggal nunggu siang malem aja dong ya". Dira ikut menimpali ucapan para sahabatnya.


Kini Putri beralih menatap adik iparnya yang masih sibuk mengelus perutnya, bahkan Ara merebahkan kepalanya dipaha Putri dan menempelkan telinganya diperut Putri.


"Lo masih dapet hadiah dari orang misterius itu Ra?" Tanya Putri membuat Ara menghentikan aktivitasnya mengelus perut Putri dan mengakkan badannya, duduk disebelah kakak iparnya sambil mengangguk lesu.


"Cape gue sebenernya, kalo ketemu siapa yang ngirim itu hadiah, udah pasti gue uleg!" Geram Ara sambil tangannya seperti sedang mengulek sesuatu.


"Lo kata bumbu rujak". Dengus Dira membuat Putri dan Salsa terkikik.


"Eh..tapi lo ngerasa aneh engga sih Ra ama rekan bisnis papa yang masih muda itu. Pas makan malam waktu itu, gue perhatiin dia kaya liatin lo terus tau". Ucap Dira mengingat kejadian makan malam beberapa bulan lalu.


"Terus juga nih, kan nggak masuk akal banget beberapa kali kita belanja kita jalan-jalan terus makan juga tiba-tiba ketemu ama tu orang. Kaya dia sengaja ngikutin kita enggak sih?". Dira mengungkapkan kecurigaannya pada Nicolas.


"Gue juga sempet mikir kaya gitu Dir, tiap liat dia tu rasanya pengen gue congkel itu matanya!" Ara menggeram mengingat tatapan Nicolas terhadapnya.


"Wooii..santai lo. Main congkel-congkel aja, anak orang tu". Kekeh Putri membuat Ara mendengus.


"Kaga usah bahas tu orang deh. Kesel sendiri gue tiap inget tampang tu orang". Ara berkata dan kembali merebahkan tubuhnya dengan berbantalkan paha Putri. Ia melanjutkan kegiatannya mengelus perut Putri dan menempelkan telinganya pada perut buncit itu.


"Sehat-sehat ya ponakan aunty. Aunty udah nggak sabar pengen gendong kamu". Bisik Ara didepan perut Putri. Putri tersenyum bahagia melihat bagaimana Ara antusias menantikan keponakan pertamanya itu.


Puas melepas rindu dengan sahabat yang sekaligus kakak iparnya itu, Ara pulang bersama dengan Dira menggunakan mobil yang diberikan Dev untuk Ara. Beberapa kali Ara melirik spionnya, matanya memicing ketika melihat sebuah mobil sedan mewah yang terus mengikutinya sejak keluar dari perumahan kakaknya itu.

__ADS_1


"Kenapa Ra?" Tanya Dira mulai curiga melihat gelagat Ara.


"Kaga ada apa-apa". Kilah Ara, ia tak ingin membuat Dira panik.


Dira mengangguk berpura-pura percaya, namun ia juga menyadari mobil yang sedari tadi terus mengikutinya. Beberapa kali Dira melirik spion untuk memastikan apakah mobil itu masih mengikuti mereka. Namun melihat Ara yang tenang, Dira mencoba untuk mengacuhkannya.


Ara semakin menyipitkan matanya, mengingat mobil mewah yang sedari tadi mengikuti dirinya. Mobil itu, Ara sudah beberapa kali melihatnya, seperti mobil Nicolas. Batin Ara


Kesal karena terus diikuti, Ara membanting stirnya ke kiri, menepikan mobilnya dan mengerem mendadak membuat Dira hampir mencium dashboard. Ara melirik kaca spionnya, dan ternyata mobil yang mengikutinya ikut menghentikan kendaraannya.


"Astagfirullah..lo kalo mau mati jangan ajak-ajak gue Ra. Gue belom kawin, lo mah enak!". Semprot Dira membuat Ara terkekeh.


"Nikah! Kawin mulu pikiran lu!" Ara balik menyemprot adik iparnya.


Dira mendengus mendengar ucapan kakak ipar tak berakhlaknya itu. Namun setelahnya ia melirik spion, matanya melotot tak percaya ketika melihat mobil yang mengikuti mereka ikut berhenti.


Ara menyunggingkan senyum sinis, mau apa sebenarnya orang-orang itu mengikutinya.


"Apapun yang terjadi, lu kaga boleh turun. Ngerti". Peringat Ara yang membuat Dira langsung menahan tangan Ara yang hendak membuka pintu mobil.


"Jangan Ra. Kita balik aja". Dira menggeleng kuat membuat Ara terkekeh melihat ketakutan adiknya.


"Tenang aja sih. Gue cuma pengen tau kenapa mereka ngintilin kita". Ara melepas pelan cengkeraman tangan Dira, kemudian membuka pintu dan keluar. Ara membuka kap mobil, seakan-akan mobilnya sedang mengalami masalah.


Orang yang berada didalam.mobil yang sejak tadi mengikutinya terus mengawasi Ara yang tampak sibuk memperhatikan mesin mobilnya.


"Apakah saya perlu turun membantu tuan?". Tanya Raffi, asisten Nicolas. Ternyata mereka berdualah yang sejak tadi mengikuti mobil Ara, entah apa tujuannya.


"Biar aku saja yang turun membantunya". Ucap Nicolas dengan sebuah senyuman dibibirnya.


"Anda benar-benar sudah gila karena wanita itu tuan. Bahkan anda lupa jika wanita itu sudah memiliki suami". Gumam Raffi setelah Nic keluar dari mobil. Raffi menggelengkan kepalanya, heran dengan kelakuan tuan mudanya itu, kenapa harus mengejar perempuan yang sudah bersuami, jika banyak gadis yang rela mengantre untuk dijadikan teman hidupnya.


"Nona Kinara??" Sapa Nic membuat Ara menoleh.


"Ada apa dengan mobil anda nona??" Tanya Nic berbasa-basi.


Sementara didalam mobil, Dira melotot tak percaya melihat Nicolas keluar dari mobil yang sejak tadi mengikuti mereka.


"Tidak. Tidak terjadi apapun pada mobil saya. Saya hanya ingin melihat siapa yang sejak tadi mengikuti mobil saya. Dan ternyata anda orang yang mengikuti saya sejak tadi". Jawab Ara to the point membuat Nic terkesiap. Ternyata gadis pujaannya itu bukan hanya cantik, namun begitu cerdik.


"Apa yang anda inginkan tuan muda Abraham??" Tanya Ara penuh penekanan disetiap ucapannya, tangannya dengan tenang menutup kembali kap mobil yang tadi sengaja ia buka untuk memancing penguntit itu keluar.


Nic menyunggingkan senyum, semakin kagum dan menggilai Ara yang terlihat begitu tenang berhadapan dengannya. Bahkan tidak ada sorot ketakutan dari dalam mata indahnya.


"Anda gadis yang menarik nona. Ternyata bukan hanya cantik, anda juga sangat cerdik". Puji Nic membuat Ara mendecih.


"Langsung saja tuan, tak perlu banyak basa-basi. Apa tujuan anda mengikuti saya?!". Tanya Ara tegas, membuat senyum diwajah Nic semakin jelas terlihat.

__ADS_1


"Saya mengagumi anda nona Kinara, sudah sejak lama saya memperhatikan anda. Dan sekarang saya tidak akan menyembunyikan perasaan saya lagi pada anda". Jelas Nic membuat Ara melotot dengan rahang mengeras menahan amarah.


"Aku harap kamu menyukai hadiah yang selama ini aku berikan". Bahkan Nic sudah tidak menggunakan bahasa formal lagi pada Ara. Rahang Ara semakin mengeras tangannya terkepal kuat siap memberikan bogem sebagai hadiah kala mengetahui bahwa kecurigaannya selama ini pada pria yang berdiri dihadapannya adalah benar.


"Jadi benar dugaan saya selama ini . Bahwa anda lah orang yang mengirim hadiah-hadiah itu untuk saya?". Tanya Ara dengan senyum sinis diwajahnya.


"Dari siapa lagi jika bukan dariku Nara". Mata Ara menajam mendengar Nic memanggilnya Nara.


"Kenapa?? Apa kamu sudah mengingatku?". Tanya Nic dengan senyum yang tak pernah pudar.


"Saya rasa tidak penting mengingat orang seperti anda tuan. Dan saya ingatkan pada anda, jaga batasan anda sebelum saya kehabisan kesabaran!" Peringat Ara kemudian berjalan melewati Nicolas dan hendak memasuki mobilnya.


"Aku mencintaimu Nara, selamanya akan seperti itu. Dulu dan masa yang akan datang semua tidak akan berubah". Ucap Nic sedikit berteriak


"Jangan membuang waktu berharga anda hanya untuk menganggu ketenangan dan kebahagiaan saya tuan. Ini peringatan pertama dan terakhir dari daya. Camkan itu!"


"Aku tidak akan pernah mundur Nara, karena kebahagiaanmu ada pada diriku". Ucap Nic oenuh percaya diri.


"Wong gemblung!" Sengit Ara kemudian membuka pintu dan masuk kedalam mobilnya. Setelahnya ia melajukan kembali mobilnya meninggalkan Nic yang masih berdiri mematung melihat mobil yang dikendarai Ara semakin menjauh.


"Anda baik-baik saja tuan??" Tanya Raffi yang sudah berdiri disebelah tuannya.


"Kita pulang sekarang" Nic berjalan didepan Raffi yang setia mengikutinya dibelakang tuannya itu.


"Lo kenapa Ra. Mukanya kusut amat?". Tanya Dira melihat wajah Ara yang seperti menahan amarah.


"Tu orang sinting ternyata. Untung kaga gue kasih bogem!". Kesal Ara membuat Dira mengernyit heran.


Ara menoleh,manatap dalam mata adik iparnya yang terlihat penasaran "Orang yang selama ini ngirimin hadiah buat gue ternyata tu manusia sinting!". Sungut Ara membuat Dira semakin bingung dengan orang yang dibicarakan Ara.


"Siapa sih?? Bingung gue". Tanya Dira membuat Ara mendengus kesal.


"N.A, lo inget kan tiap hadiah yang dikirim selalu ada inisial N.A?" Tanya Ara membuat mata Dira membola, ia menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Jangan bilang kalo N.A itu...??" Ara mengangguk membuat Dira membekap mulutnya tak percaya.


"Ya..N.A itu singakatan Nicolas Abraham". Jelas Ara semakin membuat Dira melotot.


"Pengen gue tempeleng tu orang tadi". Kesal Ara, namun tak mendapat tanggapan dari Dira. Karena ternyata Dira masih asyik dengan lamunannya.


"Lu dengerin gue kaga sih Dir". Ara semakin kesal karena Dira masih diam.


"Gu..gue masih syok Ra. Gila tu orang, kan dia tau lo udah punya laki" Ucap Dira masih tak percaya.


Ara mengendikkan bahunya, tak tahu apa motif Nicolas melakukan ini semua.


"Kata gue juga, tu orang sinting!". Dengus Ara kemudian kembali fokus pada jalanan yang mereka lewati.

__ADS_1


__ADS_2