Cinta Kinara

Cinta Kinara
Gadis pemberani


__ADS_3

"Dan..lo baik-baik aja?". Dania, kakak perempuan Daniel, dan satu-satunya orang yang menurut Daniel benar-benar mempedulikan dirinya.


"Sstt.." Daniel meletakkan telunjuknya dibibir, meminta kakaknya untuk tidak berisik. Matanya melirik sofa panjang yang ada didalam kamar rawatnya itu.


"Gue baik-baik aja kak". Sambungnya setelah kakaknya mendaratkan tubuhnya dikursi samping ranjangnya.


Mata Dania melirik sofa, disana seorang gadis cantik yang masih memakai seragam lengkapnya tengah terlelap.


"Siapa?". Tanya Dania berbisik.


"Pacar lo ya?". Mata Dania memicing, menatap curiga adik semata wayangnya.


"Temen". Jawabnya pendek.


"Udah bisa move on lo?". Ledek Dania membuat Daniel mencebik.


"Berisik". Daniel memejamkan matanya, badannya masih terasa lemas, kepalanya sedikit berdenyut.


"Euhh.." Kirei menggeliat, meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku karena tidur di sofa. Matanya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam kornea matanya.


"eh.." Kirei yang kesadarannya masih entah terbang kemana merasa kaget melihat seorang gadis yang duduk disamping ranjang Daniel.


"Ma..maaf". Ucap Kirei merasa diperhatikan oleh dua orang itu.


"Ini kakak gue". Suara Daniel menyadarkan Kirei dari keterkejutan.


"Eh..oh, iya". Jawab Kirei bingung.


"Hai..aku Dania. Kakak Daniel". Dania mengulurkan tangannya pada Kirei.


Kirei sempat mematung sesaat sebelum menerima uluran tangan Dania.


"Kirei". Jawab Kirei kikuk.


"Lo cantik banget..kok mau temenan sama semprul satu ini?". Sindir Dania melirik adiknya yang melengos kesal.


"Eh?". Wajah cantik Kirei tampak linglung mendengar Dania berbicara.


"Oh itu..saya temen sekelas Dan, kak". Jawab Kirei setelah beberapa saat.


"Gausah terlalu formal ama gue. Sans aja". Dania menepuk pundak Kirei.


"Berhubung kakak udah dateng, sa..eh, aku pulang dulu ya". Kirei bangkit tanpa berniat sedikitpun berpamitan pada Daniel. Gadis itu merutuki kecerobohannya yang bisa tertidur disana.


tok..tok..tok


Suara pintu diketuk membuat Kirei menghentikan langkahnya. Tak berselang lama, muncul Bian yang terlihat tersenyum penuh arti menatap Kirei yang langsung melengos.


"Silahkan masuk dok.." Dania menyambut ramah kedatangan Bian yang masih mengenakan jas dokternya.


"Bagaimana keadaanmu Dan? Sudah lebih baik?". Tanya Bian basa basi. Kirei sudah memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan Bian yang terkesan basa basi.


"Sudah lebih baik om. Terimakasih". Jawab Daniel sopan.


"Kenalin, ini kak Dania om. Kakak aku". Daniel mengenalkan Dania yang tampak bingung melihat keakraban Daniel dan Bian.


"Dania". Dania menyalami tangan Bian yanh tersenyum kemudian menepuk pelan kepalanya.


"Panggil saja om Bian..saya teman papa kamu saat kuliah". Jelas Bian ketika melihat raut kebingungan diwajah Dania.


"Ah..iya dok, eh om". Jawab Dania terbata.


"Saya mau menjemput Kirei. Bunda nya sudah ribut menanyakannya sejak tadi". Bian melirik Kirei yang berjalan mendekatinya.


"Kamu lelah?". Tanya Bian mengelus kepala Kirei dengan lembut.


Kirei menggelengkan kepalanya dan berkata "Cuma ngantuk".


"Kita pulang sekarang ya pi, Ki masih harus menghadapi paduka raja dan ratu dirumah". Kirei berlalu meninggalkan ruangan itu setelah tersenyum pada Dania tanpa menunggu Bian.


"Dia keponakan saya, tapi lebih seperti putri kandung untuk saya". Penjelasan Bian hanya disambut dua bersaudara itu dengan anggukan kepala. Bian segera mengejar Kirei yang sudah lebih dulu keluar.


"Anak papi marah-marah mulu ih". Bian merangkul pundak Kirei yang berjalan cepat.


"Ngantuk pi..ngantuk. Papi banyak basa basinya. Keburu Kirei ketiduran". Kesal Kirei membuat Bian terkekeh.


"Kirei cantik ya Dan?". Pancing Dania membuat Daniel menoleh.


"Galak". Sahut Daniel cepat membuat Dania terkekeh.


"Ya gapapa lah. Galak aja tetep cantik. Iya kan?". Goda Nia


"Hm". Daniel hanya berdehem menjawab godaan kakak perempuannya.


"Cantik kan Dan?".Tanya Nia memaksa.

__ADS_1


"Iya cantik..cantik banget". Kesal Daniel membuat Nia tergelak.


"Lo naksir ya ama si Kirei?". Tanya Nia lagi membuat Daniel semakin kesal.


"Berisik banget sih lo kak". Sengit Daniel, namun sang kakak hanya mengendikkan bahunya acuh.


"Keliatan tau kalo lo naksir dia". Dania semakin gencar menggoda adik lelakinya.


"Balik sono lo. Ganggu aja, gue mau istirahat". Daniel memejamkan matanya membelakangi Dania yang tersenyum penuh arti. Malam itu, Dania menginap dirumah sakit menemani adik lelakinya.


####


"Keadaan Daniel gimana Ki?". Tanya Alma ketika keduanya tengah bersiap ke sekolah.


"Kaga tau". Jawab Kirei cuek.


"Kok gatau sih..kan kemaren kamu nungguin dia".


"Gue bukan emaknya Al. Gue ngga harus tau kondisi dia". Kirei meninggalkan Alma yang mencebik.


"Ish kamu mah".


"Buruan sebelum baginda ratu ngamuk". Peringat Kirei dibalik pintu. Alma buru-buru menyambar tasnya kemudian berlari mengejar Kirei.


"Pagi sayang.." Suara lembut Ara menyapa keduanya yang menuruni anak tangga.


"Pagi buna". Jawab keduanya kompak. Alma memang sudah memanggil Ara sama seperti Kirei.


"Makan dulu.." Keduanya duduk dan mengangguk, kemudian makan dalam diam.


"Pagi sayang.." Dev mencium pucuk kepala Kirei yang langsung memasang senyum manis.


"Pagi juga ayah ganteng". Sahut Kirei membuat Dev terkekeh.


"Oma sama opa pergi lagi yah?". Kirei celingak celinguk mencari keberadaan opa dan omanya.


"Iya sayang..mereka ada acara sama oma Dini dan opa Bram". Jawab Dev setelah berhasil menelan makanan dimulutnya.


"Pergi mulu ih..akunya nggak pernah diajak". Sungut Kirei menghentikan aktifitas makannya.


"Lain kali sayang, kamu masih sekolah. Jangan ngambek udah gede. Lanjutin makannya". Perintah Dev.


"Nggak mau. Suruh makan apanya lagi? Kirei bukan kuda lumping yang makan piring ama gelas yah". Cebik Kirei membuat Alma berusaha keras menahan tawa, sementara Ara sudah terkikik geli melihat wajah kesal putri semata wayangnya.


"Ayah kira kamu belum selesai makan". Ucap Dev setelah melihat piring Kirei sudah kosong.


####


Tiga hari berlalu sejak Kirei ikut mengantarkan Daniel kerumah sakit, selama itu pula gadis itu tidak tahu bagaimana kabar selanjutnya pemuda itu.


Pagi ini seperti biasa, Kirei dan Alma pergi bersama ke sekolah. Alma pun sudah benar-benar tidak bersedih pasca ditinggalkan oleh ibunya.


"Mata lo ditaruh mana hah!!". Sebuah bentakan membuat Alma mematung. Dirinya baru saja keluar dari bilik toilet.


"Ma..maaf". Lirih Alma.


"Lo lagi. Dasar cewe parasit! Seneng ya lo bisa hidup enak sekarang". Sarkas gadis yang ternyata Sinta.


"Permisi kak". Alma memilih menghindar dibanding harus meladeni kakak kelasnya yang selalu membenci segala tentang dirinya itu.


"Nggak segampang itu!". Lengan baju Alma ditarik oleh Sinta.


"Aku harus balik ke kelas kak". Pinta Alma memohon.


Tubuh Alma didorong oleh Sinta. Sementara beberapa siswi lain yang kebetulan juga berada ditoilet hanya bisa diam tanpa bisa membantu.


Sinta mengambil ember berisi air kotor, kemudian ia mengangkat ember dengan seringai licik yang membuat Alma takut.


Namun sebelum isi dalam ember itu membuat tubuh Alma basah, sebuah tangan mencengkeram kuat pergelangan tangan Sinta hingga membuat isi ember tumpah membasahi seluruh lantai.


Sinta menoleh untuk melihat siapa yang berani mengganggu kesenangannya. Namun detik berikutnya, matanya melotot sempurna. Dengan susah payah ia menelan salivanya.


"Ki..Kirei". Suaranya tercekat melihat tatapan tajam Kirei yang ditujukan padanya.


"Lo gapapa Al?". Tanya Kirei membantu Alma bangkit.


"Lo pergi dulu". Kirei mendorong pelan tubuh Alma keluar. Didepan pintu sudah ada Arka dan Dirga serta beberapa siswa yang penasaran dengan keributan yang terjadi didalam toilet.


"Tapi Ki.." Alma menahan tubuhnya, enggan meninggalkan Kirei sendirian menyelesaikan masalah yang sebenarnya adalah karenanya.


Kirei menatap tajam Alma yang langsung menunduk. Dengan berat ia ikut bersama Arka meninggalkan Kirei yang entah sedang apa didalam sana.


"Lo mau apa Ki?!". Tanya Sinta panik ketika tangannya ditarik Kirei kedalam bilik toilet.


"Kepala lo butuh penyegaran!". Sinis Kirei tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Kirei memegang leher belakang Sinta dan memaksa gadis itu menunduk. Kemudian dengan cepat tangannya menyambar gayung didalam ember dan segera menyiramkannya pada kepala Sinta.


"Yaaaaak!!!". Pekik Sinta gelagapan. Namun Kirei seperti menulikan pendengarannya.


"Gue udah bilang, jangan ganggu temen gue. Lo budeg hah!!!". Bentak Kirei geram.


Sinta melepaskan secara paksa tangan Kirei yang mencengkeram lehernya. Kemudian ia merebut gayung yang ada ditangan Kirei dan segera membalas menyiramkan air ke tubuh Kirei.


Tak hanya sampai disitu, Sinta menarik keras rambut Kirei. Hingga akhirnya kedua gadis itu saling menjambak didalam kamar mandi.


Benar-benar tidak pernah Kirei bayangkan bahwa dirinya akan mengalami hal menyebalkan seperti ini. Ketentraman dan kenyamanannya benar-benar sudah musnah.


____***____


"Angkat sebelah kaki kalian!!". Suara tegas itu membuat Kirei mengangkat sebelah kakinya dengan dua tangan memegang telinga.


"Saya benar-benar kecewa dengan kelakuan kamu Kirei. Saya akan hubungi kedua orang tua kalian". Ucapan pak Joko membuat Sinta melotot tak percaya. Sementara Kirei, hanya cuek dan terus melanjutkan hukumannya.


"Kenapa harus orang tua saya sih pak. Kan yang mulai duluan Kirei". Protes Sinta membuat pak Joko menatapnya tajam.


"Selesaikan hukuman kalian. Setalah itu datang keruangan saya!". Tegasnya kemudian meninggalkan Kirei dan Sinta ditengah lapang yang panas.


"Awas lo!". Ancam Sinta membuat Kirei tersenyum miring. Ia melirik sejenak kemudian kembali fokus pada tiang bendera dihadapannya.


"Aduuh..pegel banget". Keluh Sinta menurunkan sebelah kakinya dan mengelusnya.


"Mana panas lagi. Duh kulit gue bisa item kalo gini". Kirei melirik lagi, kesal mendengar keluhan Sinta yang tak ada habisnya.


"Lepasin aja tu kaki ama pala lo. Berisik!". Ketus Kirei membuat Sinta melotot tak percaya mendengar ucapan gadis itu.


"Siapa yang menyuruh kamu menurunkan kakimu Sinta!". Suara pak Joko mengejutkan Sinta yang buru-buru kembali mengangkat sebelah kakinya.


"Ikut saya! Orang tua kalian sudah datang". Kirei segera berjalan mengikuti pak Joko.


"Mamp*s gue". Gumam Sinta. Baju keduanya sama-sama sedikit basah, dengan rambut yang sudah mulai mengering karena dijemur.


****


"Silahkan duduk". Pak Joko mempersilahkan kedua gadis itu duduk bersebelahan. Namun Kirei lebih memilih duduk didekat sang ibu.


Ara hanya bisa menghembuskan nafas panjang melihat sifat dingin putrinya itu.


"Sekarang jelaskan pada saya apa yang terjadi sampai kalian berkelahi seperti tadi?". Suara pak Joko membuat semua orang menatap Kirei dan Sinta bergantian.


Kirei masih bungkam, tidak ada sedikitpun tanda bahwa dirinya ingin menjelaskan apapun. Sementara Sinta sudah megap-megap seperti ikan yang keluar dari dalam air, ingin berbicara entah apa.


"Kirei? Bisa kamu jelaskan?". Tanya pak Joko sedikit melembut.


"Kenapa bukan saya yang ditanya pak?". Potong Sinta cepat.


Melihat Kirei yang bungkam, pak Joko mempersilahkan Sinta menjelaskan kronologi kejadiannya.


"Saya nggak tau pak. Tiba-tiba aja Kirei dateng terus banjur kepala saya pake air dikamar mandi. Saya nggak terima lah pak, jadi saya bales". Jelas Sinta berapi-api.


Tak sedikitpun Kirei membantah atau menyangkal semua yang diucapkan Sinta. Karena memang pada dasarnya dirinya duluan yang membuat gadis menyebalkan itu basah kuyup.


"Benar begitu Kirei??". Tanya pak Joko.


"Sayang?". Suara Ara membuat Kirei menghela nafas.


"Iya". Hanya itu jawaban Kirei.


"Kenapa kamu gituin anak saya? Memang anak saya salah apa sama kamu? Seenaknya saja kamu!". Bentak mama Sinta penuh amarah.


Kirei masih terlihat santai, begitupun dengan Ara yang sedang menunggu penjelasan putrinya. Ia yakin bahwa Kirei tidak akan melakukan sesuatu tanpa sebab.


"Anak tante kepanasan, makanya saya baik hati mau keramasin sekalian mandiin". Jawab Kirei tenang membuat Sinta dan mamanya melongo tak percaya.


"Apa?!". Pekik Sinta dan sang mama emosi.


"Anak anda benar-benar kurang*jar sekali nyonya. Tidakkah anda mendidiknya dengan benar?!". Bentak mama Sinta menunjuk Ara penuh amarah.


"Saya akan mendengarkan penjelasan putri saya terlebih dahulu". Jawab Ara tenang.


"Jelaskan". Tegas Ara tak ingin putrinya kembali membuat lelucon.


Kirei menjelaskan semuanya tanpa ada sedikitpun yang ia kurangi. Bahkan dirinya mengakui bahwa dirinya lah yang lebih dulu menyiram air kepada Sinta.


"Anda dengar? Anak andalah yang salah!". Sinis mama Sinta dengan wajah congkak.


Ara hanya tersenyum tipis, tak sedikitpun dirinya memarahi Kirei dengan apa yang dilakukan putrinya itu.


"Cepat suruh anak anda meminta maaf pada anak saya". Merasa diacuhkan, mama Sinta kembali bersuara.


"Saya akan meminta maaf setelah anak manja anda meminta maaf pada sahabat saya". Jawab Kirei lantang. Tak ada sedikitpun keraguan saat mengucapkannya.

__ADS_1


"Apa?!!". Pekik ibu dan anak yang duduk dihadapan Kirei.


Sementara pak Joko dan guru BK hanya bisa menepuk dahinya melihat keberanian Kirei yang besar. Benar-benar gadis yang terlalu berani. Batin mereka.


__ADS_2