
Sudah 2hari ini Ara berada dirumah Putri, nyonya Dini memperlakukan Ara seperti anaknya sendiri. Bahkan Dira dan Putri membolos sekolah demi menemani sahabatnya beristirahat dirumah.
Selama itu pula Dev selalu menyempatkan diri untuk melihat keadaan Ara setiap pulang dari sekolah.
Dira dan Putri memicingkan mata curiga setiap melihat Dev datang dengan alasan ingin melihat keadaan Dira.
Mereka berdua yakin kedatangan Dev untuk melihat keadaan Ara, namun Dev malu mengakuinya.
Sore itu Ara sudah benar benar merasa sehat, sehingga memutuskan untuk pulang kerumahnya sebelum bapak datang menjemputnya.
"Gue udah benar-benar sembuh, jadi biarin gue pulang. Besok kita kudu ke sekolah, emang kalian bakalan terus bolos sekolah??". Entah sudah berapa kali Ara berkata pada kedua temannya itu.
"luka lo tuh belum sembuh Ra, lo masih harus istirahat". Putri menjawab dengan santai.
Ara mendengus sebal mendengar jawaban yang sama dadi mulut Putri.
"jadi sebenarnya siapa disini yang sakit dan butuh istirahat?? gue apa kalian berdua??". Ara berkata sambil menaikkan sebelah alisnya dan dengan nada menyindir.
Kedua temannya hanya nyengir tanpa dosa, karena apa yang dikatakan Ara memang benar. Mereka berdua merasa santai dirumah tanpa harus diganggu oleh Clara dan teman temannya.
Setalah perdebatan yang lama antara ketiganya. Akhirnya Ara yang keluar sebagai pemenangnya, Dira dan Putri hanya bisa pasrah saat Ara berpamitan kepada nyonya Dini untuk kembali kerumahnya.
"terima kasih banyak tante. Maaf sudah merepotkan tante dan om selama saya disini".
Ara membungkukkan badan dan menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat dan terima kasihnya kepada kedua orang tua sahabatnya itu.
"kamu yakin ingin pulang sayang??". Nyonya Dini seolah berat membiarkan Ara pergi dari rumahnya. Selama gadis itu tinggal dirumahnya, ia merasa memiliki anak lagi. Ara selalu membantunya memasak dan menemaninya mengobrol.
"saya yakin tante, saya sudah benar benar sehat. Sebentar lagi bapak saya akan pulang..saya takut beliau akan khawatir". Ara berkata sopan
"biarkan Ara pulang ma, dia bisa menginap disini kapanpun dia mau. Besok anak-anak harus kembali ke sekolahnya". Tuan Bram berkata untuk menenangkan istrinya.
"baiklah..tapi berjanjilah kamu akan sering main dan menginap disini Ara". Nyonya Dini berkata saat berada didepan pintu rumahnya.
"saya akan sering main kesini tante. Kalau begitu saya pamit pulang dulu". Ara menyalami tangan nyonya Dini dan tuan Bram bergantian sambil mencium punggung tangan keduanya.
"tunggu, biarkan supir kami yang mengantarkan kamu pulang nak". Tuan Bram hendak memanggil supir keluarganya namun segera dicegah oleh Dev.
"tidak perlu om, biar aku yang mengantarkannya". Suara Dev mengalihkan pandangan Ara dan dua sahabatnya. Dira memandang kakaknya sambil memicingkan matanya, begitupun dengan Putri. Sesaat kemudian keduanya tersenyum penuh makna.
"gak perlu bang, gue bisa pulang naik ojek online apa taksi. Elu anter Dira pulang aja". Ara berkata sambil memandang Dira..dia merasa tidak enak karena yang dia ingat terakhir kali saat kejadian penculikan itu adalah Dev memeluk Dira erat dan dibalas tak kalah erat oleh Dira.
Ara yakin bahwa keduanya memang memiliki hubungan spesial, dan Ara tidak ingin merusaknya. Hingga saat ini, Ara belum mengetahui hubungan antara Dev dan Dira sahabatnya.
"Gue masih pengen disini Ra, lo pulang ama kak Dev. Gue bakal dijemput mama sama papa ntar". Dira langsung menjawab ucapan Ara sebelum kakaknya membuka mulut.
"Ya tapi gue bisa balik sendiri. Gue kaga mau ngerepotin orang lagi". Ara masih mencoba menolak tawaran Dev untuk mengantarnya pulang.
Setelah dibujuk oleh kedua temannya dan nyonya Dini, akhirnya Ara pasrah diantar pulang oleh Dev.
Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam tak satupun dari keduanya yang bersuara.
Sampai akhirnya Dev yang sudah tidak tahan memecah keheningan.
__ADS_1
"kamu yakin sudah benar baik-baik saja??. Apakah perlu kita check up ke dokter dulu??".
Ara langsung mengalihkan pandangannya. Sesaat pandangan keduanya bertemu. Namun buru-buru Ara mengalihkan pandangannya, ia tak mau terjerat terlalu dalam oleh pesona pria tampan disampingnya ini.
"gue baik-baik aja bang, besok juga udah bisa sekolah lagi". Ara menjawabnya sedikit kikuk.
Selama ini Ara belum pernah berada dalam satu mobil dengan lawan jenis kecuali ayahnya.
"depan belok kanan bang, nanti gue turun didepan gang aja, mobil lu ga akan bisa masuk gang". Ara memberitahu lokasi rumahnya.
Beberapa saat kemudian mobil mewah milik Dev sudah sampai didepan sebuah gang kecil. Ara segera membuka seatbeltnya hendak turun. Namun Dev juga melakukan hal yang sama.
Ara mengerutkan dahinya, merasa bingung kenapa Dev juga ikut turun dari mobilnya.
"Laaah..lu mau kemana bang??". Ara bertanya kebingungan.
"saya antar kamu sampai rumah. Saya harus pastikan kamu aman sampai dirumahmu". Dev berkata dengan tegas.
"gue bukan bocah lagi kali bang, kudu dianter-anter nyampe depan rumah segala". gumam Ara yang masih terdengar ditelinga Dev.
Dev tersenyum tipis mendengar gadis disampingnya itu terus menggerutu saat ia memaksa mengantarnya sampai rumahnya.
"ini rumah gue bang, gue udah aman ni nyampe rumah. Lu balik sono". Ara memutar tubuh Dev sambil sedikit mendorong tubuh Dev supaya cepat pergi.
Ara merasa takut jika terlalu lama bersama dengan Dev, dia akan benar-benar terjerat dengan pesona dan ketampanan pria bangir dengan rahang tegas yang beberapa saat lalu berada dalam satu mobil dengannya itu.
Ara tidak ingin persahabatannya berakhir hanya karena seorang lelaki.
"eh..bukan ngusir bang". Ara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"gue..gue mau istirahat bang. Iya, gue mau istirahat lagi biar besok bisa sekolah lagi bang". Ara menjawab dengan mantap setelah mendapatkan jawaban yang masuk akal menurutnya.
"yaudah kalo gitu saya pamit, jangan lupa makan sama minum obat kamu". Dev berkata sambil menepuk pelan kepala Ara, setelah itu Dev berlalu menuju mobilnya.
Sementara Ara, dia mematung setelah mendapat perlakuan seperti itu dari Dev. Jantungnya berdegup kencang, ia memegangi dadanya.
"ini kenapa jantung gue kaya abis lomba marathon gini, jangan-jangan gue punya penyakit jantung". Ara bermonolog sendiri masih berdiri didepan pintu.
Lamunannya buyar seketika saat ada tangan yang menoyor kepalanya pelan dari belakangnya.
Ara segera membalikkan tubuhnya bersiap untuk memaki orang yang sudah berani menoyor kepalanya.
Namun saat sudah berbalik, wajah garang Ara berubah menjadi senyum ceria melihat siapa pelaku yang sudah menoyor kepalanya.
Ara segera memeluk erat orang itu.
"kakak..kapan kakak datang??. Ara kangen banget ama kakak". Ara bertanya sambil melepaskan pelukannya.
Ini benar-benar kejutan besar untuk Ara, kakak yang sangat dirindukannya pulang setelah sekian lama tidak bertemu.
Dengan gemas sang kakak mencubit hidung adiknya hingga memerah seperti tomat.
Ara mencebik kesal dengan kelakuan kakaknya itu.
__ADS_1
"siapa yang nganter elu pulang tadi bocah baong??". Bukannya menjawab pertanyaan adiknya, sang kakak malah balik bertanya.
"ooh itu, kakak kelas disekolah kak. Kenapa??". Ara bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"sejak kapan lu mau deket-deket ama cowo dek??". Sang kakak kembali bertanya.
"Lah sapa yang deket-deket. Periksain dah sono mata lu kak..dia cuma nganter gue doang kakakku Fabian yang paling ganteng, deketnya dari mana. Dasar aneh". Ara berkata sambil melewati Fabian yang masih berdiri didepan pintu.
"heh bocah, dasar adek kaga ada akhlaknya banget. Kakaknya belom selesai ngomong udah ditinggal pergi". Meskipun kesal, Fabian akhirnya ikut masuk kemudian menutup pintu rumahnya.
"bapak masih sering kaga pulang dek?". Fabian bertanya sambil memperhatikan adiknya yang sedang menyandarkan punggungnya disofa ruang tamu dengan mata terpejam.
Pertanyaan Fabian hanya dibalas anggukan oleh Ara.
Fabian menghembuskan nafas kasar.
"Maafin kakak ya, bentar lagi kuliah kakak kelar, elu kaga bakal sendirian mulu kaya sekarang". Ucap Fabian sambil mengelus kepala adinya dengan sayang.
Ara membuka matanya kemudian menegakkan badannya
"nyantai aja kenapa sih kak, gue gak kenapa napa. Elu kaya gak tau gue aja sih". Ara tersenyum manis untuk menenangkan kakaknya yang sedang khawatir.
Saat sedang berbincang, ponsel Ara berdering dan nama bapak tertera dilayar ponselnya..segera Ara mengangkat telpon dari bapak.
"assalamualaikum pak".
"............."
"Ara udah dirumah pak, bapak gak usah khawatir sama Ara. Oh iya, ini juga kakak ada dirumah pak. Bapak gak usah buru-buru pulang".
"............."
"gak tau dateng kapan, ditanya cuma cengar cengir kaya orang cacingan anak bapak yang itu mah". Ara berbicara sambil melirik ke arah kakaknya yang sedang melotot kearah Ara
sementara Ara sedang menahan tawanya melihat mata kakaknya yang hampir keluar dari tempatnya.
"............"
"iyaaaa..bapak tenang aja. Ara baik-baik aja. Bapak hati-hati kerjanya, jangan lupa semangat pak. Awas encoknya nanti kumat, jangan banyak tingkah udah tua". Ara tersenyum setelah mengatakan itu, ia sedang membayangkan wajah kesal bapak saat ia goda seperti saat ini.
"............"
"hahahahhaha". Akhirnya tawa Ara pecah juga mendengar jawaban bapak.
"iya iya..maaf pak, yasudah iya. Bapak hati-hati. Jaga kesehatan bapak. Assalamualaikum". Ara memutus sambungan telponnya.
Sang kakak langsung menoyor kepala adiknya tak berakhlak yang sudah berhasil membuat bapak kesal.
"dasar anak durjana elu mah dek, bapaknya digodain mulu. Dikutuk jadi kaya baru tau rasa lu". Fabian mencak-mencak sambil bangun dari duduknya menuju ke kamarnya.
"dikutuk jadi kaya mah gue mau lah kak, emang elu gak mau dikutuk jadi kaya??". Ara mengikuti kakaknya bangun dari sofa menuju ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar sang kakak.
Fabian hanya melengos sambil masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1