Cinta Kinara

Cinta Kinara
ngidamnya Ara


__ADS_3

Ara mengerjapkan mata beberapa kali, menatap sekeliling ruangan yang asing baginya. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, disana ia melihat sang suami yang tengah tertidur lelap disofa. Sudut bibirnya terangkat sempurna melihat wajah tenang sang suami. Tapi tunggu, ini di rumah sakit..kenapa lagi dengan dirinya. Kenapa setelah dewasa ia sering sekali mengunjungi rumah sakit.


Ara mengangkat sebelah tangannya, disana tertancap jarum infus. Ara berfikir, ada apa dengan dirinya? Bukankah dirinya baik-baik saja?? Lalu kenapa dirinya berada dirumah sakit lagi? Dirinya merasa sehat, bahkan sangat sehat. Ara masih bergelut dengan pikirannya sendiri, sampai suara sang suami membuatnya sadar dari lamunan.


"Kamu sudah bangun sayang?" Tanya Dev dengan suara serak khas bangun tidur.


"Hm..aku kenapa bang?? Kenapa ada disini?" Tanya Ara balik.


Dev bangkit, mengucek sebentar matanya kemudian berjalan mendekati ranjang istrinya. Lelaki itu duduk disisi ranjang sang istri, kemudian membawa tubuh sang istri yang kini terlihat lebih berisi itu kedalam pelukannya, menyalurkan segala rasa bahagianya atas apa yang dianugerahkan tuhan pada mereka.


"Abang?? Ada apa sih? Aku nggak sakit parah kan? terus umur aku cuma beberapa bulan lagi kan??" Tanya Ara panik yang justru membuat Dev terkekeh.


"Abaaang??? Kok malah ketawa sih? Aku kenapa?? Aku baik-baik aja kan? Tadi aku nggak kenapa-kenapa loh. Kok tiba-tiba bangun langsung disini sih?". Mulut kecil Ara tak henti mengoceh membuat Dev gemas dan mengecupnya lembut.


"Kamu cerewet banget siiih..abang jadi gemes". Dev mencubit hidung bangir sang istri, membuat Ara meringis kesakitan.


"Terus aku kenapa dong??".


"Abang ih kasih tau, jangan malah cangar cengir gitu". Ara sudah kesal karena sejak tadi Dev tidak menjawab satupun pertanyaannya.


"Kamu sudah bangun sayang?" Suara mama membuat Ara menoleh, mama sudah berdiri didepan pintu bersama Dira. Keduanya membawa beberapa bungkusan yang sepertinya berisi makanan.


"Hmm..udh ma. Mama dari mana?? Kok bawaannya banyak banget? Abang itu bantuin mama sama Dira, kok malah diliatin aja sih. Kasian itu berat." Ara kembali berkata tanpa jeda, membuat mama dan Dira saling pandang dan tersenyum melihat banyak perubahan dari diri Ara. Mungkin itu efek hormon kehamilannya.


Gadis yang dulu irit bicara kini begitu cerewet, namun itu adalah kebahagiaan tersendiri untuk orang terdekat Ara.


"Abang, cepet itu bantuin mama. Kok malah bengong sih". Ara menepuk lengan sang suami yang justru diam saja.


"Eh..eh iya. Sini ma, Dev yang bawa". Dev segera mengambil alih kantong belanja yang dibawa sang mama dan adiknya, memindahkannya ke meja dekat sofa.


"Kamu mau sayang?" Mama mengeluarkan bungkusan buah beserta bumbu rujak yang langsung membuat mata Ara berbinar. Ara mengangguk cepat, dirinya memang sedang menginginkan rujak, dan sekarang tanpa perlu memintanya, mama sudah membawakannya.


"Mama kok tahu sih, aku emang lagi pengen rujak". Ara segera menerima rujak yang disodorkan oleh ibu mertuanya dan melahapnya.


"Kakak belom kasih tau Ara?". Tanya Dira berbisik.


"Belom, dari bangun langsung nyerocos kaya truk kaga ada rem nya. Makanya belom sempet ngasih tau". Dev balas berbisik pada sang adik.


"Abang mau??" Tanya Ara menyodorkan potongan buah mangga muda pada Dev, lelaki itu langsung menggeleng. Terbayang olehnya bagaimana asamnya buah itu jika masuk kedalam mulutnya.


"Buat kamu aja sayang..abang makan ini aja". Dev menunjukkan potongan buah apel yang dipegangnya.


Ara mengangguk kemudian melanjutkan acara makannya tanpa mempedulikan orang-orang diruangan itu.


"Kaga asem Ra?" Tanya Dira bergidik melihat Ara yang lahap memakan buah mangga mudanya.


"Enak, seger. Lu mau??" Ara menyodorkan potongan buah mangga yang langsung ditolak oleh Dira.


"Mau makan yang lain sayang?". Tanya mama pada menantu cantiknya.


"Enggak ma, ini aja. Mama nggak makan juga???" Tanya Ara balik.

__ADS_1


"Mama udah seneng liat kamu banyak makan gini". Mama mengelus kepala Ara, membuat Ara tersenyum manis. Bahagia rasanya memiliki mertua yang sangat pengertian dan menyayangi dirinya.


###


"Abaaang.." Panggil Ara manja.


"Kapan aku boleh pulang?? Aku bosen disini". Rengeknya kemudian.


"Sejak kapan ni bocah bisa manja gini. Biasanya juga galaknya ngelebih lebihin induk singa. Emang ya, kalo orang hamil suka ajaib". Batin Dira, kepalanya reflek menggeleng melihat tingkah ajaib ibu hamil itu.


"Nanti ya sayang, kamu harus istirahat dulu disini". Jelas Dev sambil mengelus kepala istrinya.


"Aku baik-baik aja bang. Makan banyak, terus juga nggak pusing, nggak ngerasa ada yang sakit juga, aku sehat bang. Terus kenapa aku harus disini?". Tanya Ara heran.


"Kamu nggak ngerasa aneh sama badan kamu?? Berasa lain mungkin? Mual, pusing? Atau yang lain?" Dev justru bertanya balik membuat kedua alis Ara bertaut.


"Orang istri sehat kok diminta sakit sih". Ketus Ara dengan bibir mengerucut.


Sementara mama dan Dira hanya bisa tersenyum sendiri mendengar perdebatan keduanya.


"Bukan gitu sayang..tapi kamu beneran nggak berasa gimana-gimana??". Dev kembali bertanya.


"Abang kenapa sih?? Emang Ara sakit apa??". Kini Ara merasa sedikit takut dengan kondisinya karena Dev terus menanyakan tentang apa yang dirasakannya.


"Emang aku sakit parah??"


"Abang?!". Kini Ara sedikit menaikkan nada bicaranya, kesal bercampur takut menjadi satu.


Sementara Ara, dirinya masih diam mencerna kata demi kata yang diucapkan oleh suaminya.


"Hey..kamu nggak seneng?? Kok bengong?". Dev menangkup pipi Ara dengan kedua tangannya. Ara menatap netra hitam sang suami, mencari maksud dari ucapannya.


Dev membawa tangan Ara untuk mengelus perutnya yang masih terlihat rata itu "Disini..disini ada malaikat kecil kita yang sedang tumbuh sayang". Ara mengangkat wajahnya, mencari kebohongan dari dalam mata suaminya. Namun ia tak sedikitpun menemukannya, hanya ada kejujuran yang ada disana.


"A..aku???"


Dev mengangguk "Iya sayang, Allah memberikan apa yang kita nantikan. Allah mengabulkan doa-doa kita". Dev kembali memeluk Ara yang sudah banjir air mata, semua seperti mimpi untuk Ara.


Mama dan Dira menangis lagi melihat Ara yang begitu terharu mendengar kabar kehamilannya. Ara memeluk erat sang suami, menyalurkan perasaan bahagia serta rasa syukurnya atas karunia tuhan yang begitu besar.


"abaaaaang. Huaaaaaaa". Ara menangis keras, bahkan lebih seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh ibunya.


"Abang nggak boongin Ara kan?? Ara beneran hamil kan??" Ara menggoyangkan kedua lengan suaminya. Suasana yang tadinya haru tiba-tiba saja terasa menggelitik ketika melihat respon Ara.


"Iya sayang..kamu hamil. Kamu hamil anak kita". Jelas Dev membuat tangis Ara semakin kencang.


"Huaaaa...bapaaaak, ibuuuu..Ara hamil pak, bu. Bapak sama ibu bakal jadi kakek sama nenek". Suara tangis Ara yang kencang membuat papa yang berada diluar ruangan bersama Bian langsung menerobos masuk.


"Kenapa?? Ada apa??!" Tanya papa dan Bian bersamaan. Disana keduanya melihat Ara yang menangis kencang, sementara Dev sedang sibuk membujuk Ara untuk diam.


"Huaaa..kakak. Ara hamil". Ara merentangkan kedua tangannya, meminta Bian untuk memeluknya. Tanpa banyak bertanya, Bian memeluk adiknya yang terus menangis kencang.

__ADS_1


"Iya..kakak tau kamu hamil. Terus kenapa kamu malah nangis kejer gini sih?" Tanya Bian heran.


"Ara terharu kak. Ara seneng hamil lagi..huaaa". Tangisan Ara semakin terdengar kencang membuat Bian menghela nafasnya.


"Cup..cup, diem atuh dek. Malu kamu teriak-teriak gini". Bian menepuk pelan punggung adiknya.


"Aku tu nangis bukan teriak. Kakak gimana sih". Kesal Ara membuat Bian melotot tak percaya, sementara yang lain sudah menepuk dahinya, heran melihat kedua kakak beradik itu.


"Ya nggak gitu konsepnya markonah. Nangisnya mah pelanin suaranya, biar keliatan terharunya. Ini mah lo kaga kaya orang lagi seneng, lebih kaya orang abis kerampokan". Sengit Bian tak mau kalah.


"Mana ada orang terharu pake konsep bambaaank!!". Jawab Ara tak kalah sengit. Akhirnya sore itu, kamar rawat Ara dijadikan sarana duel kakak beradik yang sudah lama tak berdebat. Sementara yang lain hanya mendengarkan perdebatan keduanya sambil memakan camilan yang mama bawa. Menunggu hingga keduanya lelah berdebat.


****


Usia kandungan Ara sudah memasuki bulan ke tujuh, perutnya pun sudah terlihat buncit. Dev semakin posesif terhadap istrinya. Dan untungnya, hanya tinggal satu bulan lagi Ara sudah menyelesaikan pendidikannya. Ia tidak perlu mengambil cuti seperti Putri, karena kehamilannya belum terlalu besar.


"Kamu pengen apa lagi sayang?" Tanya Dev pada istri tercintanya yang tingkat kemanjaannya naik 1000% setelah hamil. Bahkan segala hal yang biasa Ara lakukan sendiri, kini ia selalu meminta sang suami melakukannya. Seperti makan, dirinya terkadang meminta Dev menyuapi dirinya.


"Enggak mau apa-apa lagi". Ara memberikan senyum terbaiknya untuk sang suami, keduanya tengah duduk ditaman yang tak jauh dari komplek perumahan. Disana juga ada Kevin dan Sam serta jangan lupakan Dira.


Mendengar Ara tak menginginkan apapun lagi, mereka bernafas lega. Pasalnya, sebelum sampai ditaman mereka sudah dikerjai oleh ibu hamil itu. Sam harus memanjat pohon mangga yang ada dipinggir jalan demi memenuhi keinginan Ara. Kenapa bukan Dev yang memanjat? Jawabannya karena Ara ingin uncle dari calon anaknya yang memetikkan langsung buah itu.


"Abang..aku mau itu". Baru saja mereka mengucap syukur, kini mereka sudah beristighfar lagi karena Ara sudah menunjuk sebuah mobil penjual tahu bulat yang sudah melewati tempat mereka duduk saat ini.


"Biar abang kejar". Dev hendak bangkit, namun tangannya ditahan oleh Ara.


"Abang disini temenin aku, aku pengennya yang beliin calon calon uncle yang ganteng". Ucap Ara sambil menatap Sam dan Kevin dengan mata memelas, keduanya menghela nafas panjang, kemudian terpaksa berlari mengejar tukang tahu bulat sambil berteriak.


"Ba..bang..tahu..tahu bulatnya..50rebu". Ucao Kevin saat sudah berhasil mengejar mobil tahu bulat. Nafas Sam dan Kevin terputus-putus, saking lelahnya berlari mengejar mobil penjual tahu bulat.


"Lo mau jualan?" Tanya Sam dengan mata melebar mendengar Kevin memesan tahu bulat sebanyak itu.


"Gue kaga mau disuruh ngejar lagi. Beli sekalian banyak aja". Ucap Kevin yang kemudian langsung dibenarkan oleh Sam. Sore ini, mereka sudah 2kali dikerjai oleh Ara, jangan sampai ibu hamil itu nanti meminta mereka mencari penjualnya lagi hanya karena kurang banyak memakannya.


"Gila aja, itu bini siapa sih yang hamil. Napa kita yang susah. Nanem saham juga kaga, giliran susahnya kita dapet". Sam mengomel setelah mendapat apa yang Ara inginkan. Nafas keduanya masih belum kembali normal, keduanya menatap Ara yang tengah tertawa bersama suami dan adik iparnya.


"Abis ini kita dikerjain apa lagi ya Sam?". Kevin yang biasanya cuek tiba-tiba takut jika Ara meminta sesuatu yang aneh lagi dan melibatkan keduanya.


"Tau dah gue. Bini si Dev sensi amat ama kita, kalo ama lu mah kaga napa. Lah elu calon laki si Dira. Lah kalo gue? Bisa keder gue kalo tiap weekend dikerjain tu bocah". Gerutu Sam.


Mata Dev dan Dira melotot lebar melihat Sam dan Kevin membawa beberapa bungkus tahu bulat. Apakah mereka ingin berjualan? Pikir keduanya.


"Nih, kalo lu kaga hamil calon ponakan..udh gue pites lu". Sam menyodorkan tahu bulat yang langsung disambut antusias oleh Ara.


"Makasih uncle uncle ganteng. Baik deh". Puji Ara sambil nyengir menampakkan deretan gigi putihnya.


"Berasa yang hamil istri gue". Ucap Sam dan Kevin kompak, membuat Dev dan Dira menoleh pada keduanya. Sementara sang pelaku utama sedang asyik menikmati jajanan yang dibelikan Kevin dan Sam.


"Pas bikin lu baca doa kaga sih Dev. Anak lu belom lahir aja udah ngerjain kita". Keluh Sam mengipas wajahnya dengan tangan.


"Ikut nanem saham juga kaga, ini ikut susahnya pas ngidam". Lanjutnya dan langsung mendapat pelototan tajam dari Dev.

__ADS_1


Sam hanya cuek saja dan ikut menikmati tahu bulat hasil perjuangannya mengejar mobil penjualnya tadi.


__ADS_2