
Kini ketiga remaja itu tengah duduk diruang keluarga rumah oma dan opanya. Didepan mereka sudah ada Dev dan opa Aryo. Sedangkan Ara dan mama Anika sedang membersihkan dirinya dikamar.
"Sekarang..apalagi yang kalian lakukan hm??". Tanya Dev lembut.
Ketiganya kompak menggelengkan kepalanya. Membuat Dev dan papa Aryo tersenyum.
"Mana mungkin buna dan oma kalian akan menyusul kesana jika kalian tidak membuat ulah". Ledek papa Aryo.
"Kami tidak melakukan apapun, opa". Kembali, ketiganya kompak menjawab. Membuat Dev dan papa Aryo tertawa geli.
"Ya ya ya..dan dari jawaban kalian saja opa sudah tahu kalau kalian membuat dua ratu kalian itu mengamuk". Ucap papa Aryo semakin keras tertawa.
"Kami hanya jalan-jalan opa. Tidak lebih". Cicit Kirei.
"Jalan-jalan kemana sampai bisa membuat dua wanita itu kebakaran jenggot?". Tanya papa Aryo dengan sebelah alis terangkat.
"Sudahlah pa..sepertinya Ara dan mama sudah cukup memberi anak-anak nakal ini pelajaran". Sela Dev ketika melihat sang ayah hendak menggoda cucu-cucunya.
"Kemari sayang.." Dev menepuk kursi sebelahnya. Meminta Kirei untuk duduk disebelahnya.
"Lain kali jangan membuat ibu dan oma mu khawatir. Mereka sangat menyayangi kalian. Mengerti?". Kata Dev sambil mengelus kepala putri semata wayangnya yang sudah menyandarkan kepalanya dipundak sang ayah.
"Ngerti yah.." Jawab ketiganya kompak.
"Kalian masih disini?? Belum membersihkan tubuh kalian? Apa kalian masih ingin mendengar suara oma lagi??". Suara mama Anika membuat tiga remaja itu bangkit dan segera berlari ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri.
"Dasar anak-anak nakal". Cebik mama Anika ketika ketiganya bergantian mencium pipinya sebelum kembali berlari menaiki anak tangga.
"Kami sayang oma". Teriak ketiga anak itu dengan senyuman lebar.
"Kenapa kamu galak sekali pada mereka?". Tanya papa Aryo ketika mama Anika mendaratkan pant*tnya disebelahnya.
"Apakah harus aku jawab? Itu agar mereka disiplin pa. Kamu tau aku sangat menyayangi mereka". Jawab mama Anika.
Dev dan papa Aryo tahu sebesar apa wanita tua itu menyayangi dan mencintai cucu-cucunya. Bahkan mungkin lebih besar daripada kecintaannya pada dirinya sendiri.
####
"Apa kamu memarahi Kirei sayang?". Tanya Dev sambil memeluk tubuh polos istrinya yang hanya berbalut selimut. Keduanya baru saja selesai melakukan olahraga malam.
"Tidak..sama sekali tidak. Aku rasa mama sudah cukup membuat anak-anak usil itu kapok". Jawab Ara mengelus lengan sang suami yang berada diperutnya.
Tok
tok
tok
Dev dan Ara saling berpandangan, kemudian melirik jam yang berada didinding kamar mereka. Ini sudah hampir tengah malam..siapa yang datang ke kamar mereka tengah malam.begini?
"Ayaaaah..bunaaaa". Panggil Kirei dengan suara bergetar.
"Bukain pintu..Ki takut". Kini terdengar suara isakan dari balik pintu. Dev dan Ara kelabakan mencari pakaian mereka yang tadi dilempar secara sembarangan.
"Kenapa anak kamu sayang? Tidak biasanya dia datang kemari". Tanya Dev sambil memakai celananya.
"Aku mana tahu. Sejak tadi aku bersama dengan kamu". Cebik Ara.
Dev segera berlari ke pintu dan membukanya, didepan pintu sudah berdiri Kirei yang berlinang air mata.
"Hey..kamu kenapa princess??" Tanya Dev bingung.
__ADS_1
"Ki takut ayah..." Kirei menyembunyikan wajahnya didada bidang sang ayah. Dev mengernyit bingung, apa ditakuti anaknya hingga membuat gadis itu menangis.
"Sayang?? Kamu kenapa?". Ara terkejut melihat putrinya menangis terisak didalam dekapan sang suami. Kirei mengangkat wajahnya dan menghambur kepelukan sang ibu.
"Ki mau tidur disini, sama ayah sama buna. Boleh ya??". Pintanya memohon.
Ara mengangguk, dan menuntun putrinya masuk kedalam kamarnya. Dirinya tidur diantara Ara dan Dev. Walaupun tomboy dan galak, namun jika gadis itu sudah bersama orang tuanya ia akan menjadi gadis manis yang super manja.
Belum sempat Ara bertanya tentang hal apa yang membuat anaknya itu takut. Kirei sudah tertidur pulas dengan memeluk dirinya.
"Kenapa sebenarnya anak kamu ini?". tanya Ara pada sang suami yang hanya mengangkat bahu tak tahu.
"Ayah dan buna akan selalu menjaga kamu sayang". Ara mengelus kepala putrinya, kemudian mencium keningnya penuh kasih sayang. Ketiganya tertidur diranjang yang sama. Aahh..sudah lama sekali rasanya Ara tidak tidur dengan anaknya yang ternyata sudah dewasa.
*****
Kirei menatap sekeliling, semua orang terlihat aneh pagi ini. Setiap gadis yang ia jumpai selalu menyapa dan tersenyum padanya, membuat Kirei merasa ada sesuatu yang aneh.
"Wooii jubaedah!! Bengong aja lo". Arka memeluk leher Kirei dari belakang membuat Kirei terkejut.
"Kutu kupret lo bang. Kaget gue". Semprot Ara sambil mengelus da**nya.
"Ya elo ngelamun aja. Kesandung baru tau rasa lo". Timpal Dirga yang sudah berdiri disamping Kirei.
"Lo pada ngerasa aneh kaga sih? Orang-orang dari tadi senyam senyum, cengar-cengir kaya orang cacingan". Bisik Kirei membuat Dirga dan Arka tergelak.
"Si maemunah baru nyadar. Makanya idup lo jangan lempeng-lempeng aja. Ada belokan dikit, tanjakan terus turunan mengkol segala macem". Ucap Arka tidak jelas membuat kerutan didahi Kirei tercetak jelas.
"si sableng dasar lo ye. Nama gue bagus-bagus Kirei. Main ganti-ganti aja jadi segala maemunah ama jubedah lo bawa". Sungut Kirei berusaha melepaskan tangan Arka yang membelit lehernya.
"Hai Arka..ke kelas bareng yuk". Seorang gadis dengan seragam mini menghampiri mereka. Tatapan sinisnya ia layangkan pada Kirei yang masih ada dalam kekuasaan Arka.
"Duh sory ya Sinta cantik. Gue mau anter calon makmum gue dulu ke kelasnya". Gurau Arka yang langsung mendapat sikutan kencang dari Kirei.
"Kaga usah nyari masalah ama dia bang. Bosen idup namanya lo". Ledek Dirga dan ikut pergi meninggalkan Arka.
"Dasar adek kaga ada akhlak lo berdua". Teriak Arka namun tidak didengarkan oleh kedua adik sepupunya. Justru gadis yang berada didepannya yang terlihat syok mendengar Arka memanggil gadis yang ia tatap tajam dengan sebutan adik. Apa-apaan ini.
"A..adik? Siapa adik lo Ka? Bukannya lo anak tunggal ya?". Tanya gadis bernama Sinta.
Arka tersenyum manis, bukan karena menyukai gadis didepannya ini. Namun karena memang pria itu suka tebar pesona pada seluruh penghuni sekolah.
"Mereka berdua adek sepupu gue. Anak tante gue..jadi kalo elo nggak suka sama Kirei...gue juga nggak mungkin suka sama lo. Duluan ya". Arka meninggalkan Sinta yang masih mematung, mencerna setiap kata yang meluncur dari mulut Arka.
"A..adik sepupu? Mamp*s gue". Gumam Sinta kemudian berlari mengikuti Arka.
____
"Hai..boleh gue duduk sini?". Tanya seorang gadis.
Kirei mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang bertanya padanya. Ia melihat gadis yang tadi pagi menatapnya sinis tengah tersenyum manis didepannya.
"Terserah". Jawab Kirei cuek
Sinta sengaja mendekati Kirei untuk bisa mendapatkan Arka. Ternyata dirinya ketinggalan berita cukup fantastis karena tidak mengikuti acara yang diadakan sekolah minggu kemarin.
Setelah mendengar dari mulut Arka bahwa Kirei adalah adik sepupunya, Sinta segera mencari tahu tentang gadis itu. Dan apa yang ia dengar cukup membuat jiwa matrenya meronta, ingin menjadikan gadis itu temannya. Hanya teman untuk ia kuras hartanya.
"Kok lo sendiri aja sih? Nggak sama kakak sepupu lo?". Tanya Sinta sok akrab membuat Kirei tersenyum sinis. Tak ada sedikitpun niatan Kirei membalas ucapan gadis yang menurutnya bermuka dua itu.
"Dasar sombong. Kalo bukan anak orang kaya, terus bukan sodara si Arka. Udah gue jambak tu rambut lo". Batin Sinta mengumpat.
__ADS_1
"Nggak perlu baik sama gue. Nggak akan ngerubah apapun". Ucap Kirei dengan wajagmh datarnya
"Gue cuma mau kenal baik ama lo kok. Kayanya elo seru kalo dijadiin temen". Jawab Sinta masih tersenyum manis.
"Dasar cewe sinting". Batin Kirei.
Sejak mengetahui kenyataan bahwa Kirei adalah putri tunggal dari Devano Praja Natakusumah yang notabene nya adalah calon pewaris sekolah yang kini menjadi tempat mereka belajar itu, banyak yang mendekati Kirei hanya sekedar ingin berteman. Membuat Kirei muak dan merasa jijik dengan orang-orang munafik itu.
"Lagi makan apa lo? Mau nyoba makanan gue? Ini enak loh". Sinta masih belum putus asa mendekati Kirei.
Kirei menghentikan aktifitasnya memasukkan makanan kedalam mulutnya, ***** makannya tiba-tiba hilang karena kehadiran gadis menyebalkan dihadapannya ini.
Kirei bangkit hendak meninggalkan Sinta yang menahan amarahnya karena terus diacuhkan oleh Kirei.
"Loh..lo mau kemana Ki? Makanan elo belom abis ni". Cegah Sinta ketika melihat Kirei hendak meninggalkannya.
Kirei berhenti dan menundukkan kepalanya, wajahnya berada 50cm dari wajah Sinta. Senyum sinis tersungging dibibir seksi Kirei, membuat Sinta tersenyum manis, berpikir bahwa Kirei akan menyukainya dan menjadikannya teman. Namun senyuman manis itu perlahan pudar setelah mendengar ucapan pedas yang keluar dari mulut Kirei.
"Berhenti jadi penjilat! Karena nyampe kapanpun, lo cuma bakal mimpi bisa milikin abang gue!". Sinis Kirei tepat sasaran.
Sinta mengepalkan tangannya kuat, berusaha sekuat tenaga menahan amarah yang sudah berada diubun-ubun. Dirinya tidak boleh lepas kontrol. Bagaimanapun caranya, ia tetap ingin memiliki Arka.
Sepeninggalan Kirei, Sinta menggebrak meja penuh emosi.
"Kurangaj*r!!! Berani-beraninya dia ngehina gue. Dia pikir dia siapa". Umpat Sinta penuh amarah.
"Bau-baunya sih kaga bakal ada yang berani deketin lo deh kayanya bang". Bisik Dirga membuat Arka menoleh.
Arka dan Dirga melihat apa yang Kirei lakukan, meski tak mendengar apa yang diucapkan oleh gadia itu. Namun kedua pemuda itu yakin jika apa yang Kirei ucapkan cukup untuk membuat para gadis matre takut hanya untuk sekedar mendekati Arka.
"Halo adeknya abang Arka yang paling cantik. Manyun aja nih.." Goda Arka ketika Kirei melewati keduanya.
Kirei melirik tajam membuat Arka menelan salivanya susah, sementara Dirga sudah menahan tawanya melihat wajah Arka yang tertekan.
"Elo..!!! Berhenti jadi playboy dan nyusahin hidup gue sama ganggu ketenangan gue! atau gue lempar lo ke planet lain!!!" Sengit Kirei menunjuk wajah tampan Arka.
"Dan lo!!!! Kalo lo berani kaya bang Arka, gue kirim lo ke Antartika! Males gue berurusan ama cewe-cewe yang gila itu". Kali ini Kirei menunjuk wajah Dirga yang langsung menghilangkan senyuman yang tadi menghiasi wajah tampannya.
Kedua pria itu mengangguk patuh, mereka tidak ingin membuat mood Kirei buruk, akan tidak baik-baik saja jika sepupu mereka itu mengamuk karena merasa tidak nyaman dengan sekitarnya.
Keduanya mengangguk patuh seperti seorang anak yang baru saja dinasehati oleh ibu bapaknya.
"Awas lo berdua macem-macem!!". Ancam Kirei menunjukkan kepalan tangannya didepan wajah dua pria tampan yang hanya bisa menganggukkan kepalanya patuh.
Kirei segera berlalu meninggalkan dua pria yang masih mematung tak bergerak sedikitpun dari tempatnya.
"Jantung kita bisa kelewat sehat kalo tiap hari diomelin ama Kirei bang". Ucap Dirga mengelus dadanya. Arka hanya bergumam dan menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Dirga yang memang benar 1000%.
Didalam kelas, Kirei hanya menempelkan kepalanya diatas meja. Perutnya masih terasa sangat lapar karena baru memakan makanannya beberapa suap. Gara-gara ulat bulu kegatelan yang datang membuatnya hanya memakan sedikit makanannya.
"Dasar ulet bulu gatel". Gumamnya sambil mengelus perutnya yang berdemo meminta isi ulang.
Kirei mengangkat kepalanya ketika mendengar seseorang meletakkan sesuatu diatas mejanya. Ia mendongak untuk melihat siapa yang meletakkan susu dan sepotong sandwich diatas mejanya.
"Dimakan Ki..aku tadi liat kamu belum makan". Alma memberikan setengah bekalnya untuk Kirei.
"Nggak beracun kok. Aku juga makan sama kaya yang aku kasih ke kamu. Itu bekal dari mama aku". Alma menjelaskan dengan senyum manis ketika Kirei diam saja dan hanya melirik makanan yang ia berikan.
"Aku balik ke meja aku dulu ya. Jangan lupa dimakan sama diminum".
"Makasih". Ucap Kirei saat Alma akan meninggalkannya.
__ADS_1
"Sama-sama". Jawabnya sambil terseyum tulus.