Cinta Kinara

Cinta Kinara
nonton


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal Ara check up luka bekas tembakan dibahu kanannya.


Gadis itu sudah tampil cantik dengan kemeja kotak kotak berwarna hijau dan celana jeans robek hitam.


Saat melihat bapak dan om Pram sedang bermain catur, Ara mendekat untuk berpamitan pada bapak.


"Ara pergi dulu ya pak, mau kontrol bekas luka Ara". Ara hendak menyalami tangan bapak.


"Udah kuat neng naik motornya??". Bapak menjawab tanpa menengok lawan bicaranya.


"anaknya disini pak, ya Allah..anak pamit bukannya diliat malah lebih seneng mantengin pion kayu". Ara dalam mode ngajak ribut.


"diem dulu atuh neng ih, nanti bapak kalah ini". Pantes aja anaknya suka ngeselin, lha wong turunan bapaknya🤦


"SKAK!! YESSS!!" Tiba tiba om Pram berseru.


"tuh kan kata bapak juga kamu mah neng, dibilangin jangan gangguin bapak dulu. Jadi we kan bapak kalah main caturnya". Bapak kembali dalam mode ngajak ribut anaknya.


"Allahuakbar ini aki-aki satu bener-bener gak bisa pisan jadi panutan anak ya, kalah main catur mah emang bapak we yang ga bisa. Kalakah nyalahin Ara, mau ada aku apa engga mah bapak pasti kalah". Tak terima disalahkan atas kekalahan Bapak, Ara langsung memasang mode garang.


"kita ulang! Kamu pasti tadi curang Pram pas saya lagi sibuk ngomong ama si eneng!". Bapak tetap tak terima dengan kekalahannya dan mengajak om Pram bermain ulang.


"Ah emang bapak aja we yang gak bisa main, mau diulang nyampe besok juga pasti kalah. Pake tadi nyalah-nyalahin eneng sagala". Setelah mengatakan hal itu, Ara langsung melarikan diri sebelum sandal yang sudah dipegang Bapak melayang mengenai kepalanya.


Ara berlari sambil tertawa terbahak bahak melihat muka kesal bapak.


Hari ini memang hari sabtu, jadi tuan dan nyonya Aryo berada dirumah, jadi bapak dan pengawal lainnya bisa bersantai dirumah.


Saat ini Ara sudah kembali ke kamar yang ada di paviliun belakang rumah utama.


Setelah berpamitan kepada Bapak dan berhasil membuat bapak kesal, Ara sedang menuju garasi untuk mengambil motornya.


Saat sedang berjalan menuju motornya, tangan Ara dipegang oleh seseorang.


Ara menoleh untuk melihat siapa yang menahan tangannya. Dan ternyata orang itu adalah Dev.


"Aku anter ke rumah sakitnya, jangan naik motor dulu". Dev langsung menarik tangan Ara tanpa menunggu jawaban dari gadis itu.


"Lu mah kebiasaan main tarik-tarik aja bang". Meskipun mengomel, namun Ara tetap mengikuti langkah kaki Dev.


Sementara dari dalam rumah, tuan dan nyonya Aryo serta Dira sudah seperti detektif yang mengintai buronannya.


"kayanya gak perlu susah-susah dijodohin juga anak kamu udah ngebet deh pa". Nyonya Anika berbisik didekat suami dan putrinya.


"kayanya sih iya ma, kita gak perlu susah payah maksa Dev buat deketin Ara. Dia udah maju sendiri". Tuan Aryo ikut berbisik.


"Bisa suka juga sama perempuan ternyata anak kamu pa, mama kira dia bengkok, selama ini banyak yang deketin tapi dia lempeng-lempeng aja gak ada respon". Masih dengan suara yang sangat kecil nyonya Anika berkata tanpa beban.


"sembarangan aja kamu bilang anak aku bengkok, dia lelaki sejati ma". Tuan Aryo tidak terima mendengar omongan unfaedah sang istri.


"mama sama papa kenapa sih dari tadi bisik-bisik. Mau ngomongnya sambil teriak juga kak Dev sama Ara gak mungkin denger ih. Ini juga kenapa kita pake jongkok-jongkok disini, dari luar kan gak keliatan mau kita berdiri sambil loncat-loncat juga". Dira jadi sebal sendiri dengan kelakuan orang tuanya, dan anehnya dirinya pun mengikuti keanehan kedua orang tuanya sejak tadi.


"oh iya ya pa, ngapain dari tadi kita bisik-bisik. Kan Dev sama Ara ada diluar". Nyonya Anika menegakkan badannya yang sedari tadi membungkuk mengintip Ara dan Dev.


"mama sama papa sama-sama aneh". Dira kemudian berjalan meninggalkan kedua orang tuanya yang saling lihat dan kemudian tertawa keras.

__ADS_1


______


Dirumah sakit


Saat ini Ara dan Dev sedang duduk diruang tunggu pasien menunggu namanya dipanggil oleh perawat yang berjaga.


Sesaat kemudian nama Ara sudah dipanggil oleh perawat.


"nona Kinara Maheswari". Panggil perawat


Ara berjalan menuju ruang periksa dokter Yoga diikuti Dev dari belakang.


"lu ikut masuk juga bang??". Ara bertanya saat menyadari Dev mengikutinya.


"hmm". Dev hanya berdehem sambil mengangguk. Ara sudah tidak menjawab dan melanjutkan langkahnya.


"selamat siang dok". Ara menyapa dokter tampan yang kelihatannya umurnya masih sekitar 25 tahunan itu.


"selamat pagi nona Ara, bagaimana keadaannya sekarang?? Apakah masih terasa nyeri??". Dokter bertanya pada Ara.


"sudah jauh lebih baik dok, hanya kadang terasa nyeri saat tersentuh". Ara mengatakan keluhannya pada dokter.


"kita lihat dulu ya bekas lukanya, apakah sudah benar-benar kering atau belum". Ucap dokter


Ara membuka beberapa kancing kemejanya hendak menurunkan kemeja sebelah kanannya untuk melihat bekas luka Ara.


Namun belum sempat Ara menurunkan kemejanya, tangannya sudah ditahan oleh Dev.


"kenapa harus dibuka kemejanya". Pertanyaan konyol meluncur begitu saja dari mulut seorang pria cerdas seperti Dev.


Dokter tersenyum melihat sikap posesif Dev.


"nona Ara hanya akan menurunkan sedikit bajunya saja tuan muda". Dokter mencoba menenangkan Dev.


"lu kenapa sih bang, bikin malu tau. Lagian nih ya gue pake tanktop bang". Ara mencondongkan sedikit badannya kemudian berbisik pada Dev. Ara merasa malu dengan tingkah Dev.


"silahkan lanjutkan dokter". Dev berucap setelah mendengar Ara berkata kalau memakai dalaman rangkap. Sejujurnya dirinya pun merasa malu dengan kelakuannya barusan.


"maaf ya nona Ara, saya periksa dulu sebentar". Dokter berkata sambil menurunkan sedikit kemeja bagian belakang milik Ara.


"Lukanya bagus dan sudah kering ya, hanya perlu dioles salepnya secara rutin agar bekas lukanya bisa memudar, kemungkinan bekasnya tidak akan hilang sempurna ya. Tapi akan saya berikan salep yang bisa meratakan bekas sayatan dan memudarkan bekas lukanya". Dokter menjelaskan panjang lebar.


Sedari tadi Dev sudah tidak fokus pada penjelasan dokter, karena pandangannya sudah terfokus pada bahu mulus milik gadis yang sudah memporak porandakan pertahanan hatinya yang selama ini tidak pernah terfikir tentang perempuan.


Dev cunihin ya pemirsah, liat bahu mulus dikit aja udah langsung kaga fokus, gimana kalo liat yang mulus-mulus lainnya😂😂😂


Tepukan dibahunya menyadarkan Dev dari lamunannya, dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengembalikan fokusnya.


"napa lu bang, bengong aja dari tadi". Ara sudah kembali mengancingkan kemejanya dan duduk dengan sempurna diatas ranjang pemeriksaan.


"hah...apa?? Engga, aku ga bengong ra". Dev jadi gugup sendiri mendengar pertanyaan Ara.


"ooh". Hanya kata itu yang keluar dari mulut Ara.


Keduanya kembali duduk didepan dokter Yoga

__ADS_1


"Ini saya resepkan obat salepnya untuk nona Ara, ada antibiotik juga..antibiotiknya harus dihabiskan ya. Biar tidak terjadi infeksi pada bekas lukanya. Salepnya dioleskan teratur supaya bekas lukanya cepat memudar dan tidak meninggalkan bekas yang terlalu terlihat nantinya. Obatnya bisa ditebus diapotek depan. Jika nanti merasa nyeri atau sakit, anda bisa datang untuk memeriksakannya lagi. Semoga cepat pulih nona Ara". Dokter menutup penjelasannya dengan senyuman hangat disertai uluran tangan. Namun bukan Ara yang menjabat tangan dokter Yoga melainkan Dev.


"terima kasih banyak dokter, kami permisi dulu". Dan tanpa memberikan Ara kesempatan untuk berterima kasih, Dev sudah menggandeng Ara keluar dari ruangan dokter Yoga yang hanya tersenyum melihat Dev seperti orang kebakaran rumah.


(Kalo kebakaran jenggot bisi mati kebakar ama badan-badannya. Jadi kebakaran rumah aja masih bisa kabur😂😂)


Ara hanya sempat melihat kearah dokter Yoga sambil tersenyum dan menundukkan kepalanya sedikit sebagai ucapan terima kasihnya.


"buset deh ah..lu kenapa sih bang main tarik-tarik aja. Berasa gue kebo ditarik-tarik mulu. Gue belom ngomong makasih ama itu dokter. Main geret aja". Ara langsung mengomel pada Dev.


"kan tadi udah aku wakilin makasihnya ke dokter Yoga, sama aja lah ra". Dev menjawab dengan santai tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Ara hanya bisa memutar bola matanya, jengah dengan kelakuan Dev akhir-akhir ini yang menurutnya sedikit aneh. Bukan sedikit, tapi semakin aneh setiap harinya.


***


"mau kemana lagi sih ini bang?? Pulang bang pulang..ntar gue dicariin ama bapak kalo kaga pulang-pulang". Ara mulai mengomel karena jalan yang mereka lalui bukan jalan menuju rumah milik keluarga Dev.


"kita makan dulu, abis itu kita nonton. Kamu disini udah lama tapi belom pernah jalan-jalan kan??". Dev menjawab dengan enteng


"gue belom pamit ama bapak bang..ntar bapak nyap-nyap ke gue". Ara berkata apa adanya karena memang dirinya belum meminta ijin pada sang ayah.


"aku udah telpon paman rahmat kalo mau ngajak kamu jalan-jalan dulu abis check up dari rumah sakit. Paman Rahmat udah ngasih ijin, jadi gak perlu khawatir dimarahin". Habis sudah alasan Ara untuk menolak ajakan Dev kali ini.


"yaudah lah gimana elu aja bang. Susah urusan ama orang modelan elu mah". Ara memberengut kesal sambil membuang pandangannya kearah luar.


Dev hanya tersenyum simpul melihat gadis disampingnya itu kesal.


___


Sesuai janji Dev tadi, mereka akan mengisi perut mereka dulu sebelum lanjut menonton film.


Saat ini Ara dan Dev sedang ada disebuah restoran cepat saji. Mereka sedang menikmati makanan yang tadi sudah dipesan oleh Dev.


"Nanti mau nonton film yang genre apa ra?? Mau film yang romantis, action apa horor??". Dev mencoba berbicara pada gadis yang masih manyun didepannya.


"film horor apa yang action aja lah bang, ngantuk gue nonton film romantis mah". Ucapan Ara sontak membuat Dev sedikit terkejut, pasalnya gadis-gadis muda lain pasti akan memilih film dengan genre romantis agar bisa bermesraan dengan pasangannya didalam bioskop. Tapi gadis ini?? Dia memang benar-benar beda. Lagipula siapa yang berpasangan. Bukankah mereka hanya anak dari majikan dan pengawalnya??


"oke, kita kelarin makan dulu udah itu langsung beli tiketnya". Dev menjawab setelah mengembalikan ekspresi mukanya dari sedikit keterkejutan tentang film yang ingin Ara tonton.


___


Saat ini keduanya sudah duduk dibangku bioskop, akhirnya mereka memutuskan untuk menonton film horor.


Lampu dalam bioskop sudah padam menandakan film akan segera dimulai.


Musik pengiringnya sudah cukup membuat sebagian penonton ketakutan. Namun tidak dengan Ara, mulutnya sibuk mengunyah pop corn yang tadi sudah dibeli oleh Dev.


Dev menoleh kesamping ingin melihat reaksi gadis disampingnya saat dilayar besar itu tiba-tiba muncul sosok menyeramkan. Dev pikir Ara akan berteriak seperti kebanyakan gadis lain, namun yang dia lihat hanya ekspresi datar dari Ara, bahkan gadis itu masih sibuk mengunyah pop cornnya. Dev lupa siapa gadis disampingnya ini.


Sepertinya gadis ini benar-benar tidak punya rasa takut tentang hal apapun.


Namun saat layar besar itu menampilkan bagian yang menunjukkan meriahnya pesta kembang api untuk menyambut tahun baru, reflek tangan Ara menggenggam erat tangan Dev dengan mata terpejam rapat. Bahkan sepertinya Ara enggan untuk membuka matanya.


Dev melihat tangannya yang masih digenggam kuat oleh Ara, alisnya berkerut dalam melihat Ara seperti orang ketakutan dengan buliran keringat yang mulai mengucur dipelipis gadis cantik itu. Padahal tidak sedang ada penampakan menyeramkan didepan layar besar yang mereka tonton.

__ADS_1


Lalu kenapa Ara seperti ketakutan??" Dev terus berpikir keras.


__ADS_2