Cinta Kinara

Cinta Kinara
olahraga sore


__ADS_3

Para guru pembimbing mengumpulkan seluruh siswa yang ikut dalam acara wisata alam ini. Wajah para siswa terlihat begitu antusias, terlebih Kirei yang akhirnya bisa mengikuti acara ini setelah tahun lalu sang ibu melarang keras dirinya untuk mengikuti acara itu.


"Kaga usah cengar cengir gitu Ki". Ucap mulut menyebalkan Arka mengganggu kesenangan Kirei.


"Ck..ganggu aja sih. Diem bang". Cebik Kirei


Dirga dan Arka benar-benar menjalankan perintah buna dan oma mereka untuk menjaga cucu perempuan satu-satunya itu. Keduanya tidak sedikitpun membiarkan Kirei lepas dari pandangan keduanya.


"Udah gih sono jauh-jauh. Dari tadi ngintilin gue mulu". Kesal Kirei, karena sejak guru membubarkan siswanya, kedua pria itu terus membuntuti Kirei.


"Gue cuma ngejalanin amanat buna sama oma. Suka apa engga sih terserah elo". Jawab Arka santai, dan langsung didukung anggukan kepala oleh Dirga. Sejak tadi Kirei merasa tidak nyaman dengan tatapan para gadis yang menatap dirinya seperti seorang penjahat. Namun apa daya, ia tidak berhasil mengusir dua penguntit kiriman ibu dan neneknya.


"Kenapa lo kaga bilang kalo kita ke villa nya papah?!". Tanya Kirei kesal. Ia pikir acara sekolahnya akan pergi kemana, namun ternyata tempat menginapnya hanya villa milik Kevin, papah dari Dirga.


"Kan elo kaga nanya". Jawab Dirga santai. Di villa itu, ketiganya sudah memiliki kamar sendiri.


"ck..tau gini mah gue kaga bakal mati-matian kalahin buna kemarin".


"Makanya lain kali nanya dulu". Sahut Arka dan Dirga bersamaan. Keduanya bertos ria kemudian menertawakan kekesalan sepupunya itu. Tawa keduanya memancing beberapa siswa memperhatikan mereka bertiga yang terlihat begitu akrab, bahkan sangat dekat. Dalam benak mereka tengah berperang tentang apa hubungan ketiga orang itu. Apakah mungkin, Kirei yang terkenal pendiam dan judes adalah kekasih dari salah satu pria tampan itu.


"Kalian bisa menempati kamar yang sudah kami tentukan. Silahkan beristirahat dulu..kita akan melanjutkan kegiatan nanti setelah kalian beristirahat". Penjelasan seorang guru pembimbing membuat ketiga orang itu saling pandang. Tidak mungkin ketiganya menempati kamar yang biasanya mereka tempati. Villa milik Kevin memang dirancang begitu besar dengan banyak kamar. Karena villa ini memang sering ia sewakan untuk kegiatan seperti ini.


"Lah..gue sekamar lagi ama elo. Bosen gue bang". Celetuk Dirga dan langsung mendapat hadiah toyoran dari Arka.


"Lo kira gue kaga bosen". Balas Arka sengit.


"Lah gue sekamar ama sapa?". Tanya Kirei bingung.


"Mau sekamar ama kita aja?". Tawar Arka serius, namun Kirei memukul lengan kakak sepupunya keras.


"Lo mau bikin gue dipanggang idup-idup ntar malem". Sengit Ara.


"Lah..gue nawarin beneran. Biar gue ama Dirga gampang jagain elo". Arka mengelus lengannya yang terasa sakit.


"Bener Ki. Gue ama bang Arka bakal lebih gampang jagain elo kalo kita bertiga sekamar. Gue bilang deh ama guru". Sahut Dirga membuat Kirei semakin kesal dengan o*ak kedua sepupunya yang sedang tak berfungsi.


"Orang lain kaga ada yang tau kita sodara sepupu bambaaank!!" Kirei menekankan setiap ucapannya.


"Lupa gue!!". Ucap kedua lelaki itu kompak sambil menepuk dahinya. Kirei hanya mendengus melihat saudara koplaknya itu.


Kirei hanya diam menunggu orang yang akan menjadi teman satu kamarnya. Tidak ada niat sedikitpun dirinya untuk mencari siapa yang menjadi teman satu kamarnya.


"Kirei?". Sebuah suara lembut menyapa indera pendengaran ketiga orang yang sibuk dengan ponselnya masing-masing. Ketiganya mengangkat kepala untuk melihat siapa pemilik suara lembut itu.


"Kamu yang namanya Kirei?". Tanya gadi cantik berambut panjang itu membuat Kirei mengangguk.


"Aku Alma. Temen sekamar kamu". Ucapnya sambil mengulurkan tangan, Kirei menjabat tangan gadis cantik itu tanpa berkata sepatah katapun. Bukan karena sombong atau apapun, namun memang Kirei tipe orang yang sulit beradaptasi dengan orang baru.


"Kenalin, gue Arka". Arka mengulurkan tangannya pada gadis bernama Alma itu, membuat Kirei dan Dirga kompak memutar bola matanya malas. "Dasar kadal buntung koplak!". Cibir keduanya yang langsung membuat Arka melotot kesal.


Alma hanya tersenyum lembut melihat keakraban ketiga orang itu. Selama ini dirinya hanya mendengar dari teman sekolahnya tentang bagaimana ketiga orang ini.


"Ya Allah..kaga kuat abang dek. Jantung abang kaya mau copot". Arka tiba-tiba memegang dadanya seolah menahan sakit, Alma yang tidak mengetahui bagaimana kelakuan lelaki itu terlihat khawatir melihat Arka memegang dadanya. Sedangkan dua sepupunya sudah bersiap melayangkan kepalan tangannya pada kepala lelaki kampret itu.


"Astagfirullah!". Ucap Arka ketika merasakan dua kepalan tangan mengenai kepala belakangnya. Siapa lagi pelakunya jika bukan dua sepupu minim akhlak miliknya.


"Lo berdua..!" Geram Arka sambil menunjuk dua orang yang terlihat acuh dan tak peduli sedikitpun.


"Tiap ketemu cewe bening jantung lo lompat. Mati dong lo tiap hari". Ketus Kirei, kemudian berlalu meninggalkan Arka yang hanya bengong mendengar ucapannya.


"Aku duluan ya.." Pamit Alma dengan senyuman manis yang mampu membuat Arka salah tingkah dan malu tak jelas.

__ADS_1


"Cantik banget ya Ga". Arka berkata dengan mata yang terus melihat punggung Alma.


"Denger gue kaga sih lo bocah". Arka yang belum menyadari bahwa dirinya telah ditinggalkan oleh Dirga terus mengoceh.


"Kuping lo keting..." Arka tak meneruskan ucapannya ketika melihat sisinya sudah tak ada siapapun.


"Dasar adek kaga ada akhlaknya kalian berdua. Gue sumpahin tambah kaya lo". Geram Arka kemudian menyusul Dirga yang lebih dulu memasuki kamar mereka.


Arka membuka pintu kamar dan mendapati Dirga sudah tiduran diatas ranjang. Arka lantas mengambil bantal dan melemparkannya pada Dirga yang dengan sigap menangkisnya.


"Lo berdua emang sepupu kaga ada akhlaknya ya. Yang tua lagi ngomong malah ditinggalin pergi". Omel Arka membuat Dirga terkekeh geli.


"Mata lo bang. Jaga tu mata! Inget bukan mukhrimnya". Peringat Dirga sok bijak namun benar adanya.


"Sok tua lo bocah!". Sungut Arka dan berlalu kekamar mandi. Jika diteruskan, perdebatan itu tidak akan usai dalam waktu cepat.


"Dih..yang tua sewot". Ucap Dirga kemudian melanjutkan kegiatannya bermain ponsel.


Sementara dikamar lain, Kirei yang baru saja selesai membersihkan diri keluar dari dalam kamar mandi yang berada dikamar tersebut.


"Kamu udah selesai Ki?" Tanya Alma yang sedang merapikan bajunya kedalam lemari. 3 hari kedepan mereka berdua akan menjadi teman satu kamar.


"Hmm.." Hanya sebuah deheman yang menjadi jawabannya. Alma tersenyum dan mengangguk kemudian membawa pakaian gantinya kedalam kamar mandi.


Kirei menghempaskan tubuhnya keatas ranjang. Menatap langit-langit kamar itu, sambil berkali-kali menghela nafas panjang dan mengeluarkannya dengan kasar.


"Tau gini kan gue kaga usah mati-matian kalahin buna. Udah jumpalitan kalahin buna, ternyata cuma ke villa papah". Gerutu Kirei


"Papah siapa Ki?". Tanya Alma yang mendengar Kirei menyebut papah.


"Bukan siapa-siapa". Ketus Kirei. Keduanya kembali diam, Alma sibuk merapikan rambutnya, sementara Kirei sibuk memainkan ponselnya. Ketukan pintu membuat keduanya menoleh, siapa kira-kira orang yang datang. Bukankah acara selanjutnya masih nanti malam. Pikir keduanya.


"Eh.." Kaget Alma ketika melihat Arka sudah berdiri didepan pintu kamar yang ia tempati. Sementara Dirga berdiri dibelakang kakak sepupunya itu.


"Hay Alma.." Sapa Arka berbasa-basi.


"Salam bang! Salam!" Ketus Dirga membuat Arka mencebik kesal.


"Assalamualaikum Alma". Ulang Arka dengan senyum merekah diwajah tampannya.


"Eh.. iya..wa'alaikumsalam". Jawab Alma kikuk.


"Kireinya ada?" Tanya Dirga cepat ketika melihat Arka membuka mulut hendak melayangkan kalimat-kalimat manis untuk menggoda Alma.


"A..ada". Jawab Alma terbata.


Tanpa permisi, Dirga masuk kedalam kamar. Melihat sepupunya sedang sibuk bermain ponsel. Dirga mencebik kesal, tak dimanapun dan dalam suasana apapun. Kirei selalu sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang gadis itu lakukan.


"Eh..loh. Kok masuk". Alma yang hendak mencegah Dirga segera ditahan oleh Arka.


"Biarin aja". Ucapnya santai, kemudian ikut masuk kedalam kamar tersebut.


"Loh..gimana sih. Kok ikut masuk..nanti dimarahin". Panik Alma namun tak dihiraukan oleh kedua pria itu.


Tanpa babibu, Dirga menarik tangan Kirei hingga terbangun dari rebahan enaknya. Kirei mendongak, hendak mencaci orang yang berani mengganggu istirahatnya. Namun setelah melihat orangnya, Kirei hanya bisa mendengus kesal.


"Rebahan aja lo. Ayo jalan-jalan. Ngapain jauh-jauh kesini kalo cuma rebahan". Ajak Dirga namun tak dihiraukan oleh Kirei. Gadis itu lebih memilih melanjutkan acara rebahannya.


"Jalan Ga".


"Lepaaas!!! Arka kampreeeet!!!". Teriak Kirei saat tubuhnya sudah ada dalam gendongan Arka.

__ADS_1


"Yakin lo mau dilepas ama bang Arka, Ki?? Gue jamin pantat ama pinggang lo sakit sih". Ucap Dirga sambil memungut ponsel Kirei dan memasukkannya kedalam saku.


Kirei diam dan berpikir. Benar yang dikatakan Dirga. "Turunin bang!". Ketus Kirei


"Jalan-jalan tapi ye?!". Tawar Arka memaksa, akhirnya Kirei mengangguk walaupun malas.


"Balikin handphone gue adik kadal!". Tangan Kirei terulur didepan Dirga, meminta ponselnya dikembalikan.


"Ntar abis jalan-jalan. Kalo lo kata gue buaya terus Dirga kadal..nah lo komodonya. Juara ngibul". Arka berjalan mendahului Kirei yang menghentakkan kakinya kelantai.


"Dasar sepupu somplak, kaga ada akhlak. Gie sumpahin kaya lo berdua!". Sengit Kirei membuat Arka dan Dirga tergelak mendengar sumpah yang Kirei ucapkan.


"Sory aja Ki, kita udah kaya dari lahir". Sahut keduanya kompak membuat Kirei mengacak rambutnya karena kelewat kesal.


"Aaaahhhh!!! Ngeselin!!!" Teriak Kirei frustasi menghadapi kedua sepupunya. Ia berjalan cepat mendahului Arka dan Dirga, saat melewati keduanya, Kirei sengaja menyenggol bahu keduanya dengan keras, membuat dua lelaki itu tertawa keras karena berhasil membuat Kirei mengamuk.


"Alma mau ikut jalan-jalan sama kita?". Tanya Arka lembut, membuat Dirga mencebik dan berjalan menyusul Kirei.


"Eh..apa?" Ucap Alma tergagap. Sejakntadi ia terus memperhatikan interaksi ketiga orang itu. Hingga suara Arka membuatnya tersadar.


"Mau ikut?". Arka mengulangi pertanyaannya.


"Tapi..nanti kalo dicari sama pembimbing gimana kak?" Tanya Alma ragu.


"Ya biar dicariin lah kalo mau dicari". Jawab Arka santai, dan dengan cepat menggenggam tangan Alma dan membawanya keluar menyusul Kirei dan Dirga.


Keempat remaja itu berjalan disekeliling villa yang diapit oleh kebun teh. Udaranya sangat sejuk, membuat siapa saja betah berlama-lama disana. Cukup jauh keempatnya berjalan, hingga villa yang mereka tempati sudah tidak terlihat lagi. Sepanjang perjalanan hanya diisi obrolan tiga bersaudara yang selalu meledek Kirei. Dari situ Alma tahu bahwa ketiganya memiliki hubungan persaudaraan.


"Ehmm..kita nggak kejauhan jalan-jalannya kak? Nggak akan kesasar??" Tanya Alma ragu, membuat ketiga orang itu menoleh. Kirei dan Dirga tersenyum tipis melihat gadis itu khawatir, sedangkan Arka sudah tertawa.


"Nggak akan kesasar lah. Tenang aja". Ucap Arka menenangkan. Saat keempatnya tengah asyik mengobrol, tiba-tiba muncul segerombolan orang yang mereka prediksi sebagai preman yang suka mengganggu pengunjung villa milik papah Kevin.


"Hai adik-adik manis. Mau kemana sore-sore gini? Mau om temenin?!". Ucap seorang pria diikuti tawa mengejek dari rekan-rekannya.


Kirei hanya diam memasang wajah datar, begitupun dengan Dirga dan Arka. Sementara Alma sudah gemetar ketakutan bersembunyi dibelakang tubuh tinggi Arka.


"Hp lu pada kayanya bagus tuh. Siniin neng cantik..nanti om ajakin jajan". Ucap yang lain dengan seringai mesum. Ketika Alma hendak menyerahkan ponsel yang ia genggam, Kirei menahan tangannya, membuat Alma menoleh.


"Gapapa Ki. Cuma handphone aja..masih bisa beli". Lirihnya


"Mau ini lo pada?" Tanya Kirei menantang sambil memainkan ponsel Alma ditangannya.


"Ambil sendiri kalo bisa". Lanjutnya dengan senyum smirknya.


"Lo tanggung jawab soal keselamatan ni bocah! Lo yang bawa!". Peringat Kirei pada Arka. Pria itu langsung mengangguk antusias membuat Kirei dan Dirga mendengus kesal.


"Nyari mati ni bocah kang. Belum tau siapa penguasa daerah ini". Ucap seorang pada ketua begal itu.


"Eneng bisa ngehangatin badan akang nanti, sini sayang". Ucap sang ketua dengan nada menjijikkan, membuat Kirei meludah jijik.


Apa yang dilakukan Kirei memantik amarah para pria itu, mendapat aba-aba dari ketuanya, pria yang berjumlah 7 orang itu maju hendak melumpuhkan Kirei. Mereka pikir akan dengan mudah melumpuhkan gadis cantik berkulit mulus seperti Kirei. Namun mata semua rampok itu membelalak ketika dua orang terhuyung ke belakang memegangi perutnya.


"Olahraga sore". Ucap Kirei santai sambil meregangkan otot lehernya.


"Berasa dapet lotre dia bang". Ucap Dirga yang berdiri disamping Arka.


"Lebih-lebih dari lotre. Kita tonton aja". Sahut Arka tak kalah santai.


"Loh..kok..kok malah diliatin sih. Itu bantuin Kirei kak. Bahaya itu orang-orangnya..atau enggak ini aja deh hp aku kasiin aja ke mereka". Ucap Alma semakin panik ketika melihat Dirga dan Arka justru menikmati tontonan didepan matanya itu.


"Tenang aja". Jawab keduanya santai kemudian melipat kedua lengannya didepan d*da.

__ADS_1


__ADS_2