Cinta Kinara

Cinta Kinara
persiapan


__ADS_3

Kebahagiaan Bian terasa semakin sempurna setelah ia mendengar kabar bahwa Ara bersedia menikah dengan Dev. Bukan ia tidak ingin adik tersayangnya itu tinggal dirumahnya bersama dengan dirinya dan sang istri. Namun ia ingat betul pesan bapak yang meminta Ara untuk segera menikah agar ada yang menjaganya.


"Lo kok tiba-tiba berubah pikiran Ra? Tapi gue seneng sih lo mau secepatnya nikah sama kak Dev." Tanya Putri penasaran. Pasalnya ia tahu betul bagaimana adik iparnya ini bertekad untuk menjadi orang berhasil sebelum menikah dengan Dev. Apa alasan Ara hingga ia berubah pikiran, Putri sangat penasaran.


"Panas dia kalo liat kita mesra-mesraan gini sayang". Ucap Bian membuat Ara mendelik. Ketiga orang itu tengah duduk sambil menonton tv diruang keluarga rumah itu.


"Kepedean sekali anda bapak Bian. Yang ada sebel liat kalian berdua". Cebik Ara


"Tuh kan kata aa juga, dia mah sirik liat kita". Sinis Bian membuat Ara semakin kesal.


"Aa diem dulu dong..aku pengen denger alesan Ara". Rengek Putri membuat Ara bergidik melihat kelakuan pengantin yang menurutnya sudah kadaluarsa itu.


"Lu berdua mah pengantin udah kadaluarsa berasa pengantin baru mulu". Sungut Ara membuat Putri dan Bian sama-sama melotot mendengar ucapan Ara yang menyebut keduanya pengantin kadaluarsa.


"Tu mulut bener-bener emang kaga kebagian filter ya". Sengit Bian hanya dijawab Ara dengan mengendikkan bahunya.


"Sabar a..gitu-gitu juga adek kamu". Ucap Putri mengelus lengan suaminya.


"Bisa dituker tambah engga sih? Apa engga barter juga gapapa deh". Ucap Bian membuat Putri mendelik.


"Awas lu kak ngebatin gue mulu, anak lu ntar mirip ama gue". Ara menaik turunkan alisnya menggoda sang kakak.


"Amit-amit...amit amit..." Bian beberapa kali mengetukkan kepalan tangannya ke meja.


"Satu aja bikin gue senewen, kalo nambah lagi yang modelan begini (Bian bergidik membayangkan bila ada dua Ara yang harus ia hadapi)..aa harus beli sabar dimana sayang?" Ucapan Bian membuat Ara tertawa puas.


"Heh adek sontoloyo..mau kemana lo". Ucap Bian ketika melihat Ara menaiki tangga.


"Mau renang! Ya mau tidur lah, udah malem ini..dasar tua" Ledek Ara semakin mempercepat langkahnya sebelum sang kakak murka karena ledekannya.


"KINARA MAHESWARI!!!" Teriak Bian kesal. Sementara Ara sudah tertawa puas sambil menutup pintu kamarnya.


Tawa Ara mereda berganti dengan wajah sendu ketika matanya melihat sebuah bingkai yang berisi foto ibu dan bapak. Ara berjalan pelan dan mendudukkan dirinya disamping ranjang, tangan lentiknya mengambil foto tersebut dan mengelusnya.


"Bapak sama ibu bahagia kan disana?? Bapak udah ketemu ibu belum?? Ara kangen pak.." Ara terus berbicara pada benda yang tak akan mungkin menjawab semua ucapannya.


"Ara akan menikah pak, seperti permintaan bapak. Ara juga akan percaya sama bang Dev sama seperti bapak percaya sama dia" Suara Ara terdengar sedikit bergetar, tangannya terus mengusap wajah bapak yang sedang tersenyum lebar dalam foto itu.


"Bapak ganteng kalo senyum gini, pantesan aja ibu yang cantiknya nggak ketulungan mau sama bapak". Kekeh Ara, namun matanya meneteskan buliran bening.


"Ara udah ikhlas pak..Ara cuma kangen sama bapak sama ibu" Ara memeluk erat foto ayah dan ibunya, menumpahkan segala kerinduan yang terpendam, hingga tanpa sadar matanya terpejam dengan masih memeluk foto kedua malaikatnya itu.


####


Sesuai permintaan mama Anika, pernikahan Ara dan Dev akan dilaksanakan 2bulan lagi. Semua persiapan pernikahan keduanya, mama sendiri yang akan turun tangan mengurusnya. Sudah berulang kali Ara meminta untuk mengadakan pesta sederhana saja. Namun kali ini mama Anika tak ingin menuruti keinginan calon menantunya itu. Ditambah lagi Dira yang selalu berkata bahwa sang kakak masih sering diganggu oleh banyak gadis dikampusnya karena mereka pikir Dev masih sendiri.


"Kaga kebayang tu muka cewe-cewe kegatelan kalo liat kakak tiba-tiba nikah ama si Ara". Ucap Dira dengan senyum geli membayangkan wajah-wajah terkejut penghuni kampus. Memang hingga kini tidak ada yang mengetahui tentang hubungan Ara dan Dev. Yang mereka tahu hanya Ara dan Dev dekat karena Ara sahabat dari Dira.

__ADS_1


"Hm..kayanya bakal pada kena serangan jantung deh Dir" Sahut Salsa sembari terkikik membayangkan bagaimana gemparnya suasana kampus saat berita pernikahan Ara dan Dev tersebar.


Ara hanya melirik sekilas kedua teman baiknya yang sibuk membayangkan seperti apa suasana kampus ketika tersebar berita tentangnya dan Dev.


"Masyaallah..makin cantik aja si neng. Bikin aa nggak mampu berpaling". Suara Digo membuat Ara menoleh. Digo duduk disamping Ara dengan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menatap Salsa yang terlihat salah tingkah setiap kali ia goda.


"Ni cecunguk dimana-mana ada ya. Heran gue". Ucap Dira ngegas.


Sedangkan Ara hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Digo yang tidak pernah berubah. Senang merayu dan menggoda gadis-gadis cantik.


"Yang didepan mata mah udah cantik, lembut shalehah lagi. Kalo yang disamping mah...cantik sih, tapi seremnya ngelebih-lebihin emak gue." Digo bergidik sambil melirik Ara yang sudah menatapnya tajam.


"Kakak lu kok betah sih Dir ama ni bocah?" Digo beralih menatap Dira yang tengah memutar bola matanya jengah dengan tingkah Digo.


"Temen kaga ada akhlak emang ya lu. Sono lu jauh-jauh. Bawaannya deket ama lu pengen nempeleng tu pala". sengit Ara membuat Digo tergelak. Tak ada raut ketakutan diwajah tampannya, ia masih senang menggoda Ara hingga gadis itu murka.


"Sayang.." Suara lembut Dev membuat Ara dan yang lain mengalihkan perhatiannya pada Dev yang berjalan mendekat.


"Abang udah kelar?" Tanya Ara dijawab anggukan kepala disertai senyum yang mampu membuat beberapa gadis yang sejak tadi memperhatikan Dev menjerit kecil melihat senyum menawan itu.


Dev mendudukkan dirinya disebelah Ara, tanpa sungkan ia meminum jus jeruk yang tersisa digelas Ara.


"Eh..bekas gue itu bang. Gue pesenin aja ya". Dev menggeleng kemudian mengacak gemas rambut panjang Ara yang terikat.


"Duh mata gue...mata suci gue. Ternodai dengan pemandangan ini. Ayok neneng Salsa, ikut aa Digo pergi. Kasian mata kamu nanti ikut ternodai". Ucap Digo lebay sambil bangkit dan menarik tangan Salsa menjauh dari Ara.


"Temen gue nyampe lecet, gue bikin botak pala lu kadal!" Teriak Ara dijawab acungan jempol oleh Digo.


"Sirik aja lo jadi adek". Balas Dev tak mau kalah.


"Kakak sejak kapan sih jadi orang normal banyak ngomong. Heran gue deh, perasaan dulu udah kaya kulkas jalan. Sekarang banyak ngomong banget". Cebik Dira, membuat Ara tertawa geli melihat dan mendengarnya.


"Noh lo udah ditungguin ama pangeran berkuda putih". Ucap Dev membuat Ara dan Dira sama-sama mengerutkan alisnya bingung. Keduanya mengikuti arah pandangan Dev. Kevin sedang berjalan dengan gagah ketempat dimana mereka tengah duduk. Wajah Dira terasa panas setelah tahu siapa yang dimaksud oleh kakaknya.


"Kita pergi sayang..tadi mama minta kita untuk ke tempat tante Erika mencoba cincin pernikahan kita". Dev menarik pelan tangan Ara, meninggalkan Dira yang sedang dilanda kepanikan bagaimana harus bersikap didepan Kevin.


"Kita pulang, gue anter.." Tidak ada kata romantis atau apapun, namun tatapan mata lelaki itu terlihat lembut.


"Dira bawa mobil kak.." Jawab Dira tidak berani menatap wajah tampan Kevin.


"Biar nanti diambil pak Tono. Kita pulang sekarang". Tanpa menunggu Dira menjawab, Kevin menarik tangan Dira untuk mengikuti langkahnya.


****


Saat ini Dev dan Ara sudah berada ditoko perhiasan milik tante Erika. Mereka akan mencoba cincin untuk pernikahan mereka yang ternyata sudah dipesan mama sejak lama.


"Ya ampun Anika...pas banget". Pekik tante Erika kegirangan ketika cincin itu terlihat sangat pas dan cocok dijari Dev dan Ara.

__ADS_1


"Setelah ini kita ke butiknya tante Erika ya..Ara coba kebaya yang akan dipakai untuk acara ijab qabulnya dan gaun untuk pestanya". Mama Anika terlihat begitu bersemangat menyiapkan segala keperluan pernikahan untuk putranya.


Ara dan Dev hanya mengangguk patuh. Butik milik tante Erika tidak terlalu jauh dari toko perhiasannya. Hanya saja toko perhiasan tante Erika ada didalam sebuah mall besar ditengah kota. Sementara butiknya memiliki bangunan sendiri yang tidak jauh dari mall itu.


Selesai dengan urusan cincin, Dev membawa Ara ke butik yang sudah sering ia kunjungi ketika mengantarkan sang mama dan adik tersayangnya. Sejak awal Ara sudah meminta gaun yang simple dan tidak terlalu mewah, ia tidak ingin kerepotan sendiri ketika memakainya.


Sampai di butik, keduanya disambut hangat oleh pagawai tante Erika, mereka ditunjukkan tempat dimana Ara dan Dev akan mencoba pakaian yang akan mereka gunakan ketika menikah nanti.


"Butiknya gede banget ya bang". Ara memperhatikan sekeliling butik yang terlihat mewah dan elegan.


"Hm..tante Erika udah lama ngebangun bisnisnya ini Ra". Ara hanya berohria mendengar jawaban Dev.


"Mohon maaf menunggu tuan, sebentar lagi bu Erika akan sampai". Seorang pegawai menyampaikan pesan pada Dev dan Ara yang tengah duduk disofa sebuah ruangan.


Dev hanya mengangguk dan berterima kasih pada pegawai tersebut. Tidak lama terdengar suara ribut diluar ruangan, dan Dev sudah bisa menebak siapa yang sedang ribut diluar sana.


"Dira juga mau gaun dong maaa" Dira terus merengek sambil mengikuti langkah sang ibu.


"Yang mau menikah itu kakak kamu sama Ara, kok kamu yang ribut sih. Ara aja yang mau nikah diem aja. Ini kamu malah ribut sendiri. Udah pengen mama nikahin kamu?" Kesal mama karena sejak masuk kedalam butik Dira terus merengek meminta gaun yang sudah ia incar beberapa hari lalu ketika berkunjung ke butik itu.


"Pake gaun kan nggak harus nikah ma..Dira juga mau cantik tau pas kakak nikah". Dira terus bergelayut dilengan sang mama membuat mama kesal.


"Kamu berat sayang, lepasin tangan mama. Kita urus yang Ara sama kakak kamu dulu. Nanti baru yang kamu". Akhirnya mama Anika memilih mengalah daripada terus mendengarkan rengekan putri bungsunya itu.


"Yes..mama terbaik". Dira mencium pipi mama kemudian berjalan mendahului mama masuk kedalam ruangan dimana Ara dan Dev menunggu.


Mama Anika dan tante Erika hanya menggeleng melihat kelakuan Dira, begitupun dengan Kevin yang tersenyum kecil melihat kelakuan gadis yang entah sejak kapan sudah membuat gelombang besar dalam hatinya.


"Yang sabar ya Vin kalo ngadepin Dira". Mama Anika menepuk bahu Kevin membuat pria itu gelagapan karena tertangkap basah tengah memperhatikan Dira secara intens.


"Kakaaaak" Suara Dira terdengar begitu keras membuat Dev mendelik kesal dengan kelakuan adiknya. Sementara Ara sudah biasa mendengar suara Dira yang seperti petasan itu.


"Iih..kok belom ganti sih. Aku kan pengen liat Ara cobain kebaya sama gaunnya". Dira mengerucutkan bibirnya ketika melihat Ara masih memakai kaos yang dibalut dengan kemeja dan celananya yang sedikit robek dibagian lututnya. Tidak ada yang berubah dari seorang Kinara, penampilannya masih sama, gadis tomboy yang tidak suka memakai rok.


"Maaf ya sayang kalian jadi lama menunggu..tadi mama sama tanta Erika kena macet". Ucap mama merasa bersalah.


"Gapapa ma..Ara sama abang juga belum lama". Jawab Ara menenangkan


"Kita langsung coba dulu, sini Ara..tante bantu ganti baju kamu". Suara tante Erika membuat Ara bangkit dan mengikutinya. Tirai ditutup oleh tante Erika, namun sesaat kemudian kepalanya keluar lagi.


"Kamu cobain juga baju kamu Dev". perintah tante Erika langsung dilaksanakan oleh Dev. Dev menutup tirai yang berseberangan dengan Ara tadi masuk.


Cukup lama mereka menunggu hingga membuat mama tak sabar.


"Kamu apain sih mantu aku, lama banget pake baju juga". Ketus mama membuat tante Erika segera membuka tirai lebar, bersamaan denga Dev yang juga keluar dari tempatnya.


Matanya terpaku pada gadis cantik yang sudah berbalut dengan kebaya putih, terlihat pas dibadan idealnya, menambah kadar kecantikan Ara.

__ADS_1


"Aaaaa....cantik banget". Pekik mama dan Dira bersamaan. Dev tersenyum memandangi gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.


"Cantik".


__ADS_2