Cinta Kinara

Cinta Kinara
syok


__ADS_3

Siang itu, Dev dan kedua temannya memutuskan untuk bertemu di cafe langganan mereka.


Beberapa jam mereka hanya sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Sam yang sudah bosan mengusulkan untuk bermain di g*me mas*er disebuah mall yang tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini.


"kita maen ke mall aja yuk. Bosen gue disini mulu". Sam memberikan idenya.


Dev dan Kevin saling memandang kemudian menjawab.


"Oke". Dev dan Kevin menyahut bersamaan.


***


Ketiga pemuda tampan itu baru saja masuk di lobby sebuah mall besar, banyak gadis memperhatikan ketiganya, karena secara visual ketiganya memang diatas rata rata.


Saat sedang berjalan, Sam melihat gadis yang tidak asing dimatanya.


"Itu bukannya si bocah gila ya?? Ama siapa tu bocah??". Sam berbicara sambil matanya menyipit untuk memastikan bahwa yang dilihatnya benar.


Dev dan Kevin mengikuti arah pandangan Sam.


"Ara??". Dev bergumam pelan.


"Itu bukannya Clara Dev?". Kevin memberitahu Dev.


"Lah bener lu Vin, itu si lampir. Ama siapa tu lampir? Ngapain juga didepan si bocah gila? Kaya mau tempur aja tu muka mereka. Ehh bentar-bentar, ada emak emak juga bro. Emak siapa tuh??". Sam terus berbicara walaupun tidak ada yang menanggapi.


"Ehh sinting..digaplok tu si Ara bro. Gila tu emak sangar juga". Sam kembali heboh saat melihat Ara ditampar oleh wanita paruh baya disamping Clara.


"Lah..lah..lah, mau ngapain lagi tu si lampir". Sam benar-benar seperti ibu-ibu arisan. Benar-benar sangat heboh.


Tanpa pikir panjang, Dev langsung berlari saat melihat Ara dalam bahaya.


Greeppp


Dev memeluk erat tubuh Ara sebelum tubuh Ara terkena air yang disiramkan oleh Clara.


"D..Dev?? Kamu disini Dev?? Kenapa kamu melindungi j*l*ng ini Dev??" Clara berkata sedikit gugup karena justru Dev yang terkena siramannya.


"Kenapa kamu melindunginya nak Dev, kenapa harus j*l*ng kecil ini?? kenapa bukan putriku saja??". Mama Clara berkata seolah Dev adalah milik anaknya.


Belum sempat Dev menjawab..sebuah suara yang terdengar dingin masuk ke indera pendengaran mereka.


"Siapa yang anda sebut jal*ng nyonya SAN-JA-YA???".


Semua orang menoleh sumber suara. Mata wanita yang dipanggil nyonya Sanjaya membulat sempurna melihat orang yang memanggil dirinya.


"Jeng Anika?? Anda ada disini?? Sedang apa?? Dan dengan siapa jeng??". Nyonya Sanjaya bertanya dengan suara yang sangat lembut dab ramah pada mama Anika. Berbeda sekali saat dirinya mencaci maki Ara beberapa detik lalu.


"Itu tidak penting. Siapa yang anda sebut dengan jal*ng nyonya Hesti Sanjaya??". Mama Anika menekankan setiap katanya menahan amarah yang hampir menguasai dirinya.


Nyonya Hesti terhenyak, melihat dan mendengar suara yang terdengar sangat dingin dari nyonya Anika.


"hanya anak jal*ng yang tidak penting jeng". Nyonya Hesti melirik sinis Ara.


Sedangkan Ara masih ada disebelah Dev. Dirinya lebih sibuk melihat jaket yang dikenakan Dev sudah basah.


"elu basah bang, masuk angin entar. Copot gih jaket elu". Ara berbisik pada Dev yang ada disebelahnya.


"Gak papa, kamu tenang aja". Dev ikut berbisik sambil tersenyum tenang.


"anak jal*ng?? Mana yang anda sebut anak jal*ng itu??". Wajah nyonya Anika yang biasanya selalu ramah kini terlihat dingin dengan aura yang mampu membekukan.


Ara baru melihat sisi lain seorang nyonya Anika yang ia kenal sangat lembut.

__ADS_1


"Dia tante!!". Clara menyahut cepat sambil menunjuk Ara. Clara masih belum menyadari bahwa yang ada dihadapannya adalah orang tua Dev. Dasar bod*h


"dia????". Nyonya Anika bertanya dengan sebelah alis terangkat.


"iya tante, tante lihat bukan. Dia yang merebut kekasihku Dev ini dari sisiku. Dia benar-benar jal*ng!!". Clara benar-benar semakin marah melihat Dev membela Ara didepan umum seperti ini.


Mama Anika hanya melirik sekilas keberadaan Dev disamping Ara, kemudian dirinya tersenyum sinis memandang dua wanita beda generasi dihadapannya ini.


Belum sempat nyonya Anika menjawab ucapan Clara, terdengar suara Dira memanggil sang mama.


"Dira sudah selesai ma..A.." Dira menggantung kalimatnya melihat banyak orang berkerumun diseberang toilet tempat Ara berdiri.


Matanya menangkap sosok sang kakak yang sedang berdiri rapat disamping Ara.


"Ngapain lo kak?? Ngintilin gue ama mama ya??!" Dira langsung nyolot melihat sang kakak yang sepertinya akan mengganggu harinya bersama sang mama dan sahabat baiknya.


Dira bahkan belum sadar tentang keributan yang sedang terjadi.


"ka..kakak?? Mama?? Ka..kalian??". Clara berbicara dengan terbata-bata mendengar Dira memanggil Dev dengan sebutan kakak.


Dira mengalihkan pandangannya yang sejak tadi memelototi sang kakak. Matanya semakin terbuka lebar melihat sosok Clara ada disana juga. Dan kenapa ini?? Kenapa wajah semua orang tegang?? Apalagi sang mama.


"Apakah dia kekasihmu Dev?? Kenapa mama tidak tahu kamu punya seorang kekasih??". Nyonya Anika menyadarkan semua orang dari keterkejutan melihat Dira.


"Wahh..bakal rame nih Vin. Apalagi kalo mama Anika udah siap gelut gitu". Sam berbisik pada Kevin yang berdiri tidak jauh dari orang-orang yang sedang bersitegang.


Kevin berdecak kesal mendengar omongan sahabatnya yang justru menikmati perseteruan ini.


"Jadi Dev ini putra jeng Anika??!" Ucap nyonya Hesti yang tak kalah terkejutnya dari sang anak.


Tidak ada jawaban baik dari mama Anika ataupun Dev.


"Sama sekali bukan ma. Dia hanya teman satu sekolah Dev. Kami tidak memiliki hubungan spesial apapun! Kami hanya saling kenal, ridak lebih!!" Dev berkata dengan tegas.


"Ke..kenapa Dev?? Kenapa kamu tega?!" Clara kembali berakting.


"Iya nak Dev, kenapa kamu lebih memilih perempuan jal*ng ini daripada Clara. Anak tante jauh lebih baik dari gadis miskin ini". Benar-benar tidak tahu malu ibu dan anak ini.


"Bahkan jika anak saya Dev memilih putrimu, aku tidak akan pernah memberi restuku untuk mereka nyonya HESTI SANJAYA". Ucap mama Anika menekankan nama sang lawan bicara.


"Kita pergi dari sini sayang! Disini bukan tempat yang tepat untuk gadis sebaik dirimu". Mama Anika menarik pelan pergelangan tangan Ara yang hanya bisa manut mengikuti sang majikan.


Sementara Clara dan nyonya Hesti terlihat sangat marah dan malu menjadi tontonan dan gunjingan banyak orang setelah apa yang mereka lakukan pada Ara tadi.


"Gue udah ingetin elo buat jangan pernah lagi ganggu Ara. Ini peringatan terakhir gue. Kalo elo masih berani ganggu Ara, gue bener-bener bakal bikin lo nyesel". Dev berkata tanpa keraguan sedikitpun walau disebelah Clara ada ibunya.


Setelah memperingatkan Clara, Dev berjalan menyusul sang mama yang sudah lebih dulu membawa Ara menuju kendaraan mereka.


Sam, Kevin dan Dira kemudian menyusul ketiganya setelah memandang sinis kearah Clara dan ibunya.


_____


"astagfirullah sayang..pipi kamu memar nak. Mereka benar-benar sudah keterlaluan". Mama Anika tampak geram saat melihat bekas tamparan pada wajah putih mulus Ara.


"saya tidak apa-apa nyonya. Maafkan saya, karena saya..hubungan anda dan teman anda jadi kurang baik". Ara menunduk merasa tidak enak.


Saat ini mereka sudah berada di kediaman Natakusuma. Mama Anika langsung membawa Ara pulang setelah kejadian tidak mengenakkan tadi, disusul Dev dan kedua sahabatnya.


"Sama sekali tidak Ara..tante memang tidak terlalu menyukai keluarga mereka. Mereka terlalu serakah". Mama Anika memang selalu menyebut dirinya tante walaupun Ara selalu memanggilnya nyonya.


"Minta bi Inah siapkan kompres untuk wajah Ara Dev". Nyonya Anika memberi perintah pada Dev dan langsung dilaksanakan olehnya.


"Tidak perlu nyonya..ini hanya memar sedikit. Nanti akan saya kompres sendiri dikamar". Ara tidak enak jika harus merepotkan keluarga majikannya lagi.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Dev datang membawa air hangat dan kain untuk mengompres.


"Biar Dev aja ma yang ngompres". Dev mencegah sang mama yang hendak mengambil alat kompres yang ada ditangannya.


Mama Anika hanya mengangguk menyetujui keinginan putranya.


"Tante ke kamar dulu ya sayang". Mama Anika berpamitan pada Ara sambil mengelus sayang pipi mulus Ara.


"ssshhh..pelan-pelan napa sih bang. Perih ini". Ara meringis menahan perih dipipinya.


"kenapa gak kamu bales aja sih Ra??". Ucapan Dev mendapat pelototan dari Ara.


"gue masih waras bang. Ya kali gue gampar emaknya mak lampir, entar kalo semaput gimana?". Ara mencak-mencak menjawab ucapan Dev.


"keras banget ya namparnya. Ini nyampe memarnya keliatan banget". Dev reflek mengelus pipi Ara.


Tindakan Dev langsung mendapat cibiran dari orang-orang yang masih ada disana.


"susah dah susaaahh..orang udah jatuh cinta mah pokoknya susah udaaah. Kaga liat kiri kanan, kaga liat yang jomblo..yang penting mah nempel teroosss". Sam mendramatisir keadaannya yang jomblo.


"susah emang udah kalo bucin mah kak,serasa dunia punya berdua aja gitu". Dira ikut menimpali.


Sementara Kevin yang lebih dewasa segera menyeret dua makhluk hidup yang tiada henti mengganggu Dev dan Ara keluar dari ruang tamu.


Suasana tiba-tiba canggung setelah kepergian ketiga orang yang dua diantaranya sudah membuat Dev dan Ara jadi salah tingkah sendiri.


Untuk mengurangi kecanggungan, Dev memilih melanjutkan pekerjaannya mengompres pipi Ara.


"Kayanya harus dikasih salep ra biar ga tambah memar sama perih". Selesai mengompres Dev mendekatkan wajahnya untuk melihat seberapa parah luka bekas tamparan tadi.


Reflek Ara memundurkan kepalanya sedikit saat melihat Dev mendekatkan wajahnya.


"eh..kaga papa bang, tenang aja. Ntar juga sembuh sendiri ini mah bang. Gue ke kamar dulu bang". Ara langsung bangkit kemudian berlari meninggalkan Dev yang sedang tersenyum manis melihat Ara yang salah tingkah.


"makin hari, elo makin bikin gue jatuh cinta ra". Dev bergumam pelan.


****


Ara masuk kedalam kamar dan segera menutup pintunya. Ara bersandar pada pintu sambil memegang dadanya yang terasa berdebar kencang.


Ara bukan gadis bodoh, walau belum pernah merasakan pacaran dan belum pernah jatuh cinta. Namun dirinya sadar bahwa ia memiliki perasaan lain pada tuan mudanya.


Namun tidak ingin disebut lancang, Ara berusaha sebisa mungkin untuk meredam perasaannya pada sang tuan muda.


"gak..gak boleh gini Ra. Lo harus sadar posisi elo ada dimana". Ara bermonolog dengan dirinya sendiri.


"ya tapi bisa mati kena serangan jantung gue kalo lama-lama deket ama bang Dev". Ara kembali berucap dengan lemas.


"Fokus Ra, fokus!!! Lo kudu selesaiin sekolah elo bener-bener. Terus udahnya kuliah biar bisa jadi orang berguna!". Ara menyemangati dirinya sendiri.


______


"Kamu gak boleh lepasin Dev sayang". Nyonya Hesti berkata pada putri semata wayangnya.


"Kamu harus bisa dapetin Dev dengan cara apapun". Lanjutnya


"Siapa sebenernya keluarga Dev ma?? Aku bahkan baru tahu tadi bahwa Dira adalah adik Dev". Clara bertanya pada sang mama.


"Dasar bocah b*doh. Mereka adalah keluarga Natakusuma. Pemilik sekolah dimana kamu sekolah sekarang. Kamu benar-benar tidak tahu??". Nyonya Hesti memandang Clara dengan tatapan tak percaya.


Clara hanya menggeleng sebagai jawaban. Dirinya benar-benar syok mendapai kenyataan yang tak pernah terbayangkan olehnya.


"Jangan sampai lepaskan tambang emas kita sayang. Mereka bukan keluarga biasa". Ucap sang mama dengan seringai licik.

__ADS_1


"pasti ma..aku gak akan pernah lepasin Dev. Dia bakal jadi milik aku..gimanapun caranya!!". Clara tersenyum penuh misteri.


__ADS_2