Cinta Kinara

Cinta Kinara
sebuah kebenaran


__ADS_3

"bapak tuh yaa..gabisa pisan ngelewatin 1hari aja tanpa ngomelin aku. Heran aku juga dulu nenek ngidam apa pas hamil bapak". Ara menyahuti perkataan bapak dengan sewot.


"ya Allah gusti, ini anak emang bener-bener minim akhlak pisan kalo ama bapak teh". Bapak langsung menoyor pelan kepalanya putrinya.


"neng tuh masih sakit bapak, main toyor-toyor aja si bapak mah. Paman liat kan, yang gaada akhlak anaknya apa bapaknya coba kalo kaya gini??". Ara mencoba mencari dukungan dari Pram.


Sementara yang ditanya, sudah tidak mampu menahan tawanya melihat kelakuan absurd bapak dan anak yang ada dihadapannya.


"sama-sama minim akhlak kalian itu, gak bapakmu ga kamu sama-sama gemblung". Pram menjawab disela tawanya yang semakin menggema. Ini sungguh sebuah hiburan untuknya yang lelah setelah semalaman mencari pelaku penembakan itu.


"berarti paman Pram lebih gemblung dari kita pak, udah tau bapak gemblung..lah dia masih mau aja jadi anak buah bapak". Ara tertawa puas sambil sedikit meringis merasakan nyeri pada bekas luka operasinya.


"dia kan memang yang paling edan neng, bapak mah udah gak kaget lagi". Bapak ikut menimpali candaan putrinya yang membuat Pram memberengut kesal.


Tanpa disadari ketiganya,sejak tadi Dev berdiri didepan pintu kamar mandi mendengarkan cendaan dari orang-orang yang selalu melindungi keluarganya itu.


Perlahan Dev mendekat kearah ranjang Ara membuat ketiganya menghentikan tawanya seketika.


"Saya pamit shalat dulu paman. Nanti saya akan kembali kesini lagi". Dev berpamitan pada Rahmat dan dijawab anggukan kepala oleh Rahmat.


Setelah kepergian Dev, Pram yang sejak tadi sudah penasaran mengajukan pertanyaan.


"apa tuan muda menginap disini semalaman kang??". Pertanyaan yang sebenarnya tak perlu dijawab oleh bapak ataupun Ara.


"ya kali paman gatau sih. Pinter nyari penjahat tapi kaya gitu aja gatau. Gak kekinian banget jadi orang..udah tuuuuaaaa siiihh". Jawaban menyebalkan dari Ara membuat mata Pram melotot horor ke arah Ara.


"bener kang, ternyata ini bocah emang minim akhlak pisan". Pram berkata sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Ara.


"kamu baru digodain sebentar sudah kalang kabut Pram. Aku tiap ketemu sama ini anak cuma dinistain terus". Bapak berkata seolah sedang melampiaskan kekeselannya.


"iiih..udah pada tua juga meuni baperan kaya anak ABG". Dan Ara masih terus menjadi anak minim akhlak yang terus menggoda kedua pria berbeda usia itu.


"umur paman baru 32 tahun Ara. Aku belum tua ra, aku masih muda". Pram yang tidak terima dikatai tua langsung nerocos menanggapi candaan Ara.


Sementara Ara sekarang sedang terpingkal-pingkal karena berhasil membuat bapak dan paman Pram sewot tingkat kecamatan😂😂😂


____________


Pagi ini ruang rawat Ara sudah terlihat penuh dengan kedatangan keluarga tuan Aryo dan keluarga tuan Bram.


"bagaimana kondisimu nak??". Nyonya Anika membuka percakapan.


"sudah jauh lebih baik nyonya. Sebentar lagi saya akan pulih lagi". Ara menjawab sambil menunduk sedikit.


Nyonya Anika dan nyonya Dini tersenyum hangat sambil kemudian mengelus lembut kepala Ara.


"kamu mau makan sesuatu ra?? Kak Dev akan membelikannya jika kamu menginginkan sesuatu". Dira berkata dengan enteng.


"Sherly Nadira Natakusuma, kan elu yang nawarin mau apa mau apa. Kenapa elu jadi nyuruh gue??". Dev sebal dengan kelakuan adiknya itu.


"Devano Praja Natakusuma, kakakku tersayang..aku kan perempuan. Kalau keluar-keluar harus dikawal..tidak efisien. Jadi mending kakak aja yang pergi kalo Ara mau sesuatu". Dira hanya nyengir tanpa dosa.

__ADS_1


"Sherly Nadira Natakusuma??"


"Devano Praja Natakusuma??"


"Natakusuma??". Ara terus bergumam setelah mendengar Dev dan Dira menyebut nama lengkapnya, Selama ini Ara tidak pernah memperhatikan nama keduanya.


Putri yang duduk disamping Ara tersenyum manis melihat sahabatnya kebingungan.


"kenapa ra?? Kamu seperti sedang memikirkan sesuatu??". Ucapan Putri membuat pandangan semua orang tertuju pada Ara dengan alis yang terangkat.


"Ti..tidak ada apa-apa. Tu..tuan muda dan nona muda?". Ara menjawab gugup karena menjadi pusat perhatian. Kini dirinya benar-benar penasaran dengan status hubungan Dira dan Dev.


Nyonya Anika yang seolah mengerti kebingungan Ara menjelaskan status kedua anaknya.


"Mereka adalah anak-anakku Ara, Dira adalah adik Dev". Nyonya Anika tersenyum melihat reaksi terkejut dari Ara.


"ka..kakak beradik??". Ara bergumam merasa tidak percaya dengan kenyataan yang baru ia dengar.


"Iya..laki-laki yang seperti kulkas ini adalah kakakku Ara". Dira menjawab gumaman Ara.


Ara merutuki kebodohannya yang tidak menyadari status kedua orang itu.


Dev tersenyum tipis melihat reaksi Ara, kini dirinya tahu kenapa selama ini Ara selalu menghindar dari dirinya. Rupanya gadis itu mengira bahwa dirinya dan Dira adalah sepasang kekasih, sama seperti Clara yang menganggap Dira ada pesaingnya untuk mendapatkan Dev.


_______


Sudah 3hari Ara dirawat, selama itu pula Dev tidak pernah absen menungguinya. Bahkan bapak disuruh pulang oleh Dev agar bisa beristirahat.


Ara sudah benar-benar merasa bosan berada dirumah sakit. Malam itu, saat semua orang berkumpul Ara meminta untuk pulang kerumah.


Bapak menepuk dahinya sendiri merasa gemas dengan anaknya. Ternyata sampai sekarang anaknya ini belum tahu bahwa majikannya adalah pemilik sekolah tempatnya belajar saat ini.


Ara yang bingung dengan reaksi semua orang hanya bisa memandang orang-orang itu secara bergantian.


"beasiswamu tidak akan pernah dicabut nak, percayalah". Tuan Aryo berucap untuk menenangkan Ara yang panik.


"ta..tapi tuan. Saya takut beasiswa saya akan dicabut jika terlalu lama tidak masuk sekolah" Ara benar-benar takut jika sampai beasiswanya dicabut oleh pihak sekolah. Dirinya tidak ingin membebani bapak dengan biaya sekolah, cukup uang jajan saja😁


Nyonya Anika dan Tuan Aryo serta Dira dan Putri tersenyum geli melihat wajah khawatir Ara yang terus merengek ingin pulang.


"tidak akan ada yang bisa mencabut beasiswamu tanpa persetujuan papaku ra, beliau pemilik sekolah tempat kita belajar sekarang. Jadi tenanglah jangan panik seperti itu. Tidak akan terjadi apa-apa pada beasiswamu". Dira mendekat dan menepuk-nepuk pundak Ara untuk menenangkan.


Ara menghela nafas kemudian berkata


"ah begitu..syukurlah". Kemudian Ara menyandarkan punggungnya keranjang rumas sakit.


Namun sesaat setelah menyandarkan punggungnya, Ara kembali menegakkan badannya dengan mata melotot.


"tunggu..apa?? Pemilik sekolah??". Ara memekik tertahan.


Semua yang ada diruangan itu hanya tertawa melihat keterkejutan Ara. Sedangkan bapak hanya bisa menepuk dahinya berkali-kali dengan keb*dohan Ara. Gadis yang bisa diandalkan dalam setiap pertarungan tiba-tiba menjadi sedikit b*d*h.

__ADS_1


Setelah menyadari keb*d*hannya Ara menundukkan kepalanya karena malu.


"kamu tenang saja sayang, beasiswamu akan aman sampai kamu benar-benar pulih dan bisa kembali ke sekolah". Nyonya Anika berkata sambil mengusap lembut kepala Ara.


"terima kasih banyak nyonya, tuan". Ara mengucapkan terima kasihnya pada kedua majikannya.


"tidak perlu sungkan Ara, anggap kami sebagai orang tuamu juga. Bapakmu sudah aku anggap saudaraku sendiri". Tuan Aryo berkata dengan senyum hangat kepada Ara.


"terima kasih banyak tuan". Ara kembali menjawab dengan posisi kepala masih menunduk.


Saat ini Ara sedang berpikir keras, seberapa kaya keluarga sahabatnya itu. Sampai-sampai sekolah sebesar dan semegah itupun adalah kepunyaan orang tua sahabatnya itu. Kini Ara semakin minder berteman dengan anak-anak konglomerat itu.


Sesaat pandangan Ara terlihat kosong, dirinya sedang memikirkan bagaimana nasibnya disekolah nanti kalau semua orang tau posisinya dan Dira saat ini. Pasti dirinya akan dihina dan direndahkan oleh manusia jelmaan lampir dan kawanannya.


Tapi tunggu dulu, Ara seperti melupakan suatu hal.


"tunggu dulu. Jika tuan Aryo adalah pemilik sekolah itu, maka Dira adalah putri pemilik sekolah bukan?? Lalu kenapa dia hanya diam saja saat diganggu oleh lampir gila itu??" Ara bergumam, namun karena nyonya Dini berada tepat didekat Ara, nyonya Dini dapat mendengar gumaman Ara.


"Lampir gila?? Siapa lampir gila itu Ara??". Nyonya Dini penasaran mendengar sebutan lucu yang Ara ucapkan tadi.


Sontak pertanyaan nyonya Dini membuat semua mata tertuju pada Ara.


"eh..itu..anu nyonya". Ara menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung harus menjawab apa.


"iya..anu apa Ara?? Siapa lampir gila?? Dan siapa yang diganggu??". Kini nyonya Anika juga terlihat penasaran.


Ara melihat kearah Dira dan Putri untuk meminta bantuan.


"Clara ma..yang dimaksud lampir gila itu Clara. Dan yang diganggu adalah kami. Aku dan Putri..tapi itu dulu ma, sebelum Ara masuk kesekolah kita". Dira menjelaskan kepada mama dan nyonya Dini.


Nyonya Anika yang sudah tahu kejadian beberapa bulan lalu hanya bisa menghela nafas. Sementara nyonya Dini dan tuan Bram yang belum mengetahui apa-apa cukup terkejut mendengar penuturan Dira.


"dia masih sering mengganggu kalian??". Tuan Aryo lah yang kini bertanya.


"tidak lagi om, sebelum mereka mengganggu kami, mereka akan berhadapan dengan Ara. Kini yang mereka incar adalah Ara..karena Ara tidak pernah takut pada mereka". Kali ini Putri ikut menjelaskan.


"Clara siapa yang kalian maksud yo?? Anika?? Apakah putri keluarga Sanjaya yang sedang kalian bicarakan ini??". Nyonya Dini bertanya pada mama papa Dira.


Keduanya mengangguk membenarkan, kemudian menghela nafas kasar.


"kenapa tidak kamu katakan saja pada mereka siapa kamu sebenarnya nak. Apakah kamu tidak lelah selalu diganggu oleh mereka?". Tuan Aryo kembali bertanya pada Dira anaknya.


"aku hanya tidak ingin mereka mendekat padaku karna statusku pa. Kalau semua tau siapa aku , saat ini aku tidak akan punya sahabat baik seperti Ara. Iya kan put??". Dira mencari dukungan dari Putri dan langsung dijawab anggukan mantap oleh Putri.


"Benar om..mungkin kalau mereka tau siapa aku dan Dira sebenarnya akan banyak yang mendekati kami. Tapi mereka hanya mau dekat dengan kami karena status kami om. Sementara Ara, dia benar-benar menjadi sahabat dan pelindung kami tanpa ingin tahu dari keluarga mana kami berasal". Putri berkata dengan mata berkaca-kaca karena terharu saat mengingat betapa gigihnya Ara membela dan melindunginya serta Dira dari gangguan Clara dan teman-temannya.


Sesaat kemudian, kedua gadis itu berjalan mendekat keranjang Ara dan kemudian memeluk Ara dengan penuh kasih sayang.


Keduanya benar-benar bersyukur dianugrahi sahabat sebaik dan sehebat Kinara.


Ara membalas pelukan kedua sahabatnya tak kalah erat. Kini ia yakin bahwa kedua temannya benar-benar tulus berteman dengannya walaupun mereka berbeda kasta.

__ADS_1


Mata para ibu sudah berkaca-kaca melihat betapa kuatnya ikatan persahabatan yang belum lama terjalin itu.


Sementara bapak, ia begitu bangga pada putrinya itu. Anak yang benar-benar bisa dibanggakan dihadapan dunia. Bapak tersenyum penuh kebahagiaan melihat Ara juga bahagia.


__ADS_2