
Waktu tak terasa cepat berlalu, hari ini Arka sudah dinyatakan lulus. Itu artinya Kirei dan teman-temannya sudah naik tingkat menjadi kelas XII.
Kirei sudah tidak perlu pusing bersitegang dengan Sinta. Gadis yang begitu tergila-gila dengan kakak sepupunya itu dan terus mengganggu temannya, Alma.
Hubungannya dengan Daniel pun semakin dekat, keduanya sering menghabiskan waktu berdua dengan bermain di time zone atau hanya sekedar berkeliling mall.
Sementara Alma dan Arka, hubungan keduanya masih sama seperti dulu. Alma yang terlalu memikirkan statusnya, dan merasa tidak pantas untuk Arka selalu menghindar jika lelaki tampan itu mendekatinya.
"Lo mau nyampe kapan ngehindar Al? Kaga cape?". Kedua gadis tengah duduk santai diteras rumah sore itu.
"Ngehindarin siapa?". Alma jelas paham arah pembicaraan Kirei. Namun sebisa mungkin ia berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Ck..Kaga usah pura-pura deh". Cebik Kirei
"Apa sih? Aku mau mandi dulu deh..udah sore". Alma tiba-tiba berlari masuk tanpa menunggu jawaban Kirei.
"Hm..pantes ngacir. Pangeran kodoknya dateng". Gumam Kirei ketika melihat mobil kakak sepupunya memasuki halaman rumah.
"Hai jubedah". Sapa Arka langsung mendapat sambitan sandal dari Kirei.
"Salam bang! Salam! Assalamualaikum..hai, hai pala lu pitak!". Amuk Kirei membuat Arka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Wa'alaikumsalam adikku yang cantik banget..kalo liatnya sambil merem". Lihatlah, belum ada 5menit mereka berbicara, dan keduanya sudah sama-sama mengibarkan bendera perangnya.
"Eh si kadal kalo ngomong..suka bener!". Celetuk Kirei, hening sesaat kemudian tawa keduanya pecah. Menertawakan kekonyolan mereka.
"Kaga usah clingak-clinguk gitu. Tu bocah udah ngacir dari tadi liat pangeran kodoknya dateng!". Ledek Kirei membuat Arka menoyor gemas kepala Kirei.
"Mulut lo kaga ada pilternya!". Sengit Arka kemudian masuk kedalam rumah tanpa menunggu Kirei.
"Bunaaaaaa". Teriak Arka membuat Kirei semakin kesal dengan kelakuan sepupunya.
"Beneran minim akhlak lo mah bang". Kirei menggelengkan kepalanya.
"Paan sih Maemunah. Sirik aja lo".
"Wa'alaikum salam bang". Sindir Ara ketika putranya tidak mengucap salam.
"Eh..Assalamualaikum buna ku yang paling cantik". Arka nyengir, menampilkan deretan giginya.
"Biasain salam bang. Jangan suka teriak-teriak..nggak baik. Kalo keselek terus meninggal gimana? Kan nggak lucu ya, orang ngaku ganteng meninggalnya gara-gara keselek karena suka teriak". Nasehat Ara sekaligus meledek.
"M*mp*s lo". Kirei menggerakkan bibirnya tanpa bersuara meledek Arka yang ditegur sekaligus diledek Ara.
Arka melotot kesal sambil memeluk Ara, ia menunjukkan kepalan tangannya kepada Kirei yang berusaha keras menahan tawanya.
"Maaf ya buna sayaaang..besok-besok nggak akan diulang". Arka melepaskan pelukannya pada perempuan yang begitu ia sayangi.
"Ada acara apa bang kamu kesini?". Tanya Ara curiga.
"Biasa bun, bucin mah susah. Pepet terosss". Sahut Kirei cepat. Ara menggeleng melihat kelakuan anak gadisnya yang tidak ada sifat feminimnya sama sekali. Bicara pun tak pernah berpikir lama, mulutnya terlalu terbiasa ceplas ceplos.
"Kangen masakan buna". Alasan yang biasa Arka ucapkan, dalam satu minggu Arka bisa 4x datang kerumah utama. Alasannya, selain memang merindukan masakan Ara, tentu saja untuk mendekati Alma. Kini ia tidak bisa terus melihat Alma karena dirinya sudah kuliah.
"Alaaah..alesan lo bang. Kaga mutu sekaleee". Arka melotot horor kearah adik sepupunya yang justru tertawa melihat wajah kesal kakaknya.
"Paan sih lo. Dari tadi nyari gara-gara mulu". Sungut Arka membuat Kirei mengendikkan bahunya acuh.
"Mending suruh doi pulang bun, kasian nanti Alma nggak bakal keluar, kaga bakal makan kalo ada mantan kadal disini bun".
"Astagfirullah dek, mulut lo ya bener-bener minta dijahitin". Arka berlari mengejar Kirei yang sudah lebih dulu kabur.
__ADS_1
"Ada yang bisa Alma bantu bun?". Suara Alma membuat Ara menoleh, sejak tadi ia hanya fokus melihat tom jerry nya bermain kejar-kejaran, hingga tidak menyadari kehadiran Alma.
"Kamu sudah mandi nak?". Gadis manis itu sudah segar dengan rambut setengah basah.
"Sudah bun..biar Alma yang memotong sayurnya". Alma mengambil alih pisau dari genggaman Ara. Kemudian dengan cekatan memotong sayur yang akan mereka masak.
Sesekali Alma melirik Kirei dan Arka yang masih berlari saling mengejar. Sudut bibirnya terangkat melihat pemandangan rutin setiap kali Arka berkunjung.
****
"Udah sono pulang lo bang". Usir Kirei
Setelah makan malam, seluruh anggota keluarga tengah duduk diruang keluarga menonton tv. Arka masih ada disana, bahkan sepertinya pemuda itu tidak memiliki niatan meninggalkan rumah ini.
"Sirik aja sih lo. Ayah ama buna juga nggak keberatan". Sengit Arka merebut toples berisi cemilan yang sejak tadi ada didalam dekapan Kirei.
"Bilang aja lo betah lama-lama liatin Alma. Dosa bang, inget dosa". Peringat Kirei sok bijak, Arka menempeleng pelan kepala Kirei.
Ara dan Dev yang melihatnya hanya mendesah pasrah, lelah mengingatkan keduanya untuk berhenti berdebat.
"Kaga seneng banget sih lo ada gue. Lo tau nggak, pas lo kecil tu gue yang selalu jagain ama ngerawat elo". Tentu saja ucapan Arka tidak dipercaya oleh Kirei. Gadis itu hanya berdecak kemudian kembali fokus pada layar tv.
"Nggak percaya lo. Tanya ama buna sono".
"Dih..males. Udah yah, nikahin aja lah bang Arka ama Alma. Daripada ni orang bentar-bentar kesini bikin gerah bun". Arka dan Alma tersedak bersamaan mendengar mulut tak berakhlak Kirei berucap tanpa beban.
"Tuh yah, liatin deh..keselek aja barengan. Ck ck ck.." Kirei berdecak kagum melihat kekompakan Arka dan Alma.
Sementara Ara sudah memutar bola matanya, malas mendengar ocehan putrinya yang akan terus mengganggu dan menggoda kakak sepupunya.
Jangan tanyakan seperti apa wajah Alma saat ini. Wajahnya sudah semerah tomat. Temannya itu benar-benar lupa memasang filter pada mulutnya, ucapan Kirei berdampak besar pada jantungnya. Bisa-bisa ia gagal jantung jika Kirei terus berkata seenak udel seperti itu.
"Biasa aja kali bang. Sewot ae lo". Ledek Kirei yang membuat Dev menggeleng. Kenapa sikap tengil Dira dan Sam menurun pada putrinya. Seingatnya, Ara bukanlah gadis cerewet dan bar-bar seperti putrinya ini.
"Sudah sayang". Dev mengelus pucuk kepala Kirei yang tengah lesehan, sementara Dev sedang duduk disofa bersama Ara.
"Tuh..tuh yah..liatin deh muka bang Arka. Sok-sok an malu gitu, nggak banget kan ya?". Kirei tidak berhenti menggoda Arka yang semakin kesal.
"Abang mau nikah?". Tanya Dev menatap putra kakak iparnya itu.
"Ayaaaah". Rengek Arka memelas.
"Siapa tau Arka mau nikah, nanti ayah bilang sama papi mami kamu". Lanjut Dev membuat Arka menatap wajah merah Alma.
"Emang Alma nya mau ama bang Arka gitu yah?". Celetuk Kirei membuat Ara hampir kelepasan tertawa. Benar julukan Arka, memang anak gadisnya itu mulutnya tak berfilter.
"Waaah..ni bocah". Geram Arka bangkit dan mendekati Kirei yang langsung mendekap erat kaki sang ayah.
"Ki nanya doang bang. Ya lo tanyain ke Alma lah. Enak aja main mau nikahin anak orang, ya kalo bocahnya mau". Kirei semakin mengeratkan pelukannya pada kaki Dev ketika Arka mencoba menarik tubuhnya.
Mendengar ucapan Kirei, Arka melepaskan tangannya dari tubuh Kirei. Ia beralih menatap Alma yang terlihat salah tingkah ditatap oleh semua orang.
"Lo mau Al?". Tanya Arka spontan membuat Alma mendongak. Wajahnya semakin memerah kala menyadari tatapan semua orang mengarah padanya menunggu jawaban.
"Ma..mau apaan kak?". Tanya Alma gugup.
"Woii!!!". Kirei menggeplak lengan kakak sepupunya itu.
"Lo pengen disambit ama mami bolak balik main tanya mau enggak mau enggak aja. Ngomong dulu sono ama mami".
"Ama sekalian kelarin dulu tu urusan nenek sihir lo yang udah kaya toko perhiasan berjalan. Gue kaga mau ya, Alma digangguin lagi ama si Sinta g*la itu".
__ADS_1
"Hayu Al, udah malem. Besok kita sekolah". Kirei menarik tangan Alma.
"Kita ke kamar dulu semua". Pamit Alma sopan.
"Yang sabar ya bang punya adek begitu". Ara menepuk pundak Arka yang langsung mengangguk.
"Buna juga ya..sabar-sabarin punya anak kaya gitu". Keduanya lalu tertawa dengan ucapan mereka.
"Kamu serius bang?". Tanya Dev dalam mode serius. Arka dan Ara menghentikan tawanya dan menatap Dev.
"Ayah nggak mau kalian sampai terjerumus dalam dosa". Peringat Dev
"Arka serius yah. Arka udah punya cafe, insyaallah cukup untuk membiayai kuliah Arka dan sekolah Alma". Jelas Arka membuat Dev dan Ara saling pandang.
"Tapi ayah sama buna nggak yakin kamu lolos dari adik kamu itu". Ucap Ara tiba-tiba membuat Arka menoleh.
"Maksud buna?". Tanya Arka dengan dahi berkerut.
"Alma itu teman pertamanya Kirei, bang. Kalau kamu belum bisa pastiin kehagiaan Alma...sebaiknya jangan dulu. Atau kamu bakal dilibas habis sama adik kamu itu". Jelas Ara panjang lebar membuat Arka menghela nafasnya panjang. Sepertinya perjalanan cintanya dengan Alma akan panjang, apalagi mengingat bagaimana Kirei menjaga Alma selama ini.
"Dan tentu saja kamu harus meminta pendapat dan izin dari papi dan mamimu bang. Jangan mengambil keputusan sendiri". Nasehat Dev.
"Lagian Alma masih sekolah bang. Kaga usah ngadi-ngadi lo". Teriak Kirei yang ternyata sejak tadi mendengar pembicaraan ketiga orang itu.
"Haiish". Arka mengacak rambutnya, kalimat yang Kirei ucapkan, meskipun hanya kalimat biasa, pria itu sangat paham bahwa ucapan Kirei syarat ancaman untuknya.
_____
Cinta,..satu kata yang belum pernah Kirei rasakan, atau mungkin itulah yang saat ini sedang Kirei rasakan. Perasaan asing yang menelusup kedalam relung hatinya. Mengusik ketenangan batinnya yang setiap saat mengingat wajah tampan bermata tajam milik seorang pria.
"Assalamualaikum, selamat sore tante". Sapa Daniel ramah pada seorang wanita seumuran ibunya yang tengah tersenyum lembut padanya.
"Wa'alaikumsalam. Udah dari tadi Dan?". Tanya Ara menyambut uluran tangan pemuda tampan yang diakui Kirei sebagai teman sekelasnya dan Alma.
"Baru tan..Tante dari mana?". Senyum Daniel semakin mengembang melihat sambutan hangat dari ibu gadis yang membuat hatinya bergejolak.
"Habis dari rumah om Bian. Tante tinggal dulu ya". Pamit Ara dijawab anggukan kepala dari Daniel.
"Sorry, nunggu lama ya?". Suara yang sering Daniel rindukan belakangan ini membuatnya mengalihkan mata pada gadis yang sedang menuruni tangga.
"Cantik". Gumam Daniel tanpa sadar. Kirei hanya memakai celana jeans panjangnya dan kaos oblong. Style kesukaannya, yang mungkin memperlihatkan betapa tomboynya gadis itu.
"Apa?". Tanya Kirei, ia mendengar Daniel menggumam, tapi tidak tahu apa.
"Enggak. Nggak ada apa-apa". Daniel menggeleng dan tersenyum.
"Kalian mau pergi?". Suara Ara membuat Kirei berbalik. Menatap wanita cantik yang sudah melahirkannya didunia ini. Kecantikan yang juga menurun padanya.
"Iya bun..mau nonton kalo boleh". Jawab Kirei santai.
"Jangan pulang lebih dari jam 9. Mengerti?". Pesan Ara yang langsung diangguki keduanya dengan patuh.
"Kami pamit dulu tan. Kireinya saya pinjam dulu". Daniel mencium punggung tangan Ara dengan takzim.
"Boleh. Asal dijagain ya". Goda Ara membuat wajah Kirei memanas. Ara tersenyum tipis melihat putrinya yang sepertinya sedang jatuh cinta.
Ara mengantar kedua remaja yang sama-sama sedang mabuk cinta itu hingga ke pintu, memastikan putrinya memasang sabuk pengamannya dengan benar untuk keselamatannya.
Tangannya melambai membalas lambaian tangan putrinya yang terus menyunggingkan senyum dibibir tipisnya itu.
Ara menghela nafasnya panjang kemudian mengeluarkannya perlahan dari mulut, tak terasa gadis kecil yang dulu sering merengek dibelikan mainan mobil-mobilan itu kini telah beranjak dewasa, menjelma menjadi gadis cantik yang bahkan sudah mulai jatuh cinta. Mengapa waktu terasa begitu cepat berlalu.
__ADS_1