Cinta Kinara

Cinta Kinara
jalangkung


__ADS_3

Digo berkali-kali melirik bangku belakang dari kaca mobilnya hanya untuk sekedar melihat keadaan gadis yang membuat dirinya panik setengah mati.


Saat ini Ara ada dipangkuan Dev, sedangkan bapak ada dikursi samping kemudi.


Berkali-kali bapak menghela nafas panjang melihat kondisi putrinya yang terlihat pucat.


"Jangan ambil putriku ya Allah..aku sudah kehilangan satu wanita berharga dalam hidupku, jangan engkau ambil lagi separuh nyawaku ini". Bapak terus berdoa dalam hati sepanjang perjalanan.


"Bangun Ra..jangan kaya gini. Jangan bikin kita semua khawatir". Lirih Dev sambil mengelus pipi Ara.


"Sebenernya lu kenapa Ra, kenapa tiba-tiba pingsan gini. Tadi lu masih bisa ngomelin gue" Batin Digo sambil terus fokus mengemudi.


Digo memarkirkan mobilnya didepan IGD sebuah RS swasta terdekat. Dev segera menggendong tubuh lemah Ara. Dalam hatinya, dirinya begitu mengkhawatirkan gadis cantik itu.


Dibaringkannya tubuh Ara yang masih terlihat pucat diatas brangkar, kemudian Dev sedikit menjauh..memberi ruang pada dokter dan perawat untuk memeriksa Ara.


Bapak sudah menitikkan air matanya, dirinya benar-benar sedih melihat kondisi Ara.


Melihat dokter sudah selesai memeriksa Ara. Bapak mendekat dan langsung mengajukan pertanyaan pada dokter.


"Bagaimana kondisi putri saya dok?? Apa kondisinya baik-baik saja?? Atau ada sesuatu?? Kenapa putri saya belum juga sadar??". Bapak memberondong dokter dengan banyak pertanyaan.


Dev menepuk pelan bahu bapak berusaha memberi ketenangan walau dalam hatinya juga sedang kalut memikirkan kondisi Ara.


"tenanglah paman. Ara gadis yang kuat, dia tidak akan kenapa-napa".


Dokter tersenyum melihat bapak begitu khawatir pada kondisi anaknya.


"Nona Ara baik-baik saja tuan. Dia hanya butuh istirahat..sepertinya ada trauma yang sulit ia hilangkan dan tadi dirinya melihat sesuatu yang mengingatkannya pada trauma itu.


Nanti akan saya resepkan vitamin dan obat lainnya. Kita tunggu nona Ara sadar dan kondisinya membaik. Jika nanti kondisinya semakin baik, maka boleh langsung pulang". Dokter menjelaskan dengan tenang kondisi Ara.


Setelahnya dokter pamit undur diri dari ruangan dimana Ara sedang berbaring saat ini.


"Bapak". Terdengar suara yang sangat kecil..bahkan hampir tidak terdengar.


"Bapak disini nak, bapak disini..kamu tenang ya". Bapak mendekat dan sebelah tangannya menggenggam tangan lentik Ara, sementara tangan yang lain mengelus sayang kepala anak tercinta yang sering berdebat dengannya itu.


"Aku mau pulang pak..gak mau disini". Lirih Ara dengan tatapan sendu.


"Sebentar lagi ya..nunggu enengnya agak enakan dulu baru kita pulang ya". Bapak masih terus mengelus kepala Ara.


Ara hanya mengangguk pelan kemudian memejamkan matanya lagi.


*******


"Ayo kita susulin kerumah sakit pa". Mama Anika terus merengek pada sang suami.


"Iya pa..kita susulin kakak sama Ara. Aku khawatir banget sama kondisinya Ara". Dira ikut merayu sang ayah.


"Tadi papa sudah telpon Rahmat ma..katanya Ara bisa langsung pulang". Papa menjelaskan


"Tapi kenapa belom pulang-pulang juga. Kita susulin aja ya". Mama tetap ngotot


Papa menghela nafas sebelum menjawab.


"Dokter harus memastikan kondisi Ara membaik dulu ma..bersabarlah sebentar" Jawab papa.


Tak lama terdengar suara mobil berhenti dihalaman rumah.

__ADS_1


Mama Anika, mama Dini serta putri mereka bergegas keluar. Dan ternyata benar yang datang adalah Ara beserta Dev dan pak Rahmat.


Dev meminta dijemput oleh pak Tono, sedangkan Digo ia suruh pulang karena sudah larut. Padahal mah alesan, bilang aja cemburu


Ara sudah terlihat lebih baik, dia sudah bisa berjalan sendiri dengan berpegangan pada lengan sang ayah.


Ara memberikan senyum terbaiknya melihat wajah khawatir kedua sahabat dan ibu mereka.


"Kamu sudah sehat sayang??"


"Kenapa bisa pingsan nak??"


"Apa masih terasa pusing??"


"Apa yang kamu rasakan Ra??".


Pertanyaan beruntun dari wanita-wanita yang Ara sayangi membuat bibirnya membentuk senyuman sempurna. Dirinya amat bersyukur memiliki semua orang yang berada didekatnya saat ini.


"Kalo nanya nya banyak gitu..gimana Ara mau jawab ma??" Papa Aryo bertanya sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan istri dan anaknya. Begitupun dengan papa Bram.


"Masuk dulu sayang". Tawar mama Anika


"Bolehkah saya beristirahat dikamar saya dulu nyonya??". Ara bertanya hati-hati.


"Kenapa lo ga tidur ama gue aja Ra??". Dira bertanya.


"Gue dikamar aja ya..pengen istirahat dulu". Jawab Ara.


Setelah terdiam beberapa saat akhirnya mama Anika mengijinkan Ara beristirahat dikamarnya sendiri.


"Baiklah..istirahatlah dulu nak. Cepat sembuh ya sayang". Ucap mama Anika sambil mencium kening Ara dengan lembut. Ara memejamkan matanya merasakan kehangatan kasih sayang seorang ibu yang begitu ia rindukan.


"terima kasih banyak nyonya". Jawab Ara tulus.


"Bapak anter ke kamar neng". Bapak langsung membantu Ara berjalan.


"Langsung tidur ya, jangan mikirin apapun". Setelah membantu Ara berbaring dikasurnya, bapak menyuruh Ara untuk langsung tidur.


Ara hanya mengangguk pelan kemudian memejamkan kedua matanya. Beberapa saat kemudian sudah terdengar dengkuran halus dan nafas yang teratur menandakan Ara sudah benar-benar tidur.


_______


Hari ini Ara dan teman-temannya akan melaksanakan ujian kenaikan kelas.


Selama 1minggu kedepan ia dan seluruh siswa kelas X dan XI akan berperang melawan seluruh soal ujian mereka masing-masing.


Setiap harinya Ara dan kedua sahabatnya selalu belajar bersama. Bahkan Putri menginap dirumah Dira selama beberapa hari ini agar bisa belajar bersama dan berangkat serta pulang bersama dari sekolah.


**


Hari ini adalah hari terakhir ujian kenaikan kelas bagi Ara dan teman-temannya.


Semua siswa berhambur keluar setelah menyelesaikan semua soal ujian hari ini.Ada rasa lega dihati Ara karena bisa mengerjakan semua soal.


Dirinya yakin bahwa akan mendapat hasil maksimal.


"Kita nongkrong dulu yuk..bosen udah hampir 1minggu dirumah terus". Dira memberi usulan yang langsung diangguki oleh Putri.


Akhirnya Ara hanya mengikuti kemauan kedua sahabatnya.

__ADS_1


Kini ketiganya sedang duduk disebuah cafe yang cukup terkenal akhir-akhir ini.


Ketiganya duduk sambil menunggu pesanan yang sudah mereka pesan beberapa saat lalu.


"Ga berasa ya udah mau kelas XII" Putri membuka obrolan.


"berarti 1tahun lagi kita udah kuliah ya". Jawab Dira antusias.


"Masih lama. Kejauhan lu mikir". Ara menyahut


Saat sedang asyik mengobrol sambil menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan, mereka dikejutkan dengan kedatangan seseorang.


"Wiiihh..emang susah ya kalo jodoh tu. Kemana-mana ketemu ama calon makmum". Suara menyebalkan itu kembali terdengar ditelinga Ara setelah lebih dari 1minggu tak terdengar.


Ketiga gadis itu menolehkan wajahnya ke sumber suara.


Ara mencebik mendengar ucapan pria itu.


"Calon makmum diem-diem bae. Kaga baik lu nyuekin calon imam". Kembali sang pria menggoda karena tak mendapat respon sebelumnya.


"Ni sendok lama-lama nyangkut ditenggorokan elu mau??!!!" Ara menjawab ketus


Sementara Dira dan Putri hanya tersenyum melihat tingkah Ara dan Digo yang seperti anjing dan kucing jika bertemu.


"yaelah calon makmum galak amat sih ama calon imam. Gak boleh tau". Dengan senyum mautnya, sang pria kembali menggoda.


Ara melirik dengan tajam, memberi isyarat agar laki-laki yang tak lain adalah Digo untuk diam. Namun sepertinya yang dilakukan Ara tak berpengaruh pada pria tampan itu.


"Gue gabung disini aja bro. Lu pada pesen aja, ntar gue yang bayar". Digo berkata pada teman-temannya yang datang bersama dengannya.


Seluruh temannya yang berjumlah 3 orang hanya mengangkat jempolnya tanda setuju.


"Sapa suruh lu duduk disitu. Itu masih banyak kursi kosong. Sono lu balik ketemen-temen elu". Ara mengusir Digo.


"Calon imam mah kudu deket-deket sama calon makmumnya". Ara benar-benar sudah hampir kehabisan kesabarannya. Ingin sekali Ara menempeleng kepala pria menyebalkan ini.


"Lu tau kaga lu tu kaya apaan??". Ara melirik Digo sekilas.


"kaya apa tuh calon makmum" Digo bertanya sambil menangkup wajah tampannya dengan kedua tangan yang ia letakkan diatas meja.


"Kaya jalangkung..kemana-mana ada. Kaga diundang dateng, kaga dianter pulang!! Lu tu orang apa setan sih sebenernya. Heran gue!!". Ucap Ara ketus.


"jalangkungnya ganteng gini ya calon makmum?? Seneng ga ada jalangkung ganteng yang dimana-mana bisa lu liat??" Digo semakin menggoda Ara yang sudah terlihat sangat kesal.


"Dasar jalangkung sinting!!!" Umpat Ara


"Pergi sono lu ihh!! Lu berdua bantuin gue ngusir ini orang somplak napa sih". Ara meminta bantuan kedua sahabatnya.


"Biarin aja sih Ra. Diemin aja..anggep gak ada". Putri mencoba menenangkan.


Dira mengangguk menyetujui perkataan Putri.


"Lu bedua kaga pusing gitu denger ni kampr*t ngomong mulu". Pertanyaan Ara dijawab gelengan kepala oleh kedua sahabatnya, semakin bertambah kesal saja Ara.


"Calon makmum marah-marah mulu ih, nanti lu cepet tua". Ucap Digo


"Berhenti panggil gue calon makmum!!! Lu bener-bener sinting!!! Setelah mengucapkannya, Ara langsung bangkit dan meninggalkan Digo dan kedua sahabatnya.


"Dasar kampr*t sinting, koplak, kaga waras. Bener-bener bikin emosi!!" Ara terus menggerutu sambil berjalan keluar cafe.

__ADS_1


Dira dan Putri langsung bangkit dan berlari mengejar Ara yang sudah keluar dari cafe tanpa mempedulikan Digo yang sedang tersenyum puas telah berhasil menggoda Ara.


"Gue ga akan lepasin elo Ra..elo cuma punya gue". Gumam Digo


__ADS_2