Cinta Kinara

Cinta Kinara
Manusia Licik


__ADS_3

Kini Ara sudah berada dibelakang kemudi dengan Dev yang ada disebelahnya.


"Kamu yakin udah kuat Ra? Kalo masih lemes biar aku aja yang bawa". Tanya Dev


Ara menggeleng


"Kaga lah bang, ini itung-itung olahraga bang" Jawab Ara nyengir


Dev mengacak gemas rambut Ara, bagaimana bisa menyetir mobil disebut olahraga.


Dev memegang sabuknya saat Ara tiba-tiba melajukan kendaraan itu dengan kecepatan tinggi.


Ara tersenyum geli melihat wajah Dev yang sedikit memucat. Padahal Ara yakin bahwa Dev juga sering melajukan kuda besinya itu dengan kecepatan tinggi.


Inilah maksud Ara dengan olahraga. Olahraga jantung, Ara terkikik dalam hati melihat wajah pucat Dev.


Mobil Dev melaju kencang menyalip beberapa kendaraan. Terdengar umpatan dan makian dari pengendara lain yang hampir terserempet Ara.


"Ra..pelan-pelan" Ucap Dev melihat Ara yang tengah fokus menyetir.


"Ini juga pelan bang" Jawab Ara enteng


"Pelan apanya kaya gini. Gue belom nikahin elo Ra. Belom siap mati gue" Batin Dev menjerit. Namun sebisa mungkin Dev menyembunyikan wajah tegangnya dengan sebuah senyuman kecil.


Ara semakin menaikkan kecepatan saat melihat mobil yang mengikutinya hampir mengejar.


"Lumayan" gumam Ara sambil terus fokus mengemudikan mobil Dev.


Ara membawa mobil Dev menjauh dari kediaman Natakusuma. Dev mengernyit bingung saat Ara memutar arah mobilnya.


"Ini bukan jalan kerumah Ra"


"Kita jalan-jalan dulu bang" Ucap Ara memainkan alisnya naik turun.


Sampai dijalanan sepi, Ara membanting stir mobilnya hingga mobil itu berputar 90° dengan posisi melintang ditengah jalan.


Ara meraih sesuatu dari dalam saku jaketnya, membuka jendelanya kemudian menodongkan senjata yang ia ambil dari saku jaketnya yang tersembunyi ke arah ban mobil sedan yang mengikutinya.


Dor


Dor


Dua tembakan tepat sasaran mengenai dua ban depan mobil sedan itu, mengakibatkan mobil kehilangan keseimbangan dan akhirnya terguling.


Ara tersenyum puas sambil melongokkan kepalanya keluar jendela mobil.


"Lain kali pake supir yang bener ya kalo ngejar gue. Apa kalo kaga lu pada belajar yang bener deh ya nyupirnya" Ejek Ara saat melihat para penumpang mobil merangkak keluar dari mobil yang sudah terguling.


Ara kembali melajukan mobil Dev menjauh dari para pria yang berteriak mengumpatinya.


Dev masih diam dengan tatapan lurus kedepan. Pria tampan itu cukup syok dengan apa yang Ara lakukan barusan. Bagaimana mungkin seorang wanita melakukan hal segila itu mungkin itulah isi pikiran Dev.


Ara melajukan mobil dengan santai seperti tidak terjadi apapun. Matanya melirik kesamping untuk melihat Dev yang sejak tadi diam. Sebelah alis Ara terangkat saat melihat Dev yang bengong.


"Bang..bang??" Panggil Ara


"Bang!!" Ara sedikit berteriak karena tidak mendapat jawaban dari Dev, Ara menepuk pundak Dev dan memanggilnya dengan suara yang sedikit keras.


Dev tersentak kaget saat pundaknya ditepuk Ara.


"Hah..iya? Apa Ra?? Ada apa??" Tanya Dev kaget


"Kenapa lu bang?? kaga kenapa-napa kan?" Tanya Ara


Dev menggeleng cepat


"Enggak Ra..aku nggak kenapa-kenapa" mendengar jawaban Dev, Ara kembali fokus kejalan yang ia lalui.


Dev memandang wajah cantik yang kini sedang fokus pada jalanan yang mereka lalui. Ada banyak pertanyaan dibenak Dev tentang bagaimana gadis ini mampu menguasai senjata api yang bahkan ia yang seorang pria saja masih belum terlalu bisa memakainya sebaik Ara.

__ADS_1


"Lu beneran kaga kenapa-kenapa bang??" Pertanyaan Ara membuyarkan lamunan Dev.


Dev menggeleng cepat sebagai jawabannya.


"Kaga mau turun?" Tanya Ara


Dev mengangkat kedua alisnya, bingung dengan ucapan Ara. Kemudian matanya menatap sekeliling yang ternyata sangat ia kenali.


Tanpa Dev sadari, keduanya sudah sampai didepan rumah papa Aryo.


Mama Anika serta ketiga sahabat Ara yang sudah menunggu sedari tadi merasa heran karena Ara tidak kunjung turun.


tok


tok


tok


Mama mengetuk kaca dibangku pengemudi. Mama Anika mengernyit bingung saat pintu mobil terbuka dan Ara lah yang turun dari kursi kemudi, sedangkan Dev justru turun dari kursi penumpang.


"Dev? Kenapa Ara yang membawa mobilnya?!" Tanya mama galak.


"Saya yang meminta nyonya. Ini bukan salah bang Dev" Bela Ara sebelum Dev membuka suara.


"Apapun alasannya sayang. Seharusnya Dev tidak mengijinkan kamu untuk mengendarai mobil. Kamu masih dalam masa pemulihan" Tegas mama Anika melotot tajam pada sang putra.


"anak kandung rasa anak tiri gini nih" Gumam Dev pelan


"Kamu bilang apa Dev?!" Ucap mama semakin melotot saat mendengar gumaman Dev.


"Apa?? Dev diem aja ma. Masih aja diomelin" Keluh Dev


Dira tertawa melihat kakaknya mendapat ceramah panjang dari sang mama. Tanpa mempedulikan perdebatan ibu dan kakaknya, Dira menarik Ara untuk masuk kedalam rumah.


"Itu abang lu gimana woy" Ucap Ara menahan tangan Dira yang terus menarik dirinya memasuki rumah.


Kini keempat gadis itu tengah duduk diruang keluarga sambil menonton drama kesukaannya, kecuali Ara tentunya. Karena Ara memang tidak menyukai drama. Matanya selalu tertuju pada pintu rumah besar itu.


Kenapa Dev dan mama Anika tidak juga masuk. Pikir Ara, namun tiba-tiba Dira berteriak


"aw..aw..aw, sakit ma ampun" Teriak Dira


"Kamu ya..main bawa Ara aja nggak bilang sama mama. Diluar mama sama kakak kamu bingung nyariin Ara" Mama Anika menarik telinga anak gadisnya dari belakang


"aw..aw..iya iya maaf, abis mama sama kakak ribut mulu. Kan kasian Ara kelamaan berdiri" Ucap Dira membela diri


Mama mendengus kesal sambil melepas tangannya dari kuping anak gadisnya itu.


Putri dan Salsa hanya tertawa melihat Dira kesakitan dijewer oleh mama.


Ara yang masih fokus pada pintu karena belum melihat Dev masuk dikejutkan dengan tepukan halus pada pundaknya


"Dev sedang bersama Sam dan Kevin diluar sayang" Ucap mama sambil tersenyum menggoda.


"Hah?? Sa..saya tidak mencari tuan muda nyonya" Jawab Ara gugup seperti pencuri yang tertangkap basah sedang mencuri.


Semua yang berada disana hanya tertawa melihat kegugupan Ara.


Saat sedang tertawa, Dev masuk bersama dengan Kevin dan Sam. Wajahnya terlihat begitu kelam dan penuh amarah.


Dev mendekati Ara dan sang mama yang duduk bersebelahan. Pria tampan itu beberapa kali menghela nafas panjang sebelum mengucapkan sesuatu.


"Kita keluar bentar ya Ra.." Ucap Dev sambil menarik tangan Ara menuju ruang tamu, diikuti mama Anika dan ketiga sahabat Ara serta dua sahabat Dev.


Sampai diruang tamu, terlihat lelaki paruh baya dan seorang wanita paruh baya yang sepertinya tidak asing bagi Ara. Ara menatap Dev dengan sebelah alis terangkat meminta penjelasan.


"Mereka orang tua Clara Ra" Ucap Dev menjawab kebingungan Ara.


Ara hanya berooh ria tanpa bertanya apapun lagi.

__ADS_1


Kini semua orang sudah duduk diruang tamu. Orang yang Ara tahu sebagai ayah dari gadis yang sudah hampir membuat nyawanya melayang menghela nafas panjang sebelum memulai berbicara.


"nona Ara..saya meminta maaf atas nama putri saya Clara. Saya benar-benar tidak menyangka bahwa dia akan senekat itu hanya karena sesuatu yang namanya cinta, saya malu dengan perbuatan putri saya" Tuan Sanjaya kembali menghela nafas panjang.


"enak bener yak tu orang main maap-maap aja. Kaga tau apa dia ya nyawa si Ara hampir lewat kemaren" Bisik Sam pada Dira yang ada disebelahnya.


"Iya kak, banget minta maaf. Coba anak dia yang digituin ya" Dira menjawab sambil menganggukkan kepalanya. Sementara Kevin sudah memelototi kedua orang yang berbisik itu.


"Saya berharap nona Ara bisa meringankan hukuman yang akan putri saya jalani. Saya tahu bahwa saya tidak berhak meminta hal ini pada nona. Tapi sebagai ayah, saya tidak bisa melihat putri saya menderita dipenjara" Ayah Clara mengakhiri kalimatnya dengan mata yang sudah berair.


"Lah itu tau dia kalo kaga berhak minta apa-apa..masih aja minta si Ara ngurangin hukuman. Sinting ni bapak ama emaknya" Bisik Sam lagi pada Dira.


"He'em kak. Sekeluarga gila semua" Jawab Dira


Kevin yang gemas akhirnya mencubit lengan Dira dan Sam secara bergantian agar keduanya diam.


Mama Anika menatap tajam dua orang yang sedang duduk dihadapannya itu. Terlihat jelas bahwa mama sangat tidak menyukai kedua orang itu.


"Saya sudah memaafkan putri anda tuan" Jawab Ara tenang.


Dan jawaban Ara berhasil membuat semua orang mengalihkan pandangan padanya dengan berbagai ekspresi.


Mama, Dev dan semua yang ada melotot dengan mulut sedikit terbuka mendengar jawaban Ara. Mereka tidak habis pikir mengapa begitu mudahnya Ara memaafkan gadis yang hampir membuat nyawanya melayang.


Sementara tuan Sanjaya tersenyum saat mendengar jawaban Ara, begitu juga nyonya Hesti sebagai ibu Clara yang terlihat berbinar mendengar jawaban gadis yang pernah ia rendahkan didepan umum itu. Namun senyumannya langsung hilang berganti dengan wajah marah setelah mendengar kelanjutan ucapan Ara.


"Tapi saya juga mohon maaf tuan. Saya tidak bisa melakukan apapun untuk membantu putri anda. Hukum harus tetap berjalan" Ara menjeda kalimatnya


"Anda bisa melakukan apapun untuk mengeluarkan putri anda dari penjara. Saya tidak akan menghalanginya. Tapi biarkan hukum menjalankan kewajibannya"


"Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Saya masih beruntung karena Allah masih memberi saya kesempatan untuk hidup. Tapi bagaimana jika nanti nyawa seseorang benar-benar hilang karena putri anda?" Lanjut Ara membuat tuan Sanjaya diam seribu bahasa.


"Heh kamu!! Dasar gadis miskin tidak tahu diri!!! Putriku tidak akan seperti ini jika saja kamu tidak pernah muncul dan berada disekitarnya. Kamu benar-benar j*l*ng s*alan!!!" Maki nyonya Hesti sambil berdiri dan menunjuk wajah Ara.


Tuan Sanjaya menarik tangan istrinya agar duduk kembali disampingnya.


"Jaga bicara anda nyonya Sanjaya!!" Desis mama Anika dengan penekanan disetial katanya, terlihat sekali jika mama sedang menahan amarahnya.


"Gadis ini benar-benar j*l*ng s*alan nyonya Anika. Jangan merendahkan harga diri anda membela gadis j*l*ng seperti ini!" Sarkas Nyonya Sanjaya


"Berhenti memanggil putriku j*l*ng nyonya Hesti Sanjaya!!" Bentak mama Anika yang kini sudah berdiri tegak dihadapan ibunda Clara. Amarahnya benar-benar meledak mendengar nyonya Hesti menghina Ara.


Semua orang membeku melihat amarah yang ditunjukkan oleh mama Anika. Ara hampir meneteskan air matanya melihat sang nyonya yang begitu peduli padanya. Tidak pernah terbayangkan olehnya akan memiliki majikan sebaik papa Aryo dan mama Anika.


"Diamlah Hesti!" Bentak tuan Sanjaya.


"Tapi karena gadis inilah putri kita menderita pa" Jawab nyonya Hesti


Tanpa mendengarkan ucapan istrinya, tuan Sanjaya memandang Ara dengan senyum tulus.


"Terima kasih nona Ara. Terima kasih karena mau menerima permintaan maaf kami. Maafkan kelancangan istri saya nyonya. Kami permisi" Tuan Sanjaya langsung menyeret istrinya keluar dari rumah keluarga Natakusuma.


"Lepaskan mama!!! Kenapa papa merendahkan diri dihadapan gadis rendahan sepertinya?!!" Tanya Hesti dengan nada keras.


"Apa kamu bodoh?! Kita tidak bisa memaksa. Gunakan otakmu itu Hesti"


"Apa maksud papa?!" Tanya mama Hesti heran.


"Kita harus lebih cerdas dari gadis itu" Ucap papa Sanjaya dengan seringai licik.


Nyonya Hesti semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.


Keduanya masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan rumah mewah keluarga Natakusuma.


Sementara didalam rumah, Ara sedang tersenyum sinis melihat kepergian ayah dan ibu Clara.


"Anda bermain dengan orang yang salah tuan Mali Sanjaya"


...*****...

__ADS_1


__ADS_2