Cinta Kinara

Cinta Kinara
musuh lama


__ADS_3

Sudah 2 bulan sejak kedua orang tua Clara datang kerumah keluarga Natakusuma untuk bertemu Ara. Tidak ada kejadian apapun yang mencurigakan.


Hanya saja Clara sudah dibebaskan 1bulan lalu dengan jaminan dari kedua orang tuanya. Papa Aryo yang hendak membuat Clara tetap dipenjara dilarang oleh Ara. Ara meminta papa Aryo untuk membiarkan saja apa yang akan dilakukan Clara dan keluarganya.


Namun demikian, Clara sudah dikeluarkan dari kampusnya. Menurut yang Ara dengar dari teman-teman dikampusnya, Clara melanjutkan pendidikannya keluar negeri.


Hubungan Ara dengan Dev juga semakin dekat, hampir setiap hari keduanya pergi ke kampus bersama saat memiliki jadwal kuliah pada jam yang sama.


Saat Ara sedang berjalan santai di koridor kampus, dirinya terkejut karena tiba-tiba ada yang menutup matanya dari belakang. Reflek untuk perlindungan dirinya, Ara memelintir tangan orang yang menutup kedua matanya.


"aw..aw..aw"


Terdengar rintihan dari orang yang dipelintir Ara. Ara segera melepaskan tangannya ketika mendengar suara orang yang mengejutkannya. Orang itu tidak lain adalah Digo.


"Lu mah gitu-gitu amat ama gue Ra. Tega amat ama orang ganteng begini" Keluh Digo sambil mengelus pergelangan tangannya.


"Ya elu ngapain pake kaya orang india nutup-nutup mata segala" Jawab Ara kesal


"Biar romantis Ra..romantis. Kaga bisa banget lu diajak romantis"


"Romantis pala lu pitak!" Ketus Ara yang kemudian melanjutkan langkah kakinya.


Digo menyusul langkah kaki Ara hingga mensejajarinya.


"Lu kaga kangen apa ama gue Ra? Udah 2bulan kaga ketemu calon imam lu ini" Tanya Digo mulai menggoda Ara.


"Kaga!! Adem banget idup gue kaga ada elu"


Digo melengos mendengar jawaban Ara. Namun tiba-tiba dirinya berdiri tepat dihadapan Ara, membuat Ara menghentikan langkahnya.


"Beneran 2bulan lalu si lampir nyulik elu?? Elu kenapa kaga bilang gue sih?" Tanya Digo tiba-tiba.


Ara mendengus mendengar pertanyaan Digo yang kembali mengingatkannya pada kenangan menyebalkan saat dirinya diculik beberapa bulan lalu itu.


"Ngapain gue bilang-bilang ama lu. Bapak bukan emak apalagi" Jawab Ara cuek sambil melangkahkan kakinya kembali.


"Terus kenapa elu biarin bapaknya tu lampir bebasin dia" Pertanyaan Digo kembali menghentikan langkah kaki Ara.


"Ya biarin aja lah. Gimana emak bapaknya aja mau ngapain. Lu ngapain sih malah jadi kaya bapak gue. Awas lu ah minggir" Ucap Ara sambil menggeser tubuh Digo yang kembali menghalangi jalannya.


"Gue tu peduli ama lu. Kaga peka amat si lu jadi cewe. Gue pites juga lu!" Ucap Digo kesal karena Ara tidak pernah mengerti arti perhatiannya selama ini.


Ara terkekeh mendengar Digo. Ara sudah menganggap Digo sebagai teman, walaupun saat keduanya bertemu selalu bertengkar seperti sekarang.


"Kaga ada yang lucu. Ketawa mulu!" Ketus Digo membuang muka berpura-pura marah.


Tanpa mempedulikan Digo yang masih mengomel, Ara melangkah menjauh meninggalkan Digo yang entah mengoceh tentang apa.


Menyadari dirinya ditinggalkan oleh Ara, Digo segera berlari untuk mensejajarkan langkahnya dengan Ara.


"Lu mah bener-bener Ra. Kaga sayang mah beneran gue pites lu" Sewot Digo saat sudah ada disamping Ara.


Ara menghentikan sejenak langkah kakinya ketika mendengar Digo mengucapkan kata sayang. Namun dirinya kembali melanjutkan langkahnya.


"Makan bareng yuk Ra. Lu udah kaga ada kelas kan??"Tanya Digo


"Males gue..pengen cepet balik. Takutnya udah ditungguin" Jawab Ara


"Kali-kali napa sih Ra. Udah lama kaga ketemu" Wajah Digo terlihat memelas.


Ara berfikir sejenak kemudian menghela nafas panjang sebelum berkata


"Yaudah. Gue telpon bang Dev dulu deh biar kaga usah nungguin. Tapi anter pulang ya..awas lu kaga tanggung jawab" Peringat Ara


"Yaelah Ra, jangankan cuma tanggung jawab nganter pulang. Tanggung jawab yang lain juga sanggup gue" Jawaban Digo langsung mendapat pelototan tajam dari Ara. Yang dipelototi hanya cengengesan.


Ara mengambil ponselnya kemudian mencari nomor yang akan ia hubungi, hanya butuh sekali deringan saja sang pemilik nomor langsung mengangkatnya.


"Halo Ra? Kenapa?"


"Abang pulang duluan aja ya, kaga usah nungguin gue"


"Kenapa Ra? Kamu masih ada kelas?" Tanya Dev


"Kaga bang. Gue balik bareng Digo hari ini" Jawab Ara

__ADS_1


"Digo??" Tanya Dev diseberang sana


"Iya! Ara pulang bareng gue. Lu balik aja sono..Bye!!" Tiba-tiba Digo mengambil ponsel Ara dan berbicara pada Dev. Tanpa menunggu jawaban dari seberang sana, Digo langsung mematikan sambungan teleponnya.


Ara hanya mendengus melihat kelakuan Digo.


"Oke..let's go!! Kita jalan-jalan dulu" Ucap Digo semangat sambil menggandeng tangan Ara.


"Kaga usah megang-megang gini juga. Gue kaga buta, kaga perlu digandeng!" Ara mencoba menghempas tangan Digo. Namun semuanya tidak berhasil.


Digo membawa Ara menuju mobilnya, Ara hanya pasrah mengikuti langkah kaki pria yang saat ini wajahnya dipenuhi dengan senyuman manis.


Saat keduanya hendak masuk kedalam mobil, suara seseorang menghentikan keduanya.


"Ara??"


Ara menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Dahinya mengernyit dan matanya menyipit melihat seorang perempuan anggun nan cantik yang memanggilnya.


"Lo Ara kan?? Kinara Maheswari Dinata??" Jelas perempuan yang ada dihadapan Ara.


"Lo lupa ama gue??" Tanyanya lagi.


Ara memiringkan kepalanya masih dengan dahi yang berkerut dalam, mencoba mengingat wajah seseorang yang ada dihadapannya.


"Angel?!!"


Merasa namanya dipanggil, perempuan yang ada dihadapan Ara menoleh keasal suara. Matanya melebar sempurna melihat pria tampan yang ia impikan sejak dibangku sekolah atas ada dihadapannya.


"Digo??!!" Jawab Angel yang sama terjekutnya seperti Digo.


Ara masih mencoba mengingat nama Angel yang baru saja Digo sebutkan.


"Lo kenal ama cewe miskin ini??" Tanya Angel sinis menatap Ara.


Digo mengetatkan rahangnya dengan tangan terkepal kuat mendengar apa yang Angel ucapkan tentang gadis yang sudah menguasai hati dan pikirannya.


Ara hanya tersenyum sinis mendengar hinaan Angel padanya. Dirinya mengingat siapa gadis yang sedang berdiri angkuh dihadapannya ini. Gadis ini adalah musuhnya saat masih di bangku SMP.


"Jaga ucapan lo!!" Bentak Digo.


"Tutup mulut lo!!!" Digo benar-benar kehilangan kesabarannya.


Ara memegang lengan Digo yang kini sudah berdiri disampingnya. Menahan Digo yang hendak mengeluarkan suara untuk membela dirinya.


"Hebat juga lo bisa kuliah dikampus elite kaya gini!" Ejek Angel.


"Pake duit apa lo bisa kuliah dikampus elite kaya gini? Lo jual diri?!" Angel kembali melontarkan hinaan yang membuat Digo semakin mengepalkan tangannya.


"Iya gue jual diri. Nih pelanggan gue. Hebat kan gue" Jawab Ara santai sambil melirik Digo dengab ekor matanya. Mata Digo melotot mendengar jawaban Ara.


Sementara Angel sudah mengepalkan tangannya dengan wajah memerah mendengar jawaban musuh bebuyutannya sejak dibangku SMP.


Digo membukakan pintu untuk Ara dan mempersilahkan gadis cantik itu duduk manis dibangku penumpang mobil mewah itu.


Digo memutari mobilnya kemudian masuk kedalam mobil. Sebelum mobil melaju meninggalkan Angel, Ara membuka kaca mobilnya kemudian berkata


"LOOSER" dengan senyum mengejek.


Apa yang Ara lakukan membuat Angel berteriak memaki Ara yang kini sedang tertawa puas melihat Angel yang terus memakinya.


Setelah mobil menjauh, Ara memijit pelipisnya. Kepalanya terasa berdenyut setelah bertemu dengan manusia yang mengingatkan dirinya akan pahitnya masa SMP.


"Beneran salah kampus gue" Gumam Ara yang masih terdengar oleh telinga Digo.


Kini Ara sudah menyandarkan kepala pada sandaran kursi mobil sambil memejamkan matanya.


"Lu kenapa Ra?? Kenal lu ama si Angel??" Tanya Digo yang sesekali melirik Ara.


"Hmm." Ara hanya bergumam menjawab pertanyaan Digo.


"Kenal dimana lu??"


"Dihutan" Jawab Ara asal.


"Lu kata monyet ketemu diutan" Ucap Digo kesal.

__ADS_1


Ara hanya tersenyum tipis mendengar Digo yang kesal.


30menit berkendara, keduanya sampai disebuah restoran seafood yang cukup terkenal.


"Lu kaga ada alergi seafood kan?" Tanya Digo sambil membuka seatbeltnya.


Ara menggeleng kemudian mendahului Digo membuka pintu dan berjalan keluar.


Saat berjalan masuk restoran, tiba-tiba Digo menggandeng tangan Ara. Ara mencoba menepisnya namun tidak berhasil. Akhirnya Ara membiarkan Digo melakukan apa yang diinginkannya.


Keduanya memasuki restoran dengan tangan yang masih bertaut, lebih tepatnya Digo yang memaksa menggenggam tangan Ara.


Setelah duduk dan memesan makanan. Sambil menunggu pesanannya dihidangkan, Digo mulai menanyakan tentang seberapa kenal Ara dengan seorang Angel.


"Lu udah lama kenal Angel?? Kenal dimana lu Ra??"


"Temen SMP" Jawab Ara pendek.


"Hah??!!" Teriak Digo terkejut.


"Biasa aja napa si lu. Kaya abis liat pocong dugem aja lu!!" Ucap Ara sambil tangannya membekap mulut Digo.


Mereka menjadi pusat perhatian pelanggan restoran karena teriakan Digo.


"Jangan teriak lagi lu. Awas!" Peringat Ara kemudian melepaskan tangannya dari mulut Digo.


Digo mengangguk menyanggupi.


"Beneran lu temen SMP nya si Angel??" Tanya Digo memastikan.


"Iya. Napa sih lu nanya mulu" Jawab Ara galak.


Ara benar-benar malas membahas tentang Angel. Karena Angel adalah salah satu orang yang membenci dirinya dan mengetahui tentang hal yang paling ditakuti oleh Ara. Ara takut jika kejadian saat dirinya duduk dibangku SMP terulang kembali.


Digo menjentikkan jarinya didepan wajah Ara ketika melihat Ara bengong.


"Malah bengong si lu Ra. Mikirin apa lu??" Tanya Digo.


"Kaga..makan, makan. Udah dateng tu makanan" Ucap Ara mengalihkan pembicaraan.


Keduanya diam menikmati hidangan yang ada diatas meja. Digo tersenyum melihat Ara yang makan tanpa merasa malu-malu seperti kebanyakan gadis yang selalu ia dekati.


"Makan lu. Liatin gue mah kaga bakal kenyang" Ucap Ara masih sibuk dengan kepiting yang ia makan.


Digo melanjutkan makannya yang tertunda karena terus memperhatikan wajah cantik Ara.


____


Digo mengantarkan Ara pulang setelah tadi makan bersama. Saat memasuki gerbang tinggi rumah keluarga Natakusuma, terlihat Dev yang sudah menunggu didepan pintu dengan tangan menyilang di dada.


"Makasih ya udah traktir gue makan. Pulang sono lu, kaga usah turun" Ucap Ara


"Tega bener lu mah Ra ama calon suami" Jawab Digo memelas.


"Muka lu keliatan ngeselin kalo dipasang memelas gitu. Bikin gue gemes pengen nempeleng!"


"Ya Allah ni cewe kaga ada manis-manisnya"


"Biarin. Pulang sono lu..cape gue kalo kudu liat lu ribut ama bang Dev" Jelas Ara yang kemudian dijawab anggukan kepala oleh Digo.


Ara turun kemudian melambaikan tangannya kepada Digo yang sudah mulai melajukan mobilnya menjauh dari kediaman Dev.


"Seneng banget kayanya" Suara dingin Dev menyambut kepulangan Ara.


"Biasa aja bang. Ngehargain temen doang" Jawab Ara santai.


"Temen?" Beo Dev


Ara berlalu meninggalkan Dev yang masih diam mematung didepan pintu. Sedangkan Ara dengan tenang melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya yang berada dipaviliun belakang.


Ara merebahkan tubuh lelahnya, memejamkan matanya kemudian membukanya diikuti helaan nafas panjang.


"Kenapa musti ketemu lagi sih" Gumam Ara pelan.


"Baru juga ilang satu orang seneng bikin perkara ama gue. Ini ganti ama yang lebih parah" Ara menghela nafasnya kasar.

__ADS_1


Terlalu lelah dengan pikirannya, tanpa terasa mata Ara terpejam memasuki alam mimpinya.


__ADS_2