Cinta Kinara

Cinta Kinara
semakin dekat


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 14.00 saat semua orang pamit untuk pulang kerumah masing-masing.


Sementara Dev, pria tampan itu tetap ingin menemani Ara. Sudah 3 hari dirinya tidak pulang karena ingin memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Bahkan dia membolos sekolah hanya demi menemani gadis cantik itu.


Siapa yang akan berani mengeluarkan anak pemilik sekolah walaupun dia sebulan tak masuk sekolahpun tak akan ada yang berani mengeluarkan dirinya, lebih tepatnya tidak ada yang mampu.


Dev segera beranjak dari sofa saat melihat Ara hendak turun dari ranjangnya.


"kamu mau kemana ra??". Dev memegang kedua lengan Ara, takut jika gadis itu jatuh.


Ara yang dipegang lengannya merasa tubuhnya tiba-tiba kaku.


"eh itu...anu tuan, saya mau ke toilet". Ara berkata pelan karena malu.


"Biar aku bantu kesana". Ucapan Dev membuat Ara reflek menoleh kearah Dev, dirinya tidak percaya dengan ucapan tuan mudanya barusan.


"Ti..tidak perlu tuan muda. Saya bisa sendiri". Ara jelas menolak tawaran Dev.


"jika kamu tidak mau mengubah panggilanmu terhadapku maka aku akan benar-benar menunggumu didalam kamar mandi Ara. Kau benar-benar keras kepala!". Dev sudah kesal karena sejak mengetahui status Dev, Ara tidak pernah mau berbicara dengan santai lagi dengan Dev.


"hah??". Ara reflek membuka mulutnya lebar mendengar penuturan Dev. Benar-benar pria aneh pikir Ara.


"sudah sana masuk. Aku akan menunggu disini" Dev sedikit mendorong tubuh Ara kedalam toilet saat sudah berada didepan pintu.


Ara segera masuk kedalam toilet tanpa menjawab perintah Dev tadi.


Saat sudah selesai dengan urusannya dikamar mandi, Ara segera keluar dari dalam toilet. Saat sudah keluar Ara terkejut karena Dev benar-benar menunggunya didepan pintu toilet.


"sudah??". Dev menyadarkan Ara dari keterkejutannya.


Ara menjawab dengan anggukan kepala.


Dev menuntun Ara untuk kembali berbaring diranjang. Sore itu hanya ada mereka berdua didalam kamar perawatan Ara.


Dev sibuk dengan hpnya membalas pesan dua sahabatnya yang menanyakan keberadaannya selama 3 hari ini.


Ara yang sudah bosan berada didalam kamar, hanya memindah mindahkan saluran tv yang ia tonton,dan tidak ada yang menarik untuk dirinya tonton.


Ara mengehela nafas kasar kemudian mematikan tvnya.


Dev menatap gadis yang sedang merengut kesal, Dev paham bahwa Ara sudah bosan didalam ruangan itu.


Dev berdiri, kemudian keluar dari ruang rawat Ara. Ara hanya memperhatikannya tanpa berniat untuk bertanya.


Sesaat kemudian Dev masuk kembali kedalam kamar Ara dengan mendorong sebuah kursi roda.


Tanpa babibu, Dev langsung mengangkat tubuh Ara yang memekik karena terkejut tiba-tiba tubuhnya melayang.


"yaaaaaa, lu mau ngapain gue bang?!". Ara reflek mengubah panggilan untuk Dev. Sementara Dev, dia tersenyum puas mendengar gadis itu kembali berbicara dengan santai.


Dev mendudukkan tubuh Ara dengan hati-hati diatas kursi roda.


"kamu bosen kan??. Kita jalan-jalan ketaman rumah sakit biar kamu ga bosen dikamar".


Dev kemudian mendorong kursi roda meninggalkan kamar yang sudah 3hari ditempati Ara.


__________


Kini keduanya sedang duduk ditaman, memandang hamparan bunga yang terlihat sanagt indah.

__ADS_1


Ara memejamkan matanya menikmati semilir angin yang menerpa wajah cantiknya.


Sementara Dev, sejak tadi dirinya tidak pernah memalingkan pandangannya dari wajah ayu gadi dihadapannya ini.


Merasa ada yang memperhatikan, Ara membuka matanya dan menoleh kesamping dimana Dev duduk sambil terus memperhatikan wajah Ara.


"terima kasih". Hanya kata itu yang terucap dari mulut lelaki tampan disamping Ara itu.


Ara mengangkat alisnya sambil sedikit memiringkan kepalanya.


"terima kasih untuk apa tuan muda??"


"terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan aku malam itu. Jika tidak ada dirimu, mungkin tembakan itu akan mengenai jantungku ra". Dev berkata panjang lebar, namun tatapannya tidak pernah lepas dari wajah cantik Ara.


Sesaat mata keduanya saling menatap dalam, seolah sedang menyelami perasaan masing-masing.


"itu sudah kewajiban saya dan bapak untuk melindungi tuan muda dan keluarga". Ara mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Dev. Dia tidak kuat jika terlalu lama beradu pandang dengan mata tajam penuh pesona itu.


"kamu memang gadis keras kepala. Sudah berapa kali aku bilang jangan memanggilku tuan. Dasar ngeyel". Dev jadi kesal sendiri karena Ara kembali memanggilnya tuan muda.


"sejak kapan kamu bisa bela diri ra??". Dev mencoba mencairkan suasana dengan obrolan santai. Berharap Ara akan memanggilnya "bang" lagi seperti yang dulu.


"udah lama bang, sejak ibu meninggal. Mungki udah 8tahunan". Dan benar saja, ketika diajak mengobrol santai, Ara kembali megubah panggilannya kepada Dev.


Dev tersenyum senang mendengar Ara memanggilnya abang lagi. Tidak ingin kehilangan momennya bersama Ara, Dev terus mengajak Ara mengobrol.


"Apa paman Rahmat sendiri yang mengajarimu??". Dev kembali bertanya pada gadis cantik itu.


Ara mengangguk membenarkan.


"Awalnya diajarin bapak bang, tapi kan bapak musti balik lagi kerja dirumah elu. Jadi seudah itu gue diajarin sama nenek". Ara bercerita tanpa menyadari bahasa yang ia pakai, Ara merasa nyaman bercerita dengan Dev.


"hmm..nenek juga jagoan bang. Emang bapak dapet dari mana ilmunya kalo ga dari emak ama bapaknya". Ara terkekeh melihat keterkejutan Dev mendengar ceritanya.


Dev menganggukkan kepalanya.


"kamu udah biasa ya berantem-berantem kaya kemaren gitu??". Dev terus bertanya pada Ara.


"ya mau ga mau lah bang, kalo diganggu masa iya gue musti diem aja. Kalo ga dimulai duluan juga gue kaga bakal berantem lah. Lu juga kemaren hebat bang. Udah lama bisa bela diri??". Ara tiba-tiba penasaran dengan kemampuan bela diri Dev. Karena kemarin Ara sempat melihat kemampuan Dev dalam menghadapi para penjahat itu.


"lumayan ra, tapi belum selama kamu juga. Aku baru bisa bela diri sekitar 4tahun lalu". Dev berkata sambil menoleh pada Ara yang sedang memperhatikannya.


Ara mengangguk anggukkan kepalanya.


"tapi kemaren lu hebat bang, udah keliatan kaya jagoan beneran". Ara berkata dengan sebuah senyum sempurna menambah kadar kecantikan gadis itu.


Dev mengerjapkan matanya beberapa kali melihat bagaimana cantiknya gadis yang kini sedang tersenyum itu. Dev benar-benar terpesona dengan kecantikan alami Ara, bahkan saat wajahnya sedikit pucat seperti sekarangpun tidak mengurangi kecantikan gadis itu.


Dev merasa sedikit lebih dekat dengan Ara setelah mengobrol panjang berdua.


"kita kembali ke kamarmu sekarang, tidak baik terlalu lama terkena angin". Dev berdiri dan kembali mendorong kursi roda yang dipakai Ara.


Ara ingin protes namun tidak berani mengeluarkan kata-katanya. Dia hanya bisa menghela nafas kasar dan menuruti perintah Dev.


_________


Sudah 1minggu semenjak Ara terkena tembakan, kini dirinya sudah benar-benar tidak betah di rumah sakit. Ara bertekad hari ini dirinya harus bisa pulang kerumah.


"kalo hari ini Ara gak boleh pulang, Ara bakal kabur dari sini". Ara langsung mengancam bapak yang baru saja mendudukkan bokongnya dikursi samping ranjang.

__ADS_1


Bapak langsung menoyor kepala anak gadisnya itu.


"kamu mah ya neng, bapak tuh baru dateng neng..duduk juga pantatnya belom sempet nempel kekursi. Udah kamu ancem-ancem aja sih. Salim dulu apa nanya kabar bapak gimana gitu, ini dateng-dateng langsung diancem". Bapak yang kesal langsung mengomeli Ara.


"Ara bener-bener bosen bapaaaaaak". Ara melancarkan jurus mengiba kepada bapak.


"Ara udah sehat, mau diajak duel juga udah kuat pak. Masa masih disuruh tiduran terus..yang ada nanti badan Ara kaku semua. Atuh lah yaaaa..pulang ya pak". Ara menampilkan wajah imutnya didepan bapak yang langsung membuat bapak memutar bola matanya.


"bapak akan berbicara pada dokter dulu, kalau kamu sudah benar-benar pulih, bapak akan minta persetujuan untuk kepulangan kamu hari ini". Bapak langsung bangkit dan berjalan keluar kamar Ara.


Saat hendak membuka pintu, ternyata pintu sudah terbuka dari luar. Dan nampaklah Dev yang sedang berdiri didepan bapak.


"paman mau kemana?". Dev bertanya pada bapak.


"saya mau keruangan dokter Yoga tuan muda. Ara sudah merengek ingin pulang, daripada nanti dia benar-benar kabur dari sini, lebih baik saya meminta ijin pada dokter Yoga untuk membawa anak nakal itu pulang". Bapak berkata panjang lebar mengadu pada Dev tentang perilaku Ara.


Sementara Dev hanya tersenyum melihat Bapak yang sudah dibuat kesal oleh anak gadisnya.


"perlu saya temani paman??". Dev bertanya kembali pada bapak.


Bapak segera menggeleng dan mengibaskan tangannya.


"tidak perlu tuan muda, saya akan kesana sendiri".


"yasudah kalau begitu saya akan masuk menemani Ara saja paman". Setelah mendapat jawaban dari bapak, Dev lantas masuk kedalam kamar Ara.


Saat masuk kedalam, Dev terkejut melihat Ara sudah memakai celana jeans nya dan kaos yang sedikit kebesaran serta mengikat tinggi rambutnya.


"heii..kamu mau kemana ra?? Dokter belum mengijinkan kamu untuk pulang". Dev berkata karena yakin Ara ingin langsung keluar dari rumah sakit.


"kalo kaga boleh pulang mah gue kabur lah bang. Bosen gue disini bang. Lu kaga bosen apa gimana sih bang disini 1minggu". Sejujurnya Ara sedikit merasa heran pada Dev, lelaki itu terlihat justru bahagia dirumah sakit. Dasar pria aneh batin Ara.


"gimana mungkin gue bosen ra. Dengan lo dirawat kaya gini bisa bikin gue deket terus ama elo. Kalo bisa juga gue mau lebih lama disini". Batin Dev.


"Ya kan kamu belum tentu boleh pulang sama dokter ra". Dev tetap berusaha membujuk Ara. Namun sepertinya gadis itu sudah benar-benar merasa tidak betah dirumah sakit.


"ya kalo dokternya tetep ga ngijinin gue pulang, terpaksa deh bang gue kabur dari sini. Bosen gue mah bang. Pengen sekolah lagi biar rame". Sahut Ara santai.


Dev hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Ara yang menggemaskan menurutnya.


Saat sedang berbincang, bapak masuk kedalam kamar rawat Ara. Bapak sudah membawa selembar kertas yang akan digunakan Ara untuk kontrol kerumah sakit 1minggu lagi.


Ara diperbolehkan pulang setelah bapak sedikit memaksa pada dokter Yoga. Bapak berjanji akan merawat luka Ara dengan baik dan memastikan Ara meminum obatnya secara teratur.


______


Kabar kepulangan Ara sudah sampai ditelinga penghuni rumah besar milik tuan Aryo.


Saat ini mama Anika dan mama Dini sedang heboh menyiapkan berbagai hidangan untuk menyambut kepulangan Ara dari rumah sakit.


Sementara Dira dan Putri sibuk membersihkan dan merapikan serta mengganti sprei kamar tamu yang akan ditempati Ara sampai gadis itu benar-benar pulih.


Seluruh keluarga benar-benar heboh mendengar Ara akan pulang.


Tuan Aryo dan tuan Bram yang sedang duduk santai diruang keluarga hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat kehebohan istri dan anak mereka.


"bahkan saat kita pulang dari luar negri untuk mencarikan nafkah mereka, mereka tidak pernah seheboh ini Bram. Tapi lihatlah, menunggu seorang gadis pulang saja mereka membuat heboh seisi rumah". Tuan Aryo berkata sambil memperhatikan istrinya yang sedang sibuk menata makanan bersama mama Dini.


"hmm..kau benar yo. Bahkan bisa jadi kalau kita yang terluka seperti Ara kemarin, mereka tidak akan sekhawatir itu. Benar-benar menyebalkan". Tuan Bram menggerutu menanggapi ucapan tuan Aryo.

__ADS_1


Suara klakson mobil dihalaman rumah membuat para wanita dalam rumah itu berhambur keluar. Wajah penuh senyuman mereka persembahkan untuk gadis yang baru saja turun dari mobil Dev diikuti bapak dibelakangnya sambil membawa tas Ara.


__ADS_2