Cinta Kinara

Cinta Kinara
perasaan


__ADS_3

Beberapa hari ini Dev merasa bingung dengan sikap Ara yang tiba-tiba menghindari dirinya. Sejak kejadian dirinya mengantarkan Raisya, Ara terus saja menghindarinya.


Dev yang sudah tidak tahan terus dihindari oleh Ara memutuskan akan mengajak Ara berbicara berdua.


Pagi itu Ara sudah bersiap akan berangkat. Dev yang memang sudah sengaja menunggunya langsung mendekat dan mencekal tangan Ara, kemudian membawa Ara masuk kedalam mobilnya sebelum Ara sempat menolaknya.


"B..bang. Gue bawa motor bang" Kilah Ara


"Kita perlu ngomong Ra. Aku nggak suka dengan keadaan kaya gini" Ucap Dev sambil mendorong Ara memasuki mobilnya.


Ara menghela nafas, berpikir bagaimana caranya bisa menghindari pertanyaan Dev nanti.


Dev masuk dan melajukan mobilnya, tapi Ara mengernyit karena jalan yang dilewati Dev bukan jalan menuju kampusnya.


Ara menoleh pada pria tampan yang sedang fokus pada kemudinya. Namun Ara tidak bertanya apapun.


"Kita sarapan dulu. Aku yakin kamu belum makan" Jelas Dev menjawab kebingungan Ara.


Dev membawa Ara ke warung bubur langganannya. Keduanya turun kemudian memesan bubur untuk sarapan mereka.


Ara masih terus diam membuat Dev menghela nafas panjang.


Tidak menunggu lama, pesanan keduanya sudah terhidang dihadapan mereka. Keduanya makan tanpa suara.


"Kamu masih marah sama aku Ra?" Tanya Dev setelah menyelesaikan makannya.


Ara mengernyit, bingung dengan pertanyaan Dev.


"Maaf, waktu itu aku bener-bener nggak sengaja bentak kamu waktu kamu bicarain Raisya" Lanjut Dev.


Ara menaikkan kedua alisnya dengan mata yang melebar. Apa Dev pikir alasan Ara menghindarinya karena Dev membentak Ara waktu itu.


"Gue kaga marah bang. Serius deh"


"Terus kamu kenapa ngehindarin aku terus Ra?" Tanya Dev penasaran.


Ara bingung bagaimana harus menjelaskan, mengapa dirinya tidak bisa terlalu dekat dengan Dev.


Apa Dev benar-benar tidak tahu bahwa sang mama sudah menyiapkan calon istri untuknya, pikir Ara.


"Gue kaga ngehindar bang. Lagi banyak tugas kampus aja" Ara terpaksa berbohong pada Dev.


Dev tersenyum miring mendengar alasan Ara, ia tahu bahwa gadis dihadapannya ini sedang berbohong.


Namun Dev tidak ingin memaksa Ara berkata jujur tentang alasan Ara menghindarinya beberapa hari ini.


"Yaudah kalo cuma gara-gara banyak tugas. Kita berangkat sekarang" Dev bangkit dan berjalan keluar diikuti Ara.


Sepanjang perjalanan menuju kampus hanya diisi dengan keheningan. Baik Dev maupun Ara tidak ada yang membuka suara.


Sampai dikampus, Ara turun lebih dulu setelah mengucapkan terima kasih pada Dev.


****


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore ketika Ara mendapat panggilan telepon dari orang yang tidak ia kenal.


Awalnya Ara mengacuhkan panggilan itu, Ara pikir mungkin hanya orang iseng. Namun ponselnya terus bergetar dengan nomor yang sama.

__ADS_1


Akhirnya Ara memutuskan untuk mengangkat telepon dari nomor asing itu.


"Halo, si..." Belum sempat Ara selesai dengan kalimatnya, sang penelpon sudah memotongnya dengan nada suara yang terdengar panik.


Mendengar ucapan seorang perempuan diseberang telepon, wajah Ara memucat dengan linangan air mata. Ara bergegas meninggalkan kampus dan berlari keluar untuk mencari taksi.


Ara menghentikan taksi yang kebetulan lewat, kemudian masuk kedalamnya.


"Ke rumah sakit XX ya pak. Tolong cepet!" Pinta Ara dengan nada panik.


"Baik nona"


Sepanjang perjalanan, Ara memejamkan matanya dan terus berdoa untuk keselamatan bapak. Nomor asing yang tadi menelpon dirinya mengabarkan bahwa sang ayah mengalami kecelakaan dan dilarikan kerumah sakit yang saat ini Ara tuju.


Pikirannya hanya tentang kondisi sang ayah, karena penelepon mengatakan bahwa kondisi sang ayah cukup kritis saat dilarikan kerumah sakit.


Ara membuka matanya ketika merasakan kendaraan yang ia tumpangi berhenti. Ara mengernyit melihat keluar jendela. Yang ia lihat hanya jalanan yang sepi.


"Kenapa berhenti pak. Kita belum sampai" Tanya Ara bingung.


"Maaf nona, tapi didepan ada mobil yang menghadang jalan kita" Jawab supir taksi sambil menunjuk sebuah mobil yang berhenti melintang didepan taksi yang kini ia tumpangi.


Tak berselang lama, muncul 3 orang pria yang berjalan mendekati taksi. Salah seorang diantaranya menggedor jendela Ara.


Ara menghela nafas kasar, kenapa harus sekarang muncul orang-orang seperti ini. Dirinya sedang buru-buru saat ini.


Tidak ingin membuang waktu, Ara segera turun dari mobil. Supir taksi sempat melarang dan menyarankan untuk memanggil polisi saja, namun Ara tak mengindahkan peringatan supir taksi.


"Lu pada minggir. Besok-besok lagi deh mainnya ya. Gue buru-buru" Ucap Ara pada 3 pria dihadapannya.


Tanpa aba-aba, ketiganya maju menyerang Ara dengan membabi buta, Ara bisa menghindari semua serangannya. Namun sebuah pukulan di belakang kepalanya membuat Ara jatuh dengan posisi berlutut.


Ia dipaksa masuk kedalam mobil para penculik itu. Ara terus berontak dan mencoba melepaskan ikatan ditangannya. Namun semua usahanya sia-sia karena ikatannya begitu kuat.


Mobil yang membawanya berhenti, Ara sempat berpikir akan berakhir seperti waktu terakhir kali dirinya diculik. Namun kini pikirannya terfokus pada sang ayah yang sedang kritis dirumah sakit.


Ara dipaksa turun dari mobil, dan didorong agar mau berjalan. Kini yang Ara dengar hanya suara deburan ombak yang keras, dirinya berfikir akankah ia berakhir dengan ditenggelamkan dilautan luas.


Kain yang menutup matanya sudah basah oleh air mata, bukan karena takut akan ajalnya. Dirinya berpikir bagaimana nanti bapak serta kakaknya jika mencari dirinya.


Ditengah kalutnya pikirannya tentang hal yang akan terjadi pada dirinya dan juga bapak, tiba-tiba ada seseorang yang membuka ikatan ditangannya.


Dengan cepat Ara membuka penutup matanya untuk melihat siapa yang sudah menculiknya. Tepat saat penutup matanya terbuka, mata Ara membulat sempurna melihat siapa yang sedang berdiri dihadapannya dengan senyuman yang sangat manis.


"Abang?!!!" Teriak Ara dengan mata yang masih basah.


Penculik yang tidak lain adalah Dev maju, memangkas jarak antara dirinya dan Ara. Tangannya terulur untuk menghapus air mata yang membasahi kedua pipi Ara.


"Ke..kenapa lu disini bang? Kemana tadi yang udah bawa gue kesini?" Tanya Ara bingung. Matanya menyusuri sekelilingnya untuk mencari orang yang tadi menculik dirinya.


"Ya karena aku yang nyuruh mereka bawa kamu kesini" Jawab Dev tenang.


Berbeda dengan Dev yang tenang, mata Ara hampir melompat keluar mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Dev.


"Maafin aku ya Ra, bawa kamu kesini dengan cara seperti ini" Ucap Dev penuh penyesalan sambil mengelus pipi Ara yang sedikit lebam akibat pukulan.


"Lu..lu yang nyuruh mereka? Tapi kenapa bang?!!"

__ADS_1


Dev meraih sebelah tangan Ara kemudian bersimpuh dengan bertumpu pada sebelah lututnya didepan Ara, Dev mengeluarkan kotak kecil berwarna merah yang ada disaku jaketnya.


"Ra..mungkin ini terlalu mendadak buat kamu. Tapi aku yakin kalo Allah kirim kamu buat jadi pendamping aku dalam susah maupun senang,aku yakin kamu yang dikirim Allah untuk menjadi ibu dari anak-anak aku nanti" Dev menghela nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya.


"Aku tau aku bukan pria yang romantis seperti pria-pria lain, aku juga bukan pria yang terlalubaik, aku juga enggak bisa menjanjikan apa-apa buat kamu. Tapi aku akan selalu berusaha untuk ngasih kebahagiaan buat kamu dengan cara apapun"


Mata Ara sudah berkaca-kaca mendengar semua kalimat yang terucap dari bibir Dev, ia sudah menutup bibirnya dengan sebelah tangannya.


"Kinara Maheswari Dinata, Will you marry me??" Dev melamar Ara dengan ditemani langit jingga yang indah dan deburan ombak yang keras, sekeras debaran jantung Ara yang saat ini sedang berdebar tak beraturan dan sangat keras.


Ara menggeleng tak percaya dengan apa yang ia alami saat ini. Air matanya sudah meluncur deras membasahi kedua pipi mulusnya.


Dev masih setia berlutut dihadapan Ara, menunggu jawaban dari gadis pujaan hatinya. Dadanya berdebar keras, Dev merasa gugup..takut jika sampai lamarannya ditolak oleh Ara.


Sedangkan Ara, batinnya sedang berperang dengan logikanya. Ingin rasanya Ara menerima lamaran Dev, namun logikanya mengingatkan tentang posisi dan statusnya. Apalagi mengingat ucapan mama Anika tentang calon istri Dev.


"Gu..gue gabisa bang" Lirih Ara dengan air mata yang semakin deras mengaliri pipi mulusnya.


Dev mendongak, menatap dalam manik mata gadis cantik yang sedang menangis.


"Gue gabisa bang. Maafin gue" Ara mencoba melepaskan tangan Dev yang masih menggenggam tangannya erat.


"Kenapa?? Kenapa Ra?? Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan kamu??" Tanya Dev bangkit dari posisi berlututnya tanpa melepaskan tangan Ara.


"gu..gue gabisa bang. Lepasin tangan gue bang" Suara Ara hampir tidak terdengar.


"Kasih aku alesan kenapa kamu gabisa nerima aku? Kamu nggak cinta sama aku?" Tanya Dev pelan.


Tanpa sadar Ara menggeleng kuat, membuat senyum tipis dibibir Dev terbit.


"Terus kenapa Ra??" Tanya Dev lembut.


"Gue nggak mau nyakitin perasaan perempuan lain bang" Jawab Ara menunduk.


Dev mengangkat wajah Ara, menatap manik mata coklat Ara membuat Ara membuang pandangan tak sanggup saling beradu pandang dengan mata tajam Dev.


"Liat mata aku Ra. Perempuan siapa yang akan sakit saat kamu menjadi milik aku?"


Ara membuang wajah, berusaha menghindari kontak mata dengan Dev.


"Liat aku Ra" Dev menarik dagu Ara untuk menatap dirinya.


Ara membuang nafas kemudian menatap mata tajam itu, sesaat kemudian ia menunduk.


"Calon istri elu bang" cicit Ara.


"Calon istri?" Beo Dev


Ara mengangguk sebagai jawaban, membuat Dev yang melihatnya tertawa.


"Calon istriku itu ya kamu Ra" Jawab Dev masih dengan tawanya.


Ara menggeleng menatap wajah tampan Dev yang terlihat semakin tampan saat tertawa.


"Ka..kata nyonya, abang udah punya calon istri" Jelas Ara membuat tawa Dev terhenti.


"Mama??" Tanya Dev yang dijawab anggukan kepala oleh Ara.

__ADS_1


"Mamaaaaa!!"


__ADS_2