
Ara dibawa masuk kedalam kamar Putri diikuti Dira dibelakang mereka. Selama ini Ara tidak pernah tau dari keluarga mana kedua sahabatnya berasal, yang ia tahu kedua sahabatnya adalah anak orang kaya yang selalu diantar jemput oleh supir.
Putri menyiapkan pakaian ganti yang lebih nyaman untuk Ara, sedangkan Ara saat ini sedang membersihkan diri dikamar mandi yang ada dalam kamar Putri.
Beberapa saat kemudian Ara sudah selesai membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi.
Saat hendak mengambil baju yang disiapkan Putri diatas kasur, tangannya ditahan oleh Dira.
Ara memiringkan kepalanya sambil mengerutkan alisnya.
"kenapa??". Tanya Ara
"Gue bantuin ngolesin obatnya ya. Bakal susah kalo elo yang ngoles sendiri". Kata Dira dengan senyum tulus.
Ara hanya pasrah saat Dira memintanya membuka sedikit jubah mandinya, kemudian dengan telaten Dira dan Putri mengoleskan obat yang diberikan dokter untuk luka ditubuh Ara.
"Makasih". Ucap Ara setelah kedua sahabatnya selesai mengoleskan obat pada luka-lukanya.
"Gue ganti baju dulu". Ara berlalu ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
"Lo istirahat aja Ra, kita mau turun dulu nemuin mama". Setelah Ara selesai mengganti pakaiannya, Dira dan Putri pamit untuk keluar menemui nyonya Dini.
Ara hanya mengangguk sebagai jawaban, dia benar-benar butuh istirahat untuk memulihkan tubuhnya saat ini.
Sedangkan diruang tamu, nyonya Dini sedang berbincang dengan Dev. Sesaat tadi, nyonya Dini tidak menyadari kehadiran pemuda tampan itu saking senangnya dengan kehadiran Ara.
"Sebenarnya ada apa Dev?? kenapa bisa sampai seperti ini??". Nyonya Dini membuka pembicaraan.
Dev menghela nafasnya kasar.
"sepertinya mereka musuh bisnis papa tante, aku juga tidak tahu pasti".
"Sementara biarkan Dira menginap disini, tante yakin mama papamu tidak akan keberatan. Kelihatannya teman baru mereka anak yang pemalu, tante takut dia tidak nyaman jika adikmu tidak ikut menginap".
Dev hanya mengangguk sebagai jawaban.
Saat sedang berbincang, Dira dan Putri datang menghampiri nyonya Dini dan Dev.
"Apakah dia sudah tidur??". Belum sempat pantatnya menyentuh sofa, Dira sudah ditodong pertanyaan oleh kakaknya.
Sambil mendengus kesal Dira menjawab
"yaaa..Ara baru saja tidur, makanya kita tinggal keluar".
"Bagaimana cerita awalnya sayang?? kenapa bisa sampai seperti ini??". Nyonya Dini bertanya pada Dira.
Menghela nafas panjang sebelum menceritakan semuanya, tubuhnya sedikit bergetar mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
__ADS_1
"untunglah masih ada Ara disana tante, jika saja tidak ada dia...entah apa yang akan aku alami selanjutnya". Dira sudah berderai air mata saat mengakhiri ceritanya kepada nyonya Dini.
"sudahlah..semua sudah baik-baik saja. Temanmu juga sudah baik-baik saja. Dia hanya butuh istirahat". Dev berucap lembut sambil mengelus kepala adiknya.
"kakak akan pulang dulu, nanti biar kakak yang bilang sama mama dan papa". Belum sempat Dev beranjak sudah terdengar suara ribut yang sangat ia kenali suara siapa itu..
"Diraaaaaa...sayang??? dimana kamu sayang??". yaaa, itu adalah suara nyonya Anika, mama dari Dira dan Dev.
Saat sudah melihat keberadaan putri tersayangnya, nyonya Anika segera menghampirinya dan segera memeluk Dira dengan erat. Dia begitu terkejut mendengar sedikit cerita dari Dev lewat telpon tadi..makanya sang mama segera menuju rumah sahabatnya yang sekaligus orang tua Putri.
"Dira baik-baik saja ma, tapi teman Dira.."
gadis itu kembali menangis mengingat keadaan sahabatnya yang terlihat kacau dengan luka yang banyak.
"Dimana?? Dimana temanmu itu sayang?? mama ingin melihat keadaannya..apakah dia baik-baik saja nak??". Nyonya Anika tak kalah paniknya.
Saat sedang ribut seperti itu, terdengar suara kaki menuruni anak tangga. Suara itu mampu mengalihkan seluruh pandangan orang yang berada diruang tamu.
Mata semua orang terbelalak melihat Ara menuruni anak tangga dengan pelan. Merasa menjadi pusat perhatian, Ara memecah keheningan.
"Maaf jika saya mengganggu". Ara berucap pelan sambil menundukkan kepalanya merasa tidak enak mengganggu pembicaraan orang-orang yang ada diruangan itu.
Putri segera berlari menghampiri Ara dan menuntunnya menuruni anak tangga, kemudian mengajak Ara untuk ikut bergabung dengan semua orang.
"Lo butuh sesuatu Ra?? kenapa lo nggak manggil gur aja?? Lo masih harus banyak istirahat". Dira dan Putri bertanya bergantian sudah seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya.
Tanpa menjawab Ara, Putri bangkit dari duduknya dan mengambil air minum untuk Ara.
Putri memberikan air minum untuk Ara, karena sudah haus, Ara segera meminumnya hingga menyisakan setengah gelas saja.
Sejak tadi nyonya Anika memperhatikan wajah cantik yang ada didepannya ini, dia mencoba mengingat dimana pernah melihat gadis ini.
Dia kemudian bangkit dan mendekat kearah Ara, digenggamnya tangan Ara kemudian segera dipeluk gadis pemberani yang sudah menyelamatkan anaknya itu.
"terima kasih banyak nak, terima kasih kamu sudah menyelamatkan anak tante". Nyonya Anika memeluk Ara erat disertai deraian air mata.
"sama-sama nyonya". Ara hanya mampu mengeluarkan kata-kata itu saja.
Nyonya Anika melepaskan pelukannya, kemudian tersenyum hangat memandang wajah gadis cantik didepannya itu.
Digenggamnya tangan Ara
"jangan memanggilku seperti itu, panggil aku tante..atau kalau kamu mau, kamu bisa memanggilku mama". Nyonya Anika berucap lembut sambil mengelus rambut Ara.
Ara mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk, kemudian ia tersenyum manis kepada nyonya Anika.
"Baik, nyo..eh tante".
__ADS_1
Sesaat Ara terdiam seperti mengingat sesuatu
"sebelumnya maaf tante, apakah sebelum ini kita pernah bertemu??". Ara bertanya dengan hati-hati takut menyinggung orang dihadapannya.
Nyonya Anika mengerutkan alis tanda sedang berpikir
"sepertinya aku memang pernah melihatmu Ara..tapi dimana??". Nyonya Anika mencoba mengingat.
Ara mengangkat kedua alisnya seraya melebarkan matanya ketika mengingat sesuatu.
"saya pernah bertemu dengan anda saat mobil anda diganggu preman bayaran dijalan sekitar 3bulan lalu". Akhirnya Ara mengingat nyonya Anika setelah teringat wajah-wajah para penjahat yang tadi mencoba menculik Dira.
"aaaaaahhh, kau benar. Kamu adalah gadis yang menyelamatkan aku waktu itu". Nyonya Anika akhirnya mengingat dimana dia melihat Ara.
"Maaf jika saya lancang nyo..tante. Sepertinya orang-orang itu memang mengincar anda dan Dira. Karena beberapa pria yang bertarung dengan saya tadi adalah pria yang sama yang mengganggu anda waktu itu".
Penjelasan Ara membuat Dev yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Apakah kamu yakin Ara?? kamu yakin tidak salah mengenali orang?". Dev berkata dengan nada penasaran
"gue yakin bang, yakin 100% yakin. Laki-laki yang tadi berhasil bikin gue tumbang sama kaya yang dulu nyabetin pisaunya ketangan gue". Ara berkata dengan yakin karena memang dia benar-benar yakin bahwa pria-pria tadi sama dengan yang menyerang nyonya Anika 3bulan lalu.
"kalau boleh saya menyarankan, sebaiknya jika anda dan Dira akan berpergian, akan lebih aman jika dikawal oleh pengawal nyo..tante". Ara berkata dengan suara yang pelan dan kepala yang menunduk dalam karena takut dianggap lancang. Tapi dia juga takut jika kejadian ini menimpa sahabatnya lagi.
Nyonya Anika tersenyum lembut sambil menangkup kedua pipi Ara
"yaaa..kamu benar nak. Orang-orang seperti kami selalu diincar bahaya. Ini akan menjadi pembelajaran untuk kami dalam menjaga putri kami".
"terima kasih banyak nak". Nyonya Anika berkata sambil memeluk Ara dengan erat.
Waktu sudah menunjukkan jam makan malam, suami nyonya Dini sudah pulang beberapa saat lalu. Nyonya Dini sudah menceritakan semua hal yang terjadi hari ini..dalam hati kecilnya Tuan Bram ayah dari Putri benar-benar kagum dengan keberanian dan kemampuan Ara.
Dira benar-benar ikut menginap dirumah Putri.
"makan yang banyak, lo butuh banyak tenaga buat pulihin kondisi elo Ra". Putri mengambilkan makan untuk Ara, padahal sejak tadi Ara sudah mencoba menolak untuk diambilkan.
"Gue bisa ngambil sendiri Put. Udah lu makan aja jangan ngambilin gue mulu. Terus ini piring gue udah penuh banget. Gue bingung ini mau makannya dari sebelah mana". Ara sedikit kesal dengan Putri karena piringnya sudah penuh dengan lauk pauk.
"Lo harus abisin, biar cepet pulih". Dira ikut menimpali.
Tuan Bram dan Nyonya Dini tersenyum bahagia melihat ketiga gadis itu saling menyayangi dan saling perduli.
"Biarkan Ara makan dengan tenang sayang, bagaimana dia mau makan kalau kalian terus mengajaknya berbicara?".
"makanlah Ara, habiskan makananmu setelah itu minum obat dan beristirahatlah". nyonya Dini berucap lembut yang dibalas anggukan kepala oleh Ara.
Dalam hati kecilnya, Ara benar-benar merasa bahagia. Sudah lama ia tidak merasakan perhatian seorang ibu sejak ibunya meninggal saat ia masih SD.
__ADS_1