
Semua berdiri mematung mendengar teriakan guru killer yang cukup mampu membuat tubuh mereka menegang.
"Apa yang kalian lihat?? Bubar semua". Bentak sang guru
Ara berbalik badan berniat ikut membubarkan diri, belum sempat kakinya melangkah terdengar suara menyeramkan itu lagi.
"Kinara Maheswari". Ucap sang guru penuh penekanan setiap katanya.
"Siapa yang menyuruhmu untuk meninggalkan tempat ini??"
"Kan tadi bapak yang minta kita semua bubar, saya hanya mematuhi perintah bapak". jawab Ara tanpa beban yang membuat guru itu menepuk dahinya sendiri.
Menghadapi anak-anak ini benar-benar menguji kesabarannya.
"Selain kalian berenam, tinggalkan tempat ini sekarang. Kembali ke kelas kalian masing-masing". Sang guru berucap tegas sambil menunjuk Clara serta Ara dan teman-temannya.
"Mereka tidak terlibat perkelahian ini pak, semua ini urusan saya dan mak lampir beserta antek-anteknya ini". Ara berkata dengan tenang berusaha tidak melibatkan dua sahabatnya.
"Jadi biarkan Dira dan Putri merapikan diri mereka dulu pak, saya rasa penampilannya sangat berantakan". Lanjut Ara
Sang guru menghela nafas kasar sebelum berkata
"Lalu apakah kamu tidak melihat penampilan kalian?? Bahkan kalian lebih berantakan dari gelandangan..lihat rambut kalian? Ya Tuhaaann..apakah benar kalian ini seorang perempuan". Sang guru benar-benar seperti kehabisan kata melihat keadaan Ara serta Clara dan dua temannya.
Pak Wahyu sang guru killer memandang Dira dan Putri bergantian kemudian berkata
"Kalian pergilah, ganti pakaian kalian dan rapikan diri kalian lalu pergi ke kelas kalian. Jangan membuat masalah lagi".
Sebelum Dira dan Putri membantah perkataan pak Wahyu, Ara sudah melotot kearah keduanya seolah berkata "cepat pergi dari sini, mereka akan menjadi urusanku".
Dengan berat hati Dira dan Putri meninggalkan Ara bersama manusia jelmaan para lampir.
"Dan kalian berempat!". Ucap pak Wahyu sambil menunjuk Ara dan Clara serta kedua temannya.
"Kalian bapak hukum berdiri disini menghadap bendera sambil hormat sampai jam istirahat!!". ucap pak Wahyu tegas.
Keempat gadis itu hanya melongo mendengar hukuman untuk mereka, baru Ara membuka mulut hendak protes, suara pak Wahyu kembali membuat mereka seperti ingin pingsan saat itu juga.
"Setelah kalian selesai dengan hukuman disini, kalian masih punya tugas membersihkan toilet sebagai hukuman selanjutnya". Setelah mengatakan itu semua pak Wahyu meninggalkan keempat siswi yang berdiri mematung mendengar hukuman mereka.
"Awas lu ya, urusan kita belom kelar. Dasar cewe miskin pembawa sial". Clara berkata sarkas sambil menunjuk wajah Ara.
Ara tersenyum miring meremehkan ancaman Clara
__ADS_1
"Gue tunggu deh lo mau ngajak ribut kaya gimana juga". Setelah mengatakan itu Ara memutar badan dan menulikan pendengarannya saat Clara terus memakinya, ia kemudian menghadap tiang bendera untuk menjalankan hukuman pertamanya.
Dari kejauhan ada 3 pasang mata yang sejak awal keributan terus memperhatikan mereka.
"gila itu bocah ya, dikeroyok 3 orang nyampe penampilan berantakan kaya gitu aja masih berani. Bener-bener ga punya rasa takut".
Samuel berkata sambil menggelengkan kepalanya merasa takjub dengan keberanian dan kekuatan Ara.
"Bener lu Sam, liat aja mukanya udah babak belur kaya gitu tapi mukanya ga keliatan lagi kesakitan". Kevin ikut berkomentar.
"Kita balik ke kelas". Dev berkata sambil berjalan meninggalkan kedua temannya yang masih memperhatikan Ara.
Setelah sadar mereka sudah ditinggalkan oleh Dev, keduanya segera menyusul masuk ke dalam kelas.
Setelah menyelesaikan hukuman pertamanya, Ara berjalan menuju toilet untuk melanjutkan hukuman keduanya.
Saat sudah sampai, Ara menghela nafas sejenak kemudian langsung membersihkan toilet.
Bahkan sejak hukuman pertamanya tadi Ara sudah tidak melihat makhluk jelmaan mak lampir yang harusnya sekarang juga ikut dengannya membersihkan toilet.
"Dasar mak lampir kurangaj*r, mereka yang mulai nyari gara-gara ama gue..laaah giliran dihukum pada kabur, pen gue cekek tu makhluk jadi-jadian". Ara terus menggerutu sambil terus membersihkan toilet.
Bahkan Ara sampai tidak menyadari bahwa sejak tadi ada yang memperhatikannya sambil tersenyum tipis melihat gadis itu terus menggerutu.
Ara langsung berbalik badan mencari siapa yang berdehem. Saat sudah melihat siapa orangnya kemudian Ara menaikkan sebelah alisnya sambil berkata "apa?".
"minum buat kamu, dari tadi kamu belum minum. Saya takut nanti kamu pingsan".
Ara memiringkan kepalanya sedikit bingung
"terima kasih kamu sudah mau melindungi Dira". Ucap Dev kemudian.
Pemuda yang sejak tadi memperhatikan Ara adalah Dev.
Ara baru paham, selama 3bulan mengenal Dira dan Putri, Ara sering melihat kebersamaan Dira dan Dev.
Ara pikir mereka memang mempunyai hubungan lebih dari teman. Oleh sebab itulah Ara tidak berani memupuk sedikit rasa tertariknya terhadap Dev karena Ara tidak ingin merusak persahabatannya dengan Dira.
Tanpa Ara tahu seperti apa hubungan sebenarnya antara Dev dan Dira.
"dia teman gue, sebisanya gue pasti lindungin. Makasih". Ucap Ara sambil menerima air mineral yang disodorkan oleh Dev, karena sebenarnya dia sudah sangat haus sejak tadi dijemur ditengah lapang.
"hukuman gue udah kelar, gue mau balik ke kelas". Ara hendak melewati Dev namun tangannya langsung dicekal oleh Dev.
__ADS_1
"Pergilah keruang kesehatan dulu. Luka-lukamu perlu diobati agar tidak bengkak nanti". Dev menarik pelan tangan Ara yang ada dalam genggamannya menuju ruang kesehatan.
Sepanjang jalan menuju ruang kesehatan, Ara berusaha melepaskan tangannya dari Dev namun sulit. Ara takut Dira melihatnya bersama Dev dan nanti salah paham.
Dan benar saja yang ditakutkan Ara terjadi. Ketika sudah dekat dengan ruang kesehatan ada yang memanggilnya, suara yang sangat ia kenali. Tubuhnya menegang takut sahabatnya akan salah paham terhadapnya.
"Ara.." Suara lembut Dira terdengar jelas.
Dengan segera Ara melepaskan genggaman tangannya dari Dev.
"Ra..lo nggak kenapa-kenapa?? Sakit ya?? Kita masuk, biar luka lo diperiksa dokter". Dira dan Putri segera menarik Ara masuk kedalam ruang kesehatan tanpa memperdulikan kehadiran Dev disana.
Ara sedikit lega karena ketakutannya tidak terjadi, tadi ia sudah bersiap jika Dira akan marah padanya karena Dev memegang tangannya, namun justru Dira sangat mengkhawatirkan keadaannya.
Bahkan sepertinya Dev seperti makhluk tidak terlihat tadi.
"Gue nggak kenapa-kenapa. Lu berdua kaga usah lebay gini deh ah". Ara mencoba menenangkan kedua sahabatnya yang sedari tadi terus mengawasi dokter yang sedang mengobati luka Ara.
"Apanya yang baik-baik aja. Apa ini yang kata elo baik?". Dira berkata sambil sedikit menekan luka memar dipipi Ara.
Ara sedikit meringis merasa nyeri pada pipi yang mendapat bogem dari Bella saat bertengkar tadi.
"itu yang lo bilang baik-baik aja?? Itu gue nggak neken keras aja lo udah meringis kesakitan". Dira berkata dengan penuh kekhawatiran.
"harusnya tadi lo biarin aja mereka mau ngapain kita juga, lo nggak perlu nyampe luka kaya gini, apalagi nyampe dihukum tanpa kita bisa ngebantu sedikitpun. Sahabat macam apa kita ini". Wajah Dira dan Putri sudah berubah sendu dengan mata berkaca-kaca melihat keadaan Ara yang mendapat cukup banyak luka.
"udah atuh ih..kalian teman gue, apapun masalah lu berdua itu juga masalah gue. Setidaknya gue punya sahabat buat berbagi suka duka gue sama kalian". Ara mencoba menenangkan keduanya
Setelah diobati dan mengganti seragamnya dengan yang dibelikan oleh Dira, Ara dan kedua temannya kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran mereka.
____
Tanpa terasa bel pulang sudah berbunyi. Semua murid berhambur keluar kelas menuju tempat parkir kendaraan masing-masing.
Begitupun dengan Ara dan kedua temannya.
Ara berjalan ke arah motornya yang terparkir sementara Dira dan Putri menuju gerbang menunggu supir mereka menjemput.
Belum sempat Ara memakai helm terdengar teriakan Putri memanggil nama temannya.
"DIRAAAAAA..!!"
Mohon dukungannya ya readers semua, maafkan kalau masih banyak kesalahan pemilihan kata dan cerita yang membosankan, author masih perlu banyak belajar dan masukan.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen sama vote nya ya reader๐๐๐