Cinta Kinara

Cinta Kinara
Pesta bencana


__ADS_3

Ditangan Ara sudah ada sebuah undangan pesta ulangtahun orang yang begitu ia hindari. Angela Pricillia, gadis yang begitu membenci Ara tiba-tiba memberikan sebuah undangan pesta ulangtahunnya.


Bukan hanya Ara dan semua sahabatnya, Digo dan Dev pun mendapat undangan pesta itu.


Ara sudah memiliki firasat buruk tentang pesta ulang tahun gadis yang begitu membenci dirinya meski ia tak pernah tau apa kesalahannya.


"Gue kaga usah dateng ya bang. Males gue bang". Ucap Ara pada Dev saat keduanya baru saja sampai dirumah.


"Kenapa?? Kamu kesana sama abang Ra". Ucap Dev mencoba menenangkan.


"Perasaan gue udah kaga enak kalo nyangkut tu orang bang. Pasti dia ngerencanain sesuatu buat gue".


Dev tersenyum sekaligus bingung melihat gadisnya. Tidak biasanya Ara merasa takut pada seseorang.


"Yaudah kalo kamu nggak mau kesana, kita dirumah aja ya". Jawab Dev sambil mengelus kepala Ara.


Ara mengangguk dengan senyum manis. Saat hendak memasuki rumah, ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Ara mengernyit melihat nomor tidak dikenal yang menelpon dirinya.


"Siapa Ra?" Tanya Dev


Ara menggeleng "Kaga tau bang. Nomor kaga dikenal. Paling orang iseng doang bang". Jawab Ara kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.


Namun ponselnya kembali berdering dengan nomor yang sama seperti sebelumnya.


Dengan malas, Ara menggeser ikon teleponnya kemudian meletakkan ponsel ditelinganya. Belum sempat Ara membuka mulut, sang penelpon sudah mengatakan hal yang membuat Ara memejamkan mata sejenak menahan amarah yang tiba-tiba memuncak.


"Gue yakin lo nggak mau dateng ke acara gue"


"Jangan coba kabur dari acara ultah gue, atau temen-temen lo yang bakal nanggung akibatnya"


"Gue yakin lo bakal jagain mereka, kalo elo nggak dateng..siapa yang bakal jamin keselamatan mereka. Hahaha".


Ara hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang penelpon tanpa membalas satupun ucapannya. Setelahnya panggilan terputus.


"Siapa sayang?". Tanya Dev membuyarkan lamunan Ara.


"Bukan siapa-siapa bang. Cuma orang iseng". Jawab Ara sambil tersenyum.


"Ehm..nanti kita dateng aja deh bang ke ulang tahunnya Angel. Bosen juga dirumah". Kata Ara tiba-tiba membuat Dev mengernyitkan alis, heran dengan keputusan Ara yang tiba-tiba berubah.


"Katanya nggak akan kesana. Yakin mau dateng kesana?". Tanya Dev memastikan.


Ara mengangguk tanpa keraguan walau sebenarnya dalam hatinya tengah merasa tidak yakin.


"Yaudah..kita pergi abis isya ya. Sekarang kamu istirahat dulu".


"Sayang, sini nak. Mama punya sesuatu buat kamu". Seruan mama dari depan pintu membuat Ara dan juga Dev menoleh pada sang mama.


Ara tersenyum dan mengangguk kemudian berjalan mendekat pada mama, sementara Dev mengikuti Ara dari belakang.


Setelah menyalami dan mencium punggung tangan mama dengan takzim, Ara dibawa oleh mama masuk kedalam kamar Dira yang ternyata didalamnya sudah ada Putri dan Salsa juga.


"Mama udah siapin gaun buat kamu nanti malem, kamu harus pake ya sayang". Mama berkata sambil membawa sebuah gaun cantik berwarna hitam yang terlihat begitu anggun.


"Iya ma.." Jawab Ara canggung, semenjak bertunangan dengan Dev, Ara dipaksa memanggil tuan dan nyonya dengan panggilan papa dan mama.


Meskipun masih sedikit kaku setiap memanggil mama dan papa, Ara berusaha menyenangkan orang tua dari lelaki yang ia cintai.


"Lo rebahan disini aja ya Ra. Paman juga masih dikantor nemenin papa". Pinta Dira


Ara hanya menurut, tidak ingin berdebat dengan sahabat sekaligus calon adik iparnya.


Keempat gadis itu merebahkan tubuhnya saat mama Anika sudah meninggalkan kamar Dira.


"Nanti lu pada jangan jauh-jauh dari gue ya. Perasaan gue kaga enak". Peringat Ara pada ketiga sahabatnya.


Sontak ucapan Ara membuat kening ketiga temannya berkerut dalam.

__ADS_1


"Lah emang kenapa Ra?". Tanya Putri heran


"Gapapa sih, pokoknya jangan jauh-jauh dari gue ya". Tegas Ara


"Kita sih gapapa Ra, kalo Salsa mah udah ada yang jagain kok. Lo tenang aja". Goda Putri sambil memainkan kedua alisnya naik turun.


Ara mengangkat sebelah alisnya ketika mendengar ucapan Putri.


"Ihh..lo tuh gimana sih Ra jadi temen. Lo gatau emang kalo si Salsa sekarang lagi deket ama akang Digo". Sambung Dira membuat wajah putih Salsa berubah merah.


Ara hanya tersenyum menanggapi percakapan para sahabatnya. Ia cukup tau seperti apa kedekatan Digo dan Salsa belakangan ini, beberapa kali ia memergoki Digo mengantarkan Salsa pulang.


Sore itu, keempat gadis cantik itu terlelap setelah puas saling berbagi cerita.


******


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, setelah shalat isya berjamaah, Ara dan ketiga sahabatnya merias diri didalam kamar Dira. Mereka memutuskan pergi bersama-sama ke pesta ulang tahun Angel.


Dev sudah tampil gagah dengan kemeja putih dan celana hitamnya, serta sebuah jas yang sengaja ia sampirkan dilengannya.


"Duuuh..ganteng banget sih anak mama". Puji mama Anika pada sang putra.


"Anak papa juga itu ma. Kalo enggak ada papa nggak mungkin jadi". Sambar papa


Mama terkekeh mendengar ucapan suaminya, begitupun dengan Dev.


Setelah lebih dari 30menit berada didalam kamar, keempat gadis itu turun dengan mengenakan gaun yang begitu pas dibadan ideal mereka.


Dev berdiri mematung melihat Ara yang begitu cantik dengan gaun hitam yang senada dengan jas yang akan ia kenakan malam ini.


"Ya Allah..cantik banget sih calon mantu mama". Teriak mama membuat papa menutup telinganya.


"Jadi yang cantik cuma calon mantu mama aja nih? Dira enggak cantik??". Cebik Dira membuat sang mama tertawa.


"Kalian semua cantik sayang..malam ini yang ulang tahun juga kalah cantik sama kalian". Ucap mama coba menenangkan putri bungsunya.


Memang semenjak berada disekitar keluarga Dev, Ara mencoba menyesuaikan penampilannya dengan keluarga Dev. Bukan ingin menjadi orang lain, hanya saja Ara tidak ingin mempermalukan keluarga calon suaminya. Ia mulai membiasakan diri memakai gaun saat ada acara pesta seperti saat ini, begitupun dengan heels yang kini sudah biasa ia kenakan.


"Wa'alaikumsalam". Jawab semua orang serempak.


"Masyaallah..orang baek mah emang dapet rejekinya banyak-banyak. Malem-malem gini liat bidadari banyak didepan mata". Sam berkata dengan menangkup kedua pipi dengan tangannya, membuat mama dan papa yang memperhatikannya terkekeh geli. Sementara yang lain hanya memutar bola matanya jengah dengan kelakuan Sam.


Sementara mata Kevin hanya terpaku pada satu sosok cantik yang tengah berdiri anggun tak jauh darinya.


"Cantik.." Gumam Kevin.


"Cantik lah..perempuan itu. Kalo ganteng mah laki Vin". Sam yang mendengar gumaman Kevin langsung menyambar.


Kevin berdecak sebal dengan kelakuan sahabatnya itu.


Sementara Dira yang sejak tadi menjadi pusat perhatian Kevin tersipu malu dengan wajah memerah.


"Sudah sana berangkat..nanti kalian terlambat".


"Dev..jaga adikmu. Dan ingat, jaga calon menantu mama yang cantik ini". Ucap mama memperingati Dev.


Dev mengangguk menjawab peringatan sang ibu.


Mereka pergi dengan 3 mobil yang berbeda, Ara tentu saja dengan Dev dan Dira bersama dengan Kevin. Sementara Sam bertanggung jawab menjaga Putri dan Salsa didalam mobilnya.


Tiba disebuah rumah mewah yang sudah disulap menjadi tempat pesta yang terlihat begitu megah, perasaan Ara semakin campur aduk. Antara ingin pulang namun ia terngiang dengan ancaman penelpon tadi siang.


Setelah menarik nafas panjang, aara memutuskan akan terus mengikuti permainan yang Angel buat, meski ia sendiri tak tau apa yang akan terjadi didalam nanti.


Ara menoleh saat tangannya digenggam oleh orang disebelahnya. Ara menoleh dan mendapati Dev tengah tersenyum padanya.


"Kamu beneran gapapa??" Tanya Dev sedikit khawatir.

__ADS_1


Ara tersenyum untuk meyakinkan Dev bahwa dirinya baik-baik saja.


"Gapapa bang. Kita masuk sekarang bang..yang lain udah pada nungguin".


Masuk kedalam rumah besar milik orang tua Angel, semua mata tertuju pada Ara yang berjalan berdampingan dengan Dev. Tangan Dev menggenggam erat tangan Ara yang sedikit dingin.


Banyak orang membicarakan tampilan keduanya yang terlihat sangat serasi.


"Hai..lo dateng juga". Suara sinis Angel menyapa gendang telinga Ara, membuatnya memejamkan mata sejenak untuk mengusir segala prasangka buruknya tentang pesta malam ini.


"Gue ngehargain undangan lu". Jawab Ara tenang.


Angel tersenyum smirk


"Nikmatin pestanya ya, gue tinggal dulu. Bye". Ucapnya kemudian berlalu dari hadapan Ara dan Dev.


"Salsa? Salsa mana???". Tanya Ara panik saat tidak melihat salah satu sahabatnya.


"Noh..dibawa kadal buntung temen lu". Jawab Sam sambil matanya melirik keberadaan Digo dan Salsa yang tengah asyik mengobrol.


Ara menarik nafas lega melihat sahabatnya bersama dengan Digo.


"Hey..kamu kenapa sih? Dari tadi kaya tegang banget". Tanya Dev menyadari sikap Ara yang sedikit aneh.


"Gapapa bang". Jawab Ara pendek.


"Kamu yakin? Kalo kamu nggak nyaman disini, kita bisa pulang".


Ara menggeleng kemudian mengeratkan pegangan tangannya pada lengan kokoh Dev.


Acara terus berjalan dengan lancar. Tidak ada satupun hal yang mencurigakan.


Hingga suara lantang Angel membuat perhatian semua orang beralih padanya.


"Makasih buat semua temen-temen yang udah nyempetin waktu dateng keacara ultah gue. Sekali lagi makasih ya..havefun guys". Setelah mengucapkannya Angel turun dari panggung tempatnya tadi memotong kue.


Tidak berselang lama setelah Angel turun, mata Ara menangkap pemandangan yang cukup membuatnya mulai kesulitan bernafas. Genggaman tangannya pada Dev semakin erat membuat Dev menoleh pada Ara.


Dev melihat Ara yang memandang lurus kedepan dengan pandangan kosong, karena penasaran Dev mengikuti arah pandangan Ara. Matanya melotot tak percaya kala melihat beberapa pelayan membawa banyak kembang api didalam sebuah trolley.


"Kita pergi sekarang sayang". Ucap Dev menarik tangan Ara hendak meninggalkan pesta itu.


Namun belum sempat Dev berhasil menjangkau pintu keluar, suara kembang api yang saling bersahutan sudah terdengar begitu menggelegar.


Semua tamu bertepuk tangan menikmati pesta kembang api yang sengaja Angel siapkan untuk memeriahkan pesta ulang tahunnya. Atau lebih tepatnya sengaja ia siapkan untuk mempermalukan Ara yang ia ketahui begitu takut pada kembang api.


Wajah Ara sudah dipenuhi dengan keringat yang membuat Dev semakin khawatir, mata Ara sudah memerah menahan air mata dan tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan.


Bayangan saat dirinya diculik dan penyiksaan yang ia alami kembali menari-nari dikepalanya.


Ara mulai kesulitan bernafas, tubuhnya semakin bergetar saat suara kembang api semakin terdengar keras ditelinganya.


Ara menggelengkan kepalanya dengan kedua matanya sudah mengeluarkan air mata.


"Sayang..hey, Ara?? Denger abang Ra.." Dev terus mencoba menyadarkan Ara dari ingatan masa kecilnya.


Digo yang melihat dari jauh keanehan pada diri Ara kemudian mendekat bersama dengan Salsa.


"Lu kenapa Ra?" Tanya Digo khawatir, begitupun dengan Salsa yang tampak bingung dengan kondisi Ara.


Ara tidak menanggapi ucapan siapapun, ia hanya terus menangis dan terlihat kesulitan untuk bernafas.


"Kita bawa pergi". Ucap Digo yang diangguki oleh Dev


"Mau kemana lo Kinara, ini belom ada apa-apanya. Jangan berharap lo bisa keluar dari sini sebelum elo tersiksa". Batin Angel dengan senyum penuh kemenangan melihat Ara tersiksa.


Ara menutup telinganya erat, berharap tidak mendengar suara kembang api yang saling bersahutan yang membuat dadanya terasa sesak.

__ADS_1


Ara berjongkok masih dengan tangan yang menutup kedua telinganya. Saat Dev akan mengangkat tubuh Ara untuk dibawa pergi, Ara berteriak sangat kencang hingga membuat semua orang memusatkan perhatiannya pada Ara dengan tatapan bingung.


"Aaaaaakkkhhhh"


__ADS_2