
Ara menghela nafasnya untuk mengurangi rasa gugupnya. Saat ini Ara tengah berdiri dbelakang panggung menunggu dirinya dipanggil naik keatas panggung.
"tenang Ra..suara kamu kan bagus, kita udah pernah denger. Jadi kenapa km jadi gugup hini sih?? Bukan Ara banget". Putri dan Dira terus memberi semangat pada Ara.
"Gue udh lama kaga main gitar. Ntar kalo salah gimana?? Malu gue. Lagian elu pada ngapain sih ngajuin gue yang suruh unjuk bakat..anak lain kan banyak yang punya bakat lebih baik dr gue". Ara sedikit kesal pada dua sahabatnya, karena keduanya lah yang mengusulkan nama Ara sebagai perwakilan kelasnya.
Saat ini seluruh murid SMA Nusa Bangsa berkumpul dihalaman luas yang sudah diubah menjadi tempat Pensi dengan sebuah panggung ditengahnya.
Saat sedang berdebat dengan kedua sahabatnya, tubuhnya berkeringat mendengar suara pembawa acara.
"okeee..kita panggil penampil selanjutnya buat nunjukin bakat yang kayanya gak pernah ditunjukin ke siapapun". Suara pembawa acara semakin menambah rasa gugup Ara. Sudah lama dirinya tidak bermain gitar.
"kita kasih tepuk tangan yang meriah buat Kinaraaaa!!". Pembawa acara memanggil nama Ara dengan sangat lantang.
Ara menghela nafas panjang kemudian naik keatas panggung. Kedua sahabatnya mengangkat kepalan tangannya untuk memberi semangat pada Ara.
Ara segera mengambil gitar yang ada dipanggung. Kemudian mendudukkan dirinya dikursi yang sudah disediakan.
Ara sudah bersiap memetik gitarnya dan mulai bernyanyi..namun suara Pembawa acara membuatnya berhenti.
"tunggu..tunggu...ternyata Kinara ada temen duetnya nih, ada yang request khusus pengen duet sama neng Kinara yang cantik ini". Goda sang pembawa acara.
Ara mengernyit bingung, karena tidak ada pemberitahuan apapun dari panitia acara.
"Ayo sini Aa ganteng..neng Kinaranya udah nungguin ini. Udah gak sabar kayanya yaaa". Kembali suara sang pembawa acara membuat riuh seluruh murid.
Keriuhan semakin bertambah tatkala melihat siapa yang berjalan menaiki panggung.
Mata Ara melotot melihat Dev berjalan dengan tenangnya kemudian duduk disebelahnya dan ikut mengambil gitar lain yang masih ada.
"Lu ngapain sih bang?? Turun dari sini bisa-bisa gue tinggal nama". Ara berbisik disebelah Dev.
Dev mengangkat sebelah alisnya mendengar ucapan Ara.
"Kenapa??" Dev bertanya.
"Oke temen-temen..bisik-bisiknya bisa nanti lagi kalo pas lagi berdua ya, nanti yang lain sirik..hihihi". Dasar pembawa acara lucknut, Ara dan Dev terus digoda.
Ara mulai memetik gitar dengan jari lentiknya, sedang Dev masih diam memperhatikan wajah ayu Ara.
Apa yang dilakukan Dev mendapat sorakan dari seluruh murid. Ada yang baper karena menganggap itu romantis, ada juga yang iri dan ingin berada diposisi Ara..seperti Clara yang tiada henti memaki melihat kedekatan Dev dan Ara.
**
Kau begitu sempurna..
Dimataku kau begitu indah..
Kau membuat diriku akan slalu memujamu..
Ara mulai menyanyikan lagu Sempurna milik Andra and the backbone. Semua terdiam menikmati suara merdu milik Ara, begitupun Dev yang terdiam sesaat terpesona dengan suara indah milik Ara.
Dev mengikuti Ara memetik gitar yang sejak tadi hanya ia pegang karena terlalu mengagumi suara Ara.
Kau adalah darahku..
Kau adalah jantungku..
Kau adalah hidupku lengkapi diriku..
Oh sayangku kau begitu...
Sempurnaaa..
Dev dan Ara menyanyikan reff lagu bersama-sama dengan saling berpandangan.
Tepuk tangan meriah mengakhiri penampilan spektakuler Ara dan Dev. Ara berdiri diikuti Dev kemudian Dev meraih tangan Ara dan menggenggamnya erat. Keduanya lantas membungkukkan badan sedikit sebagai ucapan terima kasih atas apresiasi para penonton.
Keduanya menuruni panggung, saat sudah ada dibelakang panggung terdengar suara yang tidak asing bagi Ara.
__ADS_1
"sayang..suaramu kamu indah sekali nak". Mama Anika tampak heboh saat melihat wajah Ara diponsel nya.
Ternyata sedari tadi Dira melakukan panggilan video dengan sang mama untuk memperlihatkan gadis yang digadang gadang akan menjadi menantunya itu.
Wajah cantik Ara terlihat makin cantik dengan rona merah yang menghiasi wajahnya.
"terima kasih nyonya". Ara menjawab dengan wajah menunduk.
"Kalian terlihat sangat serasi sayang, benar-benar seperti pasangan kekasih". Kembali terdengar suara nyonya Anika yang sangat bersemangat.
"anda terlalu berlebihan nyonya". Kembali Ara berucap.
"Mama akan menyiapkan pesta barbeque untuk nanti malam". Bahkan kini nyonya Anika menyebut dirinya mama pada Ara.
Ara melebarkan matanya mendengar sang nyonya menyebut dirinya mama.
"Anda tidak perlu repot-repot nyonya. Ini bukan sesuatu yang harus dirayakan". Ara merasa tidak enak kembali merepotkan sang nyonya.
"Tidak ada penolakan. Mama akan menyuruh bibi menyiapkan semuanya. Sam, Kevin dan kamu Putri..kalian juga harus kesini nanti malam. Mama tutup dulu. Assalamualaikum nak". Mama memutus sambungan telponnya setelah mengucapkan salam.
"wa'alaikumsalam". Mereka yang ada disekitar Ara dan Dev menjawab salam mama.
Setelah sambungan telpon terputus, Dira memasukkan ponselnya kedalam saku baju miliknya.
Dev menarik tangan Ara menjauh dari panggung untuk menuju ke kantin, diikuti oleh kedua sahabat Ara dan Dev.
"Lu napa sih bang hobi banget geret-geret gue. Gue bisa jalan sendiri ini bang jangan lu tarik-tarik kaya kebo gini". Sepanjang jalan menuju kantin Ara tidak hentinya berbicara.
"kamu jadi cerewet ya sekarang, padahal dulu diem terus galak lagi". Dev tersenyum setelah mengatakannya.
"wooiii bocah kampr*t!! Lu berdua kaga inget apa yak punya temen ganteng begini, main tinggal-tinggal aja. Heerrrraaaaaan gue ama lu berdua!!". Dari belakang Sam terus berbicara tanpa jeda.
"tauk tuh kulkas, hobi barunya narik-narik sahabat kita. Berasa punya dia sendiri". Ketus Dira.
"Lu berdua juga kenapa sih berisik mulu. Ada aja yang diomongin gak mau diem". Kevin menimpali gerutuan Dira dan Sam.
Ternyata kantin cukup ramai siang ini, banyak yang juga sedang mengisi perut mereka.
"Aku mau makan baso sama minum jus jeruk dong ABAAAAAANG.." Bukan Ara yang menjawab namun teman lucknut yang tak lain tak bukan adalah Sam.
"aku kamu..aku kamuan lu. Biasanya juga tu mulut diem bae, sekalinya ngomong bikin kuping panas juga pake aku kamu. Geli adek baaaaang". Kembali mulut tak berfilter milik Sam berkomentar.
Dev menatap tajam Sam yang sedang nyengir tanpa dosa.
"Makan apa aja deh bang". Kini Ara menjawab agar tidak kembali digoda oleh Sam.
"Bentar ya". Setelahnya Dev meninggalkan Sam dan Kevin di meja Ara dan yang lain.
"Waaaah...bener-bener kakak gak ada akhlaknya tuh si kulkas. Adeknya kaga ditawarin, giliran si Ara dia tawarin. Waaaah..minta dipecat jadi kakak". Dira langsung mengomel setelah Dev meninggalkan meja.
"Lo bukannya ngomong dari tadi pas kak Dev masih disini. Orangnya udh pergi elo baru ngomel". Putri menoyor kepala Dira dari samping.
Beberapa saat kemudian Dev sudah kembali dengan nampan berisi dua mangkok bakso dan dua gelas jus jeruk.
"Sana ambil, gue udah pesenin buat lo semua". Setelah mendengar ucapan Dev, secepat kilat Putri dan Sam bangkit dan berjalan mengambil makanan yang sudah dipesankan oleh Dev.
"Baik banget siiiih kakak akuuu". Dira berkata dengan diiringi senyum manis.
"Tadi aja lu bilang kaga inget punya adek. Udah gini aja lu bilang baik. Dasar koplak". Gumam Ara yang sedikit didengar Dev.
"Apa Ra?? Ada yang kurang??" Tanya Dev
"Ehh..kaga kaga bang, basonya enak bang" Ara tersenyum canggung.
Keenam anak muda itu makan dengan lahap, ternyata menyanyi menguras energi Ara.
Saat sedang sibuk makan, ponsel Ara bergetar menandakan pesan masuk.
Ara melihat ponselnya. Nomor baru yang tidak Ara kenal. Kemudian Ara membuka pesannya
__ADS_1
"Hai galak"
Ara mengernyit, lalu kemudian memasukkan kembali ponselnya di saku bajunya.
Namun ponselnya kembali bergetar, kali ini bukan sebuah pesan, namun sebuah panggilan. Ara menolak panggilan itu, namun ponselnya kembali bergetar.
"iiish..ganggu amat sih ni orang. Gue suapin baso juga dah ini orang" Gumam Ara.
Karena kesal, akhirnya Ara meletakkan sendok garpunya kemudian mengangkat telpon yang sedari tadi terus bergetar.
"hallo galak" Terdengar suara yang sepertinya Ara kenal.
"Sapa nih??" jawab Ara
"Ya ampun Ra, lo lupa ama gue. Gak inget gitu sama suara seksi gue?" Kembali terdengar suara diseberang sana.
Sementara Dev sudah penasaran sejak Ara menerima panggilan telpon tersebut.
"yaaaa..dasar sinting lu ya!! Dapet nomer gue dari sapa lu kampr*t!!" Kini Ara tau siapa lelaki yang terus menghubunginya.
"Apa sih yang gak bisa aku dapet. Apalagi kalo menyangkut elo. Itu gampang buat gue" Suara diseberang sana benar-benar membuat Ara kesal.
"Dasar kadal!!". Ara memutus sambungan telepon secara sepihak.
"Siapa bocah?? Sewot amat lu dapet telpon??" Sam bertanya saat melihat kekesalan Ara.
"Orang GILA!!". Jawab Ara ketus, kemudian ia menusuk bakso yang tersisa dimangkoknya kemudian langsung memasukkannya kedalam mulut tanpa dipotong.
Dev tersenyum melihat gadis disampingnya terlihat sangat kesal. Sebenarnya Dev penasaran, siapa yang menghubungi Ara. Dan kenapa Ara terlihat sangat kesal setelah menerima telepon.
Acara Pensi disekolah hari ini telah usai, saat ini Ara sedang berjalan menuju gerbang sekolah. Jika ditanya kemana motor Ara, jawabannya dirumah. Karena hari ini Ara dipaksa pergi bersama dengan Dira.
Dari jauh Ara melihat sosok yang ia kenal sedang bersandar dipintu mobil sport mewah berwarna hitam. Ara memutar bola matanya malas melihat pria yang selalu menebar pesonanya dimanapun dirinya berada.
Ara terus berjalan tanpa mempedulikan seorang yang sudah menunggunya sedari tadi.
"weeeeitss..nyelonong aja neng. Kaga liat nih akang udah disini nungguin eneng galak dari tadi??". Pria yang ternyata adalah Digo bergerak cepat menahan tangan Ara yang berjalan tanpa meliriknya sedikitpun.
"Lu belom pernah patah tulang ya?!". Pertanyaan sekaliigus ancaman Ara layangkan sambil melihat tangannya yang dipegang oleh Digo.
"Belom sih. Patahin dong neng.." Bukannya takut, Digo justru semakin senang menggoda Ara.
"Wahh..Lu bener-bener ya. Bisa kaga sih jauh jauh dari gue. Noh cari tuh didalem, banyak cewe yang tipe lu banget. Lepas!!" Ketus Ara.
"Kalo gak mau gimana dong?? Gue seneng liat lu marah-marah gitu. Gemesin tauk". Digo semakin melancarkan rayuannya.
Sementara dari kejauhan, terlihat Dev yang mengepalkan tangannya melihat rival abadinya memegang erat tangan Ara.
Dev berjalan cepat menghampiri Ara kemudian menarik tangan Ara yang tidak dipegang oleh Digo.
Kedua tangan Ara kini dipegang oleh dua lelaki berbeda yang sama sama memiliki wajah yang tampan dan menarik.
Dev dan Digo saling memandang dengan aura permusuhan, sementara Ara mengangkat wajahnya untuk melihat dua lelaki tampan yang kini sedang memegang kedua tangannya.
"Lepasin Ara!". Suara dingin Dev seakan bisa membekukan sekitarnya.
Digo tersenyum miring melihat Dev
"Kenapa gak elo aja yang lepasin tangannya Ara? Gue duluan yang pegang tangan dia". Digo menjawab santai sambil menarik tangan Ara hingga Ara menabrak dada bidang milik Digo.
"Gue bilang lepas!!" Digo ikut menarik tangan Ara yang ada digenggamannya sehingga tubuh Ara kini merapat kebadan Dev.
Kedua lelaki itu saling menatap kuat tidak ada yang ingin mengalah, hingga suara Ara mengalihkan pandangan kedua pria itu.
"Lepasin!!!" Ara menghempas tangan Dev dan Digo secara bersamaan.
"lu berdua pada kenapa dah. Dimana mana ribuuuut mulu. Pusing gue liat lu berdua!!" Ara berjalan meninggalkan Dev dan Digo.
"Kita pulang Ra, mama udah nunggu buat acara ntar malem". Dev langsung menarik tangan Ara dan meninggalkan Digo yang mengepalkan tangannya melihat Dev membawa Ara.
__ADS_1
"Gak akan semudah itu lo kalahin gue tuan muda Natakusuma". Gumam Digo
Setelah melihat Ara memasuki mobil Dev dan meninggalkan sekolah, Digo pun ikut pergi meninggalkan sekolah itu.