
"Assalamualaikum mang Pri.." Sapa Ara ramah pada satpam keluarga Dev.
"Wa'alaikumsalam neng..baru pulang joging neng?? Rajin pisan si eneng olahraga". Puji mang Supri
"Biar badannya gak kaku mang..hehe. Ara masuk dulu ya mang". Ara pamit pada mang Supri.
"Iya..silahkan neng". Jawab mang Supri disertai senyuman.
****
"Hari ini kalian latihan bertiga. Bapak akan mengawasi kalian". Bapak memberi perintah pada Ara yang kini sudah berhadapan dengan Josh dan Pram.
Sudah menjadi rutinitas wajib bagi mereka untuk mengasah kemampuan bertarung dengan latihan seperti ini.
"Bapak gak ikut?? Kan biasanya kita satu lawan satu". Ara mulai protes.
"Bapak lu takut encok Ra". Josh menjawab dengan nada mengejek diikuti tawa keras Pram.
"Diem kamu!! Bisanya ngeledek saya aja. Cepet siap-siap. Pemanasan dulu kalian biar ga kecengklak nanti". Bapak kembali memberi komando.
"Gak adil dong pak, masa Ara lawan dua orang. Mana badannya udh hampir mirip kulkas dua pintu lagi. Tinggi gede..yang ada Ara bonyok pak" Ara mencoba menawar.
"Heh!! Sembarangan tu mulut. Ini bukan kulkas..ini namanya badannya kekar. Enak aja lu!!" Pram tidak terima dikatai kulkas dua pintu oleh Ara.
Ara hanya nyengir melihat Pram mengomel.
"Kamu udah lama kan gak lawan mereka, jangan sampe bonyok dong. Kalo bisa kamu yang bikin tu bocah tengil dua bonyok". Ucap bapak sambil melirik Josh dan Pram.
"Atuh bapak..ntar Aranya capek tapi". Memasang wajah memelas, berharap bapak mengasihani.
"helehh..gak usah pasang tampang begitu. Gak pengaruh ke bapak mah neng. Cepetan!!". Kali ini suara bapak sudah tidak ingin dibantah lagi.
Menghela nafas panjang sebelum memasang kuda-kudanya, kini siap tak siap Ara harus melawan Josh dan Pram secara bersamaan.
"Ini kalo kena tonjok ama kena tendang beneran gak papa ya kang??" Tanya Josh.
"emang biasanya kalian gimana?? Main pukul main tendang juga gak pernah nanya dulu. Sok-sokan nanya". Bapak mencebik, sementara Josh dan Pram tertawa melihat Bapak kesal.
"MULAIII!!!". Teriakan bapak menggema di halaman belakang yang biasa mereka gunakan.
Ketiga orang itu mulai saling menyerang, membagi pukulan dan tendangan. Beberapa kali Ara terkena pukulan dan tendangan dari kedua pria itu.
Sementara dari dalam ruang keluarga, mama Anika dan papa Aryo beserta Dev dan Dira sedang melihat bagaimana Ara dan Josh serta Pram berlatih mengasah kemampuan bela diri mereka.
Senyum manis terbit dibibir seksi Dev melihat kelihaian gadis cantik itu melawan dua lelaki dewasa dengan badan yang kekar.
Begitupun dengan papa Aryo yang terlihat sangat puas melihat Ara yang mampu menghindari setiap serangan dan membalasnya. "Benar benar gadis hebat" batin papa Aryo.
Berbeda dengan papa dan Dev, mama dan Dira selalu berteriak setiap melihat Ara terkena pukulan dan tendangan yang sepertinya tidak main-main.
"Aduuuh..itu si Rahmat gimana sih pa. Anak gadis kok di aduin sama laki-laki dua..mana besar begitu badannya. Kan kasian itu Aranya". Mama sudah mengomel sejak pertama melihat latihan yang dijalani Ara bersama Josh dan Pram.
"itu cara Rahmat mendidik anaknya menjadi gadis tangguh yang penuh tanggung jawab ma". Jawab papa mantap.
"dididik sih dididik pa..tapi gak dibikin bonyok gitu juga kali. Kakak juga malah mesam-mesem, ga kasian itu liat muka Ara kena pukul". Dira ikut mengomel seperti sang mama.
Dev hanya mengangkat sebelah alisnya sambil mengangkat bahunya. Dira mencebik melihat reaksi sang kakak.
__ADS_1
"atuh ih..jangan kena muka atuh om. Ntar muka Ara bonyok, besok disekolah dikira abis tawuran!!" Dalam keadaan masih saling menyerang Ara berteriak memberi peringatan pada Pram dan Josh karena terus menyasar wajah cantiknya.
"Ya namanya juga nyerang Ra, sedapetnya lah". Josh menjawab.
"Tau lu neng. Masa ntar kalo lawan musuh kudu milih-milih..ah mukul sebelah sini aja, apa sebelah sana ya??" Pram ikut menjawab disertai kekehan membayangkan bagaimana lucunya jika bertarung sambil memilih bagian mana yang akan dipukul. Sementara tangan dan kakinya masih sibuk memukul dan menendang ke arah Ara yang sedang melotot kesal.
"5menit harus sudah ada yang tumbang! Disuruh latihan masih sempet-sempetnya ngobrol!" Teriak bapak. Bapak menepuk dahinya, heran dengan kelakuan putrinya serta kedua bawahannya yang tidak pernah bisa serius.
Tidak kurang dari 3menit, Ara sudah berhasil menumbangkan Josh dan Pram setelah menendang tepat di ulu hati keduanya.
"Lu ada dendam apa sih neng ke kita. Gila lu nendangnya pake tenaga penuh. Ini kalo tulang gue pada rontok gimana". Pram bangkit sambil mengelus dada yang tadi terkena tendangan keras Ara.
"Tauk ni bocah..tadi minta kita pelanan, minta jangan kena muka. Lah ni bocah main tendang-tendang aja". Josh tak kalah sewot mengomeli Ara.
Sementara Ara hanya nyengir tanpa dosa.
Setelah menumbangkan kedua lawannya, Ara menjatuhkan tubuhnya diatas rerumputan. Tenaganya benar-benar terkuras melawan Josh dan Pram.
Dari dalam rumah terdengar suara tepuk tangan keras. Bahkan Dira dan mama Anika saling berpelukan saking senangnya melihat Ara menang melawan dua pengawal terbaik keluarganya.
Papa Aryo mengembangkan senyumnya secara sempurna, rasanya dirinya benar-benar bangga melihat putri orang kepercayaannya bisa sehebat itu.
Sementara Dev masih dengan posisi yang sama, duduk disebuah sofa single dengan kedua tangan terlipat didada. Bibirnya membentuk lengkungan sempurna melihat bagaimana gesitnya gerakan Ara menumbangkan lawannya.
"Aaaaaa...kamu hebat sekali sayang". Mama Anika dan Dira berlari kecil ketempat dimana Ara sedang terbaring melepas rasa lelahnya.
"Lo emang the best Ra". Dira mengacungkan jempolnya disertai senyum manisnya.
Ara bangun dan tersenyum melihat kedua wanita itu heboh sendiri.
Hari pertama Ara dan teman-temannya masuk sekolah sebagai siswi kelas XII. Ada perasaan bangga dihati Ara mengetahui bahwa dirinya lah siswi dengan nilai terbaik pada ujian kemarin.
Kebahagiaannya bertambah lengkap saat menyadari gadis yang selalu menggangu dirinya dan kedua sahabatnya sudah tidak ada lagi disekolah ini.
Hari-hari Ara lalui dengan tenang bersama kedua sahabatnya. Namun jangan lupakan Digo yang masih belum menyerah untuk meluluhkan hati Ara.
Namun pada kenyataannya, setiap keduanya bertemu hanya akan berdebat. Digo yang senang menggoda Ara, dan Ara yang selalu mengomel saat Digo mulai menggodanya.
***
Hari berganti minggu, minggupun berganti bulan. Ara benar-benar menikmati hari-harinya di SMA. Beberapa bulan lagi, Ara akan menjalani ujian. Ara semakin giat belajar, tidak ingin mengecewakan bapak serta sang kakak yang sebentar lagi akan menyelesaikan pendidikannya.
Hari ini Ara dan Bapak sedang duduk santai di teras rumah majikannya. Keduanya sedang berbincang santai sambil diselingi tawa.
Saat sedang berbincang dengan bapak, Ara melihat sebuah mobil yang sudah tidak asing lagi dimatanya. Bagaimana dirinya bisa lupa siapa pemilik mobil itu jika hampir setiap minggu selalu datang kerumah ini untuk mengganggunya.
Siapa lagi jika bukan jalangkung somplak yang selalu membuat Ara kesal.
"Sore om.." Sapa Digo ramah.
"Sore Digo. Tumben jam segini kesini". Tanya bapak.
Bapak memang sudah cukup hafal dengan Digo, karena setiap seminggu sekali Digo selalu datang mencari Ara.
"Dari tadi saya telpon tidak diangkat om. Makanya saya datengin". Ucap Digo
"Anak om galak kalo sama saya". Bisik Digo pada Bapak.
__ADS_1
Bapak hanya tersenyum melihat kelakuan anak-anak muda ini.
"Om tinggal ke dalem dulu..kalian ngobrol aja. Jangan lupa dibikinin minum neng tamunya". Bapak berdiri dan meninggalkan Digo dengan Ara berdua.
Setelah melihat bapak menghilang dari pandangannya. Ara langsung melirik Digo tajam, yang dilirik hanya cuek karena sudah biasa melihat gadis pujaannya itu selalu kesal padanya.
"Kata bapak suruh bikinin minum calon imam neng". Digo mulai menggoda Ara.
"Lu ngapain sih kesini mulu. Cape gue ngusir elu". Ara berkata dengan lemas. Lelah juga rasanya selalu berdebat dengan lelaki ini.
Belum sempat Digo menjawab, terdengar suara yang membuat keduanya diam.
"Ngapain lagi lo kesini". Suara dingin itu mampu membuat tubuh Ara terasa beku sesaat.
"Gue kesini nyariin calon makmum gue lah. Gak mungkin gue nyari elo!". Jawab Digo cuek.
"Jangan sebut Ara calon makmum elo. Gak pantes!". Ucap Dev dingin.
"Terus yang pantes siapa?? Elo??"
"hheuuhh..lo juga gak pantes!" Digo tak kalah dingin menjawab ucapan Dev.
Ara menghela nafas panjang. Benar-benar melelahkan menghadapi kedua lelaki ini. Selalu bertengkar setiap bertemu. Ara duduk sambil memegang kepalanya yang terasa pusing melihat perdebatan Dev dan Digo.
Saat sedang menunduk merasakan pusing dikepalanya, seseorang memanggil namanya. Dan itu membuat Ara mendongakkan kepalanya melihat siapa yang memanggilnya.
"ARAAAAA..." Suara teriakan itu mampu membuat kedua pria yang sedang berdebat berhenti seketika untuk melihat siapa lelaki yang memanggil nama Ara.
Mata Ara berbinar melihat siapa yang tengah memanggilnya. Tanpa memperdulikan Digo dan Dev yang masih berdiri dikedua sisinya Ara berlari menghampiri lelaki yang memanggilnya tadi.
Orang yang memanggil Ara merentangkan kedua tangannya bersiap menyambut kedatangan gadis yang begitu ia sayangi itu.
Ara melompat dan menghambur ke pelukan pria yang begitu ia rindukan. Tangannya memeluk erat leher pria yang juga memeluk tubuhnya tak kalah erat.
"Kangeeeeen". Terdengar suara manja Ara yang bahkan belum pernah didengar Dev dan Digo.
Sedangkan pria yang sedang dipeluk erat oleh Ara hanya bisa tersenyum sambil mengangguk sebagai jawaban dari ucapan Ara.
Ara melepaskan pelukannya kemudian bergelayut manja pada lengan pria yang tadi ia peluk. Mengajak pria itu untuk memasuki rumah menemui sang ayah.
"Kita cari bapak dulu. Pasti bapak seneng banget". Senyuman tak pernah luntur dari wajah cantik Ara.
Pria tadi hanya mengelus lembut kepala Ara sambil menggeleng. Gemas dengan kelakuan Ara yang terlihat sangat manja.
Kedua lelaki yang tadi sempat berdebat saling melihat seolah bertanya "Siapa pria itu"
Keduanya mengendikkan bahu secara bersama , tanda keduanya pun tak ada yang mengenal pria itu.
Keduanya tampak terus memperhatikan dengan tangan terkepal kuat setiap langkah Ara dengan pria asing yang dipeluk oleh gadis incaran keduanya.
Cemburu, kata itulah yang kini menggambarkan perasaan Dev dan Digo.
Dev merasa pernah melihat pria itu. Tapi dimana..
Dev terus berpikir hingga punggung Ara hilang dibalik pintu rumahnya.
Otak Dev dan Digo tengah berpikir keras tentang siapa pria yang dengan mudahnya dipeluk erat oleh Ara. Keduanya benar-benar dibuat kalang kabut karena cemburu. Keduanya sangat takut jika Ara telah memiliki kekasih.
__ADS_1