
"Hmm..bahkan sangat terlihat berbeda, selama ini banyak gadis mendekatinya tapi Dev seperti tidak tertarik." Kata nyonya Anika sambil mengingat beberapa gadis yang mengejar Dev tapi tidak ditanggapi.
"Gadis yang bernama Ara bahkan terluka untuk menolong putra kita pa.." nyonya Anika mengingat kejadian siang tadi.
"Terluka bagaimana ma??". Tuan Aryo mengubah posisinya menjadi duduk menghadap istrinya.
"Lengan gadis itu terluka oleh sabetan pisau untuk melindungi Dev." Nyonya Anika menghela nafas sejenak sebelum kembali berbicara.
"Penjahat itu mengincar dev, tapi dengan cepat Ara berlari memeluk Dev sehingga lengannya yang terluka". Terlihat raut penyesalan dari wajah nyonya Anika.
Tuan Aryo memeluk istrinya sambil mengelus kepalanya
"Aku rasa dia gadis yang sangat kuat ma, semoga kita dipertemukan lagi dengan gadis itu ma. Sudah malam, ayo kita istirahat.."
____
Pagi yang cerah untuk Ara, menghirup udara pagi sedalam-dalamnya sambil berdoa semoga hari ini dirinya terbebas dari segala masalah menyebalkan seperti hari kemarin.
Seperti biasa, Ara akan memakai celana saat berangkat dan pulang sekolah karena memang motor yang ia gunakan tidak bisa jika memakai rok.
Dengan santai Ara melajukan motornya menuju sekolahnya, hari masih pagi..jadi Ara akan sedikit bersantai.
Setibanya di sekolah Ara segera memarkirkan motornya kemudian berjalan ke toilet untuk mengganti celananya dengan rok sekolahnya.
Saat masuk ke dalam kelas dia sudah disambut senyuman hangat dari dua teman barunya, siapa lagi jika bukan Dira dan Putri.
"apakah kalian tidur disini??" pertanyaan aneh keluar dari mulut Ara membuat dua temannya bingung.
"yaaak..mana mungkin kami tidur disini, kau ini kenapa bertanya seperti itu?". Putri menjawab dengan bibir mengerucut.
"Ini masih pagi dan kalian sudah disini? kalian benar-benar anak rajin." Jawab Ara dengan nada sedikit mengejek.
Dira ingin menanyakan tentang kondisi tangan Ara yang terluka, tapi Dira takut Ara akan curiga jadi dia memutuskan diam saja.
__ADS_1
Tak berselang lama bel tanda masuk berbunyi..semua mengikuti pelajaran dengan tenang.
**
Tanpa terasa bel menandakan istirahat berbunyi..semua berhambur keluar kelas menuju kantin tidak terkecuali Ara, Dira dan Putri.
Saat sedang berjalan menuju kantin mereka berpapasan dengan Clara dan teman-temannya, Ara sudah bersiap jika ketiga manusia jelmaan mak lampir itu membuat masalah..tapi ternyata hanya lirikan tajam yang diberikan untuk Ara dan juga Dira serta Putri.
Setidaknya Ara bisa sedikit bernafas lega.
Sesampainya dikantin Ara langsung mencari tempat duduk yang masih kosong, Putri yang akan membeli makanan untuk mereka bertiga.
Beberapa saat kemudian Putri sudah kembali dengan membawa 3 mangkuk mie ayam dan 3 gelas es teh manis.
Tanpa menunggu lama mereka melahap makanan mereka, saat sedang menikmati makanan mereka tiba-tiba 3 manusia jelmaan mak lampir mendekati meja mereka dan berkata.
"Ciihh..hanya orang miskin yang mendapat beasiswa aja lu udah berani ama kita yang jelas disini bayar sendiri". Kata-kata pedas keluar dari mulut menyebalkan Clara, tapi sayang beribu sayang, bahkan Ara seperti sengaja menulikan pendengarannya mendengar ocehan Clara.
Kesal karena kata-katanya tidak ditanggapi Clara menggebrak keras meja Ara.
Ara menoleh ke arah Dira dan tersenyum..senyum yang sangat manis membuat Dev yang sejak tadi memperhatikan dari jauh ikut tersenyum.
Semakin kesal karena Ara justru melanjutkan makannya Clara mencengkeram kuat lengan Ara, sialnya lengan yang ada dalam cemgkraman Clara adalah lengan yang terluka kemarin. Ara sedikit meringis merasakan lukanya seperti kembali terkoyak.
Sedangkan Dira sudah panik melihat lengan Ara yang dicengkeram kuat oleh Clara, karena tidak tega Dira memberanikan diri berkata
"Kak, tolong lepasin temen aku..kasian temen aku kesakitan.." Ucap Dira dengan nada memohon, namun bukannya melepaskan justru cengkraman dilengan Dira semakin kuat.
"Harusnya orang miskin yang cuma dapet beasiswa kaya elu tuh gausah belagu, pake acara berani ama kita-kita ini". Ucap Clara sambil tertawa sinis.
Setelah makannya benar-benar selesai, Ara bangkit dari duduknya diikuti kedua temannya..lengan yang masih dicengkeram oleh Clara diperhatikan olehnya sambil berkata.
"Mau lu yang lepasin sendiri tangan elu, apa gue yang bikin tangan elu gabisa pegang apa-apa lagi??". Ara berucap dengan tenang walaupun darah sudah merembes dilengan seragamnya.
__ADS_1
Bukannya melepaskan Clara justru semakin menghina dan memperkuat cengkraman pada lengan Ara..diuji kesabarannya membuat Ara memilih segera melepaskan diri..dipegangnya tangan Clara dengan kuat membuat Clara meringis kesakitan dan dengan cepat melepaskan cengkeramannya dari lengan Ara.
Ara tertawa sinis melirik Clara dan teman-temannya, bahkan tangan Clara masih dipegang oleh Ara.
Sebelum Ara pergi, dia berkata
"Bahkan elu bangga cuma ngabisin duit ibu bapak elu buat sekolah disini, kenyataannya elu disini bukan nuntut ilmu..kayanya elu nuntut ilmu hitam makanya sekarang jadi jelmaan mak lampir.." Ucap Ara enteng membuat semua yang mendengar menahan tawa mereka.
"Gue disini sekolah gratis soalnya otak gue emang layak dikasih biaya gratis, lah elu...bayar aja kagak pinter-pinter lu, apalagi yang gratisan. Kalo emak bapak lu kaga kaya..belum tentu elu mampu sekolah disini, lah mau pake beasiswa otak lu kaga nyampe mau ngerjain soal..otak lu dangkal, apa dengkul?? tau ah itu lah kira-kira.."
Setelah mengatakan itu Ara berlalu dari hadapan 3 jelmaan mak lampir yang hampir meledak mendengar kata-kata Ara. Benar-benar gadis gila yang pemberani.
Disudut kantin terlihat Dev bersama Samuel dan Kevin yang sedang memperhatikan murid baru pemberani yang sangat cantik..bahkan Samuel sampai tidak berkedip melihatnya.
"Itu cewe apa bidadari ya bro, gila cantiknya kelewatan dah ah. Gue musti kenalan ama itu cewe..kudu." Samuel berkata dengan semangat menggebu dihadiahi geplakan dibagian belakang kepala oleh kevin.
"Elu mah semua cewe lu bilang cantik, noh ibu kantin juga lu kata cantik. Dasar playboy kaga laku lu." Kesal kevin kepada Samuel.
Dev hanya menyimak sambil tersenyum tipis hampir tidak terlihat.
Diperjalanan menuju kelas akhirnya Dira mempunyai kesempatan menanyakan luka Ara
"Lengan lo berdarah ra..sebaiknya kita bawa ke ruang kesehatan ya.." Dira sedikit memaksa karena khawatir dengan luka Ara.
Ara menggeleng, namun Putri dan Dira memasang wajah memelas hingga akhirnya Ara menyetujuinya.
"huftt..baiklah, kalian tidak perlu memasang muka menyebalkan itu"
Mereka berjalan menuju ruang kesehatan. Disana ada dokter yang akan memeriksa Ara.
Setelah diperiksa dan diganti perban serta diberi obat mereka kembali ke kelasnya..
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan tanpa terasa Ara sudah menjadi murid SMA Nusa Bangsa selama kurang lebih 3bulan.
__ADS_1
Selama 3bulan Ara hampir tidak pernah bertengkar dengan manusia-manusia jelmaan mak lampir..saat Ara sedang berjalan dikoridor tiba-tiba terdengar teriakan
"Araaaaa"..