Cinta Kinara

Cinta Kinara
sore menggelora


__ADS_3

Saat ini Ara dan Dira serta Putri sedang duduk diruang keluarga rumah besar Natakusuma. Kirei sudah berusia 1tahun, sementara Arka kini berusia 26bulan. Kedua anak yang semakin menggemaskan itu tengah bermain diatas permadani tebal yang terhampar diruangan itu, didekat mereka ada pengasuh yang membantu Ara dan Putri menjaga buah hatinya. Terlihat jelas bahwa Arka begitu menyayangi adik sepupunya itu, berkali-kali boneka yang Arka berikan dilemparkan oleh Kirei. Namun Arka tak pernah bosan mengambilkannya lagi.


"Dede Kilei endak mau boneka onty, maunya mobil". Adu Arka pada Ara.


Saat Arka lelah mengambil boneka yang terus dilempar Kirei, Arka memberikan mobil mainan miliknya pada adik cantiknya itu, dan ternyata Kirei lebih menyukai mobil mainan dibandingkan boneka.


"Gapapa gantengnya onty..makasih ya udah jagain dede Ki nya". Ara mengusap kepala bocah tampan yang semakin pintar di usianya yang baru dua tahun lebih 2bulan itu. Arka tersenyum dan mengangguk, kemudian kembali mendekati adik sepupunya yang sibuk memainkan mobil mainan miliknya.


"Waaah..ponakan gue turunan elo beneran Ra. Ya kali anak perempuan doyannya mainan mobil". Dira menepuk keningnya, sifat tomboy Ara sepertinya akan menurun pada keponakan cantiknya.


"Awas lo, inget jangan banyak ngebatin si Ara. Ntar anak lo deketnya ama ni bocah lagi. Liat aja tu Arka, dulu gue sering debat ama ni anak. Giliran anak gue lahir, eh..dia nempelnya ama tantenya. Emaknya mah cuma selewat aja". Putri bersungut-sungut menceritakan bagaimana putra kecilnya itu begitu dekat dengan Ara.


"Kaga apa lah, gue kan bisa tidur enak kalo anak gue ntar nempel ke tantenya". Ucap Dira santai membuat Putri dan Ara menggeleng. Saat ini Dira tengah mengandung, usia kehamilannya sudah memasuki 7bulan.


"Mamii.." Suara Arka membuat ketiga wanita muda itu mengalihkan perhatian mereka.


"Dede Ki mau pelgi". Adu Arka sambil menunjuk Kirei yang sedang berjalan sempoyongan. Bocah dengan badan gendut itu memang sedang senang-senangnya berjalan beberapa hari ini. Bahkan Ara sampai kewalahan mengikuti tingkah polah putri kecilnya.


"Assalamu'alaikum.." Suara Dev membuat Kirei menghentikan langkahnya. Menoleh pada sumber suara yang sudah begitu ia kenali, kemudian berbalik dan berjalan cepat hingga tubuhnya oleng, untung saja Dev dengan sigap menangkap tubuh mungil anaknya.


"Happ..kangen sama ayah ya". Dev menggosokkan hidungnya pada hidung kecil Kirei, membuat Kirei terkekeh kegelian.


"Aya..yayayaya" Mata Ara membola mendengar anaknya sudah bisa memanggil suaminya dengan sebutan ayah. Meski belum terlalu jelas menyebut kata ayah, namun sudah terdengar bahwa maksud anaknya adalah memanggil ayah.


"Yaaaa..kenapa cuma ayah. Bundanya kapan??". Keluh Ara menampakkan wajah memelas yang justru memancing tawa kedua sahabat somplaknya.


"Terimain aja sih, anak lo lebih seneng manggil bapaknya". Ledek Putri diikuti suara tawa keduanya yang puas melihat Ara kesal.


Memang sejak berumur 6bulan, Kirei lebih lengket kepada ayahnya. Bahkan bukan hanya sekali anak itu tertidur dalam pelukan sang ayah tanpa Ara harus menyusuinya. Ia begitu bahagia melihat dua cintanya itu saling melengkapi. Walaupun kadang ia merasa iri kepada sang suami, karena jika Dev berada dirumah, Kirei hanya akan sibuk dengan sang ayah. Sementara dengan dirinya, anak itu hanya akan datang saat merasa haus dan meminta asi.


"Bundanya sabarin aja yaaa..mau panggil bunda kan susah". Goda Dev tersenyum jahil dan kemudian kembali mencium pipi chubby anak tercintanya.


Dev mendekati istrinya yang terlihat manyun itu, menundukkan sedikit kepalanya untuk menyamakan tingginya dengan sang istri, berniat memberi kecupan singkat dipipi mulus istrinya.


Namun, sebelum bibir Dev menyentuh kulit pipi Ara, Kirei sudah lebih dulu menyomot bibir Dev yang sedikit monyong karena hendak mencium Ara.


"Yayayaya.." Celoteh bayi mungil itu membuat semua tergelak.


"Kakak nggak boleh tu nyium emaknya, bolehnya nyium dia doang. Pinter banget siiiih ponakan cantik onty..." Gemas Dira sambil menjembel pipi gembul keponakannya dengan lembut, sementara pemilik pipinya hanya tertawa-tawa saja mendapat perlakuan seperti itu dari sang tante.

__ADS_1


"Ya Allah..kasian amat lo Ra. Anaknya kaga dapet, bapaknya juga dikuasai anaknya". Putri dan Dira kembali terbahak melihat wajah masam Ara.


Meskipun kesal karena anak yang ia lahirkan dengan bertaruh nyawa lebih dekat dengan ayahnya, namun Ara begitu bahagia melihat keduanya berbagi kasih sayang tulus seperti itu. Itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri untuk Ara.


"Kenapa dede Kilei puna ayah? Tenapa Alka ndak puna ayah mami?". Tanya Arka polos membuat tawa Dira dan Putri mereda. Keduanya menatap wajah Arka yang terlihat sedang berpikir.


"Kan Arka udah punya papi, sayang". Putri mencoba menjelaskan pada putranya.


"Alka ndak mau, Alka mauna puna ayah kaya dede Kilei". Ucap Arka ngotot membuat Putri bingung, sementara Ara kini tersenyum meledek melihat kakak iparnya bingung menjelaskan pada anak kecil itu.


"Alka mau puna ayah sama buna, mami". Bocah itu kembali mengeluarkan suaranya membuat Putri kalang kabut.


"Bunda sayang..bukan buna". Koreksi Dira ketika Arka tidak bisa menyebut kata bunda.


"Iya anty..buunaa" Arka memperjelas menyebut bunda, namun tetap saja kata yang keluar dari mulut kecilnya buna. Dirs terkekeh mendengar Arka yang niatnya ingin meluruskan maksud ucapannya justru semakin jelas menyebut kata buna.


"Arka bisa panggil uncle sama onty, ayah sama bunda kalo mau". Dev bersuara membuat mata bocah kecil itu berbinar.


"Benel??" Tanya nya memastikan. Dev dan Ara mengangguk menjawab keinginan bocah itu.


"Sekalang Alka puna ayah buna, mami". Bocah itu nampak tertawa kegirangan, membuat Kirei yang masih berada dalam gendongan Dev ikut tertawa. Entah apa yang bayi itu tertawakan. Tawa kedua anak itu menular pada semua orang yang melihatnya. Bahkan para suster pun ikut tersenyum bahagia melihat kebahagiaan keluarga majikannya.


"Cucu siapa sih ini..kok pinter banget". Mama Anika menciumi wajah cantik cucu pertamanya itu, sementara Kirei tertawa karena geli ketika seluruh wajahnya dihadiahi kecupan oleh sang nenek.


"yayaya.." Kirei kembali berceloteh membuat mama Anika semakin gemas.


"Aduuuh..ini gantengnya oma, tambah ganteng aja sih". Mama Anika mengacak rambut Arka, membuat bocah itu tertawa senang.


"Kamu kok udah pulang sih Dev?" Tanya mama heran, pasalnya jam masih menunjukkan pukul 4 sore. Tidak biasanya Dev pulang sebelum jam 5.


"Kangen ama baby Ki". Jawab Dev sambil menoel hidung bangir putrinya. Sementara Kirei, bayi itu sedang sibuk memainkan kalung yang dipakai oleh sang nenek.


"Alaaah..alesan aja. Bilang aja mau kekepin emaknya Kirei". Cibir mama Anika, Dev hanya mengangkat bahunya acuh.


"Titip Kirei ma". Setelah mengatakannya, Dev mengangkat tubuh Ara seperti membawa sebuah karung.


"Yaaaaaa....abaaaaang!". Pekik Ara sambil memukul punggung sang suami.


"Minim akhlak!" Sungut ketiga wanita yang menjadi saksi kelakuan Dev.

__ADS_1


Ketiganya saling memandang kemudian tertawa terbahak-bahak karena kekompakan mereka.


"Buna aku mau dibawa kemana sama ayah?!". Tanya Arka bingung ketika melihat Ara yang dibawa pergi oleh Dev.


"Buna nya Arka mau diajak olahraga sama ayah". Jawab mama Anika yang justru membuat bocah berumur 2tahun itu semakin bingung. Arka mengerjapkan matanya beberapa kali, sungguh terlihat semakin menggemaskan.


Sementara didalam kamar, Dev menutup pintu dan kemudian menguncinya, masih dengan posisi memanggul tubuh Ara.


"Abaaang..turunin Ara. Pusing ini kepalanya ngejungkir gini. Kaya mau copot". Keluh Ara yang seperti tak didengar oleh Dev.


Dev merebahkan tubuh Ara diatas kasur, belum sempat Ara bangkit, Dev sudah menindihnya.


"Sekarang kamu punya abang. Kirei udah abang titipin sama oma nya, jadi nggak akan ada yang ganggu". Tanpa menunggu respon Ara, Dev langsung mel***t bibir kecil milik istrinya sambil melepas kancing bajunya satu persatu. Setelah terlepas semua, Dev melemparkan begitu saja baju yang ia pakai, sementara lidahnya masih terus menjelajahi mulut sang istri.


Dev melepaskan pagutannya, ketika merasa bahwa sang istri sudah kehabisan nafas. Matanya sudah diselimuti kabut gairah, sebulan ini dirinya benar-benar disibukkan dengan pekerjaan dikantornya, hingga membuatnya kehilangan banyak waktu dengan istri dan anaknya.


"Abang mau bunuh aku?". Tanya Ara dengan nafas tersengal.


"Abang kangen Ra". Dev kembali membungkam mulut sang istri, namun kali ini ia memagutnya dengan lembut. Memberikan sensasi panas pada seluruh tubuh Ara. Tubuhnya seolah tersengat listrik kala tangan sang suami dengan lihai bermain diatas kedua aset miliknya. Sementara bibir Dev sudah berpindah ke leher jenjang milik Ara. Beberapa kali Ara melenguh saat merasakan gigitan kecil pada lehernya.


Dengan tidak sabar, Dev merobek daster yang Ara kenakan. Ara hanya bisa pasrah dengan kelakuan suaminya, ini bukan pertama kali Dev merobek pakaian yang ia kenakan. Selalu seperti ini jika suaminya itu sudah lama memendam hasratnya. Saat melampiaskannya, Dev akan selalu merusak baju hingga pakaian dalam yang ia kenakan.


Keduanya menghabiskan sore itu dengan kegiatan panas yang membuat keduanya bermandi peluh. Mereguk kenikmatan dunia, surga dunia yang membuat keduanya semakin dekat dan saling mencintai.


Dev ambruk diatas tubuh istrinya ketika keduanya telah mencapai puncaknya bersamaan. Dev menopang tubuhnya dengan kedua tangan kekarnya, kemudian mencium kening istrinya begitu lama. Menyalurkan perasaan cintanya yang kini semakin terperosok dalam pesona istri tomboynya.


"Abang cinta banget sama kamu Ra". Bisik Dev sambil memgeratkan pelukannya pada sang istri. Nafas keduanya masih putus-putus karena kegiatan yang baru saja mereka lakukan.


Ara membalikkan badannya, mengelus rahang kokoh milik suaminya kemudian membalas pernyataan cinta sang suami yang setiap hari selalu diucapkan oleh Dev.


"Ara juga cinta sama abang". Ara mengecup bibir Dev, kemudian membenamkan wajahnya did**a bidang sang suami. Namun beberapa detik setelahnya, Ara merutuki dirinya sendiri yang mengecup bibir suaminya itu ketika merasakan senjata keperkasaan milik sang suami sudah kembali berdiri tegak.


Dengan perlahan Ara mendongakkan kepalanya, menatap wajah sang suami yang sudah dihiasi seringai mesumnya.


"Mati gue". Batin Ara


"Kamu yang mancing dia on lagi ya Ra. Jangan salahin abang". Setelahnya Dev kembali menyerang sang istri yang hanya bisa merutuki kecerobohannya membangunkan junior sang suami.


Sore itu benar-benar terasa panas didalam kamar, bahkan pendingin ruangan masih tidak bisa mendinginkan sejoli yang sedang mereguk nikmat dunia. Menguras tenaga dan memeras keringat, kegiatan yang membuat Dev lupa dengan penat dan lelahnya ketika bekerja.

__ADS_1


__ADS_2