
"Dev..Bisa kita bicara berdua?"
Suara lembut Raisya mengalihkan atensi Dev dan kedua sahabatnya.
Dev mengangkat sebelah alisnya.
"Nggak ada yang perlu diomongin". Dev bangkit hendak meninggalkan Raisya diikuti Sam dan Kevin.
"Sebentar aja Dev. Aku perlu jelasin semua ke kamu". Raisya mencekal tangan Dev.
Dev melirik tangannya yang masih dipegang oleh Raisya, hingga membuat gadis itu perlahan melepaskan tangannya.
"Bentar aja Dev. Please". Ucap Raisya memohon.
Dev menghela nafas, kemudian menghembuskannya kasar.
"10menit". Hanya itu yang terucap dari mulut Dev dan berhasil membuat senyum Raisya mengembang sempurna.
Dev berjalan tenang diikuti Raisya dibelakangnya.
"Itu si Dev suka nyari penyakit aja sih. Kalo si Ara liat abis tu bocah". Gerutu Sam
"Biarin aja". Ucap Kevin meninggalkan Sam yang masih terus menggerutu.
***
Saat ini Dev sedang berdiri membelakangi gadis yang matanya sudah berkaca-kaca memandangi punggung pria yang pernah ia tinggalkan beberapa tahun lalu.
"D..Dev". Suara Raisya bergetar memanggil nama lelaki yang hingga saat ini masih terlukis indah didalam hatinya.
"Waktu lo tinggal 8menit". Ucap Dev tanpa menoleh.
Raisya menyeka air matanya yang jatuh tanpa bisa dihentikan.
"Aku terpaksa ninggalin kamu waktu itu Dev. Percaya sama aku, aku masih cinta sama kamu. Aku juga tersiksa jauh dari kamu Dev". Raisya menghentikan ucapannya untuk meraup oksigen yang seperti sudah habis dirongga paru-parunya.
Sementara Dev hanya tersenyum sinis mendengar penjelasan dari gadis yang dulu pernah membuat hatinya dipenuhi kebahagiaan namun gadis itu juga yang membuat hatinya hancur tak bersisa, hingga dirinya menemukan gadis yang mampu mengobati lara hatinya hanya dalam sekali pandang saja.
"Aku masih cinta sama kamu Dev. Aku..aku mau kita seperti dulu lagi". Ucap Raisya ditengah isakannya.
"Kita udah kelar dari beberapa tahun lalu Sya". Ucap Dev tegas masih membelakangi Raisya.
"Gue udah nemuin kebahagiaan gue. Gue mohon jangan ganggu gue lagi. Kita bisa jadi temen". Lanjut Dev dan hendak meninggalkan Raisya yang semakin terisak mendengar ucapan Dev.
Tanpa diduga, Raisya memeluk Dev dari belakang. Tubuh Dev membeku seketika merasakan tangan Raisya memeluk tubuhnya erat.
"Aku nggak bisa tanpa kamu Dev. Aku kesiksa jauh dari kamu. Apa nggak ada lagi sedikit tempat dihati kamu buat aku Dev?" Lirih Raisya.
Dev mencoba melepaskan tangan Raisya yang masih memeluk tubuhnya erat, seolah enggan melepaskan Dev.
"Lepasin tangan lo dari tubuh gue Sya". Suara Dev terdengar dingin.
Dev dapat merasakan gelengan kepala dipunggungnya, membuat ia menghela nafas panjang hendak melepas tangan Raisya secara paksa.
Belum sempat Dev melepaskan tangan Raisya yang masih memeluk tubuhnya, suara gadis yang sudah mampu membuat hari-harinya dipenuhi kebahagiaan terdengar.
"A..abang??" Suara Ara yang terdengar lirih membuat jantung Dev seperti terhenti seketika. Dev mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah gadis pemilik hatinya.
Bukan hanya Dev yang terkejut, Raisya pun sama terkejutnya seperti Dev saat mendengar suara gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
Dev dan Raisya tidak menyangka jika Ara akan datang ke atap gedung yang biasanya sepi. Dev sengaja mengajak Raisya kesana karena ia berpikir tidak akan ada orang yang kesana. Namun perkiraan Dev keliru, justru kekasih hatinya yang memergoki dirinya sedang dengan gadis lain.
"Sayang.." Lirih Dev yang masih terdengar oleh Ara dan Raisya.
Raisya merasa dadanya terasa sesak, bahkan untuk bernafas saja seperti sulit saat mendengar suara lembut Dev memanggil Ara dengan kata "Sayang"
Ara menggeleng dengan mata yang sudah berkaca-kaca, perlahan ia mundur dari tempatnya berdiri.
Raisya segera melepaskan tangannya dari tubuh Dev, ia berjalan hendak menghampiri Ara, namun Ara membalikkan badannya dan meninggalkan atap gedung yang membuat dadanya terasa sesak melihat pemandangan yang hampir membuat air matanya tumpah.
Melihat Ara berlari menjauh darinya, Dev segera mengejar. Namun langkah kaki Dev terhenti saat melihat tatapan tajam dari adiknya dan dua sahabat Ara yang lain.
"Kakak keterlaluan!!" Geram Dira kemudian meninggalkan Dev yang mematung mendengar ucapan sang adik.
__ADS_1
Ara terus berlari tanpa mempedulikan panggilan dari Dira dan Putri serta Salsa. Sebisa mungkin Ara menahan air matanya yang sudah hampir tumpah.
Berlari tanpa tujuan, yang Ara pikirkan hanya menjauh dari Dev untuk sementara. Dirinya belum sanggup melihat Dev.
Langkah kaki Ara terhenti saat tangannya dicekal oleh seseorang, Ara menoleh untuk melihat siapa yang mencekal tangannya. Ara menghela nafas saat melihat Digo lah orang yang menghentikan langkahnya.
"Lo kenapa Ra?!!" Tanya Digo.
Ara menggeleng, namun tiba-tiba air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi saat mengingat semua percakapan Raisya dan Dev, apalagi mengingat bagaimana eratnya Raisya memeluk Dev. Meski Ara tidak tahu apa yang terjadi, namun Ara yakin bahwa keduanya memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman.
Digo terhenyak melihat Ara menangis untuk pertama kalinya, gadis yang biasanya tangguh kini begitu terlihat rapuh.
Ara segera menghapus dengan kasar air matanya yang jatuh membasahi pipi. Dirinya tidak ingin terlihat lemah dihadapan siapapun.
"G..gue kaga kenapa-napa". Jawab Ara terbata.
"Gue pulang dulu ya". Tanpa menunggu jawaban Digo, Ara berlalu meninggalkan Digo yang masih diam mematung menatap punggung Ara yang semakin menjauh darinya.
Lamunan Digo buyar saat ada yang menepuk pelan bahunya. Digo menoleh untuk melihat siapa yang menepuk bahunya, dan ternyata Salsa yang ada disampingnya.
Digo tersenyum melihat gadis cantik yang beberapa hari ini dekat dengannya tanpa diketahui oleh siapapun.
"Kak Digo liat Ara enggak??". Tanya Salsa dengan nafas terengah-engah.
Digo menautkan alisnya,
"Barusan sih liat. Tapi kaga tau kenapa tu bocah aneh banget. Biasanya pecicilan tapi barusan gue liat nangis. Kenapa tu bocah?" Tanya Digo.
"Panjang ceritanya. Aku nyusul Ara dulu ya". Saat Salsa hendak melangkahkan kakinya, Digo menahan tangan Salsa membuat gadis itu menoleh dan mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Gue temenin. Gue khawatir ama tu bocah. Kaga biasanya tu bocah nangis". ucap Digo sambil menarik tangan Salsa lembut.
Salsa hanya bisa menurut dan mengikuti kemana Digo membawa dirinya.
****
Saat ini Ara sedang berdiri ditepi danau yang sepi. Ia ingin menjernihkan pikirannya setelah mendengar dan menyaksikan apa yang terjadi diatap gedung kampusnya tadi.
Dirinya tak ingin berpikir terlalu jauh tentang apa hubungan Dev dan Raisya.
Ara mendudukkan dirinya dipinggiran danau, mengambil kerikil-kerikil kecil dan dilemparkan ke danau.
Dari belakang tubuh Ara, Dev terus mengawasi Ara, ingin rasanya Dev mendekat dan membawa tubuh Ara kedalam pelukannya. Namun urung ia lakukan karena ingin membiarkan Ara tenang.
Ia akan menjelaskan semuanya saat nanti Ara sudah lebih tenang.
Tiba-tiba Ara berdiri dan berteriak sangat kencang. Dev tersenyum tipis melihat bagaimana cara gadisnya meluapkan segala perasaannya. Tanpa mengadu pada siapapun, dan menangis meraung seperti kebanyakan gadis lainnya.
Saat Ara berbalik, ia terkejut mendapati Dev yang sedang berdiri memandangi dirinya.
"Abang.." Suara Ara hampir tidak terdengar.
Dev mengikis jarak antara keduanya dan langsung membawa Ara kedalam pelukannya.
Tubuh Ara kaku seketika, ini bukan kali pertamanya Dev memeluk dirinya. Namun debaran jantungnya masih sama saat pertama kali Dev memeluknya.
"Maafin abang ya.." Ucapan lembut Dev menyadarkan Ara dari lamunannya.
Ara mencoba melepaskan pelukan Dev, namun justru pria itu semakin erat memeluk dirinya.
"Kamu marah sama abang??" Tanya Dev lagi.
Ara menggeleng dalam pelukannya membuat senyum Dev semakin lebar.
Dev melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Ara.
"Apapun yang kamu dengar tadi, apapun yang kamu lihat tadi. Yang perlu kamu tahu, sekarang, besok sampai nanti..cuma kamu yang akan ada disini". Ucap Dev sambil menunjuk dadanya.
"Cuma kamu yang abang cinta Ra. Apapun yang terjadi..abang mohon jangan pernah tinggalin abang". Ucap Dev sendu.
Mata Ara sudah berkaca-kaca. Ia merutuki dirinya yang sekarang begitu cengeng jika berkaitan dengan Dev.
Ara menubruk dada bidang Dev, memeluk tubuh gagah Dev, menyembunyikan wajahnya yang sudah basah dengan air mata.
__ADS_1
Dev tersenyum merasakan pelukan Ara yang kian erat. Dev membalas pelukan Ara tak kalah erat. Semua ketakutannya sirna sudah, ia yakin bahwa Ara adalah gadis yang sempurna untuk hidupnya.
Dev melonggarkan pelukannya dan menghapus air mata Ara. Setelahnya ia kembali memeluk tubuh Ara dengan erat.
"Kamu mau dengerin cerita abang tentang Raisya?? Bagaimana abang dan Raisya saling mengenal. Abang nggak mau nanti kamu salah paham sama Raisya". Ucap Dev lembut.
Ara menggeleng dalam pelukan Dev, membuat alis Dev bertaut. Dev melepaskan pelukannya dan memegang kedua lengan Ara.
"Kenapa?" Tanya Dev penasaran.
"Semua orang punya masa lalu bang, gue rasa nggak semua masa lalu abang musti Ara tau". Jawab Ara tanpa keraguan sedikitpun.
Senyum manis tersungging dibibir Dev, betapa bersyukurnya dirinya menemukan gadis seistimewa Ara. Dirinya benar-benar bersyukur.
"Terima kasih sayang". Ucap Dev kemudian mencium kening Ara lembut, membuat Ara memejamkan matanya menikmati kehangatan yang menjalar dikeningnya.
"Kita pulang ya sayang". Ucapan Dev berhasil membuat kedua pipi Ara bersemu merah. Kata "sayang" terdengar begitu manis ditelinga Ara.
"Tapi motor gue bang?". Tanya Ara saat Dev menariknya menuju mobil miliknya yang terparkir tidak jauh dari motor Ara.
"Nanti diambil pak Tono Ra". Setelah Ara duduk,Dev memakaikan sabuk pengaman pada tubuh Ara. Membuat wajah Ara semakin memerah dengan perlakuan manis Dev.
_____
Malam ini acara pertunangan Dev dan Ara akan dilaksanakan. Semua sudah siap sesuai dengan keinginan Ara. Hanya keluarga dan orang terdekat yang akan menghadirinya, termasuk Raisya dan keluarganya.
Setelah kejadian diatap gedung, Ara tidak pernah melihat Raisya dikampus. Berkali-kali Ara mencoba menghubungi Raisya namun nomornya tidak pernah bisa dihubungi.
Bapak sudah berbicara pada ayah dan bunda Raisya tentang pertunangan Ara dengan anak dari majikannya. Ayah dan bunda ikut berbahagia atas pertunangan Ara yang sudah mereka anggap seperti anak kandungnya.
Raisya dan Rayhan serta kedua orang tuanya sudah sampai dikediaman Dev. Raisya mematung melihat rumah mewah yang berdiri kokoh dihadapannya. Meski sudah lama, ia ingat betul rumah siapa yang kini ada dihadapannya. Ia sudah beberapa kali datang kerumah ini saat masih dekat dengan Dev.
"Ke..kenapa kita kesini yah?". Tanya Raisya pada sang ayah.
"Kita ada acara spesial disini nak". Bukan ayah,namun bunda yang menjawab.
Sementara Rayhan hanya diam mengikuti kedua orang tuanya.
Halaman belakang yang luas sudah disulap sedemikian rupa, sederhana namun tetap indah.
Raisya semakin bingung melihat rumah Dev yang sudah dihias begitu indah.
Mama Anika dan papa Aryo serta bapak datang menyambut ayah dan bunda serta kedua anaknya.
Senyuman yang tak pernah luntur diwajah mama tiba-tiba meredup saat melihat gadis yang saat ini sedang menyalami tangan bapak.
Raisya menegakkan badannya setelah selesai menyalami bapak, kemudian pandangan matanya jatuh pada mama Anika yang menatapnya tanpa senyuman, begitupun dengan papa.
"Selamat atas pertunangan putra anda tuan Aryo". ayah mengulurkan tangannya yang langsung disambut hangat oleh papa Aryo.
Begitu juga dengan bunda yang memeluk mama Anika dan memberi ucapan selamat.
Sedangkan dikamar, Ara sedang memakai gaun yang sudah dibelikan oleh mama Anika dan mama Dini. Wajahnya sedang dirias oleh Dira yang dibantu Putri juga Salsa.
"Tangan kamu dingin banget sih Ra". Ucap Salsa saat memegang tangan sahabatnya.
"Cieee...gugup nih ya ceritanya". Goda Putri membuat Ara mencebik.
"Yaampun..cantik banget sih ini calon kakak ipar gue". Dira berdecak kagum melihat kecantikan Ara.
Saat sedang memperhatikan wajah cantik Ara, pintu kamar Dira terbuka. Menampakkan Dev yang terlihat gagah dengan balutan kemeja batik yang nampak pas dibadan kekarnya.
"weeeitss..udah kaga sabar aja kakak, main nyelonong masuk aja kaga ketuk pintu dulu". Suara Dira membuyarkan lamunan Dev yang sedang memandang kagum pada calon istrinya itu.
Dev masuk tanpa mempedulikan ledekan sang adik dan sahabat Ara yang lain. Ia mengulurkan tangannya dan disambut oleh Ara dengan pipi bersemu merah.
"Cieeeeeee". Goda ketiga teman Ara yang membuat Ara semakin salah tingkah.
"Kita kebawah sekarang ya. Semua udah nunggu". Ucap Dev lembut dan dijawab anggukan kepala Ara.
Dev sedikit menundukkan kepalanya tepat disebelah Ara dan berbisik.
"Kamu cantik sayang"
__ADS_1