
Seperti hari-hari sebelumnya, Ara dan Dira sibuk dengan perkuliahannya. Sementara Dev, lelaki itu kini mulai aktif membantu sang ayah di perusahaan keluarganya.
Meski sesekali masih menerima kiriman hadiah, namun sudah tidak sesering minggu-minggu lalu. Ara dan Dev pun sudah menceritakan semua pada mama dan papa, bahkan papa Aryo sedang dalam proses memutuskan kerjasama dengan perusahaan Nicolas. Bahkan papa lebih marah daripada Dev ketika mendengar kelancangan Nicolas terhadap menantu kesayangannya. Ia lebih memilih kehilangan uang untuk mengganti rugi pembatalan kerjasamanya dibanding bekerjasama dengan orang yang menganggu kehidupan anak dan menantunya.
"Mama kira tuan muda Abraham adalah orang baik. Ternyata dia lebih mengerikan daripada monster". Mama bergidik membayangkan wajah tampan Nic yang ternyata menyimpan sifat memuakkan.
"Tampang ternyata bisa menipu ya ma". Sahut Dira langsung disetujui oleh mama dan papa.
"Papa sudah membatalkan kerjasama dengan perusahaan miliknya. Tapi masih butuh waktu untuk benar-benar terbebas darinya. Kamu tidak apa-apa nak?". Papa memandang wajah ayu menantunya yang tetap terlihat tenang.
Ara tersenyum menampakkan wajah tenangnya, dia benar-benar titisan bapaknya. Orang yang selalu tenang menghadapi segala permasalahan pelik. Namun jika ada yang berani menyentuh apalagi menyakiti keluarganya, maka bersiaplah mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan normal.
"Itu sama sekali tidak masalah pa. Justru Ara yang harusnya meminta maaf pada papa, karena Ara..papa harus mengalami kerugian besar untuk membayar ganti rugi pembatalan kontrak kerjasama itu". Terdengar pelan, namun masih bisa didengar oleh semua yang sedang duduk diruang keluarga itu.
"Sama sekali tidak, papa sudah berjanji pada bapakmu Ara. Papa akan menjagamu seperti putri papa sendiri. Papa tidak akan membiarkan siapapun mengusik kebahagiaan kalian". Papa mengelus kepala Ara penuh kasih sayang sebelum beranjak meninggalkan anak dan menantunya yang tengah tersenyum bahagia mendengar semua ucapannya.
***
"Mama mau kemana? Pagi begini sudah rapi". Tanya papa ketika melihat istrinya sudah rapi pagi ini.
"Mama ada arisan, apa papa lupa tanggal berapa sekarang. Mama sudah lama tidak datang, makanya teman-teman mama memaksa untuk datang". Jelas mama membuat papa manggut-manggut.
"Mau Ara antar ma?? Baru setelahnya Ara dan Dira ke kampus". Ara menawarkan diri pada ibu mertuanya.
"Tidak perlu sayang, ada pak Tono yang akan mengantar mama". Jelas mama dengan senyum hangat diwajahnya.
"Sayang..apa kamu sedang tidak enak badan? Kenapa wajahmu pucat?". Mama melontarkan pertanyaan ketika menyadari wajah ayu menantunya terlihat lebih pucat.
Ara meraba wajahnya, pagi ini ia memang merasa sedikit pusing. Mungkin karena semalam dirinya tidak bisa tidur nyenyak.
"Ara baik-baik aja ma..mungkin karena semalam Ara tidak tidur dengan benar. Tapi Ara baik-baik saja. Mama tidak perlu khawatir". Ara buru-buru menjelaskan sebelum ibu mertuanya membuat kehebohan dengan memanggilkan dokter untuknya.
"Kamu yakin?". Tanya mama untuk meyakinkan dirinya, kemudian matanya memicing menatap putra sulungnya dengan tatapan curiga.
Ara mengangguk, memasang senyum terbaiknya untuk menenangkan wanita yang sudah memberinya kasih sayang begitu besar.
"Dev nggak ngapa-ngapain Ara ma, suudzon banget sih ama anak". Dev langsung membela diri kala melihat tatapan curiga yang dilayangkan ibunya.
Mama mendecih sambil membuang muka, tidak percaya pada putranya jika tidak melakukan apapun pada menantu cantiknya itu.
Dev menempelkan punggung tangannya didahi Ara, membuat Ara menoleh pada suaminya dengan sebelah alis terangkat.
"Mau abang anter periksa Ra?".Tanya Dev khawatir. Ara menggeleng sambil tersenyum.
"Ara baik-baik aja abang". Ara nyengir, menampakkan deretan gigi putihnya, membuat Dev gemas dan mengacak rambut istrinya.
__ADS_1
"Ya Allah, sabar-sabarin Dira. Pagi-pagi gini udah disuguhin pemandangan yang uwuw". Dira menengadahkan kedua telapak tangannya seolah tengah berdoa.
Dev menoyor kepala adiknya, gemas dengan kelakuan adik satu-satunya yang ia miliki.
Pagi itu semua pergi untuk kesibukan masing-masing, mama pergi untuk berkumpul dengan teman-teman arisannya, sementara papa dan Dev pergi ke kantor, dan Ara serta Dira yang akan ke kampus.
####
"Siapa kalian?! Apa mau kalian?! Lepaskan saya!!" Mama terus memberontak ketika tubuhnya didorong memasuki sebuah mobil. Sementara pak Tono sudah terkapar diatas aspal jalan karena dikeroyok oleh 4 oran berbadan besar.
Ara dan Dira baru saja sampai di kampus, jam masih menunjukkan pukul 9 pagi. Keduanya memutuskan duduk dibangku taman sambil menunggu jam pertama mata kuliah mereka.
"Lu duluan ya, gue mau ke toilet dulu". Pamit Ara pada adik iparnya. Dira mengangguk mengiyakan perintah Ara.
Ara mengedarkan pandangannya keseluruh taman, namun matanya tidak menemukan dimana adik iparnya berada.
"Udah ke kelas kali ya tu anak. Dasar sableng, gue main ditinggal-tinggal aja". Ara menggerutu sambil berjalan meninggalkan taman.
Belum sempat Ara sampai didalam kelas, ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk. Ara mengernyit bingung melihat nomor tidak dikenal menelponnya. Namun tak urung tangannya terulur menggeser ikon hijau dilayar ponselnya.
"Datanglah padaku jika kamu ingin ibu mertua dan adik iparmu selamat". Panggilan terputus sebelum Ara bertanya siapa dan mengapa. Tak lama setelahnya, ponselnya kembali bergetar. Kali ini sebuah pesan yang memberikan lokasi si penelpon. Belum sempat Ara menghubungi suami dan ayah mertuanya, sebuah pesan kembali masuk.
"Jangan pernah berpikir untuk datang dengan membawa suami dan ayah mertuamu. Atau mereka hanya akan pulang dengan nama saja" Ara menggenggam erat ponselnya. Amarahnya sudah berada dipuncak kepalanya. Kenapa selalu seperti ini, kenapa harus ibu mertua dan adik iparnya.
Tak ingin langsung mempercayai, Ara mencoba menghubungi mama Dini, ibu mertua kakaknya. Berharap bahwa itu hanya sebuah ancaman belaka. Namun sayang, setelah menelpon mama Dini..kini tubuhnya justru terasa lemas. Bagaimana tidak, mama Dini juga sedang bingung mencari sahabat baiknya yang belum sampai sejak tadi. Padahal terakhir ia menghubungi mama Anika, ia bilang akan segera sampai. Namun sudah lebih dari 1jam belum ada tanda-tanda mama Anika datang.
"Aakh..sial". Umpat Ara kemudian berlari menuju tempat ia memarkirkan mobilnya. Membuka maps diponselnya, mencari dimana titik si penelpon itu berada.
Sepanjang jalan ia merasa tidak tenang, memikirkan bagaimana kondisi kedua orang terkasihnya. Bodoh bodoh bodoh Ara terus merutuki kecerobohannya meninggalkan Dira seorang diri, dan membiarkan ibu mertuanya pergi hanya dengan sopirnya saja. Ia pikir keadaan sudah aman, karena sudah hampir 1tahun tidak ada lagi yang menganggu keluarga mertuanya itu. Ara terus menambah kecepatan mobilnya, tidak ingin hal yang buruk terjadi. Ia harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuknya. Bahkan Ara tidak menyadari bahwa yang menelponnya adalah lelaki yang begitu ia benci beberapa bulan ini.
Ara menghentikan mobilnya ketika sudah sampai dititik yang dikirimkan oleh penculik s*al*n yang membuatnya kalang kabut. Bukan rumah kosong atau bangunan tak terpakai yang ada dihadapannya. Namun sebuah rumah mewah dengan pagar menjulang tinggi. Belum sempat Ara membunyikan klaksonnya, gerbang sudah terbuka lebar secara otomatis. Ara melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah, menelisik sekeliling rumah, menyiapkan segala strategi untuk bisa membawa mama dan Dira dengan selamat keluar dari rumah terk*tuk ini.
Ara menghentikan mobilnya saat memasuki halaman rumah itu, seorang pria menghampiri mobilnya dan mengetuk kaca. Ara segera turun, bersiap melakukan perlawanan jika orang ini berniat macam-macam padanya.
"Nona Kinara..silahkan ikut saya. Tuan sudah menunggu anda didalam". Pria itu melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah mewah yang terdapat banyak penjaga diluarnya.
Beberapa orang yang tengah berjaga membungkuk hormat ketika Ara melewati mereka, membuat Ara semakin bingung dengan keadaan saat ini. Siapa sebenarnya orang-orang ini.
"Dimana ibu dan adikku?!". Tanya Ara pada pria yang membimbing jalannya.
"Mari silahkan nona, tuan muda menunggu anda didalam". Tanpa menjawab pertanyaan Ara, pria itu membukakan pintu sebuah ruangan. Meskipun ragu, Ara melangkahkan kakinya kedalam ruangan yang terlihat mewah disetiap sudutnya.
Mata Ara memicing ketika netranya menangkap sosok yang tak asing. Sesaat kemudian, sorot matanya menyala penuh kebencian dan amarah. Ia baru menyadari siapa dalang dibalik semua ini.
"Selamat datang nona". Raffi membungkukkan badannya, memberi hormat pada Ara yang sudah siap menghajarnya.
__ADS_1
"Cih..ternyata kalian yang melakukannya!". Ara mendecih, menatap sinis lelaki yang masih membungkukkan badannya dan seorang lelaki yang masih membelakanginya.
"Apa mau anda sebenarnya tuan Nicolas Abraham?". Tanya Ara dengan penekanan penuh disetiap katanya.
Nic tersenyum kemudian membalikkan badannya hingga kini berhadapan langsung dengan Ara yang sudah memasang wajah garang.
"Untuk apa lagi? Tentu untuk memilikimu". Jawab Nic enteng dan berhasil membuat Ara tertawa. Tawa yang mampu membuat Nic terpaku ditempatnya, terpukau dengan kecantikan Ara yang semakin jelas telihat saat tertawa. Meski Nic tahu bahwa tawa Ara mengisyaratkan kemarahan yang begitu besar.
"Anda benar-benar gila. Sepertinya rumah sakit jiwa lebih pantas untukmu!!". Geram Ara. Beberapa anak Nic yang berada diruangan itu tampak bersiaga ketika melihat Ara hendak menyerang tuannya.
"Lepaskan ibu dan adikku. Atau saya akan benar-benar membunuh anda!". Ara berjalan maju, namun langsung dihadang oleh anak buah Nic.
Ara melirik tangan pria yang menahan pundaknya untuk tidak mendekati tuannya, sesaat kemudian..tubuh pria itu sudah terkapar dilantai setelah mendapat bogeman kuat diperutnya.
"Menyingkirlah jika kalian masih sayang nyawa kalian!" Peringat Ara pada anak buah Nicolas yang siap membalas serangan Ara pada salah satu temannya.
Nicolas membiarkan Ara menghajar anak buahnya untuk melampiaskan amarahnya. Nic kembali tersenyum puas saat melihat lincahnya Ara menumbangkan seluruh anak buah yang berjaga diruangan itu.
"Kenapa anda harus semenarik ini nona. Seandainya anda tidak cantik dan menarik seperti ini, mungkin tuan muda tidak akan menganggu hidup anda". Batin Raffi yang tengah memandang gadis cantik yang masih sibuk menghajar anak buahnya.
Ara berhasil menumbangkan orang terakhir yang menghadang jalannya untuk mendekati Nicolas. Tanpa berkata apapun, Ara melayangkan kakinya tepat didada bidang Nic, tidak ada sedikitpun usaha pria itu untuk menghindar. Bahkan sepertinya ia begitu menikmati tendangan yang tepat mengenai dadanya.
"Nona, tolong hentikan. Saya tidak ingin menyakiti anda". Raffi berdiri didepan Ara, menghalangi Ara yang hendak menghajar Nic.
"Hahaha..kau memang gadis yang sangat berbeda Nara. Sejak dulu kau masih sama, bahkan semakin menarik". Nic bangun dengan tawanya sambil memegangi dadanya.
"Kau benar-benar gila s*al*n!!" Teriak Ara kemudian menghajar Raffi dan kemudian menghadiahi wajah tampan Nic dengan pukulan keras hingga menyebabkan bibirnya robek dan mengeluarkan darah.
"Kembalikan ibu dan adikku. Jika ada sedikit saja luka dikulit mereka. Aku pastikan kau akan aku hancurkan Nicolas!!" Kelewat marah hingga Ara sudah tidak menggunakan sopan santunnya lagi untuk sekedar berbicara dengan manusia sableng dihadapannya.
"Saya mohon berhenti nona, atau nyonya Natakusuma dan putrinya akan terluka". Suara Raffi menghentikan kepalan tangan Ara yang sudah melayang, siap ia hantamkan lagi pada wajah Nic.
Ara menoleh perlahan, matanya membola melihat ibu mertua dan adik iparnya disumpal mulutnya dengan kedua tangan terikat. Tubuh mereka didorong memasuki ruangan tempat Ara saat ini.
"Lepaskan tangan kalian dari tubuh ibu dan adikku!!". Peringat Ara pada lelaki yang mendorong kedua wanita itu.
"Aku akan melepaskan mereka Nara. Setelah kamu menjadi milikku". Ucap Nic sambil duduk menyilangkan kakinya, ia menyunggingkan senyum devilnya sambil menggelap darah dibibirnya.
Kemarahan Ara benar-benar sudah dipuncaknya, bagaimana bisa lelaki ini begitu b*ad*b hingga menggunakan perempuan tak berdosa untuk memperdaya dirinya.
Mama Anika dan Dira hanya bisa menangis pilu melihat Ara yang juga terluka diwajahnya karena pertarungannya tadi. Keduanya serempak menggelengkan kepala mendengar permintaan gila Nicolas.
"Apa maumu sebenarnya b*j***an!!!" Teriak Ara frustasi.
"Tentu saja dirimu Nara". Jawaban Nic benar-benar seperti menuang bensin diatas kobaran api. Ingin rasanya Ara menghabisi lelaki menjijikkan yang sedang duduk diseberangnya. Namun ia menoleh kembali pada kedua orang tawanan Nic, ia tak mungkin membahayakan nyawa ibu dan adiknya. Tak ada pilihan lain selain mengikuti kemauan Nic saat ini. Ia akan memikirkan bagaimana caranya kabur setelah mama dan Dira dipastikan aman. Ini benar-benar pilihan sulit untuk Ara, setelah menghela nafas panjang..akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti kemauan b*j****n itu.
__ADS_1
"Aku akan ikuti kemauanmu. Lepaskan mereka sekarang!". Mama dan Dira semakin menggeleng kuat mendengar jawaban Ara atas kemauan Nic. Air mata keduanya semakin deras mengalir.
"Semua akan baik-baik saja ma, Dir. Abang akan bisa nemuin Ara". Ucap Ara menenangkan kedua wanita yang masih terus menangis.