Cinta Kinara

Cinta Kinara
hamil??


__ADS_3

Kediaman keluarga Natakusuma sudah terlihat ramai. Banyak yang datang untuk menyampaikan bela sungkawanya atas meninggalnya bapak.


Jenazah bapak dibawa kerumah papa Aryo setelah tadi berdebat dengan Bian tentang dimana jenazah bapak akan disemayamkan sebelum dimakamkan. Setelah perdebatan panjang, akhirnya Bian menyetujui untuk membawa jenazah bapak kerumah papa Aryo.


Mama Anika dibantu Dira membawa Ara kedalam kamar yang biasa ditempatinya dirumah itu. Dira menyiapkan pakaian ganti untuk Ara, sementara mama membantu Ara ke kamar mandi.


"Ara bisa sendiri ma.." Ucap Ara pelan saat sudah ada didalam kamar mandi.


"Kamu yakin sayang?" Tanya mama khawatir.


Ara mengangguk lemah sebagai jawaban dari pertanyaan mama Anika. Mama Anika menghela nafas kemudian berjalan keluar dari dalam kamar mandi.


"Panggil mama jika kamu butuh sesuatu nak.." Ara kembali mengangguk menjawab ucapan mama.


Ara mengunci pintu kamar mandi, kemudian menyalakan shower. Ia mandi dengan air dingin, berharap bisa sedikit membuat dirinya tenang. Namun bayangan bapak kembali melintas dikepalanya. Dibawah guyuran air shower, Ara menumpahkan air matanya yang seolah tidak ada habisnya.


"Ara akan balas kematian bapak". Ara mengepalkan tangannya mengingat tubuh sang ayah diberondong peluru tepat didepan matanya. Amarahnya memuncak mengingat bagaimana Clara membuat orang tercintanya meninggalkan dunia ini.


Puas menumpahkan air mata dan segala amarahnya, Ara menyelesaikan acara mandinya dan bergegas keluar. Ia tidak ingin membuat mama Anika dan Dira khawatir dengan dirinya.


Saat pintu kamar mandi terbuka, nampaklah wajah para sahabatnya yang terlihat begitu sedih. Ara menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan sahabatnya yang terlihat khawatir.


"Ganti baju dulu ya.." Ucap Dira menyodorkan sebuah baju dan celana berwarna hitam pada Ara.


Tanpa menjawab ucapan Dira, Ara membawa baju dan celana gantinya kedalam kamar mandi dan kemudian memakainya. Setelahnya ia kembali keluar.


"Ra..." Lirih Putri. Ara berusaha untuk tegar dan mencoba menghalau air mata yang akan tumpah. Namun semua sia-sia, ia kembali menangis didalam pelukan ketiga sahabat baiknya.


"Kita tau ini berat buat lo Ra..tapi kita yakin lo kuat". Ucap Putri mengeratkan pelukannya pada adik iparnya itu.


"Kamu harus kuat ya Ra..kita semua ada buat kamu". Salsa ikut menambahkan. Ara mengangguk lemah didalam pelukan sahabat-sahabat baiknya itu.


Puas menyalurkan rasa sedihnya dalam pelukan sahabatnya, Ara dituntun oleh Putri berjalan keluar. Mendudukkan tubuh Ara disamping jenazah bapak.


Mata Ara tidak pernah lepas dari tubuh yang sudah terbujur kaku dihadapannya. Tatapannya begitu kosong, hanya air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


Sebuah tepukan dibahunya membuat ia menoleh. Terlihat mama Dini yang menggelengkan kepalanya lemah "Kamu nggak boleh seperti ini terus sayang. Tante tahu kamu sakit ditinggal bapakmu, tapi bapakmu sudah bahagia disurga nak".


"Iya tante.." Jawab Ara pelan kemudian menghapus air matanya.


"Nak..." Ara mendongakkan kepalanya untuk melihat pemilik suara yang memanggilnya. Air matanya kembali meluncur deras melihat wanita yang sering ia panggil bunda sudah berada disebelahnya, membawanya kedalam pelukan hangatnya. Raisya yang berada dibelakang sang bunda ikut memeluk Ara, mencoba memberi kekuatan pada gadis rapuh yang hancur karena ditinggalkan oleh ayah tercintanya.


"Kamu harus kuat dek..kakak yakin kamu kuat". Bisik Raisya ditengah pelukannya.


"Bapak bund.."


"Bapak kamu sudah tenang sayang, jangan beratkan bapakmu dengan air matamu ini. Ikhlaskan..doakan yang terbaik untuknya. Bunda tahu kamu anak yang shaleh..doamu akan didengar". Nasehat bunda yang dijawab anggukan lemah oleh Ara.


Semua yang melihat Ara hanya bisa meneteskan air matanya, mereka seolah ikut merasakan sakit dan hancurnya Ara saat ini.


###


Pemakaman bapak berjalan lancar, hanya orang-orang terdekat saja yang masih berdiri disamping pusara bapak.


Ara duduk disamping gundukan tanah yang masih basah, mengelus papan yang bertuliskan nama sang ayah. Air mata yang coba ia tahan selalu jatuh dan jatuh. Berkali-kali ia mengusap air matanya, namun saat itu juga cairan bening itu kembali membasahi wajahnya.

__ADS_1


"Bapak tenang ya disana..makasih bapak udah jadi bapak terbaik buat Ara. Maafin eneng belom bisa buat bapak bangga, belom bisa bikin bapak bahagia". Ara kembali menyeka air mata yang jatuh tanpa bisa ia kendalikan.


"Kita pulang ya dek.." Suara Bian menyadarkan Ara dari lamunannya. Ia mendongak menatap wajah sang kakak yang terlihat sama sedihnya seperti dirinya. Ia mengangguk sambil tersenyum tipis, kemudian kembali mengelus papan nisan bapak. Ia bangkit dibantu oleh sang kakak, berjalan berdampingan meninggalkan sang ayah yang sudah beristirahat dalam keabadian menyusul ibu mereka yang sudah lebih dulu meninggalkan dunia ini.


***


Saat ini Ara sedang mengemasi pakaian dan semua barangnya dibantu oleh Dira dan Putri. Setelah pemakaman bapak, Bian memutuskan membawa adiknya tinggal bersama dengannya dan sang istri sampai nanti waktunya Ara menikah dengan Dev.


"Kenapa sih lo kudu pindah Ra. Kaga bisa gitu disini aja?" Tanya Dira sedih.


"Kaga bisa lah. Masa ama elo mulu, gue sekarang kakaknya dia. Jadi giliran gue yang deket-deket ni bocah". Bukan Ara namun Putri yang langsung menjawab.


"Hish..sombong banget jadi kakaknya. Gue juga calon adik iparnya" Cibir Dira dengan bibir mengerucut.


Ara tersenyum tipis melihat perdebatan kedua sahabat baiknya itu. Ia memasukkan barang terakhir kedalam koper yang tidak terlalu besar itu. Ara mengelus benda itu sebelum memasukkannya dalam koper.


"Bapak tenang disurga ya". Lirih Ara mengelus foto dirinya dan sang ayah yang terlihat tersenyum.


"Bapak udah tenang Ra.." Putri mengelus pundak Ara untuk menguatkan adik iparnya itu. Ara mengangguk lemah menjawab ucapan Putri.


Selesai berkemas, Ara berjalan keluar dari kamarnya. Bian sudah menunggunya diruang tamu yang tak jauh dari kamarnya. Disana juga ada Dev dan kedua orang tuanya dan kedua sahabatnya serta kedua orang tua Putri.


"Apakah kamu harus membawanya pergi Bi??" Tanya mama Anika sedih.


"Hanya sementara tante..saat Ara menikah dengan Dev, dia akan tinggal disini lagi". Bian menenangkan.


Mama Anika menghembuskan nafas kasar. Ia tak bisa menahan Ara sekarang karena Rahmat sudah meninggal. Jadi tanggung jawab atas diri Ara berpindah pada kakaknya itu.


"Sering-seringlah main kesini sayang. Mama akan sangat merindukanmu" Ucap mama Anika disela pelukannya. Ara tersenyum dan mengangguk.


Sudah 1minggu ini Ara tinggal dirumah sang kakak, selama itu pula gadis itu lebih sering menghabiskan waktunya didalam kamar. Bahkan ia belum kembali kekampusnya setelah kepergian sang ayah.


Pintu kamarnya diketuk, membuatnya bangkit dan berjalan membuka pintu kamarnya. Nampaklah wajah cantik sang kakak ipar yang juga berstatus sebagai sahabatnya itu.


"Makan yuk..dari pagi lo belom makan. Ntar pingsan gue kaga kuat ngangkatnya". Canda Putri.


"Gue belom laper Put..ntar aja deh gue makan sendiri. Lu makan duluan aja ama kakak". Tolak Ara.


Putri menghembuskan nafas kasar "Mau nyampe kapan lo kaya gini Ra? Lo ngga kasian ama kakak lo? Ama kak Dev? Ama semua orang yang sayang sama lo. Lo nggak kasian ama bapak? Bapak sama ibu pasti sedih liat lo kaya gini". Sudah cukup rasanya 1minggu ini Putri membiarkan Ara mengurung dirinya. Sekarang ia harus membuat sahabatnya ini membuka matanya lebar-lebar dan melanjutkan kehidupannya.


Ara menunduk mendengar ucapan Putri. Rasa kehilangannya pada sosok pahlawannya itu masih menguasai hati dan pikirannya hingga ia lupa bahwa masih banyak orang yang begitu menyayangi dan mengkhawatirkannya.


"Semua sedih kehilangan bapak Ra..gue tau lo deket banget sama bapak. Lo sayang sama bapak..tapi kita bisa apa kalo Allah ternyata lebih sayang sama bapak? Kita sebagai anak hanya bisa mendoakannya Ra" Putri memeluk Ara yang masih terus bungkam mendengar semua ucapannya.


"Lo harus bangkit..lo nggak bisa gini terus. Inget..masih ada kita yang sayang dan butuhin lo". Putri melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Ara.


"Kita makan sekarang ya..kasian a Bian udah nungguin dari tadi".


Bian tersenyum melihat istrinya berhasil membujuk adiknya untuk makan. Sudah seminggu ia tidak melihat sang adik makan dengan benar.


***


hoek..


hoek..

__ADS_1


hoek..


Ara menghentikan langkahnya ketika mendengar suara seseorang dari arah dapur. Kakaknya sudah pergi bekerja sejak pagi, jadi pasti itu adalah suara kakak iparnya.


Ara berjalan cepat mendekati Putri yang sedang mengeluarkan isi perutnya didalam kamar mandi dekat dapur.


tok..tok..tok


"Put..lu kenapa?? Buka pintunya". Ucap Ara didepan pintu kamar mandi.


Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan wajah pucat Putri yang membuat Ara panik. Ia membantu Putri berjalan kemudian mendudukannya dimeja makan. Ara bergegas mengambil air dan memberikannya pada Putri yang terlihat lemas setelah mengeluarkan isi perutnya.


"Lu kenapa? Masuk angin?" Tanya Ara khawatir.


"Kaga tahu gue..dari pagi mual gini, kepala gue pusing".


"Kita ke dokter sekarang. Ya kali laki lu dokter tapi bininya sakit kaga diobatin".


"Ntar juga sembuh sendiri Ra. Kaga usah kedokter deh.." Tolak Putri


"Lu mau gue digorok ama laki lu kalo tau lu sakit terus gue diem aja". Omel Ara membuat Putri meringis.


"Buruan ganti baju. Gue anterin lu sekarang". Ara membantu Putri berjalan kedalam kamarnya. Kemudian ia kekamar yang ia tempati untuk mengambil ponsel dan dompetnya.


Ara mengambil kunci mobil yang ada diatas meja kemudian melangkahkan kakinya menuruni tangga untuk menjemput Putri. Bian memang membelikan mobil untuk mempermudah kegiatan adik dan istrinya.


"Masih pusing?" Tanya Ara pada Putri yang tengah menyenderkan kepalanya. Putri menggeleng lemah "Dikit doang". Jawabnya lemah.


"Bukannya ngomong ama gue dari tadi lu mah. Penyakit aja lu pelihara, mau pelihara mah yang manfaat. Pelihara ikan kek, ayam kek. Penyakit dipelihara!". Mulut Ara terus mengomel membuat Putri menyunggingkan senyum bahagianya melihat Ara sudah kembali cerewet jika bersamanya.


Putri menolak ketika Ara ingin membawanya kerumah sakit tempat Bian bekerja. Ia lebih memilik klinik yang tidak terlalu jauh dari kediamannya. Ara hanya pasrah mengikuti keinginan Putri, daripada tidak diobati pikir Ara.


Setelah menunggu beberapa saat, nama Putri dipanggil. Ara ikut masuk mendampingi Putri. Gadis itu diminta berbaring oleh dokter, kemudian dokter memeriksa keadaan Putri.


"Gimana keadaan kakak saya dok?" Tanya Ara setelah dokter duduk ditempatnya.


Dokter itu tersenyum melihat Ara yang terlihat begitu mengkhawatirkan Putri.


"Kakak anda baik-baik saja nona. Ini hal yang wajar terjadi.." Jelas dokter membuat alis Ara berkerut.


"Kapan terakhir anda menstruasi?" Tanya dokter pada Putri.


"Baik-baik aja gimana. Orang tadi muntah-muntah, hal wajar darimanaya dok? Orang sakit kok wajar". Gerutu Ara membuat sang dokter melebarkan senyumnya.


Putri menyikut lengan Ara sambil melotot mendengar Ara berbicara pada dokter.


"Saya lupa dokter.." Jawab Putri nyengir.


"Nyonya Putri baik-baik saja. Mual dan pusing itu wajar untuk orang yang sedang mengandung". Jelas dokter menbuat keduanya mengangguk paham.


"Oooh..hamil" Jawab keduanya kompak, namun sesaat kemudian kedua saling pandang


"HAMIL?!!!". Teriak keduanya dan berhasil membuat sang dokter menutup telinganya.


"Iya..nyonya Putri sedang mengandung. Tapi untuk memastikannya, akan lebih baik jika anda memeriksakannya pada spesialis kandungan". Saran dokter dan langsung dijawab anggukan kepala oleh Ara. Sementara Putri, ia masih terdiam. Dirinya masih terkejut dengan kenyataan dirinya tengah berbadan dua.

__ADS_1


__ADS_2